
...ENTERED THE WRONG...
.
.
.
...****************...
...▶️⏸...
Di bandara
Cuaca pukul 03.00 dini itu benar benar dingin hingga menusuk ke dalam tulang.
"Kau tau apa yang kau lakukan?." tanya Alden pada Toni.
"Saya mengerti tuan, dan semuanya pasti aman." sahut Toni.
"Baiklah, aku akan langsung menuju Apartemen Swezy dengan dia."
"Baik tuan.." sahut Toni.
Toni tidak sengaja melihat Felix yang baru saja datang dari jauh untuk menghampiri mereka.
"Tuan, Felix sedang menuju ke arah kita." ucap Toni dengan wajah yang tegang.
Alden seketika melihat ke arah Felix yang jaraknya 20 meter darinya.
"Aku dan Mileana akan segera pergi ke negara x." ucap Alden.
"Ayo." Alden langsung menyeret tangan Mileana.
"Hati hati.." sahut Toni.
Alden, Mileana dan para ajudan lainnya pun pergi menuju pesawat pribadi.
"Toni!." sapa Felix setelah beberapa meter mendekat.
"Untung saja tidak terlambat." ucap Toni sembari melihat arlonji di tangan nya.
"Hufft, cerita nya sangat panjang, nanti aku jelas kan." sahut Felix menarik nafasnya.
"Ya sudah." ucap Toni singkat
"Alden mana?." tanya Felix melihat ke arah sekitar.
"Dia sudah pergi duluan ke negara x, karena menunggumu sangatlah lama seperti siput." ucap Toni dengan nada kesal.
"What? Alden berangkat lebih dulu?." pekik Felix.
"Iya, dia menggunakan pesawat pribadinya sejak 15 menit yang lalu." ujar Toni berbohong.
"Lalu kita ke sana naik apa?." tanya Felix kebingungan.
"Naik rajawali." dengus Toni.
"Hah?." pekik Felix
"Naik pesawat lah bodoh!, aku sudah memesan tiketnya." ucap Toni mendengus.
"Ohh.. ya sudah tunggu apalagi kita menunggu disini bodoh?." ucap Felix dengan seringai terpaksa.
"Lihatlah jadwal keberangkatan nya pukul 04.15 bodoh!." kesal Toni
"Lahh lalu kita menunggu disini sampai pukul 04.15?." tanya Felix melebarkan matanya.
"Ya iyalah, coba saja kau tadi tidak terlambat mungkin kita akan bareng bersama Alden!." dengus Felix.
"Ya maaf, ini karena si Anzela ribet, aku harus ke kantor dulu sebelum pergi ke sini." ujar Felix
"Kenapa ke kantor dulu?." tanya Toni mengangkat sebelah alis nya.
"Jadi begini ceritanya..."
Felix menceritakan.
.
.
...****************...
🌹🌹🌹
"Alden hentikan, aku tidak bisa menyeimbangi langkahmu, aku bisa terjatuh." pekik Mileana saat Alden berjalan mendahuluinya.
"Cepatlah sedikit langkahmu." ucap Alden.
"Alden tapi, aaaaaakh ." kaki Mileana terkilir sehingga Mileana merasa kesakitan.
Alden seketika menoleh ke arah Mileana untuk memastikan keadan nya.
"Awww... kakiku sepertinya terkilir." rintih Mileana kemudian berjongkok karena tidak kuat untuk berdiri.
Para ajudan hanya sigap berdiri tanpa menolong Mileana karena mereka tidak ingin menyentuh milik tuan besar nya itu.
Alden segera menghampiri Mileana dan langsung berjongkok untuk melihat keadaan kakinya.
"Mana yang sakit?." tanya Alden.
"Sebelah sini." sahut Mileana sambil meringis.
Alden segera menyentuh bagian kaki yang terkilir itu membuat Mileana menjerit kesakitan.
"Aaahh." pekik Mileana.
Alden langsung menghentikan aksi pijat nya ia melihat bahwa di sekeliling nya banyak ajudan berdiri yang akan mendengar suara merdu itu secara gratis.
"Kau bisa berjalan?." tanya Alden
"Sepertinya tidak bisa." rintih Mileana.
Alden langsung melepaskan sepatu hak Mileana, hingga Mileana kebingungan.
"Apa yang kau lakukan?." panik Mileana.
Alden segera menggendong Mileana menuju pesawat pribadi.
"Ehh lepaskan aku, kita menjadi bahan tontonan." ucap Mileana berusaha menjauhkan dada Alden
Salah satu ajudan Alden membawa sepatu hak milik Mileana yang tergeletak, kemudian kembali mengikuti Alden dari belakang.
"Alden lepaskan, aku sangat malu."
"Diamlah, atau kau akan terjatuh." ucap Alden sambil menatap wajah Mileana dengan berjarak sangat intim.
"Selamat malam tuan besar." sapa pilot pribadi dan juga pramugara membungkukan badan nya.
Alden pun hanya menganggukan kepalanya saja.
Alden membawa Mileana masuk ke dalam pesawat pribadi.
Mileana sangat terpukau saat melihat kemegahan yang ada di dalam pesawat.
Kemudian Alden menjatuhkan Mileana dengan sangat perlahan di sofa yang berada di dalam pesawat pribadi nya.
2 pramugari cantik sigap berdiri di depan Alden dengan langsung membungkukan badan nya.
"Aku butuh minyak pijat." titah Alden pada pramugari.
"Laksanakan tuan." ucap pramugari dengan hormat.
Bebapa menit kemudian...
Seorang pramugari memberikan sebuah minyak urut dan p3k serta obat obatan lain nya di dalam kotak tersebut.
"Terima kasih." sahut Alden menerima kotak p3k itu.
Alden membuka kotak P3k itu kemudian mengambil sebuah botol berisi minyak pijat.
"Mana kakimu?." tanya Alden sambil membuka botol minyak pijat.
"Kau mau apa?." tanya Mileana.
Namun seketika Alden mengangkat kaki Mileana untuk berada di atas paha nya.
"Alden kau mau apa?." pekik Mileana
Alden seketika menoleh ke arah pramugari yang masih berdiri sigap di dekat nya, lalu mengisyaratkan untuk pergi.
Kedua pramugari membungkukkan badan nya dengan hormat kemudian pergi.
Alden kemudian melanjutkan untuk mengurut kaki Mileana.
"Sudahlah aku tidak apa apa." tolak Mileana dengan tidak enak.
"Diamlah." ucap Alden menatap tajam.
Alden perlahan memijat kaki Mileana yang memar hingga Mileana meringis kesakitan.
"Ahhh, sakit.!" desah Mileana.
Alden menghentikan pijatan nya kemudian mencoba memijatnya kembali.
"Ahhh,"
Alden langsung menatap Mileana.
"Mengapa suara itu begitu sangat seksi,." batin Alden
"Kenapa?." tanya Mileana bingung saat Alden menatap dirinya.
Mereka saling menatap kuat.
"Jangan mengeluarkan suara seperti tadi kepada orang lain." ucap Alden masih menatap Mileana.
"Maksudmu?." tanya Mileana mengerutkan alisnya.
"Hiraukan,." Alden kemudian pergi meninggalkan Mileana.
"Kenapa dia, aneh sekali." pikri Mileana.
.
.
...****************...
Bandara.
Felix dan Toni tertawa mendengar cerita tentang Anzela yang di tinggalkan di kantor.
"Kau parah sekali meninggal kan dia di kantor sendirian." ucap Toni menahan perutnya yang terus tertawa.
"Aku tidak mengingat nya, lagi pula aku sangat jengkel sekali sama dia. Asal kau tau, tiap menit dia menanyakan Alden saat di kantor." jelas Felix.
Toni tertawa terbahak bahak.
"Aku pusing sekali, mana kerjaan numpuk di tambah dia ribet saat ada di kantor. Makanya biar tau rasa aku tinggal hahaha." ucap Felix.
"Lalu apa perasaanmu saat di peluk seorang Anzela?." ledek Toni menahan tawa nya.
"Dih, jangan bertanya seperti itu. Aku tidak menyukai nya.." pekik Felix.
"Wah di kasih pelukan gratis nih sama Anzela witwiwww..." ledek Toni.
"Berisik kau." ketus Felix dengan gusar.
Toni malah tertawa.
"Oh ya, kemarin kau kemana bersama Alden?." tanya Felix.
"Kita ke..." Toni langsung berpikir secepat mungkin.
"Aduh, bagaimana nih jawaban nya." toni dalam hati.
"Menemani tuan Alden, bertemu dengan Mr Steve." ucap Toni.
"Ada memang bertemu dengan Mr Steve?."
"Oh soal itu aku tidak tau, karena aku tidak mengetahui persoalan nya." ujar Toni.
"Ohh ya sudah, jam berapa ini? Kita sudah diam menunggu disini satu jam." pekik Felix .
Toni segera melihat arlojinya.
"5 menit lagi kita berangkat, yu kita bersiap." ucap Toni berdiri membawa koper nya.
"Hoamm... Aku ngantuk sekali ini, aku tidur 3 jam." ucap Felix menguap sambil berjalan dengan mata yang sayu.
"Sama lah, aku apalagi tidur hanya 3 jam." ucap Toni sambil berjalan
"Ya samalah bodoh!." ketus Felix
VISUAL ANTONI & FELIX