
Disebuah kamar hotel 209.
"Mark, kau sudah menghubungi dokter untuk datang kesini?." tanya Brian dengan wajah panik.
"Sudah tuan, dokter Willy sedang di jalan menuju kesini." sahut Mark.
"Okay."
Brian pun menghampiri Milleana yang sedang berbaring lemas di atas kasur.
"Bangun sayang...kamu kenapa?." ucap Brian dengan nada lembut sambil menggenggam jemari lentik itu.
"Kenapa Miss bisa seperti ini tuan?." tanya Mark.
"Aku tidak tahu, setelah aku baru sampai di kamar, Milea sudah tidak sadarkan diri. Ini salahku, seharusnya aku tidak meninggalkan dia kemarin." jelas Brian dengan raut wajah sedih.
"Maaf tuan kalau boleh saya tahu, memangnya kemarin tuan kemana?." tanya Mark
"Eumm.. A-aku menemui Meisya dan Valdo." ucap Brian ragu ragu.
"A-apa?, tuan menemui mereka lagi?." sentak Mark
"Meisya memohon padaku agar mendonorkan darahku untuk Valdo."
"Kenapa dengan tuan Valdo tuan?." Mark mengernyitkan dahinya.
"Meisya bilang Valdo terjatuh dari sepeda, hingga banyak mengeluarkan darah." sahut Brian.
"Lalu bagaimana keadaan tuan Valdo sekarang tuan?."
"Aku tidak tahu, karena saat itu aku langsung pergi saja. Namun seperti nya Valdo akan baik baik saja."
"Semoga saja tuan Valdo baik baik saja tuan." ucap Mark.
"Siapa Valdo?." ucap Milleana dengan suara lemas
Brian dan Mark seketika menoleh ke arah suara tersebut.
"S-sayang...kau sudah sadar?." tanya Brian dengan wajah sedikit panik.
"Iyaa... kenapa denganku?." tanya Milleana dengan lemas
"Kau pingsan di kamar mandi. Kenapa bisa sampai begitu, apa kamu ada masalah?." tanya Brian sambil mengusap pucuk kepala Milleana.
Milleana seketika terdiam. Bayangan samar samar saat dengan Alden ia teringat kembali, wajahnya seketika tegang bercampur sedih.
"Kamu kenapa sayang?." tanya Brian lembut.
"T-tidak!. jangan sentuh aku." ucap Milleana dengan sedikit meronta.
"Kamu kenapa?, kamu marah padaku? aku minta maaf saat malam kemarin tidak pulang."
Namun Milleana malah menjauhi Brian, dengan wajah yang terlihat sangat ketakutan.
Tiba tiba saja Milleana menangis mengeluarkan air matanya.
"Sayang kamu kenapa? bicara padaku apa yang terjadi?."
Milleana hanya menggeleng kan kepalanya saja.
"Katakan Milea."
"B-brian... aku."
"Kenapa? bicara padaku apa ada yang menyakiti mu?." ucap Brian dengan lembut sambil memegang kedua pipi Mileana
Namun Milleana tidak menjawab, ia malah menangis.
Brian langsung saja memeluknya.
"Jangan tinggalkan aku lagi Brian.. hiks..hiks." ucap Milleana sambil mengeluarkan air mata nya.
"Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkan mu." ujar Brian sambil mengelus rambut Milleana.
"M-maafkan aku Brian..hiks.hiks."
"Maaf kenapa?, aku yang seharusnya minta maaf meninggalkan mu kemarin. Kau jadi sakit begini gara gara aku."
Tangisan Milleana semakin menjadi jadi.
"hiks..hiks.."
"Sudah jangan menangis, kamu masih pusing. Jika kamu terus nangis nanti tambah pusing jadinya" kata Brian.
Milleana pun kembali memeluk Brian dengan sangat erat.
'Bagaimana caraku mengatakan pada Brian apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak sanggup membuat pernikahan ku hancur begitu saja, aku tidak sanggup kehilangan Brian... Ya Tuhan, bantu aku untuk menemukan jalan nya.'
batin Milleana.
...****************...
Anzela terus saja mencoba menghubungi Alden beberapa kali meskipun tidak ada jawaban apapun namun ia tidak menyerah untuk menghubunginya.
"Ck! Alden... kenapa kamu tidak pernah mengangkat telepon dariku, apa aku harus terus menelpon Felix jika ingin menghubungi mu." gerutu Anzela kesal sambil menghela nafasnya dengan kasar.
Anzela pun mencoba menghubungi Felix namun sama saja tidak ada jawaban, Felix malah merijeknya hingga membuat wajah Anzela semakin kesal.
"Aaagh! apaan berani nya si sekretaris itu merijek telepon darikuu. awas ajau kau Felix!." gerutu Anzela dengan wajah kesal sambil membanting kan hpnya ke atas kasur.
"Ohh yaa, aku baru ingat." ketus nya kemudian mengambil hpnya kembali.
...****************...
Toni kini sedang tertidur sambil mengorok di dalam mobil dengan sangat pulas.
Namun tiba tiba saja suara nada dering telepon menganggu tidur siangnya sehingga Toni pun terbangun.
"Hoaam!. siapa sih yang menelpon ku, menganggu saja." ketus nya dengan kesal.
Toni pun terbangun sambil meregangkan otot nya dengan mata sedikit menutup untuk mengumpulkan nyawa nya. Kemudian Toni pun mencari keberadaan ponselnya yang masih berdering itu.
"Awas saja kalau tidak penting." ketusnya dengan wajah kusut.
"What!. ngapain si mpok sihir meneleponku, tumben sekali." pekik nya tak percaya.
"Ahh paling juga menanyakan tuan muda." lanjut nya lagi.
Karena Anzela memang tidak pernah menghubungi Toni sekalipun ingin menghubungi nya pasti untuk menanyakan Alden.
"Hmm.. angkat, tidak ya.." pikir Toni sambil menatap layar ponsel yang masih berdering.
"Tapi kalau gue angkat, pasti bakalan nanyain si bos sedetail mungkin kaya wartawan. tapi kalau gue ga angkat pasti teleponin gue terus, dia kan ceweknya ngeyel, ribet lagi." ucap Toni bermonolog.
setelah beberapa detik berpikir.
"Bodo amatlah gue angkat dulu." ketus nya.
Toni pun segera menggeserkan layar hijau nya untuk menerima telepon.
"Hallo, selamat siang nona." ucap Toni dengan kalem.
"Toni, apa kau sekarang sedang bersama Alden?."
"Tidak nona, saya sedang tidak bersama tuan Alden."
"Apaa!, apakah kau tau Alden dimana? dan dengan siapa dia sekarang? mengapa dia tidak menjawab telepon dariku?, apa dia sedang bersama wanita lain? atau apakah dia sedang berkencan?.. kasih tahu aku siapa wanita nya?. Jangan ada yang di sembunyikan dariku Toni, katakan!"
"Saya tidak tahu nona, maaf saya masih ada kerjaan yang harus di selesaikan. Selamat siang."
Tut Tut Tut ..
Toni pun menutup telepon nya untuk mengakhiri.
"Gila, belum juga satu menit gue nerima telpon nya udah pening kepala gue sama pertanyaan pertanyaan konyol nya." gerutu Toni
Toni pun menghela nafasnya, kembali menyandarkan badannya ke kursi jok mobil.
"Si Felix sama tuan muda lama sekali meeting nya. Hoaam..lebih baik aku kembali tidur, lumayan kan tidur 1 jam 2 jam hehe.." ucap Toni sambil menutup kan matanya dan bersandar.
****
"Toni!!!. Hallo Tonii!!" teriak Anzela
"Aaaghh!.. kenapa mereka sangat menyebalkan, majikan dan bawahannya sama saja, sama sama membuatku kesal." pekik Anzela.
Anzela pun langsung keluar kamar nya dengan wajah kusut sambil membanting pintu.
Brakk!
*****
Di kamar hotel seorang wanita cantik yang tertidur dengan wajah polosnya baru saja di cek oleh dokter Willy.
"Bagaimana dok, apa istriku baik baik saja?." tanya Brian dengan khawatir.
"Seperti nya dia terlalu syok dan juga kecapean, entah itu apa kejadian nya, bisa jadi iya akan mengalami trauma." jelas dokter Willy.
"Trauma?." jawab Brian sambil mengerutkan keningnya.
"Iyaa tuan, dan ini resep obat dari saya agar nona Milea kembali membaik dan cepat pulih." ucap dokter Willy sambil memberikan beberapa obat-obatan.
"Terima kasih dokter, tapi apakah istriku akan baik baik saja kan?." tanya Brian dengan wajah khawatir.
"Aku tidak bisa menjamin, yang terpenting adalah doa, dan juga berusaha. Jangan membuat dirinya sedih sehingga ia sampai memikirkan nya terlalu dalam, itu sungguh buruk untuk keadaannya saat ini." jelas dokter Willy.
Brian pun menatap wajah istrinya yang masih tertidur pulas dengan tatapan khawatir.
"Baik dokter, terima kasih pengertian nya." jawab Brian sambil menepuk perlahan punggung dokter Willy.
"baik tuan presdir, kalau begitu saya pamit pulang karena masih ada pasien yang harus saya tangani hari ini."
"Tentu dokter, seperti biasa aku akan transfer pembayaran nya."
"Hehe... jangan terlalu terburu buru Presdir, Presdir dan nona Milea adalah teman saya." ucap dokter Willy
"Tentu saja., tapi bukan berarti geratis" ucap Brian sambil tertawa kecil.
"Hahaha... tapi jika mau aku akan memberikan nya gratis."
"Ahh jangan begitu, kau menjadi profesi dokter itu untuk dibayar bukan?." ucap Brian tertawa kecil
"Haha iyaa tapi niat paling nomer satu yaitu membantu." jawab dokter Willy
"Bagus, kau memang murah hati."
"Terima kasih atas pujiannya, tapi hati saya juga tidak murah sekali tuan, kalau di jual bisa mendapatkan uang triliunan haha.."
"Haha tapi bukan maksud kau harus menjual hati mu sendiri. kau ini lucu sekali." canda Brian tertawa.
"Haha iyaa iyaa aku mengerti, aku hanya becanda presdir." ucap dokter Willy
"Kau pikir aku tidak tahu kita sedang becanda? jangan kau pikir juga besar kepala itu artinya kepala nya besar sekali." ucap Brian cekikikan.
"Haha ya aku pernah berpikir seperti itu saat aku masih berumur 5 tahun." sahut dokter Willy tertawa.
"Haha bukan kau saja dokter, tapi semua manusia termasuk aku juga."
Mereka pun tertawa tawa, membuat hubungan mereka semakin erat pertemanan nya.
"Baiklah kalau begitu saya pamit, semoga nona Milea cepat sembuh kembali." ucap dokter Willy.
"Aamiin.. terima kasih doa nya dokter. hati hati di jalannya."
"Baik presdir, selamat sore." ucap dokter Willy sambil membungkuk sedikit badan nya.
"Selamat sore kembali." sahut Brian sedikit membungkukan badannya.
dokter Willy pun kini meninggal kan kamar hotel Brian.
Bersambung....
Hippy riding ❤️❤️❤️