Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 13 (Welcome Bali)



5 hari kemudian


"Kamu sudah mempersiapkan semua barang yang kamu dan aku butuhkan?." tanya Brian


"Sudah selesai semuanya sayang, tinggal kita berangkat ke Baliiiii!!.." ucap Milleana dengan nada senang


"Sabar sayang, besok kita berangkat ya."


*****


"Tuan di undang di acara tuan Ranov di acara ulang tahun perusahaan nya." Felix


"Kapan acaranya?."


"Acara nya lusa, di Bali."


"Tuan Ranov berharap sekali kau datang ke acara itu, sekalian beliau ingin membicarakan tentang bisnis dengan mu." lanjut Felix


"Baiklah, besok kita pergi ke Bali."


*****


"Apa?, aku ikut ke Bali denganmu." ucap Anzela.


"Tidak. Aku disana bekerja, bukan liburan. Untuk apa kau ikut?."


"Tapi aku jenuh jika di rumah ini tidak ada kamu."


"Jangan manja. aku hanya 2 hari di sana."


"Baiklah, aku tunggu kamu pulang disini."


"Siapkan saja barang barang ku yang akan aku butuhkam buat besok ke Bali."


"Bibi...tolong siapkan barang barang suamiku untuk ke Bali besok." perintah Anzela pada Bi Sumi.


"Baik nyonya."


"Kenapa bukan kamu yang menyiapkan?."


"Lalu untuk apa ada ART disini?."


"Terserah kau saja."


Alden kemudian melenggang pergi.


*****


Ke esokan harinya...


"Semoga honeymoon kalian lancar, dan segera memberikan kami cucu yang lucu." ucap Yasmin.


"Aamiin, terima kasih mah." sahut Milleana


"Brian, kamu harus lebih kuat ya dari sekarang." canda Kamil


"Iyaa paahh... nanti Brian akan olahraga disana" sahut Brian


Mereka pun tertawa ringan.


"Semoga kalian selamat sampe tujuan, jangan lupa kabari kami ya sayang jika sudah sampai di Bali." ucap Yasmin


"Aamiin, iya mah nanti Milea akan kabari setiap saat."


"Yuk sayang kita berangkat." ajak Brian


"Ayok."


"Mah, pah Brian dan Milleana berangkat dulu ya."


"Iyaa sayang, hati hati di jalannya.."


Milleana dan Brian pun pergi menuju Bandara.


*****


BALI


"Aduh... akhirnya kita sampai juga ya di Bali." ucap Toni sambil meregangkan kedua tangan nya yang sedikit pegal.


"Aku ingin ke beach Kuta. Pasti banyak yang bening bening tuh." ucap Felix.


"Pikiranmu itu wanita terus, tapi aneh tidak ada yang dapat satu pun." ucap Alden.


"Hei jangan sembarang ya, aku hanya tidak cocok saja dengan wanita wanita itu."


"Kau pikir siapa? Pangeran?, yang memilih antara cocok dan tidak cocok." Toni berucap.


"Hei aku tidak akan sembarang menikahi wanita. Hanya wanita yang masih suci yang bisa menjadi ibu dari anak anakku."


Alden pun terdiam mendengar hal itu.


"Ehh tuan, aku kira kau sudah masuk ke hotel."


"Jangan di pikirkan." Alden pun langsung masuk ke lobby hotel untuk melakukan check in.


Toni dan Felix pun mengikuti nya dari belakang.


*****


Milleana dan Brian baru saja sampai di sebuah Hotel yang mewah.


"Wahh.... kamar nya bagus sekali." ucap Milleana sambil melihat menelusuri setiap ruang kamar hotel nya.


"Lihatlah, indah sekali view nya Beach, kita bisa melihat senja di sini nanti.."


"Aku sangat menyukainya.."


"Syukurlah sayang."


"Terima kasih suamiku." ucap Milleana sambil memeluk Brian.


"Oh ya, nanti malam kita datang ke acara tuan Ranov, kamu akan datang?."


"Kapan acaranya sayang?,"


"Pukul 9 malam sayang."


"Hmm, boleh."


"Tapi kalau kamu lelah lebih baik disini saja istirahat, Tapi seperti aku harus hadir ke acara itu karena malu jika tidak hadir."


"Tidak apa apa, seorang istri kan harus menemani suaminya kemanapun."


"Kamu yakin tidak lelah?."


Milleana pun menggelengkan kepalanya


"No, im stronger."


"Haha.. oke sayang kalau begitu bagaimana jika kita makan dulu."


"Boleh, lagi pula aku sudah lapar sekali."


"Kasian sekali istriku yang cantik ini lapar, ya sudah yu kita pergi cari restoran yang ter the best di sini."


Mereka berdua pun pergi menuju restoran.



*****


Siang pun berganti malam...


Alden dan para duo kunco itu yang tak lain Felix dan Toni. Mereka baru saja sampai di gedung Raffles.


Pesta di gedung Raffles malam itu sangat mewah, kalangan konglomerat serta artis, model mereka ada di acara pesta ini. Bahkan banyak orang bermuka asing yang datang juga ke gedung Raffles.


"Selamat malam dan selamat datang Tuan Presdir Alden." sambut Ranov.


"Terima kasih atas pujiannya tuan Presdir, terima kasih banyak sudah datang di pestaku, semoga kau bisa menikmatinya."


"Kami sangat menikmatinya tuan.." sahut Alden.


"Selamat malam Mr Sekretaris, dan selamat malam Mr Toni." sambut Ranov


"Selamat malam juga tuan Ranov." sahut mereka berdua dengan sedikit membungkukan badannya.


"Oh iya, kau tidak datang bersama istri mu tuan?." tanya Ranov


"Tidak, istriku sedang di rumah. Dia tidak ikut ke Bali karena dia butuh istirahat."


"Oh ya, aku mengerti pengantin baru harus banyak beristirahat kan haha.."


Alden pun hanya tersenyum miring saja


"Mari tuan Presdir kita bergabung dengan yang lain nya."


"Mari Mr Sekretaris dan Mr Toni.."


"Kami tidak akan ikut, kami berdua ingin mengelilingi pesta ini." ucap Felix


"Oh iya silahkan, disini banyak wanita wanita cantik. Kalian tinggal pilih saja haha.." ucap Ranov dengan humble.


"Haha.. kami akan mencari nya tuan agar tidak sendiri terus." sahut Felix


"Baiklah kalau begitu semoga kalian menikmati pesta ini, aku dan tuan Alden akan duduk di sebelah sana." ucap Ranove sambil menunjuk sekumpulan manusia konglomerat.


"Baiklah tuan Ranov, silahkan di lanjut acaranya." ucap Toni


*****


"Sayang sudah siap?." tanya Brian


"Sudah, ayo kita pergi."


Brian menatap Milleana tanpa berkedip, ia sangat terpesona melihat Milleana yang sangat cantik malam ini dengan wajah di make up natural, dress selutut berwarna maroon, dengan dada dan punggung nya di biarkan terekspos. Rambut panjang nya ia Curly bagian bawah nya saja.


"Kamu cantik sekali malam ini.." puji Brian


"Terima kasih... apa aku tidak terlalu berlebihan?."


"Tidak, ini sudah cocok. Kamu sempurna malam ini."


"Hehe ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang sayang."


"Aku jadi tidak rela membiarkan semua orang menatap istriku dengan seperti ini, dan menikmati keindahan ini dengan sangat gratis."


"Tapi aku kan hanya milikmu.."


"Kau hanya milikku, ini semuanya milik ku."


"Benar sayang hatiku pun milikmu."


Mereka pun berpelukan.


"Ya sudah ,yu kita berangkat sekarang."


Brian dan Milleana pun pergi menuju gedung Raffles.


*****


"Permisi tuan, minuman nya." ucap Pelayan laki laki menawarkan minuman nya.


"Terima kasih." ucap Alden sambil mengambil minuman nya.


"Sama sama tuan, mari." pelayan pun pergi untuk menawarkan beberapa minuman lagi ke para tamu lainnya.


*****


"Selamat malam dan selamat datang Tuan Alexanderico, dan Miss Alexanderico."


"Selamat malam juga tuan Ranov."


"Selamat atas pernikahan kalian, aku turut bahagia sekali, kalian pasangan yang sangat cocok."


"Terima kasih tuan Ranov." sahut Brian


"Maaf aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, karena saat itu aku sedang berada di Aussie."


"Tidak apa apa tuan, kami sangat mengerti, terutama kau seseorang yang sangat sibuk."


"Kalau begitu, apa kalian ingin mengelilingi pesta ini dahulu, atau bergabung dengan yang lainnya?."


"Bagaimana sayang?." tanya Brian pada Milleana.


"Kita sambut teman teman kamu terlebih dahulu saja." sahut Milleana


"Ya sudah, mari tuan Ranov."


"Mari." ucap Ranov


Mereka pun pergi untuk menyambut para tamu.


*****


"Kenapa badan ku semua terasa gerah begini." pikir Alden


Alden pun mencoba untuk menghiraukan nya dengan berbincang bincang dengan para pengusaha.


Namun badan nya semakin terasa panas dan gerah.


"Ada apa denganku?, kenapa badan ku ini terasa sangat panas sekali."


pikir Alden dalam hatinya.


"Apa kau baik baik saja tuan Alden?." tanya Steve


"Aku baik baik saja, hanya gerah saja. Apa disini AC nya mati?." tanya Alden


"Benarkah?, tapi aku rasa disini terasa dingin, dan AC nya tidak mati sama sekali." sahut Steve


"Ohh mungkin perasaan ku saja kali."


Tidak tahan dengan keadaan tubuh nya Alden pun izin ke toilet pada kolega nya.


"Saya permisi ke toilet tuan tuan.."


"Silahkan tuan Alden." sahut Ferry.


*****


"Panas sekali, aku tidak bisa menahannya. Kenapa dengan diriku?." gumam Alden yang sedang berada di toilet.


Beberapa kali Alden membasuh muka nya namun tetap saja yang ia rasakan semakin panas dan gerah.


Ia mencoba menghubungi Felix dan Toni, namun tidak ada jawaban dari kedua konco itu.


"Aaaagh.. kemana si Felix dan Toni. Kenapa mereka tidak menjawab telepon ku disaat aku membutuhkan nya."


Alden beberapa kali mencoba menghubungi Felix dan Toni, namun tetap saja tidak ada jawaban.


"Aku tidak kuat lagi..." rintih nya


"Aku harus pergi dari sini sekarang, aku sudah tidak kuat, ini panas sekali."


gumam nya dalam hati.


Alden pun keluar dari hotel dengan jalan yang sedikit sempoyongan.


Bersambung...


Happy reading ❤️❤️❤️


Semoga kita selalu di berikan kesehatan dan keselamatan...


AAMIIN...🥰🥰