Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 14 (Kedatangan Meisya)



Malam itu Alden sedang menunggu taksi, karena ia tidak memegang kunci mobil.


Alden kembali mencoba lagi untuk menghubungi Felix.


*****


Di sebuah club Felix dan Toni sedang di geromboli oleh sekelompok wanita wanita seksi.


Musik dugem dan lampu yang kerlap kelip di club itu membuat semua para manusia disana menari nari.


Drrrtttrrtrtrtrt


Ponsel Felix berbunyi menandakan adanya telepon masuk. Ia mencoba untuk mengambil benda pipih itu di saku celananya. Kemudian ia mengangkat nya.


"Hallo!." ucap Felix dengan suara kencang.


"Dimana kau?."


"Apa?, aku tidak bisa mendengarkanmu." teriak Felix.


"Kau dimana bodoh!, cepat jemput aku sekarang!."


"Ya sudah kau pulang saja." teriak Felix


"Tubuhku panas sekali, seperti nya aku membutuhkan hasrat."


"Aku dan Toni akan pulang malam, kau istirahat saja."


"Kenapa tidak nyambung! bodo amat kau tidak pulang juga!."


"Ha? kau bicara apa?"


"Carikan aku wanita untuk menyalurkan hasrat ku sekarang!."


"Iyaa aku dan Toni sedang bersama wanita wanita cantik dan seksi disini."


"Carikan aku wanita yang masih suci, bawa sekarang ke kamar ku. Aku tunggu!."


Tut Tut Tut ...


Alden kemudian langsung menutup telponnya.


"Bicara apa sih dia, wanita apa maksudnya. Bodo amat lah." gerutu Felix


Kemudian kembali meminum bir nya.


*****


"Kepala aku pusing sekali.." ucap Milleana pada Brian.


"Kamu minum apa?."


"Hanya minum ini saja."


Brian pun langsung mencium aroma gelas itu dan mencicipi nya sedikit.


"Kamu abis berapa gelas minum ini?." tanya Brian


"Aku lupa lagi, mungkin abis 5 gelas."


"What?, kenapa kamu tidak bertanya padaku sebelumnya."


"Kau sedang ngobrol dengan temanmu, aku tidak ingin menganggu."


"Kamu tidak pernah menganggu ku.."


"Memangnya kenapa dengan minumam itu?." tanya Milleana


"Apa kepalamu terasa pusing?."


Milleana pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu akan mabuk, karena ini adalah minuman beralkohol 70%."


"Apa? aku akan mabuk." panik Milleana


"Maka nya kamu itu bertanya dulu sebelum meminumnya."


"Maafkan aku Bri.. kepala aku pusing sekali.." rintih Milleana


"Baiklah kita pulang sekarang."


Brian pun langsung menuntun Milleana untuk pulang.


"Permisi tuan Ranov, saya pamit pulang terlebih dahulu karena istri saya sedang tidak enak badan." ucap Brian pada Ranov


"Ohh ada apa dengan Miss Milleana?."


"Aku sedikit tidak enak badan tuan Ranov." sahut Milleana


"Semoga cepat sembuh Miss, lebih baik kau istirahat saja."


"Iyaa tuan, kami pamit pulang, maaf kami tidak bisa menghadiri pesta mu sampai selesai." ucap Brian


"Tidak apa apa, saya sangat mengerti. Lebih baik kalian istirahat saja, dan Miss semoga cepat sembuh ya."


"Terima kasih tuan Ranov, kalau begitu kami pulang. Salam untuk semua untuk para kolega lainnya dariku."


"Akan saya sampaikan tuan Brian, hati hati di jalannya." sahut Ranov


Brian dan Milleana pun akhirnya keluar dari pesta itu.


Saat tiba di parkiran gedung Raffles, Brian membukakan pintu mobil untuk Milleana.


"Hati hati sayang duduknya."


"Terima kasih.." sahut Milleana


Saat Brian sudah menyalakan mobil sport nya tiba tiba ia melupakan sesuatu.


"Astaga ponselku ketinggalan." ucap Brian sambil merogoh celana dan jas nya.


"Ponselmu dimana?."


"Sepertinya di meja yang ada tuan Ranov. Aku cari dulu ya sayang, kamu tunggu disini sebentar saja."


"Okay aku tunggu.."


Brian pun langsung keluar dari mobil menuju pesta.


*****


Saat sudah berada di lantai 11, Brian pun langsung masuk ke pesta itu.


"Permisi tuan Ranov."


"Tuan Brian bukan kah sudah pulang?." ujar Ranov


"Iyaa, ponsel ku ketinggalan apa tuan melihat nya?." ucap Brian


"Ponsel mu yang seperti apa?, Silahkan cari saja."


Brian pun langsung menemukan nya.


"Terima kasih tuan Ranov, ponsel ku sudah di temukan."


"Ohh syukur lah, jangan sampai teledor lagi."


"Hehe iya tuan kalau begitu saya pamit pulang soalnya istriku sudah menunggu di bawah."


Brian pun langsung keluar di acara pesta itu.


Saat Brian menyelusuri setiap koridor gedung tiba tiba saja ada yang memanggil nya.


"Brian.."


Brian pun langsung menoleh ke arah suara itu.


Matanya seketika membulat seakan terkejut melihat seseorang yang telah memanggil nya.


Namun Brian menghiraukan kan nya ia kembali berjalan dengan tergesa gesa.


"Brian tunggu!." teriak wanita itu sambil mengejar nya.


"Brian..."


"Ada apa!." bisik Brian dengan tegas.


"Aku mohon tolong Valdo, dia membutuhkan darah B, darah yang sama denganmu." ucap wanita itu sambil mengatupkan kedua tangan nya.


"Maaf aku tidak bisa." kemudian Brian mengambil sebuah dompet lalu memberikan beberapa uang lembar untuk wanita itu.


"Pakai saja uang itu untuk biaya orang yang ingin mendonorkan darah untuk Valdo, sisa nya itu terserah kau saja!."


Kemudian Brian pun pergi.


"Tunggu!. Aku mohon Brian, Valdo ingin bertemu denganmu.."


"Apa maksudmu!, kau ingin memberitahu Valdo jika aku ini ayahnya!?." bisik Brian dengan wajah tegas.


"Tapi Valdo ingin tahu siapa ayahnya hiks..hiks." wanita itu kini menangis


"Kau sudah melanggar janjimu! apa maksudmu? kau menginginkan rumah tanggaku hancur dengan istriku? begitu!? aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Aku tidak seperti itu!. Baiklah aku tidak akan menganggu mu lagi, tapi aku mohon...donorkan darah untuk Valdo, sekali ini saja Brian.. hiks..hiks."


"Meisya! sudah aku katakan, aku tidak bisa membantu anakmu!. Maaf aku harus pergi istriku sedang menunggu ku."


"Baiklah, aku akan katakan yang sebenarnya pada istrimu. Kalau kamu sudah mempunyai an..."


"Sudah cukup jangan katakan!. Apa maksudmu??." bentak Brian.


"Aku menginginkan donorkan darahmu pada Valdo itu saja!." tegas Meisya


Brian menahan amarah nya, sambil melirik lirik kearah sekitarnya.


"Aku tidak main main dengan ucapanku Brian!."


"Baiklah, aku akan donorkan darahku untuk Valdo. Aku pergi!."


Saat Brian ingin pergi, Meisya kembali menahan nya.


"Tunggu."


"Apa lagi?." pekik Brian.


"Tapi Valdo membutuhkan darah itu sekarang!. Kau harus datang kerumah sakit sekarang juga.hiks..hiks."


"Kau gila ha?, mana mungkin aku membiarkan istirku sendirian."


"Tapi aku takut kehilangan Valdo Brii..."


Meisya pun langsung berlutut, dan bersimpuh di hadapan Brian dengan mengatupkan kedua tangan yang memohon.


"Apa yang kau lakukan!?, semua orang melihat ke arah kita." bisik Brian dengan wajah tegas.


"Aku mohon kabulkan permintaan aku yang terakhir..." ucap Meisya dengan tangisan.


"Bangunlah, kita menjadi bahan tontonan orang lain!."


"Tapi kau harus ke rumah sakit dan mendonorkan darah mu untuk Valdo sekarang hiks..hikss."


Bebeapa detik Brian terdiam untuk memikirkan nya.


"Baiklah. Aku akan kerumah sakit sekarang setelah mengantarkan istriku."


"Kau pasti berbohong, aku tidak ingin di bohongi lagi Bri..hiks."


"Cukup!, aku tidak punya banyak waktu! istriku sedang menunggu ku, katakan saja dimana alamat rumah sakitnya?."


Meisya kemudian berdiri.


"Baiklah, aku tunggu janjimu yang ke 3 kalinya.. semoga janji ini bisa kau penuhi. Rumah sakit Pelita, jalan Jayaraga."


"Baiklah, nanti aku kesana."


"Aku menunggumu, dan jika kau ingkar janji lagi. Aku akan membongkar rahasia mu semuanya pada istri tercintamu itu."


Brian pun tidak menyahuti nya lagi ia malah memilih pergi tanpa pamit dan tidak menoleh lagi ke arah Meisya.


*****


"Sayang kamu kenapa menunggu di luar?."


"Bri.. kenapa lama sekali, kepalaku sangat pusing."


"Maafkan aku sayang, tadi aku bertemu dengan kolegaku jadi kita berbicara sedikit."


"Pantesan saja."


"Kau masih pusing?, kita pulang sekarang ya sayang." ucap Brian sambil mengelus pucuk rambut Milleana.


Milleana pun hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Senyum dulu dong, jangan cemberut begitu."


Milleana pun langsung tersenyum manis.


"Nah..lebih cantik kan kalau tersenyum."


"Hehe.. ya sudah yuk kita kembali ke hotel, kepalaku sudah pening."


Brian pun mencium kening Milleana dengan lembut, kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Milleana masuk.


"Terima kasih suamiku.."


Brian pun hanya tersenyum, Lalu menuju ke pintu kemudi nya.


Dan mobil pun langsung berjalan, meninggalkan gedung Raffles.


Di tempat lain ada seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka.


"Kau sangat hangat sekali pada istrimu Bri.., kau memperlakukan dia seperti seorang ratu. Pantas saja kau sangat mencintai nya, istrimu sangat cantik bahkan jika di bandingkan denganku sungguh jauh berbeda."


Batin Meisya sambil mengeluarkan air mata nya.


Bersambung....


Happy Reading ❤️❤️❤️


Jangan lupa Like ya🥰


Semoga cerita ini bisa membuat kalian terhibur...


Love you All❤️❤️❤️