
Happy Reading🤗
...ENTERED THE WRONG ROOM...
...♥♥♥♥♥♥...
...****************...
.
.
Alden benar benar tidak fokus mengerjakan pekerjaan nya, karena ia menahan rasa mual dan pusing di tubuhnya.
2 jam sebelum nya dia sudah meminum obat untuk menghilangkan rasa pusing, namun rasa pusing itu sudah terasa lebih mendingan dari pada sebelumnya, tetapi mual nya masih terasa.
Ada apa dengan tubuhnya ini, kenapa tiba tiba selemah ini.
padahal ia sering berolahraga serta makan teratur dan selalu higenis, Alden terus saja berkepikiran, bahkan obat mahal yang ia konsumsi ketika sedang sakit pun tidak ampuh menghilangkan rasa pusing dan mual nya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!." ucap Alden.
Efron pun kemudian memasuki ruangan ceo, dan melihat Alden sedang terduduk lemas dam pucat di kursi nya.
"Aku membawakan makanan untukmu, aku tau kau belum makan sejak tadi."
ucap Efron berjalan sambil menjinjing sebuah kantung plastik, kemudian duduk di sofa mewah, lalu ia membuka kantung plastik itu, dan menyimpan makanan box itu di dekat meja yang ada di depan nya.
"Kau sengaja membawakan nya untukku?."
tanya Alden menatap makanan box itu, sambil memijat kepalanya yang masih pusing.
"Ya, kata Toni kau juga belum sempat sarapan
di rumahmu, aku sengaja men take away makanan agar kau makan."
"Terima kasih.." sahut Alden lemas.
"Apa kau baik baik saja?."
tanya Efron khawatir, karena wajah Alden seperti mayit hidup terlihat sangat layu, kusut dan pucat.
Namun Alden tidak menjawab pertanyaan Efron, ia malah menyandarkan kepalanya ke belakang kursi sambil memejamkan matanya.
"Aku akan menghubungi dokter Vano untuk datang kesini."
ucap Efron, kemudian langsung mengutak ngatik ponsel nya untuk menghubungi dokter Vano sekaligus dokter pribadi nya itu.
"Makanlah terlebih dahulu, dokter Vano sedang menuju kesini."
ucap Efron ketika ia baru selesai menghubungi Vano.
"Tidak," sahut Alden dengan nada lemas.
"Ayolah, aku sengaja membelikan makanan ini untukmu. Sedikit saja kau makan, tubuhmu butuh asupan."
Efron memaksa Alden, akhirnya mau tidak mau Alden pun terpaksa menuruti kemauan Efron untuk makan.
Alden pun berjalan ke arah sofa menghampiri Efron dengan berjalan pelan pelan.
"Hati hati..ahh kau sungguh terlihat tidak berdaya." ledek Efron.
Alden pun menduduki dirinya di sofa itu, kemudian ia membawa makanan box itu lalu mencoba membuka nya.
"Melihatnya pun sungguh tidak menggiurkan." ucap Alden datar menatap makanan di depan nya.
"Cobalah dulu, jangan melihat cover nya saja, coba lah rasanya."
Alden pun dengan terpaksa mengambil sumpit kemudian menyumpit salah satu makanan yang ada di box itu.
Sebelum Alden memasukan makanan itu ke mulutnya, ia mencium aroma makanan itu terlebih dahulu.
Hueekkkkk!!
Hueekkk!!
Tiba tiba saja Alden merasa mual kembali mencium aroma makanan itu.
"Makanan apa itu, kenapa bau nya tidak enak sekali.!."
pekik Alden langsung menutup hidung dengan jari nya dan menjauhkan makanan box itu.
"Apa maksudmu?, itu makanan favorite mu kata Toni."
"T-tapi ini bau nya beda, baunya sangat menyengat sekali!. jauhkan makanan itu di depanku!." pekik Alden tidak terima.
Namun Efron masih bingung, ia menatap makanan box itu lalu mencium aroma nya dengan hidungnya.
Tapi yang Efron rasa aroma nya masih tetap sama dan tidak terlalu menyengat.
"Kak, ini seperti biasa. Menurutku tidak ada yang berbeda."
"Efron!!! jauhkan makanan itu dariku..hueekk!!."
"Kak kenapa lagi?." tanya Efron mengerutkan keningnya.
Huekk!!!
Alden langsung berlari terbirit birit ke arah toilet yang berada di ruangan nya untuk membuang sisa sisa makanan yang ada di perutnya itu, namun yang keluar hanyalah genangan air, karena memang Alden tidak mengisi makanan untuk perutnya sampai sekarang hanya minum saja.
"Aneh sekali dia, tidak benar ini."
pikir Efron sambil menggelengkan kepalanya.
Efron pun membawa makanan box itu keluar lalu memberikannya ke Felix, dan Felix pun menerimanya dengan senang hati.
"Permisi tuan presdir, dokter Vano sudah datang.."
ucap Felix yang sudah masuk ke ruangan Alden.
"Suruh masuk saja Felix," ucap Efron
"Baik presdir."
Beberapa menit kemudian...
Alden baru saja selesai di periksa oleh dokter Vano.
"Apa penyakitnya?." tanya Efron.
"Penyakitnya tidak terlalu serius."
jawab Vano kemudian melepaskan alat stetoskop nya.
"Lalu, dia kenapa sampai mual dan lemas seperti orang yang sebentar lagi..."
"Mati maksudmu?."
belum sempat Efron melanjutkan ucapan nya, Alden tiba tiba saja memotongnya.
"Aku tidak berkata seperti itu, justru kau yang berkata begitu." sahut Efron.
"Tapi kau pasti akan berkata seperti itu." ucap Alden memutarkan bola matanya.
"Sok tahu sekali kau!."
"Mengaku saja!." kesal Alden dengan mata melotot.
Efron pun terdiam bingung melihat tingkah Alden seperti wanita pms.
"Ehem, bisa di lanjutkan saja dokter pembicaraan nya." ucap Felix tersenyum.
"Penyakitnya tidak begitu berbahaya, mungkin tuan Alden bisa saja kurang nutrisi,"
"Dokter macam apa kau ini?, aku di bilang kurang nutrisi kau pikir aku tidak mampu membeli makanan makanan yang bernutrisi?." pekik Alden tidak terima.
"Euh, bukan begitu maksud saya tuan, bisa saja tuan masuk angin jadi merasakan mual dan pusing."
"Masuk angin katamu?, tiap hari aku berangkat dan pulang menggunakan mobil, dan kau pikir aku kesana kesini menggunakan motor, begitu?."
pekik Alden tidak terima dengan wajah kesal.
"Tidak tuan, mungkin saja kau kelelahan."
"Kelelahan gimana?, asistenku itu ada 4, di rumah 2 orang, dan di kantor 2 orang, bagaimana aku bisa kelelahan?."
ucap Alden dengan wajah arogan.
"Maaf tuan, asisten mu 2 orang di kantor itu siapa saja?."
Felix berucap pelan dengan memposisikan badan nya membungkuk karena Alden sedang duduk di sofa dan Felix berdiri.
"Toni dan kau!." jawab Felix datar.
"Ahh aku?." Felix kaget.
Efron pun menahan tawa nya.
Felix pun kembali berdiri tegak.
"Apa istrimu sedang hamil?." tanya Vano.
"Sejak kapan seorang dokter jadi kepo begini?." tanya Alden judes.
"Maaf tuan, aku hanya bertanya saja."
"Lalu apa urusanmu jika istriku hamil atau tidak?, apa itu akan membuatmu kaya raya melebihi aku?." ucap Alden kesal dan arogan.
"Kakak, apa yang kau katakan, dokter Vano hanya bertanya saja."
ucap Efron karena ia malu sifat kakaknya sekarang begitu sangat aneh.
"Tugas dokter itu hanya untuk memeriksa, bukan menanyakan hal tidak penting seperti itu." sahut Alden kesal.
"Maafkan atas kelancangan saya tuan presdir, tapi saya menanyakan seperti itu barang kali istri anda sedang hamil, karena keluhan keluhan seperti ini biasanya di rasakan oleh ibu hamil." jelas Vano dengan ramah.
"H-hamil?." ucap Efron dan Felix terkaget bersamaan.
"Maksdumu aku hamil begitu?! kurang ajar!!." pekik Alden kesal.
Efron dan Felix pun hanya menahan tawa saja.
"Bukan begitu, maksud saya karena bisa saja istri anda sedang ngidam dan keluhan nya bisa saja menimpa anda, contohnya mual, pusing, sakit pungguh, sensitif penciuman dan sensitif emosional yang meningkat ." jelas dokter Vano dengan ramah dan tersenyum.
"Kau itu sungguh gila, mana mungkin istriku hamil." ucap Alden dengan wajah kesal.
"Maksudnya tuan? tidak mungkin bagaimana?." tanya dokter Vano.
"Ahh tidak, maksud kakak ku itu, mana mungkin istrinya hamil, karena mereka jarang melakukan hubungan suami istri, begitu dok. hehe" jelas Efron tersenyum.
Alden pun hanya melotot ke arah Efron yang mengatakan bohong pada dokter.
"Oh haha, tidak apa apa dan itu justru bagus. Jika istri anda sedang subur walaupun itu hanya melakukan nya sekali saja, itu bisa saja langsung tokcer tuan." jelas dokter Vano tersenyum ramah.
"Tokcer apa maksudmu!?."
tanya Alden dengan wajah masih kesal.
"Jadi janin lah tuan presdirku yang tampan dan pemberani.. dan kau akan jadi bapak yeayyy!!!" ucap Felix bersorak.
"Diam kau!, bapak kau jadi bapak!." kesal Alden.
"Wahh aku sebentar lagi akan jadi paman nih dan punya keponakan baru.." Ledek Efron.
"Ahh tidak menyangka, ternyata kau dan Anzela sudah... aduhh."
"Apa maksud kalian?, aku belum pernah melakukan apa apa dengan Anzela!."
"Lahh tuan jangan sok jual mahal begitu ,kita sudah tahu kok, ya kan presdir.." ledek Felix.
Efron pun hanya mengangguk tersenyum menyengir saja.
Dan Alden pun melihatnya dengan wajah kesal, sehingga ekspresi marah nya terlihat semakin tampan dan gemas.
.
.
.
DOKTER VANO ⬇️⬇️