
...ENTERED THE WRONG ROOM...
Happy Reading๐น๐น๐น
.
.
.
Keesokan harinya...
Di Starlight Company.
"Kenapa aku tiba tiba memikirkan wanita model itu.." pikir Alden menyandarkan dirinya ke kursi ceo.
Ia benar benar tidak fokus bekerja sejak pagi tadi karena di hatinya seperti ada ganjalan yang tidak membuatnya tenang.
"Apa aku harus menemui wanita itu, apa aku harus menghubunginya, tapi bagaimana aku bisa menghubunginya.
Sepertinya wanita itu tutup akun sosmed semuanya semenjak dia menikah, dan aku juga sudah tidak pernah melihatnya di media TV lainnya." ucap Alden bermonolog.
"Ahh sudah lah jangan di pikirkan Al, wanita itu pasti sudah bahagia bersama suaminya."
ucap Alden.
...****************...
.
.
Mileana sedang menghubungi seseorang lewat ponsel nya.
Merry : Hallo Miss apakabar?.
Mileana : Merry kau sedang dimana ?
Merry : Aku sedang di apartemen, Kenapa Miss?
Milleana : Apa kau sibuk?
Merry : Tidak memangnya kenapa Miss?
Mileana : Aku ingin bertemu Merry hiks..
Merry : Miss kenapa menangis, ada apa?.
Mileana : hiks ceritanya panjang, bisakah kita bertemu?
Merry : Bisa Miss paling sore, soalnya sekarang ada jadwal make up model Miss.
Mileana : Iya gapapa sore aku ke apartemen kamu ya.
Merry : Baiklah Miss, sampai bertemu.
Mileana : Sampai bertemu Merry..
Mileana pun menutup telpon nya, kemudian menghela nafas panjang.
"Aku tidak bisa sendiri menghadapi masalah ini.." ucapnya.
...***************...
.
.
"Tuan Mark." ucap bi Asih
"Kenapa bu?."
sahut Mark menoleh ke arah bi Asih saat ia baru saja tiba di mansion Brian.
"Tolong tuan, tuan besar tidak keluar kamar sejak dari kemarin, saya sudah mengetuk pintu nya beberapa kali untuk membawakan makanan tapi tuan besar tidak membukanya, saya takut tuan besar kenapa kenapa di dalam kamar." ucap bi Asih dengan nada kawatir.
Sejak kemarin Brian enggan keluar dari kamarnya hingga ia melupakan bahwa perutnya harus di isi makanan, ia masih saja mengunci dirinya sendiri di balik kamar yang banyak kenangan dengan Mileana.
"Baiklah bu, saya akan ngecek Mr ke kamar, terima kasih informasinya." ucap Mark.
"Iyaa tuan.."
Mark pun langsung menuju ke kamar Brian yang berada di atas.
๐ผ๐ผ๐ผ
Brian menatap foto pernikahan nya dengan Mileana.
Foto dimana hari yang sangat bahagia untuknya bersama orang yang ia cintai.
Namun seketika foto itu ia bantingkan ke bawah lantai hingga hancur berkeping.
PRANG!!!
"Aku harus membencinya.." ucapnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Mr ini saya Mark, bolehkah saya masuk?." tanya Mark di balik pintu.
Brian pun membuka pintu kamarnya.
Mark melihat keadaan kamar itu sudah seperti kapal pecah, begitu banyak barang barang yang Brian lempar kesana kemari.
Lalu Mark melihat foto pernikahan Brian dan Mileana yang hancur dengan kepingan kaca.
"Bawakan aku minuman beralkohol sekarang." ucap Brian datar.
"Mr hentikan semuanya, jangan menyiksa dirimu sendiri. Kau butuh asupan makan, aku tau kau belum makan sejak dari kemarin."
"Aku tidak butuh makan, yang aku butuhkan bawakan aku minuman beralkohol tinggi!." bentak Brian.
"Tidak , aku tidak mau. Aku tidak mengizinkanmu untuk meminum sekarang."
Brughh!!
Brian memukul wajah Mark hingga Mark sedikit terhuyung.
"Pukul saja aku jika itu membuatmu lega, lampiaskan saja semua amarahmu padaku, aku tidak apa apa." ucap Mark.
Brian pun menatap tajam ke arah Mark, kemudian tatapan nya ia berpaling ke arah lain sambil menuju ke arah balkon kamar.
"Kau harus bangkit, kau harus berubah Mr, jangan menyiksa diri sendiri, jangan terlalu berlarut larut dalam kesedihan." ucap Mark
"Kau tidak mengerti perasaanku, karena kau tidak merasakan nya!." ucap Brian sambil membelakangi Mark.
"Aku sangat merasakan kepedihan mu Mr, aku turut bersedih. Jika memang kau masih sangat mencintai Miss kejarlah dia, tapi kau harus menanggung konsekuensinya untuk menerima ia apa adanya."
"Maksudmu menerima anak haram itu begitu?!." pekik Brian menatap tajam Mark.
"Untuk soal itu Mr dan Miss bisa bicarakan berdua,.
tapi jika Mr memang sudah fix untuk menceraikan Miss, berbicaralah pada orangtuanya dan menjelaskan semuanya apa yang Miss perbuat."
"Aku tidak tau Mark apa yang harus aku lakukan, tapi rasa cintaku padanya sangatlah besar, aku tidak tau bisakah aku melupakan nya atau tidak." ucap Brian menundukan wajahnya.
"Melupakan itu adalah hal yang paling susah, yang kau pelajari bukanlah cara melupakan tetapi cara mengiklaskan. Jika Mr sudah mengiklaskan Mileana untuk pergi, mengiklaskan Mileana bersama yang lain, pasti Mr juga bisa melupakan nya."
Brian pun terdiam seakan Mark telah menjinakan dirinya.
"Iklaskanlah, dan jadikan pelajaran buat ke depan." ucap Mark kembali.
"Aku akan tetap menceraikan nya." ucap Brian.
Mark pun menepuk pundak Brian seolah menguatkan."
"Baik Mr semoga keputusan yang baik untukmu." ucap Mark.
...****************...
๐น๐น๐น
Di apartemen Merry.
"What?, jadi begitukah ceritanya?." pekik Merry membulatkan matanya.
Mileana sudah sedetail mungkin menceritakan kepada Merry, ya Mileana sudah mempercayakan Merry mantan asisten atau sekaligus sahabatnya itu.
"Aku tidak tau Merry apa yang harus aku lakukan sekarang, aku seperti sudah hancur.."
"Jangan berkata seperti itu Miss, ini sepenuhnya bukan salahmu ini tuh musibah kan." ucap Merry menenangkan.
"Apa aku harus menggugurkan kandungan aku? agar aku bisa membela diri pada ayah dan bunda jika aku tidak hamil anak pria lain."
"Jangan berbicara sembarangan, emang kamu mau menggugurkan anak yang tidak berdosa itu?, rahim kamu rusak nanti kamu ga takut apa?."
"Aku tidak tahu harus bagaimana Merry.."
Mileana menutup wajahnya.
"Kau tau sekarang dimana pria itu?." tanya Merry.
Mileana sebenarnya tau, pria itu adalah Alden Neilsen, CEO dari perusahaan Starlight Company.
Tapi Mileana menyembunyikan nya identitas ayah dari kandungan nya itu.
"Aku tidak bisa menemuinya." ucap Mileana.
Merry pun menepuk jidatnya.
...****************...
.
.
Malam pun tiba...
Di mansion Alden...
"Sayang, aku minta izin untuk berlibur ke Dubai sama teman temanku, boleh ya."
ucap Anzela dengan manja yang tiba tiba saja datang ke ruangan kerja Alden.
"Tidak." jawab Alden singkat.
"Why?, aku ingin liburan sayang aku bosan di sini terus." ucap Anzela dengan wajah cemberut.
"Itu hanya membuang buang uangku saja." sahut Alden datar sambil membulak balik dokumen.
"Ishh!, tapikan aku itu istrimu Alden, kenapa pelit sih sama istri sendiri."
"Aku bilang tidak ya tidak!,
kalau pake uang sendiri ya silahkan saja pergi, kalau bisa jangan balik lagi." ucapnya datar.
"Alden kamu ini kenapa sih!, mau sampai kapan kamu tidak menganggapku!?." tanya Anzela kesal.
"Selama nya mungkin."
"Aku itu istrimu, hargain aku lah." pekik Anzela.
"Ya sudah kau mau pergi Dubai silahkan, tapi jangan salahkan aku kalau kau tidak bisa balik lagi kesini." ucap Alden.
"Maksudmu apa? aku akan menetap di Dubai begitu?" tanya Anzela.
"Iya, dan aku akan menikah lagi disini." ucap Alden tanpa ekspresi.
"Hah! itu tidak akan terjadi!. Kalau kau menikah lagi, lebih baik aku mati!." pekik Anzel menatap Alden.
Alden pun hanya menyunggingkan senyuman nya kemudian pergi meninggalkan Anzela.
.
.
.
Bersambung...
jangan lupa like, komen, vote atuh biar author makin semangat ngelanjutin nya๐๐