
"Pak, antarkan saya ke Hotel Astoria Capella." ucap Alden kepada supir taksi.
"Baik tuan." sahut sang supir taksi.
Taksi pun meluncur ke hotel Astoria Capella.
'Badanku semakin panas, aku sudah tidak tahan menahan nya.'
batin Alden
"Pak nyalakan AC nya." perintah Alden pada supir taksi.
"Ini sudah nyala tuan."
"Tapi saya tidak merasakan nya. Lebihkan lagi AC nya."
"Tapi ini sudah dingin tuan."
"Tapi menurutku ini kurang dingin pak, lebihkan lagi aku kasih tips nanti."
"Ohh..b-baiklah tuan."
'Kenapa aneh sekali tuan ini, padahal AC nya sudah sangat dingin. Aduh turuti saja lah kemauan nya. Aku harus menahan dingin sekali ini..'
Batin supir taksi.
*****
Brian dan Milleana baru saja sampai di hotel Astoria Capella.
"Ayo sayang kita sudah sampai." ucap Brian sambil membuka pintu mobil sport nya.
"Kepalaku pening sekali, kaki ku lemas..." rintih Milleana.
"Kau tidak bisa berjalan?, atau mau aku gendong?."
"Tidak Bri... aku masih bisa berjalan, aku memakai gaun pendek jika nanti kau menggendong ku pahaku pasti terlihat sama orang lain."
"Ya sudah aku tuntun kamu yuk." Brian pun mengarahkan tangan Milleana ke pundak nya, lalu tangan kiri Brian menahan pinggang Milleana.
Dan Milleana pun berjalan sambil sempoyongan.
*****
Sesampai di kamar hotel, Brian langsung menidurkan Milleana di kasur.
"Kamu tidur ya, istirahat." ucap Brian.
Namun Milleana malah memeluk erat Brian.
"Kenapa?." tanya Brian
Tapi pelukan Milleana semakin erat.
"Sayang..lebih baik kamu tidur, istirahat kan badan kamu."
"Lalu, kamu mau kemana?."
"Aku harus pergi, ada urusan bisnis dengan kolegaku, ini sangat penting sayang. Urusan nya begitu mendadak sekali." ucap Brian sambil mengusap pucuk rambut Milleana.
"Kau akan meninggalkan ku sendirian? begitu?."
"Tidak akan lama sayang, aku akan kesini lagi."
Milleana pun hanya terdiam seolah wajahnya menandakan kecewa.
"Tapi aku menginginkan kamu disini Bri.. ini malam honeymoon kita."
"Aku tahu sayang, aku janji akan kesini lagi. Ini benar benar urusan yang penting." ucap Brian dengan lembut.
"Sepenting apa itu?, lebih penting dari aku kah?." tanya Milleana.
"Kenapa kamu berkata seperti itu, aku melakukan ini juga demi kamu."
"Ya sudah, pergilah."
"Jangan marah, aku akan kesini lagi ya." ucap Brian sambil mengelus pipi Milleana.
Milleana pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Masih pusing kan?."
"Iya."
"Tidurkan saja, pasti pusing nya akan hilang."
"Iya." jawab Milleana cuek.
"Aku pergi ya sayang, kamu tunggu aku disini. Jangan kemana mana." Brian langsung mencium kening Milleana dengan lembut.
"Aku pergi..."
"Hati hati di jalannya." ucap Milleana sedikit cuek.
"I love you.."
"too."
"Too apa?."
"I love you too."
"Hehe ya sudah, istirahat ya. Aku pergi dulu."
Brian pun langsung pergi meninggalkan Milleana sendirian.
"Kenapa hatiku sakit sekali. Tidak biasanya Brian meninggalkan ku disaat aku membutuhkan nya sekarang. Dia selalu saja mengutamakan aku."
gumam Milleana.
"Aaaaggghhhh!!." jerit Milleana.
Milleana mengambil sebuah telepon rumah yang berada di kanan meja hotel.
Kemudian Milleana menekan nomor yang tertera disana.
"Selamat malam dari Astoria Capella resto. Ada yang bisa saya bantu?."
ucap seorang pegawai hotel.
"Aku menginginkan whisky, antarkan whisky ke kamar 290 sekarang."
"Baik nona, apa ada tambahan lagi yang anda inginkan?."
"Tidak ada."
"Baiklah berapa botol whisky yang anda inginkan nona?."
"Dua botol saja."
"Baik kami akan konfirmasi kan dan segera mengantarnya ke kamar 290. Benar nona?."
"Ya benar."
"Dengan atas nama siapa mohon maaf?."
"Milleana Stephanie."
"Miss Milleana. Baiklah mohon di tunggu Miss Milleana Stephanie."
"Baiklah. Terima kasih."
"Terima kasih Miss, selamat malam dan selamat beristirahat."
Tut.tut.tut.!
*****
"Sudah sampai tuan." ucap supir taksi
"Terima kasih, ini uangnya."
"Ini terlalu banyak tuan."
"Tidak apa apa, ambil saja kembalian nya."
"Amin. Terima kasih pak."
Alden kemudian keluar dari taksi menuju kamar nya.
Saat tiba di lobby hotel, Alden mencari kartu kunci kamar nya.
"Astaga, dimana kartu kunci nya." gerutu Alden.
Alden terus saja merogoh saku celana dan jas nya.
"Oh ****! aku lupa, kartu kunci kamar ku ada di Felix."
Alden kemudian menghampiri meja receptionist yang ada di hotel Astoria Capella.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa kami bantu?." ucap salah satu receptionist
"Selamat malam, saya ingin bertanya. Kartu kunci kamarku di bawa oleh temanku, dan temanku tidak bisa datang kesini. Apa bisa saya mengambil candangan kunci kartu kamar saya?."
"Mohon maaf, kunci kamar tuan nomor berapa?."
"Eummm.."
'A**duh, berapa ya nomor kamar ku. Kenapa aku tidak mengingat nya tadi. Sial!.' batin Alden
"Bagaimana tuan?." tanya receptionist
"Kamar....290 kalau tidak salah."
'Ehh kamar 290, atau 260 ya. Ahh sial!.'
batin Alden.
"Tunggu sebentar ya saya check terlebih dahulu."
"Ohh silahkan." sahut Alden.
Beberapa menit kemudian...
"Bagaimana apa sudah ditemukan?." tanya Alden
Kedua Receptionist itu saling memandang.
"Bagaimana kau bisa menghilangkan data data formulir penting itu." bisik Marchel pada Rio.
"Aku tidak menghilangkan nya, aku menyimpan nya dari sini dari tadi." ucap Rio.
"Mana mungkin tidak ada jika disini." bisik Marchel
Alden mengernyitkan keningnya melihat kedua Receptionist itu berdebat kecil.
"Bagaimana?, aku sudah lelah ingin beristirahat, apa kalian bisa memberikan kartu kunci cadangan untukku?."
Marchel dan Rio pun terdiam.
"Kenapa diam saja?, aku sudah tidak tahan ingin ke kamarku!. Dimana manager mu? aku ingin berbicara padanya" ucap Alden dengan suara tinggi.
"B-baiklah tuan, ini kartu kunci kamar 290. mohon maafkan kami telah membuat anda menunggu." ucap Marchel.
Alden pun menerima kartu kunci itu.
"Kenapa tidak dari tadi, aku sudah tidak kuat menahan nya." ucap Alden kemudian melenggang pergi.
"Dia itu bukankah tuan Alden Neilsen Shakalingga?." ucap Rio
"Ohh aku baru mengingat nya." sahut Marchel
"Tahu dia itu tuan Alden dari tadi kita berikan saja kartu kunci nya."
"Kau sendiri yang menghilangkan data data itu, dasar ceroboh!."
"Apa dia akan mengadu pada Pak Geraldo karena kita telah membuatnya kesal tadi." tanya Rio dengan cemas.
"Semoga saja dia tidak mengadu pada pak Geraldo." sahut Marchel.
*****
Di sebuah Club...
"Felix, bosmu menelpon ku 15 panggilan, aku tidak sempat menerima panggilan nya."
"Jangan hiraukan, dia pasti sudah pulang ke hotel."
"Kehotel mana? bukan kah kunci kartu nya ada padamu?." ucap Toni
Felix seketika membulat kan matanya.
"Ahh iya, coba kau telepon lagi."
Toni langsung menghubungi Alden..
"Bagaimana?." tanya Felix
"Ponsel nya tidak aktif. Lebih baik kita ke hotel sekarang, Alden pasti marah besar pada kita."
"Sudah lah jangan panik, Alden sudah besar dia punya banyak uang jangan hiraukan."
"Kita hubungi saja receptionist nya, apa Alden sudah di hotel atau belum."
"Baiklah." Felix kemudian menelpon receptionist hotel Astoria Capella.
Beberapa menit kemudian, Felix sudah selesai menghubungi receptionist hotel Astoria Capella.
"Bagaimana?." tanya Toni
"Tenang saja, Alden sudah berada di kamarnya, karena dia meminta kunci cadangan pada receptionist."
"Ohh syukurlah."
"Kita lanjut lagi bersenang senang.." ajak Felix
*****
Alden berjalan dengan tergesa gesa menelusuri setiap koridor hotel hingga ia terus saja menabrak seseorang yang tidak ia kenali.
'Sial!, efek obatnya masih terasa. Aku benar benar menginginkan hasratku tersalurkan sekarang. Ini sungguh menyiksaku.' batin Alden sambil terus saja berjalan.
Kini Alden sedang berada di depan kamar 290.
Lalu Alden menempelkan kartu kunci itu ke kamar 290, dan kamar itu akhirnya terbuka.
Krekk...
'Kenapa gelap sekali.' gumam Alden dalam hatinya.
Ia melihat samar samar wanita yang sedang tertidur di atas kasur nya.
Meskipun ruangan kamar itu gelap, namun Alden masih bisa melihat jelas dengan cahaya bulan bahwa wanita itu memakai gaun pendek terlihat sangat seksi. Membuat Alden semakin terpancing hasratnya.
'Kerja si Felix benar benar tepat waktu.'
Alden pun berseringai licik sambil menatap wanita yang sedang tertidur menyamping.
Tanpa menyalakan lampu kamar, perlahan Alden mendekatkan dirinya pada wanita yang sedang tertidur itu.
Tangan kanan Alden mengusap lembut dan mencium rambut yang halsus dan wangi itu sehingga gairah nya semakin memuncak.
Alden mencium leher jenjang wanita itu, dengan lembut.
Tiba tiba saja wanita itu terbangun.
"Kau sudah datang sayang?." tanya wanita itu dengan suara manja.
"Iyaa, aku baru saja sampai." sahut Alden masih mencium leher Milleana.
"Kepala ku masih pusing."
Alden langsung mendekat kan wajahnya ke wajah Milleana.
Cup!.
Bersambung.....
Happy Reading Gais ❤️❤️❤️