
Klek (suara membuka pintu)
Brian baru saja datang pukul 8 pagi. Kemarin Brian memang tidak pulang ke hotel.
Mileana yang baru saja selesai menghaidryer rambutnya sehabis mandi melihat Brian datang tidak menyapa nya.
"Dari mana saja?." tanya Mileana
"Kenapa kemarin tidak pulang dan tidak mengabariku sama sekali?." lanjut tanya Mileana
"Ada urusan bisnis, dan ponselku mati." jawab Brian dengan wajah tidak melihat ke arah Mileana.
"Tapi bisa kan sebelum pergi kau bilang dulu, aku khawatir semalaman.."
Brian tidak menyaut ia malah sibuk mencari koper dan tas nya.
Mileana hanya melihat tingkah Brian dengan wajah menahan kekesalan nya.
"Kita pulang hari ini." ucap Brian masih sibuk dengan aktivitas nya.
"Pulang?." tanya Mileana bingung.
"Bukan kah kau ingin pulang kemarin?, jadi bersiap siaplah kita akan pulang sekarang." ucap Brian masih berwajah datar.
"T-tapi kan.." Mileana tidak melanjutkan ucapan nya.
Brak!
Brian masuk ke dalam toilet untuk mandi.
Mileana pun mematung di tempat, merasa hatinya sakit sekali baru kali ini Brian dingin kepadanya.
'Dia tidak meminta maaf padaku karena sudah meninggalkanku seharian, dia juga tidak merasa bersalah bahwa kemarin aku menunggu nya semalaman. Apa Brian se kecewa itu kepadaku..'
batin Mileana.
...****************...
.
.
Di apartemen Alden saat pagi hari.
"Apa yang ingin kau bicara kan semalam Fel?."
Tanya Alden di ruang tv
"Cabang perusahaan di Rusia sepertinya berjalan dengan sangat baik, banyak juga perusahaan lain yang mengajak kerja sama dengan perusahaan kita di negara Rusia. Apa kau tidak akan menengok perusahaan di Rusia?." jelas Felix.
"Syukurlah jika perusahaan kita di negara Rusia sangat berjalan baik. Tapi aku di sini juga masih sibuk, masih banyak yang harus aku urusi." ucap Alden lalu menyeruput kopi nya.
"Aku tahu Presdir, tapi Mr George Parker, meminta ingin bertemu denganmu." ucap Felix
"Siapa George Parker?." tanya Alden
"Beliau pengusaha terkaya di negara Rusia, dia pasti akan mengajak kerja sama dengan mu."
"Hahh!.." Alden menghela nafas panjang.
"Hehe ternyata orang kaya tidak gampang ya lebih pusing dari orang yang kesusahan." Ucap Toni dengan menyengir.
Alden pun hanya menatap tajam saja.
"Oh iya tuan, nona Anzela semalam menelponku." ucap Toni
"Aku tidak peduli." jawab Alden datar.
"Nona Anzela meminta pesan agar kau menghubunginya. Itu saja" ucap Toni
"Hahh, ternyata sudah menikah lebih memusingkan dan semakin rumit saja otakku ini, bisa bisa nya kepala ku pecah." ucap Alden.
"Hehe sabar ya tuan harus tetap semangat seperti kopi ini, walaupun pahit kau tetap menikmatinya." ucap Toni
"Ohh, jadi menurutmu kehidupanku pahit? begitu?." tanya Alden.
"Eeuh..bukan begitu tuan. Ibaratkan maksudku, tapi hidup tuan kan cerah, hidup kita saja yang pahit hehe." ucap Toni.
"What, kita? Kau saja yang hidup pahit, hidupku cerah begini di bilang pahit, udah di kasih mobil sama majikan di kasih rumah, di kasih apartemen, di kasih usaha, di kasih uang bonus aku sangat bersyukur, tapi kau parah tidak bersyukur kau bilang hidupmu pahit, parahhh." ucap Felix
"Maksudku bukan pahit tentang ituu lah!."
"Asisten apaan yang tak mensyukuri pemberian majikan nya." ucap Felix mengompori.
"Hei Felix, maksudku hidup ku pahit karena belum ada pasangan." ucap Toni wajah tegang
"Parah sekali.." ucap Felix
"Jika kau tidak betah kerja bersamaku kau boleh resign sekarang." ucap Alden sambil menyalakan rokok nya.
"Tidak tuan presdir, saya betah sekali kerja bersama mu, jangan dengarkan perkataan Felix dia sedang menjadi mengompori kita" ucap Toni.
"Siapa yang mengompori, emang fakta nya begitu kan?." ucap Felix tak mau kalah.
"Kau itu so tau, jangan ngada ngada lah." ucap Toni kesal.
"Felix tolong carikan asisten baru untukku ya." ucap Alden.
"Siapp laksanakan tuan presdir." ucap Felix menahan tawanya.
"Ehh kenapa tuan mencari asisten baru?." ucap Toni nada sedih.
"Untuk menggantikanmu lah." ucap Alden sambil menghisap rokok nya.
"J-jangan begitu lah tuan, aku sangat bersyukur dan senang bekerja denganmu.." ucap Toni nada rendah.
Felix hanya menahan tawa nya sambil merokok.
"Tapi kau bilang hidupmu pahit bukan?." kata Alden
"Hmmm masa.." singkat Alden
"Maafkan aku tuan , jangan gantikan posisi aku dengan yang lain please.." mohon Toni
"Hmm.. gimana ya." pikir Alden
Toni masih mengantupkan tanganya untuk memohon dan meminta maaf.
"Baiklah aku maafkan, asalkan kau harus mentraktir kita makan sekarang, gampangkan." ucap Alden
"Baiklah aku akan mentraktir kalian berdua, yu mau di tempat makan mana?." tanya Toni bersemangat.
"Baiklah Felix tolong carikan restoran termahal di daerah sini." titah Alden.
"Baiklah presdir." Felix pun masih menahan tawa nya.
Toni pun hanya menelan ludah saja, lalu mengecek saldo atm di ponselnya.
...****************...
Brian dan Mileana sudah siap berkemas untuk pulang.
"Brian.." tanya Mileana sambil menghampirinya.
"Kenapa?." tanya Brian sambil membersihkan sepatunya.
"Maafkan aku.." ucap Mileana
"Aku salah, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu Brian.." ucap Mileana dengan mata berkaca kaca.
"Lupakanlah.." jawab Brian.
"Kau tidak memaafkanku?, kau masih marah padaku.."
"Aku memaafkanmu. Ayo kita pulang, sebelum pulang kita makan dulu." Brian pun terbangun dari duduknya , kemudian Brian mengambil kopernya.
Mileana pun langsung berlari dan memeluk brian dari belakang.
"Jangan seperti ini..aku tak sanggup kau acuhkan Brian..hiks..aku ingin kau baik baik. Maafkan aku hiks..hiks." ucap Mileana sambil menangis.
Brian pun langsung membalikan badannya untuk menghadap Mileana.
"Aku tidak marah, aku cuma sedang kesal saja." ucap Brian sambil mengusap rambut Mileana.
"Kesal kepadaku?." tanya Mileana
"Bukan.."
"Lalu kenapa? kau tidak menjelaskan padaku." ucap Mileana masih menangis.
"Sini aku jelaskan.." ucap Brian sambil menuntun Mileana untuk duduk di tepi ranjang.
"2 hari lagi aku akan pergi ke Paris, dan disana aku akan menetap mungkin selama sebulan lebih atau kurang."
"Ha? kau tidak bercanda?." tanya Mileana mengerutkan alisnya.
"Tidak sayang, perusahaanku yang di Paris ada masalah, perusahaanku mendapatkan kerugian sebanyak 4 milyar. Maka dari itu aku harus kesana membereskan kerugian dan kendala masalahnya." Jelas Brian sambil mengusap air mata Mileana.
"A-apa? kerugian 4 milyar?." ucap Mileana tak percaya.
"Iya sayang, kamu mau ikut ke paris bersamaku atau menetap saja disini?. Tapi aku takutnya kalau kamu ikut ke Paris, takutnya sama aku terlantarkan:(." ucap Brian
"Terlantarkan gimana?." tanya Mileana
"Iya karena pasti aku bakalan banyak berpergian kesana kemari , pasti pergi pagi pulang pagi lagi, karena aku pasti sibuk sekali sayang. Aku takut kamu bosan disana." jelas Brian dengan nada lembut.
"Ohh begitu ya, terus aku disini nanti sama siapaa:(." ucap Mileana menundukan wajahnya.
"Kan ada bunda, ada ayah, katanya Felicya juga bakalan pulang ke indonesia besok, jadi kamu ada temen kan?." ucap Brian. Felicya adalah adik kandung Brian yang sedang kuliah di universitas Korea.
"Kamu tidak berbohong kalau Felicya bakalan pulang?."
"Tidak sayang, mana ada aku berbohong pada istriku yang cantik ini."
"Tapi kenapa Felicya tidak mengabariku kalau dia akan pulang ke Indonesia?." tanya Mileana
"Sebenarnya sih Feli bilang jangan kasih tau kamu bahwa Feli mau pulang ke Indonesia, tapi akhirnya aku kasih tau kamu aja ,soalnya aku gabisa bohong kalau soal kamu." ucap Brian
"Hemm kamu tuh, makasih ya sayang.." ucap Mileana langsung menghambur pelukan
"Oh ya, kemarin aku tidak pulang karena aku menemui Pak Anton, aku ngobrol sama dia sampai pagi membicarakan soal kerugian perusahaan di Paris. Aku juga kemarin sangat kesal, ponsel pun aku tidak ingin membuka nya." jelas Brian.
"Makanya kasih tau aku, aku tidak ingin di acuhkan.."
"Maafkan aku ya sayang.." ucap Brian sambil mencium pucuk kepala Mileana.
"Iyaa sayang, maafin aku juga ya."
Mereka pun berpelukan dan akhirnya cerita pun selesai ,TAMAT.
.
.
.
.
Hehe belum tamat guys cuma bersambung aja kok wkwkwkwk
***Bersambung...
Happy Reading🥰🥰🥰***