Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 2 (Di Jodohkan?)



Di apartemen mewah milik Alden


"Apa, jadi kau akan di jodohkan dengan putri tuan Cullen?." ucap Felix yang tak lain sekretaris nya sekaligus sahabat dari kecil.


Mereka berdua sedang duduk di sofa mewah yang berada di apartemen itu.


"Ya, begitulah. Aku tidak ingin menikah dengan wanita murahan itu."


"Maksudmu? wanita murahan gimana?."


"Aku tahu dia wanita yang sangat liar, dia bukan wanita yang baik." ucap Alden sambil menuangkan minuman bir yang berada di atas meja.


"Tahu dari mana kau."


"Sebelum Dady mengatakan bahwa aku akan dijodohkan dengan Anzela, aku sudah pernah melihat Anzela sedang berada di Hotel Lotus dengan pria lain."


Felix masih menatap Alden seolah mencerna.


"Saat itu aku sedang mengadakan pertemuan dengan Mr.Hassan pemilik Hotel Lotus, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Anzela dengan pria lain, mereka sedang..."


"Sedang apa?." ucap Felix penasaran.


"Kau pasti mengerti.!" ucap Alden sambil meminum bir dengan sedikit sedikit.


"Aku ingin kau se detail mungkin menjelaskan mereka berdua sedang apa di Hotel Lotus itu."


"Apa untungnya aku jika aku menjelaskan?."


"Untungnya ya kau memberi tahu ku."


"Ckk...itu hanya untung bagimu tapi tidak untung bagiku bodoh!"


"Ihh jangan marah marah tuan, nanti cepat tua."


"Apa yang kau katakan!."


"Ti-tidak.. aku mengatakan lebih baik kau tidur saja, begitu." ucap Felix dengan tersenyum tenang.


"Lebih baik kau tidur, besok kita ada pertemuan dengan tuan Harisson di gedung Bacharest." lanjut Felix


"Kau akan bergadang?." tanya Alden


"Tidak, aku akan tidur sebentar lagi ,besok bersiaplah jam 07.00 pagi."


"Baiklah, awas saja besok susah di bangunkan aku akan memotong gaji mu 2x lipat."


ancam Alden kemudian ia melenggang pergi meninggalkan Felix sendirian yang masih terdiam bengong.


****


Pagi hari yang dingin terdengar suara kicauan burung seolah membangunkan wanita cantik yang sedang tertidur pulas di kasur king size nya.


Drrrtttrrtrtrtrt!!..


Ponser milik wanita cantik itu terus saja bergertar menandakan adanya telpon masuk.


Perlahan wanita itu membukakan mata nya dan mengerjap ngerjap.


Ia mengambil ponsel nya yang sedari bergetar di pinggir kasur nya.


"Hallo.." ucap Milleana dengan suara pelan.


'Selamat pagi My Princess...'


"Pagi juga My Prince.."


'Kamu pasti baru bangun, mandi dulu setelah itu sarapan. Kamu tidak lupakan hari ini ada acara Fashion Week.'


"Iyaa sayang aku tidak lupa karena selalu ada kamu yang mengingatkan ku hehe..." ucap Milleana dengan tertawa ringan


'Buang penyakit pelupa mu itu, cantik cantik kok pelupa.'


"Ihh tapi kamu cinta kan..."


'Cinta mati malahan.'


Milleana pun tertawa.


"Apa kau sudah sarapan?." tanya Milleana pada Brian


'Aku baru saja selesai sarapan.'


"Hmm anak pintar... ya sudah aku mau mandi dulu ya."


'Yaa honey, aku akan menjemputmu pukul 09.00 pagi'


"Okay..see you baby, bye.."


'See you too honey byee..'


Milleana pun memutuskan sambungan telepon nya. dia terus saja tersenyum seakan hati nya tiap hari berbunga bunga jika bersama Brian.


Kemudian Milleana beranjak dari tempat tidur nya dan melihat ke arah jam menunjukkan pukul 06.30 pagi.


"Brian kamu itu selalu saja bangun pagi, sifatmu mencerminkan bahwa kamu orang sukses dan giat. Aku bangga di cintai olehmu.." gumam Milleana dalam hati sambil melihat foto berdua dengan Brian di ponsel nya saat di menara Eiffel.


****


Brak brak brak!


"Felix jam berapa ini!?, kalau kau masih tidur kita akan kesiangan dan aku akan memotong gaji mu." pekik Alden sambil menggebrak pintu kamar yang di tiduri Felix.


"Ada apa tuan?.." tanya Toni yang tak lain asistennya.


"Kau baru saja datang?."


"Tidak, dari pukul 06.00 pagi aku sudah berada di bawah tuan."


"Urusi si monyet ini aku akan mandi terlebih dahulu."


"Baik tuan.." jawab Toni


*****


Di kediaman mansion pribadi Brian Alexanderico...


Brian baru saja mengangkat telepon dari seseorang.


'.............'


"Mungkin saya kesana pukul 10.00 pagi pak."


'..............'


"Baiklah.."


'..............'


"Sama sama pak."


Brian pun mengakhiri telepon nya.


*****


"Selamat pagi tuan tampan.." sambut Felix yang baru saja mandi dan langsung menuju ke meja makan untuk sarapan.


"Jam berapa ini?." ucap Alden dengan suara dingin.


"Jam 07.15.." ucapnya dengan wajah tanpa dosa.


"Itu artinya kau kesiangan dan aku akan memotong gaji mu 3xlipat."


"Besar sekali 3x lipat?. lagian saya tidak kesiangan, pertemuan dengan Mr Harisson kan pukul 10.00 pagi."


"Lalu? kau menyuruhku bersiap jam 07.00 pagi itu apa?."


"Ya kita akan ke kantor dulu sebelum ke gedung Bacharest, ada beberapa dokumen yang harus kau tanda tangani."


"Sial.. kau mempermainkan ku!?."


"Siapa yang mempermainkan mu? aku bekerja sebagai sekretaris yang begitu perhatian pada majikannya supaya pekerjaan kantor nya pun beres."


"Kenapa kau tidak mengatakan sebelum nya padaku?."


"Ya kau kemarin langsung saja pergi ke kamarmu tanpa mau mendengarkan ku lagi." jawab Felix


"Lalu kau menyalahkan ku, begitu?."


"Siapa yang menyalahkan mu?."


"Lalu siapa yang salah?."


"Yang salah itu tukang rujak, masa aquarium di isi buah buahan."


Toni yang sedang berada disana pun tertawa.


"Heh siapa yang mengizinkanmu untuk tertawa?." ucap Alden pada Toni.


"Memangnya ketawa harus ada izin? lalu bagaimana dengan kuntilanak yang selalu tertawa sesuka hati tanpa izin terlebih dahulu. Kau harus memarahi kuntilanak itu tuan." ucap Toni membela dirinya.


Felix yang sedang memakan roti pun tertawa renyah.


"Ahhh.. masih pagi kalian berdua itu sudah membuat ku kesal!."


"Jangan marah marah tuan nanti.."


"CEPAT TUA!..."


belum sempat Toni mengatakan Alden langsung memotong nya.


"Itu anda tau sendiri." lanjut Toni dengan tersenyum.


"Alah.. itu hanya mitos saja! buktinya saya malah semakin tampan dan terlihat seperti anak 18 tahun." kata Alden


"Benar, tuan kita memang sangat tampan, buktinya para wanita pun tidak percaya diri jika bersanding dengan tuan Alden karena terlalu tampan, maka dari itu dia masih sendiri." ucap Felix dengan tersenyum jahil.


"Kau meledekku?."


"Aku memujimu tuan, mana ada aku meledekmu dengan begitu."


"Tapi aku merasa kau meledekku!."


Toni melihat keributan Alden dan Felix hanya menahan tawa nya.


"Perlu aku buktikan banyak wanita diluaran sana mengantri untuk menjadi istri ku."


"Tentu saja. Aku sangat percaya tuan Alden, tapi aku tidak yakin kalau kau pria normal." ucap Felix


"Apa maksudmu!?."


"Aku sudah mengenalmu dari kecil, dan aku tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita manapun atau berkata padaku jika kau sedang jatuh cinta pada wanita. Aku sangat yakin kalau kau itu gay."


"Hey jangan berbicara sembarangan kau!."


"Apa kau memiliki perasaan padaku Al? sehingga kau tidak bisa mencintai wanita." tanya Felix dengan nada serius.


Toni yang sedang memoles roti seketika tertawa terbahak bahak.


"Jangan asal berbicara monyet!. aku masih normal, bahkan aku tidak sudi jika mencintai sesama jenis apalagi dengan mu."


"What! kau menyebutku apa tadi?."


"Monkey!." jawab Alden dengan nada tenang


"Ishh.. aku sumpahin kau akan jatuh cinta pada wanita yang sudah bersuami."


"Haha mustahil jika aku mencintai wanita yang sudah bersuami, seperti tidak ada gadis saja di dunia ini."


"Sudahlah lebih baik kita ke kantor, sekarang ini sudah jam 07.45." ucap Felix kemudian menyeruput secangkir kopi.


"Kenapa kau mengatur ku? sebenernya disini siapa sih bos nya."


Tanpa menjawab ocehan Alden Felix pun beranjak dari tempat duduknya.


"Ayolah kita berangkat ke kantor sekarang, 2 jam lagi kita akan ke gedung Bacharest." ajak Felix sambil membenarkan dasi nya.


"Hhhh... dasar menyebalkan!."


Mau tak mau Alden pun bersiap dan pergi ke kantor.


Bersambung...