
Di perjalanan..
"Sayang maafkan aku tidak bisa menghadiri acara Fashion Week mu, karena aku harus bertemu dengan klienku sekarang." ucap Brian dengan nada lembut, sambil sebelah tangan nya memegangi jari lentik Milleana.
"Tidak apa apa, lebih baik kau temui saja klienmu, itu pasti lebih penting sayang." jawab Milleana dengan senyuman.
"Kau tidak marah kan Honey?."
"Tidak, untuk apa aku marah padamu yang sedang usaha. Aku mengerti, lagi pula kau sering menghadiri acara Fashion Week ku."
"Terima kasih sayang, aku sangat bangga mencintaimu.."
Cup!
Brian mengecup tangan Milleana dengan lembut.
"Aku usahakan setelah selesai urusanku, aku akan menjemputmu kembali."
"Jika kau masih sibuk, aku tidak apa apa jika tidak di jemput, masih ada Yulita dan Merry yang akan mengantarkanku."
"Iya sayang.. kita sudah sampai. Aku akan mengantarkanmu kesana."
Mereka berdua pun turun dari mobil di sambut dengan para wartawan yang segera mendapatkan foto foto berdua mereka.
Seketika saat akan masuk ke gedung Bacharest, Brian dan Milleana di sambut oleh Mr Harisson pemilik gedung sekaligus yang mengadakan acara Fashion Week tersebut.
"Selamat datang Tuan Alexanderico dan Miss Supermodel." sambut Harisson
"Terima kasih Mr Harisson, sebuah kehormatan anda menyambut kami berdua." ucap Brian dengan nada sopan.
Brian dan Milleana pun membungkukkan sedikit badan nya.
"Terima kasih kembali sebuah kehormatan juga untuk tuan Brian dan nona Milleana datang kemari."
"Saya juga sangat berterima kasih anda telah mengundang saya ke acara besar Fashion Week ini." ucap Milleana dengan senyuman manisnya.
"Semoga hari ini menyenangkan. Mari saya tunjukan acara untuk Fashion Week nya yang berada di lantai 12."
"Baiklah terima kasih banyak."
****
Lantai 12 gedung Bacharest..
"Selamat datang Mr Harisson, selamat datang Tuan Alexanderico, dan selamat datang Miss Supermodel."
sambut para petugas MUA dan para staff Fashion Week membungkukkan badannya.
"Terima kasih banyak."
"Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian." ucap Harisson pada para staff itu.
Para staff itu kembali bekerja.
"Panggung nya sangat megah, ini sangat luar biasa Mr." puji Milleana.
"Terima kasih, sebuah keberuntungan anda menyukai nya." jawab Mr Harisson.
"Tentu saja aku sangat menyukai nya." sahut Milleana sambil tersenyum manis.
"Haii Miss.." ucap Merry yang tak lain asisten Milleana.
Merry pun menyambut hormat kepada Mr Harisson dan Brian.
"Kalau begitu aku akan ke ruangan make up. Mr Harisson tidak apa apa jika aku tinggal?."
"Tidak apa apa nona, sudah seharusnya kau harus bersiap siap."
"Baiklah Mr.. Honey, aku ke ruangan make up dulu ya,"
"Nanti aku kesana jika aku akan pergi." jawab Brian.
"Baiklah.. terima kasih Mr Harisson saya pamit dahulu."
"Silahkan nona."
Merry pun berpamitan pada Mr Harisson dan Brian.
Brian dan Harisson pun kini berbincang bincang untuk lebih akrab.
"Mari kita ke ke lantai 15 suasana disini sangat ramai." tawar Harisson pada Brian.
Brian langsung melihat ke arah jam tangan nya yang menunjukkan pukul 09.45.
"Mohon maaf sebesar-besarnya Mr, saya sudah ada janji dengan klien saya sekarang. Terima kasih atas ajakan anda, semoga di lain waktu saya bisa menerima ajakan anda."
"Tidak apa apa, tadinya saya mengajakmu kesana sekalian bertemu dengan tuan Alden."
"Tuan Alden? . Ohh pemilik perusahaan Starlight Company kah?."
"Benar tuan."
"Ahh sayang sekali aku bahkan tidak pernah bertemu dengan tuan Alden sebelumnya."
"Iya karena tuan Alden tidak ingin di kenal di media."
"Titip salam padanya dariku, maaf sekali lagi aku harus meninggalkan mu karena ada suatu urusan."
"Tidak apa apa tuan silahkan hati hati di jalannya."
"Terima kasih Mr, senang bertemu dengan anda, saya pamit."
Brian pun membungkukkan sedikit badannya.
*****
"Sayang, aku pergi urusan dulu."
ucap Brian yang sedang berada di ruangan make up.
"Aamiin, terima kasih calon istriku, semoga kamu juga lancar, maafkan aku tidak bisa menemani mu."
"Tidak apa apa sayang, aku mengerti."
"Good luck sayang.."
Cup!
Brian mencium kening Milleana dengan penuh kelembutan.
"Byee.. see you"
"See you too honey.." sahut Milleana dengan tersenyum manis ke arahnya.
Milleana menatap kepergian Brian hingga sosok tubuh tegap itu menghilang.
*****
Di perjalanan..
Sebuah mobil sport mewah menelusuri jalanan dengan kecepatan sedang.
"Apa saja jadwalku hari ini?." Alden bertanya sambil memainkan ponsel nya.
"Hari ini anda ada pertemuan dengan Mr Harisson..."
"Aku sudah tahu itu, yang lain!." ucap Alden memotong pembicaraan Felix.
"Dengarkan aku dulu aku belum selesai berbicara!." protes Felix
"Lanjutkan."
"Setelah kita selesai bertemu dengan Mr Harisson, jam 4 sore kita ada acara meeting di Hotel Montana dengan perusahaan Royal Management yang akan menanam saham pada perusahaan Starlight Company sebesar 40%." jelas Felix
"Baiklah, aku yakin perusahaan ku akan kembali membaik tanpa harus menikah dengan putri tuan Cullen."
"Kau yakin tidak ingin menikahi Anzela?." tanya Felix.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?."
"Tidak!. aku hanya bertanya saja."
"Jangan pernah mengatakan nama wanita itu lagi, dia sungguh buruk bagiku."
Felix pun sedikit memutarkan matanya.
"Oh ya!. di gedung Bacharest itu kan sedang ada acara Fashion Week hari ini, kebetulan sekali, kita harus pergi melihat acara Fashion Week itu tuan." ucap Felix nada girang.
"Tidak, itu akan buang buang waktuku saja."
"Di acara Fashion Week itu ada Miss Supermodel, Milleana Stephanie. wanita yang begitu cantik dan seksi, lihat lah foto foto nya begitu mengagumkan." ucap Felix sambil memperlihatkan foto foto model Milleana di ponsel nya.
"Aku sudah tahu model itu tidak perlu kau perlihatkan lagi, kau pikir aku ini kurang update?."
"Tapi kau belum pernah bertemu langsung dengan nya kan?."
"Tidak ada untungnya bagiku!."
"Cihh dasar tuan jual mahal, ketika kau jatuh cinta baru tau rasa." gerutu Felix pelan.
"Wahh Felix aku begitu sangat mengidolakan Miss Supermodel itu." ucap Toni sambil mengendarai mobil.
"Yaa, nanti kita akan bertemu dengannya, ya kan tuan?." tanya Felix dengan senyum jahil.
"Hhhh... terserah lah." sahut Alden dengan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
Toni dan Felix pun hanya menahan tawa nya.
*****
"Miss mari aku akan merias wajahmu, ini sudah pukul 10.30. pukul 11.40 kau sudah siap." ucap salah satu MUA
"Baiklah.. ayo." sahut Milleana.
Merry dan para MUA lainnya sedang memoles wajah Milleana yang mulus.
'Ya Tuhan ternyata Miss Milleana begitu sangat cantik aslinya. Tanpa make up pun ia sudah cantik alami, benar benar wanita yang sempurna.'
ucap batin salah satu MUA yang memperhatikan setiap inci wajah Milleana, karena dirinya baru pertama kali melihatnya.
Para MUA itu sibuk mengurusi Milleana, ada yang memoleskan wajahnya, ada juga yang menata rambut indah nya.
"Merry tolong ambilkan aku air putih."
"Okay Miss." Merry pun mengambil air putih untuk Milleana.
"Miss, hari ini kau akan membawakan busana rancangan dari desainer Lady Catharina."
ucap Yulita yang tak lain managernya.
"Desainer Lady Catharina?, sungguh ia ingin aku yang membawakan rancangan nya?.
jawab Milleana sedikit tak percaya, karena Lady Catharina adalah salah satu desainer no 1 Se Asia.
"Benar sekali Miss, aku sangat bahagia Lady Catharina memilih mu sebagai pembawa rancangan nya. Namun ia belum sempat menemuimu sebelum nya atau menghubungi mu terlebih dahulu, karena dia ingin memberikan mu kejutan."
"Ohh terima kasih Tuhan, semoga aku bisa membuat nya puas."
"Tentu saja Miss aku yakin kau akan cocok membawakan busananya." ucap Yulita dengan tersenyum manis.
"Miss ini air putihnya." ucap Merry yang tiba tiba datang mengambil air putih.
"Terima kasih Merry." ucap Milleana dengan senyuman.
Bersambung....