Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 17 (Salah kamar)



Pagi hari yang cerah, pantulan matahari dari arah jendela hotel itu membangunkan wanita yang sedang tertidur.


Perlahan wanita itu membukakan mata nya dan mengerjap ngerjap.


Kemudian ia meregangkan tubuhnya.


Dan menoleh ke arah belakang, karena pria itu dari tadi memeluk perutnya dari belakang.


"Aaaaaaaaaaakh" teriak Milleana hingga membangunkan pria yang sedang tertidur di sebelahnya.


Alden seketika menjauh beberapa jarak ketika melihat Milleana ada di sampingnya.


"S-siapa kau? t-tuan Al-den.. kenapa ada di kamarku!." bentak Milleana.


"Ini kamarku!, kau yang datang kesini bukan?." pekik Alden


"Tidak!, ini kamarku!." Milleana kemudian melihat tubuhnya yang polos tanpa busana hanya selimut saja yang menutupi tubuhnya itu.


"Kau apa kan aku ha? kenapa kita tanpa busana, kau apakan aku!?." yg teriak Milleana sambil memukuli Alden dengan bantal nya.


"Dimana suamiku!?. katakan dimana suamiku!?."


"Mana aku tahu suamimu siapa dan dimana!." pekik Alden


"Kau sudah melecehkan ku! aku akan melaporkan mu pada polisi!." pekik Milleana dengan tangisan sambil melempari beberapa bantal ke arah Alden.


"Stop!." ucap Alden sambil memegangi bantal yang di lempari Milleana.


"Aku tidak salah! kau wanita yang di kirimkan oleh sekretaris ku!."


"Apa maksudmu!, kau pikir aku seorang wanita panggilan ha?, aku sudah bersuami!." bentak Milleana.


"Lalu kenapa semalam kau membalas sentuhan ku dan kau malah menikmatinya!."


Milleana terus saja menangis dengan menggelengkan kan kepalanya.


"Itu tidak mungkin!."


Milleana pun terbangun tapi bagian paha nya terasa sangat perih dan sakit.


"Ahkk ini sakit sekali!."


Lalu Milleana melihat bercakan darah di sprei nya.


"K-kau mengambil virgin ku?."


Alden pun hanya bengong melihat bercakan darah di sprei putih itu.


"A-aku yang pertama?." tanya Alden


"Kau pria brengsek!, seharusnya suamiku yang mendapatkan itu!, siapa kau berani beraninya masuk ke kamarku ha?!." ucap Milleana dengan bringas.


"Sudah ku katakan! bahwa ini kamarku. Kau yang datang ke kamarku."


"Kita buktikan saja, ini kamarku atau kamarmu!." pekik Milleana sambil menangis


"Okay, kita buktikan!." sahut Alden


Beberapa menit kemudian...


Seorang pegawai house keeping memberitahukan bahwa kamar ini 290 dengan atas nama Brian Alexanderico.


Sedangkan nama atas Alden Neilsen SK itu kamar nomor 260.


"Siapa disini yang salah? ya jelas kau!." pekik Milleana dengan mata yang berkaca kaca.


"Tapi aku tidak sepenuhnya salah, kau bahkan menikmati nya, dasar munafik." ujar Alden


"Aku saat itu sedang tidak sadar aku sedang keadaan mabuk, aku kira itu suamiku yang datang. Tapi ternyata kau yang sama sekali aku tidak mengenalmu!." bentak Milleana.


"Aku kira ini kamarku, dan mengira kau adalah wanita yang di kirimkan oleh sekretaris ku."


"Bulshit! mana ada kau tidak tahu nomor kamar mu sendiri!." geram Milleana sambil melemparkan bantal pada Alden.


"Aku menang tidak tahu, kartu kunciku ada pada sekretaris ku. Ya aku mengira nomor kamar ku 290, bukan 260. Aku masuk saja ke kamar ini." ujar Alden


"Dasar lelaki bodoh! kenapa bisa salah masuk kamar?."


*****


Brian baru saja tersadar dari tidurnya..


Beberapa kali ia menguap seolah matanya masih menginginkan untuk tidur.


Namun ia mengerjapkan kedua matanya setelah mendengar suara telepon dari ponselnya.


"Astaga! aku bisa ketiduran di mobil." gumam nya.


Ia pun langsung mengangkat telepon itu.


"Hallo."


"Hallo tuan muda, kami sudah berada di bandara. Saya dan David baru saja tiba di Bali."


ucap Mark.


"Kau datang saja ke hotel Astoria Capella, kita bertemu disana."


"Baik tuan, kami akan segera ke sana."


"Aku tunggu mark."


"Kenapa aku bisa ketiduran di mobil, Milleana pasti menunggu ku semalam."


Brian pun menghela nafas, kemudian menyalakan mesin mobil nya.


*****


"Hiks...hiks..hiks.." Milleana terus saja menangis.


Krekk.


Alden baru saja keluar dari toilet untuk membersihkan badan nya.


Ia menatap Milleana yang memakai kimono sambil menangis di tepi bawah ranjang.


"Berapa uang yang kau inginkan?." tanya Alden.


"Hiks..kau pikir aku ini ******!? Aku akan melaporkan mu pada polisi!." bentak Milleana.


"Kau ingin melaporkan ku pada polisi? silahkan saja. Percuma kau melaporkan ku pada polisi, aku pasti akan bebas. Dan nama mu pasti tercemar buruk, suami mu pun akan kecewa."


"Aku tahu kau memiliki banyak uang tuan yang terhormat!. Tapi kau tidak bisa pergi begitu saja!." bentak Milleana dengan air mata yang terus mengalir.


"Hiks... bagaimana jika suamiku nanti tahu kalau aku sudah tidak suci lagi!. hiks..hiks.."


Milleana menundukan wajah nya dengan air mata yang terus saja mengalir membasahi wajah cantiknya. Hatinya begitu sangat sakit.


"Kalau begitu menikahlah dengan ku." ucap Alden dengan nada serius.


"Kau gila!, aku tidak ingin menikah dengan mu!, aku hanya mencintai suamiku!." bentak Milleana.


"Ya sudah jika tidak mau, aku tidak memaksa mu."


Alden mengeluarkan cek giro lalu menuliskan nominal Rp 2Milyar.


"Ini cek giro untukmu, itu sebagai hadiah kau memberiku kenikmatan semalam, dan memberiku keperawanan mu." ucap Alden sambil memberikan cek giro itu di atas tempat tidur.


"Dan ini nomor kartu namaku dan nomor teleponku jika kau membutuhkan ku hubungi saja." lanjut Alden sambil menyimpan kartu nama nya di atas kasur


Namun Milleana masih saja terdiam menangis sesenggukan.


"Ambil saja cek itu! aku tidak membutuhkan nya." pekik Milleana


"Aku tidak bisa menerima gratisan." sahut Alden


"Aku harus pergi karena ada urusan, jika kau membutuhkan ku, hubungi saja." Alden pun kemudian pergi.


Saat Alden membuka pintu kamar nya, ia kembali menoleh ke arah Milleana yang masih menangis.


"Maafkan aku.."


Brak.


Alden pun menutup pintu nya dan pergi meninggalkan kamar itu.


"Hiks..hiks. Brian... maafkan aku sayang. Aku telah menghianati pernikahan kita. Kau pasti akan kecewa padaku.. bagaimana aku menjelaskan ini semua padamu Bri.. hiks.hiks." gumam Milleana dengan tangisan tersedu sedu.


*****


Brian baru saja sampai di hotel Astoria Capella.


"Selamat siang tuan muda." ucap Mark dan David saat Brian baru sampai di lobby hotel.


"Selamat siang, kalian sudah dari tadi menunggu ku!."


"Kami baru saja sampai 5 menit yang lalu tuan." sahut Mark


"Ohh baiklah, kita duduk saja terlebih dahulu."


Brian, Mark dan David pun duduk di sofa yang berada di lobby hotel.


"Aku mempunyai tugas untuk kalian berdua."


"Aku ingin kalian sebisa mungkin mencegah Meisya agar tidak membongkar rahasia ku. Tidak ada yang boleh tahu tentang aku dan Meisya, apalagi istriku!." jelas Brian dengan suara pelan namun tegas.


"Apa yang harus kami lakukan untuk Meisya tuan?." tanya David


"Kalian hanya perlu menguntit dari jauh gerak gerik Meisya, jangan sampai Meisya mengetahuinya. Aku tidak ingin Meisya memberi tahu Milleana bahwa aku sudah punya anak dengan nya."


Brian pun menghela nafas sambil menyandarkan badan nya ke kursi sofa.


"Tidak terbayang jika Milleana mengetahui nya jika aku sudah punya anak dengan perempuan lain." ucap Brian dengan wajah cemas.


"Itu tidak akan pernah terjadi tuan, kami tidak akan membiarkan Meisya menghancurkan rumah tangga mu dengan Miss." ucap Mark


"Aku serahkan urusan Meisya dan Valdo pada kalian."


"Kami selalu siap atas perintahmu tuan." ucap Mark dan David.


"Baiklah... aku harus ke kamar menemui Milea."


"Silahkan tuan.." ucap Mark dan David


Brian pun pergi menuju lift untuk ke kamar nya menemui Milleana.


Bersambung...


Happy Reading ❤️❤️🤗