Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 37



...Entered the Wrong Room...


Happy Reading🥰🥰


.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Brian yang baru saja keluar dari walk in closet karena baru selesai melakukan ritual mandi nya.


Ia menghampiri wanita bertubuh molek itu yang sedang duduk di meja rias yang ada di kamarnya.


"Hai sayang.." bisik Brian sambil memeluk nya dari belakang.


"Sudah selesai mandinya?." tanya Mileana sambil membalas pelukan nya.


"Sudah dong sayang, muach." Brian mencium pipi Mileana membuat Mileana malu dan tertawa.


"Kenapa?," bisik Brian.


Mileana menggelengkan kepalanya karena malu.


"Sekarang yu.." bisik Brian dengan bibir yang menempel di telinga Mileana, membuat Mileana bergidik geli.


"Sekarang apa maksudmu?," tanya Mileana polos menatap mata Brian.


Brian pun membalas tatapan Mileana, sehingga mereka saling bertatap tatapan seolah saling menganggumi paras nya satu sama lain.


"Hari ini kau begitu cantik." bisik Brian masih mengunci tatapan Mileana yang sudah beberapa senti itu.


Kemudian Brian semakin memajukan wajahnya perlahan, dan...


Cup!


Brian menempelkan bibirnya ke bibir ranum itu, dengan sangat meresapi. Ia memainkan bibirnya dengan lembut agar Mileana membalas ciuman nya, namun Mileana masih sangat kaku dan terdiam saja.


Brian menghentikan aksinya lalu tertawa ringan. Ya, menertawakan ekspresi istrinya yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Kamu masih kaku sayang, nanti aku ajarkan lagi." bisik Brian tertawa.


"Ihh Brian jangan mesum deh." ucap Mileana cemberut.


"Lohh kok cemberut, jangan cemberut dong aku punya sesuatu untuk kamu." ucap Brian dengan senyuman yang sangat menggoda.


"Apa itu?." tanya Mileana penasaran.


"Tapi senyum dulu,"


Mileana pun tersenyum manis.


"Nahh gitu, " ucap Brian mencubit pipi Mileana.


"sebentar aku bawakan hadiahnya dulu ya." Brian pun pergi menuju laci yang tidak jauh dari Mileana.


"This is for you, my wife.." Brian memberikan sebuah kotak kepada Mileana.


Mileana pun menerima kotak itu dari tangan Brian.


"Apa ini, boleh aku buka?." tanya Mileana.


"Tentu saja boleh sayang.."


Mileana pun membuka kotak itu, betapa kaget nya ia saat melihat kalung berlian yang sangat indah di dalam kotak itu, entah apa yang di rasakan Mileana begitu campur aduk, antara bahagia, terkejut atau terharu.


"Ini untukku?." tanya Mileana tak percaya.


"Tentu saja untuk istriku tercinta, aku yang mendesainya khusus untukmu sayang." ucap Brian dengan nada lembut.


"Aku senang sekali, terima kasih sayang, i love you." Mileana menghamburkan pelukan pada Brian.


"I big love you.." bisik Brian membalas pelukan nya.


"Aku pakaikan ya kalungnya." ucap Brian saat Mileana melepaskan pelukan nya.


Mileana pun menganggukan kepalanya, dengan senyuman manis.


Kemudian Brian memakaikan kalung itu ke leher jenjang Mileana.


"Lihatlah, kau begitu sangat cantik memakai kalung ini." puji Brian.


"Terima kasih suamiku.."


"Bahkan berlian ini tidak ada apanya di bandingkan dirimu.." ucap Brian menatap Mileana.


Mileana membalas tatapan Brian, kemudian ia mencium kening Brian dengan tulus.


"Aku sangat mencintaimu suamiku."


Brian pun tersenyum, lalu mencium bibir Mileana kembali dengan penuh kasih sayang dan kerinduan.


Mileana pun membalasnya, kedua insan itu sedang melimpahkan kerinduan nya masing masing.


Drttttttt! (suara telepon)


tiba tiba ponsel Brian berbunyi mendapatkan notif telepon masuk, mereka berdua melepaskan pungutan nya.


"Angkat dulu, siapa tau penting." ucap Mileana.


Brian pun menganggukan kepalanya, dan melihat layar ponselnya ada panggilan masuk dengan nomor yang tak di kenal.


"Siapa ini." Brian mengerutkan alisnya menatap layar ponselnya.


"Tunggu sebentar sayang, aku angkat telepon nya dulu."


"Iyaa." Mileana mengangguk dan melihat Brian menjauh darinya menuju balkon kamar.


"Halo." ucap Brian saat mengangkat telepon.


"Brian, Valdo masuk rumah sakit lagi."


ucap wanita di seberang sana.


"Kenapa bisa?."


"Valdo kecelakaan, dia tertabrak mobil dan dia membutuhkan.."


"Sudahlah, kau itu tidak becus menjaga satu anak pun tidak bisa ,itu urusan mu, urus saja sendiri, aku sedang sibuk."


"T-tapi tunggu Brian, jangan tutup dulu!."


"Apalagi?, aku tau ini akal akalanmu agar kau terus saja mengangguku." bisik Brian.


"Aku tidak bohong.."


"Sudahlah, urus saja kau sendiri. Aku akan mentransfer uangnya, dan satu lagi jangan pernah kau berani menghubungiku lagi!." ucap Brian penuh penekanan.


Tut!tut!tut!


Brian langsung saja mengakhiri telepon nya.


"Kamu mau mentransfer ke siapa?." tanya Mileana tiba tiba ada di belakang Brian.


Brian pun langsung menoleh dengan wajah panik.


"Sayang, kamu mendengarkan aku ?." tanya Brian menutupi kepanikan nya.


"Sedikit, maaf aku tidak sengaja. Ini kopi untukmu." ucap Mileana sambil menyodorkan sebuah cangkir berisi kopi.


"Kau tidak menjawabku?."


"Euh, itu si David meminta ku uang untuk keperluan..."


Brian berhenti melanjutkan ucapan nya karena memikirkan alasan yang tepat.


"Keperluan apa?," tanya Mileana.


"Itu sayang euhh, keperluan di apartemenku karena kata David di apartemen ku kamar mandi nya rusak ga nyala air nya. Jadi dia minta aku untuk mentransfer uang nya saja, begitu." ucap Brian terbata bata.


"Ohh, apartemen kamu yang dimana?." tanya Mileana.


"Yang di... yang di bogor sayang." Brian tersenyum.


"Ohh ya sudah, aku juga ingin mengatakan sesuatu."


"Katakan saja sayang kau ingin apa?." tanya Brian lembut.


"Tapi janji kau tidak akan marah kan?." tanya Mileana.


"Tidak akan, apa katakan saja." ucap Brian menatap lekat istri cantiknya.


"Aku dan Fely menabrak anak kecil, sampai masuk kerumah sakit. Dan anak kecil itu keadaan nya sekarang kritis."


"Apa???." pekik Brian kaget.


"Fely tidak sepenuhnya salah, anak kecil itu yang bermain main di jalanan."


"Ya Ampun, terus orang tua anak kecil itu gimana?." tanya Brian panik.


"Aku dan Fely sudah meminta maaf, dan orang tua nya menerima maafku. Aku dan Fely juga bertanggung jawab untuk pengobatan anak kecil itu sampai sembuh, tapi sekarang aku sedang mencari golongan darah O untuk anak kecil itu sayang, anak kecil itu pendarahan banyak sekali" jelas Mileana nada sedih.


"Ya ampun, kenapa tidak hati hati. Untung saja kamu dan Fely tidak apa apa."


"Maaf sayang, lagi pula aku tidak ingin itu terjadi.." ucap Mileana


"Aku paham apa yang kamu rasain, perlu aku bantu kamu?." tanya Brian.


"Kamu mau bantu aku?.." tanya Mileana menatap Brian.


Brian mengangguk.


"Apa pun akan ku lakukan sayang demi kamu."


Mileana pun tersenyum.


"Aku ingin kau menyumbangkan darahmu untuk anak itu, darah kamu O kan?."


Brian pun langsung terdiam.


"K-kenapa harus aku yang harus mendonorkan darah sayang?."


"Ya sudah jangan, lagi pula ini salahku. Jika aku berdarah O pasti aku akan mendonorkan nya untuk anak itu." ucap Mileana dengan wajah sedikit cemberut.


"Kita cari saja orang yang mau mendonorkan golongan darah O." ucap Brian.


"Tapi aku sudah mencarinya, dan tidak ada yang mau. Kau tahu sekarang itu sedang pandemi, dan orang orang membutuhkan kesehatan nya juga walaupun aku membayarnya dengan sangat besar."


"Aku tahu sayang,"


"Apalagi yang harus aku tunggu, anak itu benar benar sedang kritis dia membutuhkan darah sekarang. Aku takut anak itu kehilangan nyawa nya. Aku tidak ingin melihat orang tuanya hancur...hiks." jelas Mileana meneteskan air matanya.


"Sayang, kok kamu malah nangis." Brian mengusap pipi Mileana.


Mileana menggelengkan kepalanya.


"Engga, aku merasakan saja apa yang di rasakan ibunya jika kehilangan anak nya."


"Jangan nangis, ya sudah aku akan mendonorkan darahku untuk anak itu yah." ucap Brian mengelus pipi Mileana.


"Benarkah?, kau tidak terpaksa?."


"Tidak sayang, lagi pula aku juga ingin membantu anak itu." ucap Brian dengan tulus.


Mileana pun tersenyum.


"Makasi sayang mau menolong anak itu." Mileana menghamburkan pelukan nya.


"Iyaa sayang sama sama." ucap Brian membalas pelukan nya.


"Besok kita kerumah sakit ya untuk menjenguk anak itu, sekalian kamu melakukan transfusi darah, jangan di lama lama kasian anak itu."


"Okay sayang terserah kamu saja,."


Brian mencium pucuk kepala Mileana.



.


.


...****************...


Di kantor Starlight Company.


"Aku sudah membawakan apa yang kau inginkan."


ucap Felix sambil menaruh sebuah dus kotak di atas meja sofa yang ada di ruangan Alden.


"Really?." tanya Alden.


"Lihatlah sendiri, kau tahu aku sangat malu masuk ke dalam kitchen dan membuat sandwich sendiri, bajuku jadi bau minyak goreng." ucap Felix kesal.


"Benar tuan, apalagi hal konyolku yang memvideo Felix saat membuat sandwich itu seperti kameramen saja yang sedang melakukan syuting di acara tv memasak, sungguh sangat malu." jelas Toni.


Alden pun menahan tawa nya lalu menghampiri dus kotak itu dan mendudukan dirinya di sofa.


Perlahan ia membuka sandwich itu dan menatapnya.


"Huh, selera makan sandwichku sudah hilang." ucapnya datar.


"Apaaa???." pekik Felix dan Toni.


Alden menutup sandwich nya kembali.


"Kalian sangat lama sekali, selera makan ku jadi tidak ada kan."


"30 menit saja, lagi pula kita harus jalan tidak bisa terbang." ucap Toni kesal.


"Aku tidak mau tau, kau harus memakan sandwich itu sampai habis." kesal Felix kemudian ia pergi meninggalkan ruangan Alden.


Beberapa detik Toni pun mengikuti Felix untuk keluar.


"Haha senang ternyata mengerjai mereka." gerutu Alden tertawa kecil.


Ia kembali membuka sandwich itu, dan langsung saja melahapnya dengan habis tanpa tersisa.


"Eumm senang sekali rasanya.." ucap Alden saat sandwich itu berada di mulutnya.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa like ya, makasii readerss love u all🥰🥰🥰