
...ENTERED THE WRONG ROOM...
.
.
.
...****************...
Pukul 01.00 malam, Mileana masih terjaga enggan menutup matanya karena ia terus saja memikirkan hidupnya, sedangkan Merry sudah tertidur dengan sangat pulas di sampingnya.
"Apa aku harus menemui pria itu?, tapi ada benarnya kata Merry anak ini butuh seorang ayah." batin nya.
"Tapi aku juga bisa mengurus nya sendiri tanpa seorang ayah." lanjutnya.
Mileana mengusap perutnya yang masih rata itu.
"Maafkan mama ya nak, semoga kita selalu dalam lindungan Allah, kamu harus kuat nak kita berjuang bersama yah." gumam Mileana tersenyum dengan mata berkaca kaca.
.
.
...****************...
Di kamar Alden.
"Kenapa aku tidak bisa tidur!." ketus Alden kesal.
Beberapa kali ia mencari posisi yang nyaman tapi matanya enggan mau tertidur.
"Kenapa tiba tiba hatiku tidak enak, seperti ada yang mengganjal." pikir Alden.
Tak terlalu di pikirkan akhirnya Alden menuju ke dapur untuk mencari minuman dingin agar menyegarkan tubuhnya.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🌞🌞🌞
Keesokan harinya..
Di siang hari itu mentari kini kembali menyinari seluruh makhluk hidup di muka bumi.
Seluruh insan begitu sibuk dengan aktivitas nya masing masing.
Begitu juga dengan Mileana yang baru saja keluar dari apotek.
"Aduh kenapa pusing sekali kepalaku.." rintih Mileana sembari berjalan menggontai.
Mileana begitu terlihat lemas dan pucat, ia tidak sanggup melanjutkan berjalan lagi.
Buggh!.
Namun tiba tiba ada seseorang yang menabrak dirinya sehingga Mileana terhuyung .
Dengan sigap pria yang menabraknya itu langsung saja mengangkap pinggang ramping Mileana itu agar tidak terjatuh.
Mileana melihat pria itu sangat tidak jelas karena matanya kini sangat buram.
Tak lama Mileana pun pingsan di pelukan pria itu.
Pria itu menepuk nepuk pipi Mileana dengan pelan sembari mencoba membangunkan nya, namun Mileana tetap tidak sadarkan diri.
Dan akhirnya pria berjas hitam itu langsung membawa Mileana ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil nya.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🏥🏥🏥
Di Rumah sakit.
"Bagaimana dokter keadaan nya?." ucap pria maskulin itu.
"Alhamdulillah istri anda dan calon bayi anda baik baik saja, untuk saja anda cepat membawa nya kesini, tapi seperti nya istri anda sedang mengalami stres berat ya, kalau bisa itu jangan karena bisa ngaruh sama calon bayi nya." jelas Dokter.
Alden pun terdiam mengerutkan alisnya.
"Jadi dia sedang mengandung." pikir Alden dalam hati.
"Oh iya tuan, jangan lupa asupan buah dan sayuran nya ya untuk istri anda, saya akan memberikam vitamin juga untuk istri anda." ucap Dokter.
"I-iyaa.." ucap Alden dengan wajah kaku.
"Kalau begitu saya permisi, tuan bisa menjenguk istri anda sekarang."
"Baik, terima kasih dokter." ucap Alden.
"Sama sama tuan, mari.." Dokter pun membungkukan badan nya kemudian pergi.
****
Alden menemui Mileana di ruangan perawatan.
Ia menatap sosok elok itu yang kini terbaring lemah, walaupun Mileana pucat tanpa make up tapi wajahnya masih mampu memikat jiwa.
"Anak siapa yang dia kandung?." pikir Alden dalam hatinya sembari mengingat kejadian aneh yang menimpa dirinya akhir akhir ini, seperti mual dan banyak maunya.
Perkataan Felix dan Efron kini terngiang ngiang di dalam pikiran nya "Apa jangan jangan wanita itu hamil anakmu." begitulah celotehan mereka.
"Tidak mungkin dia mengandung anakku.." pikir Alden mengerutkan alisnya.
Alden kembali menatap Mileana dengan tatapan penuh arti, lalu kemudian ia berpaling menatap perut Mileana yang masih rata.
"Aku akan bertanya padanya, anak siapa yang ia kandung. Aku akan menunggunya disini sampai dia tersadar." ucap Alden dengan tatapan redup.
"Semoga saja dia tidak mengandung anakku." ucap Alden penuh pengharapan, Alden pun mengusap wajahnya.
...****************...
🏢🏢🏢
Di kantor Alexanderrico.
"Mark apa kau sudah mengurus perceraian ku?." tanya Brian sembari menandatangan beberapa dokumen.
"Uhuk uhuk.." David terbatuk saat ia sedang minum teh.
"Mr yakin akan menceraikan Miss?." tanya Mark memicingkan matanya.
"Kenapa kau bertanya lagi?, apa kau belum mengurus nya hah?." pekik Brian menatap Mark.
Brian memutarkan matanya.
"Ntar aku jelaskan." bisik Mark.
"Oke oke.." bisik David sambil jari membentuk huruf O
"Aku tidak ingin tau Mark, besok kau harus mengurus perceraianku kalau bisa besok lusa harus selesai." titahnya dengan wajah dingin.
"Tapi Mr, Miss tidak begitu salah.."
"Kau sekarang membela dia Mark?." ucap Brian dengan sorotan mata tajam.
"Bukan begitu Mr, tapi Miss sudah menjelaskan padaku bahwa dia itu sedang mabuk dan.."
"Cukup lah aku tidak ingin mendengarnya, sakit hati jika aku terus mendengarnya!, jangan kau membicarakan lagi tentangnya." ucap Brian dengan wajah kesal.
"Maafkan aku Mr." ucap Mark menundukan wajahnya.
"Kau jangan percaya Mark, itu hanya cerita akal akalan nya saja." ucap Brian kemudian pergi dari ruangan CEO.
Brakk! (suara pintu tertutup)
"Aku tidak mengerti semuanya." ucap David kemudian ia melenggang pergi menyusul Brian keluar.
Mark pun menghela nafasnya dengan kesal.
"Apa memang Mr dan Miss harus berpisah sekarang?." pikir Mark.
"Maafkan aku Miss aku tidak bisa membantumu.." gumam Mark dengan wajah di tekuk.
.
.
...****************...
Rumah sakit 🏥🏥🏥
Mileana membuka matanya dengan perlahan pertanda ia baru tersadar dari pingsan nya.
Kemudian dia mengerjapkan kembali matanya yang masih terlihat buram, jarinya kini ia gerakan secara perlahan.
"Ahhkk.." Rintih nya.
Alden yang sedang menunggu di sofa ruangan langsung menoleh ke arah nya.
"D-dimana aku.." Rintihnya sembari memegangi kepalanya yang pening.
"Kau ada di rumah sakit, kau pingsan saat di jalan." ucap Alden dengan suara dingin.
Mileana menoleh ke arah sumber suara bariton itu.
Deg!
Mereka saling menatap satu sama lain.
"K-kauu.." ucap Mileana berubah menjadi panik saat melihat keberadaan Alden di dekatnya.
Alden masih menatap dingin ke arahnya.
Mileana kembali mengucek ngucek matanya, apa benar yang ia lihat adalah Alden atau hanya khayalan saja.
Namun benar, pria yang duduk di sofa itu ternyata memang Alden.
"K-kenapa kamu ada disini?." tanya Mileana dengan wajah panik.
Alden kemudian menghampiri Mileana dengan gaya cool nya.
"Tenanglah, aku tidak akan berbuat apapun padamu." ucap Alden dengan berwajah dingin.
Mileana memundurkan badan nya ke ujung ranjang, dengan wajah yang sangat ketakutan.
"Jangan mendekat!, aku mohon!." pekik Mileana sembari mengangkat tangan nya.
"Dengarkan aku.."
"Tidak! pergi kau dari sini!.. Tolong!!!." pekik Mileana.
"Hei tenanglah!, aku tidak akan berbuat apapun padamu. Aku hanya ingin bertanya saja." ucap Alden mencoba menenangkan Mileana.
"PERGI!!!..TOLONG!!." Teriak Mileana histeris.
Dokter dan Suster kini masuk ke ruangan karena mendengar teriakan Mileana.
"Ada apa tuan?." tanya Dokter.
"Tidak ada apa apa dok, tolong tinggalkan kami berdua." ucap Alden.
"Tidak!, dokter saya mohon usir laki laki ini dari ruangan saya." ucap Mileana.
"Jangan dengarkan dia dokter, lebih baik jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain." ucap Alden dengan berwajah dingin.
"B-baik tuan kami pergi dulu, kalau ada apa apa tekan saja bel merah saya akan datang kembali." ucap Dokter.
"Terima kasih dok." ucap Alden.
"Tidak dokter! Suster!.."
"Maafkan kami nyonya," Dokter dan suster pun membungkukan badan nya kemudian pergi dari ruangan.
Alden pun menyeringai bibirnya.
"Apa maumu!?, kenapa kau ada disini?." pekik Mileana menatap tajam ke arah Alden.
"Bicaralah yang tenang." sahut Alden tanpa ekspresi.
"Aku bertanya sedang apa kau disini!!." pekik Mileana
"Aku bilang bicaralah dengan tenang." ucap Alden dingin.
Mileana menghela nafasnya sembari memutar bola matanya ke arah lain.
15 detik mereka terdiam dengan suasana hening.
"Anak siapa yang kau kandung?." tanya Alden secara tiba tiba.
Deg!!
Seketika Mileana membulatkan matanya.
"M-maksudmu?."
"Anak siapa yang kau kandung sekarang?." tanya Alden kembali dengan wajah yang begitu serius.
Mereka saling menatap kuat.
Bersambung...