
...ENTERED THE WRONG ROOM...
HAPPY READING πΉπΉπΉ
.
.
Mileana menatap lurus jendela kamar dengan tatapan kosong penuh dengan kesedihan.
Perkataan Brian terus saja terngiang ngiang di kepalanya, hingga hatinya semakin terasa sakit.
Mileana benar benar tidak percaya dengan perkataan Brian yang telah memberinya talak saat tadi.
Mileana menatap perutnya yang masih datar itu, kemudian ia usap dengan tangan yang bergetar.
"I-ni bukan salahmu nak, ini salah mama hiks.. ini takdir hiks mama...."
Mileana kembali menangis.
Tok
Tok
Tok
"Permisi nyonya.."
ucap bi Asih ketua ART di mansion.
"I-iyaa.." sahut Mileana sambil mengusap air matanya.
"Bibi sudah membereskan sebagian pakaian nyonya ke dalam koper.."
ucap Bi Asih dengan nada sedih.
"Iyaa, makasih ya bi."
Bi Asih menghampiri Mileana lalu menatap keadaan nyonya nya yang cantik, kini berubah menjadi kusut dengan mata sembab dan bengkak, kemudian Bi Asih mengusap punggungnya perlahan.
"Sabar nyonya.." ucap Bi Asih dengan mata berkaca kaca.
Mileana kembali meneteskan air matanya.
"Setiap orang yang berumah tangga pasti ada saja masalah, rumah tangga tidak harus selalu berjalan mulus, pasti ada cobaan dan godaan nya yang menimpa. Tapi kita harus kuat dan tabah menjalani nya, dan jadikan permasalahan menjadi pelajaran agar kita menjadi orang yang lebih dewasa lagi."
ucap Bi Asih dengan mata berkaca kaca.
Mileana langsung menghamburkan pelukan nya pada ART tua itu.
"Hiks..hiks.."
"Menangislah nyonya, jika itu membuat nyonya merasa lega menangislah.."
ucap Bi Asih mengusap kepala Mileana kemudian ia ikut menangis.
Bi Asih sudah seperti ibu bagi Mileana, ia sangat dekat dengan ART tua yang sudah berumur 50 tahunan itu.
"Nyonya yang sabar yah, tuan sedang emosi saat ini, dan nyonya yang harus mengalah, bibi tau tuan besar adalah orang baik." ucap Bi Asih.
"B-brian mengucapkan talak padaku bi..hiks."
"Iyakah nonya tuan berkata seperti itu?." tanya Bi Asih terkaget.
"I-iya bi hiks."
"Itu pasti karena tuan sedang emosi nyonya, kadang laki laki yang tidak lepas kendali sering mengucapkan perkataan itu, apalagi rumah tangga nyonya dan tuan baru saja seumur jagung masih belum kuat, bibi juga sering begitu sama alm suami bibi, tapi pada akhirnya suami bibi tidak menceraikan bibi hingga maut yang memisahkan nya."
"I-iya bi makasih sudah menasehatiku.."
"Jika aku tidak kembali lagi kesini, aku mohon jangan putuskan silaturahmi kita ya bi."
"Jangan berkata seperti itu nyonya, bibi yakin nyonya pasti kembali lagi kerumah ini."
' Itu tidak mungkin bi, karena Brian tidak akan memaafkan aku apalagi menerima anak ini yang tidak punya dosa '
Batin Mileana.
Ia tidak bercerita soal itu pada Bi Asih, karena baginya itu adalah aib.
...****************...
πΌπΌπΌπΌ
Mileana menuruni anak tangga, ia sudah berganti pakaian dengan rapi menggunakan mantel untuk meninggalkan mansion ini. Kakinya sangat lemas, ia berjalan dengan tatapan kosong di bantu oleh Pak Jalal yang membawakan kopernya.
"Miss.." ucap suara bariton.
Mileana menoleh ke sumber arah suara itu.
"Mark." sahutnya.
"Perlu saya antar untuk pulang Miss?." ucap Mark.
"Tidak usah terima kasih Mark, aku bisa naik taksi sendiri, lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh dari mansion." sahut Mileana.
"Apakah Miss baik baik saja? Miss terlihat pucat sekali." ucap Mark.
"Aku baik baik saja kok." sahut nya.
"Tidak Miss sangat pucat, lebih baik saya mengantarkan anda pulang." ucap Mark.
"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkanmu dan merepotkan yang lain, jangan khawatir."
"Baiklah kalau begitu hati hati di jalan Miss.."
ucap Mark karena tidak bisa memaksa.
"Terima kasih Mark." ucap Mileana dengan senyuman.
"Nyonya hati hati di jalan.." ucap para maid lainya.
"Iya nyonya kami berharap nyonya datang lagi kesini, semoga saja tuan menjemput nyonya kembali."
ucap Bi Asih dengan nada sedihnya.
"Terima kasih semuanya, kalian tetap semangat bekerja nya ya.." ucap Mileana.
"Jika Miss butuh bantuan, hubungi saja saya ." ucap Mark
"Baik Mark terima kasih.." ucap Mileana tersenyum.
Kemudian Mileana pun meninggalkan mansion.
Di sisi lain Brian sedang menatap kepergian Mileana dari balik kaca jendela di kamarnya yang berada di atas.
"Aku sangat kecewa padamu.."
ucapnya kemudian ia menutup kembali gorden jendela nya dengan kasar dan wajah amarah.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!." pekik Brian
Klek (suara buka pintu)
"Permisi Mr, Miss sudah meninggalkan mansion." ucap Mark.
"Baguslah biarkan dia pergi, aku sudah menalaknya sejak tadi siang.
besok kau urus semua surat surat perceraian ku." ucap Brian datar
"Apa?. aku tidak salah mendengar kan?." pekik Mark tidak percaya.
Brian tidak menjawab ia masih saja berwajah datar.
"Aku tidak percaya Mr, aku tau kau begitu mencintai Miss dan mana mungkin kau bisa berpisah darinya."
ucap Mark yang masih tidak percaya itu.
"Aku memang akan menceraikan nya.."
"Aku tahu Mr sedang emosi hingga melontarkan kata pisah, tapi itu sangat buruk untuk rumah tangga kalian yang baru menempuh."
"Mileana sedang mengandung." ucap Brian
"Syukurlah Miss sedang mengandung aku turut bahagia Mr."
"Tapi dia bukan mengandung anakku."
"What?." pekik Mark membulatkan matanya.
"B-bagaimana bisa Mr?." tanya Mark tak percaya.
"Aku tidak ingin membahasnya, tapi aku sangat hancur ketika Mileana mengatakan bahwa ia akan merawat anak itu di rumah ini, aku tidak bisa menerimanya apalagi dia telah menghianatiku, aku sangat mencintainya tapi aku juga membencinya Mark." ucap Brian dengan nada rendah.
Mark terdiam menyimak perkatan Brian.
"Aku juga sangat tidak percaya bahwa Milea melakukan itu kepadaku." ucap Brian kembali.
"Ka tau Mark? aku begitu sangat mencintainya, tidak ada duanya. Tapi kenapa dia menghianatiku hingga mengandung anak simpanan nya."
"Tapi Mr, kenapa sangat yakin bahwa Miss mengandung anak pria lain?." tanya Mark.
"Karena aku dengan Mileana belum pernah melakukan nya, waktu di Bali Mileana sakit aku tidak ingin membuatnya semakin lemah saking cintanya aku Mark." ucapnya dengan mata berkaca kaca.
"Apa Miss sudah menjelaskan siapa semuanya?."
"Dia tidak mengakui bahwa dia punya simpanan, dia tidak ingin simpanan nya terluka mungkin saking Milea cintanya pada pria itu." pekik nya.
Mark terdiam meratapi semua masalah yang Brian dapat.
Brian tidak kuat menahan air matanya.
Clak . .
Air mata brian keluar menulusuri pipinya.
"Kenapa harus terjadi seperti ini, kenapa harus dia yang menyakitiku."
Brian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya, ia menangis mengeluarkan semua unek unek yang ada di hatinya.
"Hiks..hiks.." tangisan itu semakin mengencang.
Mark tercengang, baru pertama kali ia melihat Brian menangis dengan histeris dan sesegukan karena seorang wanita.
Bahkan Mark sudah 7 tahun bersama Brian tidak pernah melihat Brian sehancur ini.
Brian yang super kalem dan tegar, kini menangis di hadapan nya.
Mark tidak tega melihat Brian seperti itu, ia kemudian menghampiri nya kemudian menepuk nepuk pundak Brian.
"Bersabarlah Mr.. mungkin dia bukan yang terbaik untukmu." ucap Mark menenangkan Brian.
"Kenapa harus dia Mark..hiks."
Brian menangsi masih menutupi matanya.
"Menangislah sepuasnya, sampai kau lega, dan jangan lah menangisi dia lagi." ucap Mark
Brian pun mengeluarkan semua air matanya.
Ya dia juga adalah manusia normal yang bisa menangis, bukan cengeng atau lebay, tapi mungkin yang di rasakan Brian sangatlah mendalam.
Bayangkan saja jika istrimu yang kau cintai, kau sayangi, tiba tiba mengandung anak pria lain, apa yang akan kamu lakukan?, pasti sama seperti Brian.
Setegar mungkin Brian menahan air matanya namun ia tidak bisa. Air mata seakan memaksakan dirinya untuk keluar.
'Aku tidak percaya Miss melakukan itu, kurang apa padahal Mr Brian, dia tampan dan kaya raya dia juga sangat mencintainya.'
Batin Mark.
.
.
'Aku masih sungguh tidak percaya, wajah setenang itu bisa menciptakan luka sehebat ini.'
^^^- Brian Alexanderrico^^^
.
.
.
Bersambung...πΌπΌπΌ
Jangan lupa like, komen atuh biar author semangat nih nulisnya πππ₯°