
...ENTERED THE WRONG ROOM...
.
.
.
...****************...
π¬π¬π¬
"Mohon maaf tuan, di apartemen ini tidak ada yang bernama Leana." ucap seorang resepsionis ketika baru saja selesai mengecek data data.
"Benarkah?, tapi 2 hari yang lalu dia tinggal disini." ucap Efron tidak percaya.
"Benar tuan, sudah saya cek berulang ulang namun tidak ada yang bernama Leana. Apa tuan tau nama lengkapnya? barang kali di apartemen ini menggunakan nama depan belakang." ujar resepsionis.
Efron pun terdiam untuk berpikir beberapa detik.
"Saya tidak tau, ya sudah tidak apa apa jika tidak ada. Terima kasih." ucap Efron.
"Sama sama tuan."
Efron berjalan menuju parkiran dengan membawa rasa kecewa.
"Apa dia sudah pindah dari apartemen ini?." pikir Efron sambil menatap gedung apartemen setelah dirinya sudah tiba di parkiran.
Efron pun menghela nafasnya.
"Semoga saja bisa bertemu dia lagi." Efron kemudian masuk kedalam mobilnya untuk pergi.
.
.
...****************...
πππ
Keesokan harinya...
Di dalam persidangan pengadilan agama, Mileana berjuang membela diri setelah Brian menjelaskan kepada hakim bahwa Mileana mengkhianatinya hingga mengandung.
Namun apa lah daya Mileana tidak punya bukti dan kekuatan untuk menjelaskan semuanya.
Di dalam pengadilan agama itu keluarga alexanderrico semua hadir, namun keluarga Mileana tidak ada satupun yang hadir untuk menyaksikan nya. Hanya Merry saja yang setia menjadi saksi anggota darinya.
"Mulai hari ini tepatnya di tanggal 17 oktober 2022, Saudara Brian Alexanderrico dan Saudari Mileana Stephanie Wiratma resmi bercerai, Sidang selesai."
Tok!π¨
Tok!π¨
Tok! π¨
Ucap hakim kemudian mengetuk palu 3x.
Deg!
Mileana menutup matanya dengan air mata yang kini menetes di pelupuk matanya.
Para Hakim dan Jaksa berdiri untuk meninggalkan persidangan itu.
"Mungkin ini adalah jawaban dari Allah untukku, Di setiap malam aku berdoa untuk meminta jalan yang terbaik untukku dan memberiku keberkahan hidup. Jika memang berpisahnya aku dan Brian adalah yang terbaik aku iklas ya Allah, jika memang jodoh kami sampai disini aku ridho, walaupun hatiku masih mencintainya. Maafkan dosaku ya Allah.." ucap Mileana dalam batin nya.
Mileana memutar ulang bernostalgia kenangan dengan Brian, saat mereka sedang tertawa, sedang bercanda dan hal hal yang lainnya.
Sebesar apapun cinta, tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya hanya saling di titipi.
Begitu juga dengan Brian dan Mileana, terlihat sangat harmonis dan di selimuti oleh kehangatan cintanya, tapi takdir Tuhan tidak ada yang mengetahuinya, Mereka berpisah atas kehendak-Nya.
Brian langsung beranjak pergi meninggalkan persidangan itu di ikuti oleh Mark di belakang.
Merry kemudian menghampiri Mileana lalu memeluknya.
"Yang tabah, kau sedang di uji oleh Tuhan Miss.." ucap Merry menenangkan Mileana.
Yasmin menghampiri mereka berdua dengan wajah gusar.
"Selamat atas perceraian mu dengan anakku, akhirnya anakku bisa terbebas dengan wanita picik sepertimu, sampul saja bagus tapi dalam nya busuk." ucap Yasmin dengan nada sinis.
Mileana berdiri dari duduknya kemudian menatap Yasmin.
"Terima kasih telah menghinaku, aku menerimanya. Semoga dengan perkataanmu yang menyakiti perasaanku, Allah dapat memberiku pahala." ucap Mileana dengan mata menahan air mata.
"Hahaha... Allah tidak akan memberikan pahala kepada wanita ****** yang sudah berbuat zina dengan pria lain, apalagi wanita itu sudah bersuami." ucap Felicya yang kemudian datang menyusul Yasmin.
Deg!.
"Jangan ikut campur !, kau tidak tau apa apa." ucap Mileana membulatkan matanya.
"Kenapa?, memang nyatanya kau ini perempuan ****** yang berzina dengan pria lain sampai mengandung, padahal kau sudah berstatus punya suami. Dimana harga dirimu Mileana?." pekik Felicya membulatkan matanya.
Mileana sungguh sakit hati mendengar perkataan itu dari Felicya.
"Hentikan!, apa kamu tidak bersekolah sehingga kamu tidak punya atitude berbicara kepada orang lain?." ucap Merry yang kini sudah kesal.
"Hey!, apa maksudmu berkata seperti itu?, kau tidak boleh ikut campur urusan ini!." ucap Felicya kini menatap tajam ke arah Merry.
"Apakau tidak punya malu?, anak kecil seharusnya yang tidak ikut campur dalam masalah begini apalagi mencaci maki orang lain tanpa bukti." ucap Merry
"Sudah Merry jangan di lanjutkan, kita pergi saja dari sini." ucap Mileana karena kepalanya kini sudah merasa pening.
"Pergilah, kalau bisa pergi selamanya menyusul ibumu." ucap Yasmin.
Deg!
Hati Mileana seperti tertusuk duri yang tajam beribu ribu, sangat perih dan sakit.
"Astagfirullah, sabar.." gumam Mileana sambil mengelus dadanya yang sedikit sesak.
"Ayo kita pergi Miss.." ucap Merry sambil menuntun tangan Mileana.
Mereka pun meninggalkan Yasmin dan Felicya.
.
.
...****************...
Saat di parkiran, Mileana hendak menaiki sepeda motor milik Merry, namun tiba tiba saja ada yang memanggilnya.
"Milea.."
Mileana menoleh ke arah sumber suara itu.
"M-meisya?." ucap Mileana.
Meisya datang menghampiri Mileana dengan Valdo yang kini sudah sembuh.
"Aku turut bersedih atas perceraian mu dengan Brian.." ucap Meisya dengan ekspresi wajah sedih.
"Tidak apa apa, ini sudah takdirku." ucap Mileana.
"Sebenarnya aku mengetahui masalah akibat perceraian mu dengan Brian, karena aku menyaksikan nya di belakang tanpa Brian dan kamu tau, maafkan aku."
"Tidak apa apa Mey,."
"Tapi aku yakin kau tidak seperti itu, kau baik dan sopan aku tidak percaya kau melakukan hal itu." ucap Meysa.
"Ya, mungkin Allah sedang mengajaku berbicara, aku harus lebih sabar menerima cobaan ini." ucap Mileana.
Meisya pun menundukan wajahnya.
"Apakah ini Valdo?." tanya Mileana saat melihat anak kecil di samping Meysa.
"Ahh, iya Valdo sudah sembuh 2 hari yang lalu, terima kasih ini juga berkatmu telah menyelamatkan anakku."
Mileana berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Valdo.
"Hai tampan, kau sudah sembuh ya?." ucap Mileana sambil mengusap pucuk rambut Valdo.
"Iya canceuu... Valdo sudah kuat lagi." ucap Valdo
"Bagus, tapi ingat jangan lari lari apalagi main di jalan raya yah?."
"Iya canceu ga akan.." ucap Valdo menggelengkan kepalanya.
"Janji?."
Mileana memberikan jari kelingking.
"Valdo janji." ucap nya sambil menyatukan kelingking mereka.
Meysa tersenyum melihat keakraban Mileana dengan Valdo.
"Aku pamit dulu ya Mey,." ucap Mileana.
Meysa menganggukan kepalanya.
"Hati hati di jalan ya, tetaplah bersemangat." ujar Meysa tersenyum.
Mileana menghamburka pelukan pada Meysa, Meysa pun menerima pelukan nya.
"Terima kasih Mey."
.
.
Bersambung...