
Semangat membacanya para readers🤗
.
.
.
Milleana dan Brian sedang makan siang di sebuah restoran.
"Aku pasti kangen kalau kamu sebulan di Paris." ucap Mileana
"Aku juga pasti kangen sayang. Tapi aku janji akan mempercepat kerjaan aku disana supaya cepat pulang dan bertemu kamu." ucap Brian sambil mengunyah makanan nya.
"Semoga kerjaan nya cepet selesai ya sayang, aku sangat sedih dapat kabar begini."
"Aku juga di Paris mau mencari seseorang yang korupsi di perusahaanku, berani sekali dia makan uang perusahaan." ucap Brian
"Sabar ya sayang, kita berdoa saja supaya pelakunya ketemu dan masalahnya beres."
"Aamiin makasih ya udah support aku terus."
"Sebagai istri kan harus mensupport suaminya kan?."
"Hehe iya sayang, aku bangga jadi suami kamu." ucap Brian sambil memegang tangan Mileana.
"Hehe yaudah abisin makanan nya yang." ucap Mileana
"Kamu juga ya.. abis ini kita langsung pulang"
"Iyaa." sahut Mileana dengan senyuman nya.
...****************...
.
.
.
Mobil sport mewah baru saja menepi di sebuah Restoran mewah yang berada di Bali.
"Akhirnya kita sampai di restoran termahal. Ton udah siap kah mentraktir kita makan hehe." ucap Felix.
"Pesankan saja lah jangan banyak ngomong." ucap Toni nada malas
"Bener nih Ton terserah gue nih mau pesan apa?." tanya Felix
"Yaudah ayo turun, mau diem terus di mobil lu?." ucap Toni kesal.
"Apasih kok marah marah." ucap Felix
"Terserah gue, yang mentraktir gue lah elu mau ngapain?." ucap Toni kesal.
"Dasar curut lo." ejek Felix sambil nunjuk
"Ada masker disitu?." tanya Alden
"Buat apa emang?." tanya Felix
"Buat maskerin tukang rujak di pojok sana." ucap Alden kesal.
"Haa, dimana?." tanya Felix sambil pelenga pelongo mencari sosok tukang rujak di kaca mobilnya.
"Ya buat gue lah!." ucap Alden.
"Aduhh, sepertinya dua laki laki ini sedang pms, marah marah terus. Mohon bersabar lix" gerutu Felix dalam hati
"Ini tuan maskernya." ucap Toni sambil memberikan masker.
"Memangnya tuan sedang flu?." tanya Felix.
"Tidak, aku hanya ingin di masker saja, kau tahu kan sekarang aku ini banyak di kenal sama orang orang aku tidak ingin ada kericuhan di dalam restoran ini."
"Wahh bos kita sudah seperti artis papan atas saja ya Felix?." tanya Toni
"Mana gue tahu! lu nanya ke gue?." pekik Felix. Felix pun keluar dari mobil nya
Brak.
Akhirnya mereka bertiga pun keluar dari mobil sportnya.
...****************...
.
.
Mileana dan Brian baru saja selesai makan siang, dan mereka pun berniat langsung pulang. Saat tiba di parkiran Mileana melupakan sesuatu.
"Astagfirullah, ponsel aku sepertinya tertingal di meja." ucap Mileana sambil menggeledah tas nya.
"Ya sudah aku saja yang kesana ya." ucap Brian.
"Jangan sayang, kamu tunggu aja di mobil sambil panasin dulu. Aku aja yang mengambil kesana." tolak Mileana.
"Ya sudah kita berdua aja balik lagi."
"Tidak usah sayang, kamu tunggu disini ya." ucap Mileana
"Tapi aku gamau kamu pergi sendirian."
"Sayang deket kok, aku ga akan lama. Jangan terlalu manjain aku ya.." ucap Mileana
"Ya sudah aku tunggu disini, kalau ada apa apa kasih tau ya." Brian pun menuruti kemauan Mileana.
"Okay sayang.." Mileana pun pergi untuk mengambil ponselnya.
Mileana pun pergi dan setelah berada di depan pintu restoran
Bugh!
Aww!
Tiba tiba saja Mileana tidak sengaja menabrak seseorang bertubuh tinggi dan berbadan keras sehingga Mileana sedikit terpental namun pria itu dengan sigap menangkap pinggang ramping Mileana sehingga Mileana tidak terjadi jatuh.
beberapa detik mereka saling memandang.
Mileana menatap sosok pria bermata tajam setajam elang, tatapan matanya penuh dengan karisma, namun sayangnya pria itu memakai masker jadi Mileana tidak jelas melihat wajahnya.
'Wanita inii...' ucap Alden dalam hati.
"Maafkan saya tuan, saya sangat teledor sekali." ucap Mileana sambil menundukan kepalanya.
"Ah t-tidak apa apa." sahut Alden sedikit terbata bata.
"Terima kasih juga sudah menangkapku tadi, mungkin jika kau tidak menangkapku, aku pasti terjatuh dan malu."
"Sama sama nona.." sahut Alden
"Kalau begitu saya pamit tuan, mari.." ucap Mileana.
Namun dengan sigap Alden menarik tangan Mileana.
Alden hanya menatap Mileana tanpa berbicara apapun.
"Maaf tuan, saya harus pergi bisa kah kau melepaskan tanganmu?." ucap Mileana
"Ahh maafkan aku." Alden pun melepaskan tangan nya, kemudian iapun melenggang pergi.
"Aneh sekali pria itu, jangan di pikirkan." Mileana pun kembali pergi ke parkiran menemui Brian.
****
.
.
Alden, Felix dan juga Toni baru saja duduk di tempat VVIP.
Para pelayan pun menyambut mereka bertiga.
"Silahkan tuan mau pesan apa?." tanya seorang pelayan restoran.
"Boleh kami memilih dulu." ucap Felix
"Silahkan tuan, jika butuh bantuan tekan saja bel di sebelah sini." ucap pelayan.
"Oke, terima kasih." ucap Felix dan Toni.
Felix dan Toni pun melihat daftar menu nya.
"Uhukk uhukk!." Toni batuk
"Apaan ini, nasi goreng harganya 1.5 juta satu porsi. Nasi goreng apaan memangnya ada berlian nya." ucap Toni kesal.
"Aku pesan ini saja deh Beef Mozzaro with potato sauce, Banana Anemistira, Garlic Chicken salad, Umali Croastan, sama minuman nya... yang paling mahal mana ya." ucap Felix lebar.
"Bayar sendiri!." pekik Toni.
"Kau janji akan mentraktir ku." ucap Felix
"Kira kira lah pesananmu banyak sekali, kalau kau bayar sendiri atau di bayarin tuan Alden ya gue ga masalah." ucap Toni kesal.
"Ya sudah Garlic chicken saja cancel." ucap Felix
"Tapi kan itu masih mahal, lihat lah orderan mu sudah 10 juta." ucap Toni.
"Amal lah mentraktir seorang teman, pasti rezekinya makin lancar." ucap Felix
"Matamuu Felix" pekik Toni.
Alden masih melamun, ia memikirkan wanita yang ia tabrak di depan restoran tadi.
'Kenapa harus bertemu lagi, tapi sepertinya dia baik baik saja tidak ada beban, terihat sangat bahagia. Tapi kenapa aku terus memikirkannya, bahkan dia seperti tidak memikirkan ku.'
batin Alden.
"Tuan.." tanya Felix.
Namun Alden masih anteng melamun.
"Tuan..?" tanya Toni.
Alden masih tidak menyaut.
"Kenapa dia?." bisik Toni
Felix hanya mengangkat pundaknya pertanda tidak tahu.
Beberapa menit kemudian...
"Kalian sudah pesan?." tanya Alden
"Kita sudah memilih tinggal di pesankan, kita nunggu tuan untuk memilih makanan sama minumannya, karena dari tadi tuan melamun" ucap Toni.
"Ohh sorry.." ucap Alden ,kemudian ia melihat isi daftar menu.
"Tuan.. kalau boleh tahu sedang memikirkan apa? akhir akhir ini kau selalu melamun apalagi saat di kantor" tanya Felix.
"Aku tidak memikirkan apapun." jawab Alden.
"Jangan berbohong tuan, saya tahu sifat anda." ucap Felix.
"Tidak ada apa apa." sahut Alden dengan mata nya yang melihat isi daftar menu.
"Yaa barang kali kami bisa bantu masalah tuan, kalau ada apa apa kami siap membantu." ucap Toni.
Alden pun menatap Felix dan Toni.
Kemudian menyimpan isi daftar menu.
"Lupakanlah, aku tidak punya masalah." ucap Alden dingin.
Toni dan Felix pun saling memandang.
"Ya sudah pesankan makanan dan minuman nya sekarang." titah Alden.
...****************...
.
.
Mileana baru saja masuk ke dalam mobil nya.
"Maaf ya menunggu lama.." ucap Mileana
"Tidak apa apa sayang, sudah siap? apa ada yang ketinggalan lagi?." ucap Brian.
"Tidak ada, kita berangkat sekarang yu." ucap Mileana.
"Siap ibu ratuu."
Brian pun menjalankan mobil nya meninggalkan restoran.
'Kenapa aku memikirkan pria yang aku tabrak tadi. Terus kenapa hati aku merasa berdegup lebih kencang tidak biasanya semenjak bertemu pria itu. Matanya tidak asing, seperti aku pernah melihat , tapi dimana dan siapa ya..'
Pikir Mileana dalam hati.
"Sayang kamu lagi mikirin apa?." tanya Brian
"Engga mikirin apa apa kok hehe." ucap Mileana
Brian pun menggenggam tangan Mileana.
.
.
.
***Bersambung...
Jangan lupa like, komen sama vote ya readers🥰🥰***