Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 27 (Hadiah untuk Felix)



...ENTERED THE WRONG ROOM...



...****************...


.


.


"Ada apa lagi dengan perusahaan?." tanya Alden masih datar.


"Mulai lusa Efron akan menjadi wakil CEO di perusahaan Starlight Company." ucap Ronald


"Apa?." kaget Alden.


"Jadi dady tolong, ajarkan Efron tentang cara mengelola perusahaan yang baik dan benar." lanjut Ronald.


"Tapi dad, kenapa harus menjadi wakil CEO di Starlight Company?." ucap Alden seolah tidak terima.


"Memangnya kenapa?, Efron sudah dewasa sekarang, dia pasti bisa mengelola perusahaan. Dady ingin Efron sukses di masa muda sama sepertimu."


Efron melihat raut wajah Alden yang seperti tidak ingin jika dirinya ikut gabung di Starlight Company.


"Tapi dad, aku tidak percaya dengan Efron."


"Kenapa berkata seperti itu?." tanya Ronald.


Efron hanya menatap lekat Alden dengan menahan rasa emosinya.


"Kau tau Alden, adikmu ini bisa mengelola restoran dan juga hotel di daerah kota kota, kini restoran dan hotel itu sangat ramai dan banyak di kunjungi, itu berkat Efron bisa mengelola nya."


"Ya beda jurusan dad, perusahaan bukan tentang hotel dan restoran saja."


"Apa bedanya?." tanya Ronald.


"Sudahlah dad, jangan aneh aneh. Efron kau urusi saja restoran, cafe dan juga hotel. Kalau itu aku percayakan padamu." jelas Alden.


"Dady tidak setuju."


"Kenapa dad?." tanya Alden


"Dady ingin anak anak dady bekerja sama. kau juga harus mengurus hotel, restoran dan juga cafe shop Alden."


Alden pun hanya menghela nafas nya saja.


"Iya Alden, lagi pula Efron itu kan adikmu juga. Pasti perusahaan akan makin sukses jika adik kakak saling berjuang bersama.." ucap Anzela


"Diam. Kau tidak tau apa apa tentang urusan ini.!." ucap Alden penuh penekanan.


Anzela pun langsung terdiam karena nyali nya terciut oleh kata kata Alden.


"Alden! kenapa berkata seperti itu pada istrimu sendiri?." tanya Ronald.


Efron hanya menyimak saja dengan wajah santai nya yang tampan.


"Tidak apa apa dad, Alden memang selalu bercanda hehe.." ucap Anzela


"Jadi bagaimana Alden, apa kau menyetujui Efron adikmu untuk gabung di Starlight Company?." tanya Ronald.


"Terserah lah, tapi kau harus tau batas dan aturan di kantor." ucap Alden sambil menujuk ke arah Efron.


Efron pun hanya menyeringai senyuman nya saja.


"Dady sangat senang mendengarnya. Besok dady dan juga Efron akan berkunjung ke perusahaan."


"Iyaa dad, Alden tunggu kedatangan nya."


"Terima kasih anakku.." Ronald pun memeluk Alden.


...****************...


.


.


Malam itu di sebuah kamar, Mileana dan Felicya sedang video call dengan Brian menggunakan laptop nya.


Obrolan mereka penuh dengan canda dan tawa.


"Kakak jangan lupa bawa oleh oleh ya di Paris.." ucap Felicya.


"Pengen apa oleh olehnya?"


"Pria bule dong hahah.." Felicya dan Mileana tertawa.


"Mulai nakal ya kamu, sekarang minta nya cowok."


"Dari pada minta uang, atau minta mobil kan haha.."


"Iya deh, nanti kakak bawain pria bule kerumah tapi seumuran mang wahyu hahaha."


"Ihh kakak masa seumuran mang wahyu sih.." Felicya cemberut.


Mileana dan Brian pun tertawa.


"Oh iya kak, tadi Feli sama kak Milea kan jogging di komplek. Ada anak kecil yang bener bener mirip kakak loh." ucap Felicya


"Anak kecil siapa?."


"Feli gatau, pokonya anak kecil itu mau ngambil bola nya.


sumpah kak wajahnya mirip kakak banget, malah Feli sama kak Milea nganggep itu anak kak Brian, ya kan kak ?haha.."


"Iyaa.." Sahut Mileana tertawa ringan.


Deg!


Brian tidak menjawab nya.


"Kak kok ngejawab sih Feli ngomong?." tanya Felicya ke Brian.


"Mana mungkin anak kakak, kamu tuh suka ngaco deh Fel."


"Iyaa Feli juga tau kak, tapi anak itu bener bener mirip kak Brian, coba tadi Feli bawa ponsel pasti anak kecil itu di fotoin, terus kasih tau mamih papih, pasti kata mamih papih bakalan bilang mirip banget kak Brian haha..." ucap Felicya panjang.


"Ngaco deh Feli ngomongnya ah..."


"Besok kalau Feli ketemu anak kecil itu, di fotoin deh kak. takutnya kak Brian ga percaya gitu.."


"Ga usah, ngapain juga fotoin anak orang.. emang anak itu ada di daerah komplek rumah kita?."


"Iyaa kak, kayanya orang komplek sini juga deh mungkin pendatang baru."


"Ohh.. begitu ya.. aneh aneh aja mirip aku."


"Ya sudah kak Brian lanjut ngobrol sama kak Milea ya, Feli mau maskeran muka dulu."


"Okay, lagian ganggu ah, kakak kan pengen nge video call nya sama kak Milea bukan sama Feli."


"Ya sudah, awas ya kak.."


Mileana pun hanya tersenyum melihat Feli dan Brian ribut kecil.


Mileana pun melanjutkan video call nya dengan Brian sampai kantuk menjemput.


...****************...


.


.


Di pagi hari...


Di ruangan CEO Starlight Company.


"Jadi Efron akan menjadi wakil ceo disini?." tanya Toni


"Bagus lah, lagian Efron itu kan rajin dan pintar tuan." ucap Toni.


"Iyaa memang adikku pintar tidak seperti kalian bodoh." ucap Alden.


"Dih kita bodoh bodoh juga kau butuh tenaga kita." ucap Felix julid


"Betul itu Felix hihi.." Toni menyengir.


"Ohh ya 10 menit lagi kita pergi ke pelabuhan." lanjut Alden.


"Memangnya mau ngapain tuan ke pelabuhan?." tanya Toni.


"Nanti juga kalian tahu.." ucap Alden kembali menanda tangan dokumen nya.


10 menit kemudian..


Alden, Felix dan juga Toni menancapkan gas nya ke pelabuhan.


sesampai mereka tiba di pelabuhan.


para anak buah Alden menghampiri mereka bertiga.


"Selamat datang tuan.." sambut anak buah nya.


"Barangnya sudah datang tuan, mari saya antarkan.." ucap ketua anak buah.


Alden, Felix dan juga Toni pun mengikuti arahan anak buah itu.


semua anak buah berbaris dengan istirahat.


"Baiklah Felix, waktu kita tidak banyak lagi. Tolong buka kain itu." perintah Alden pada Felix.


"Baiklah akan ku buka." Felix menghampiri kain yang menutupi barang besar, lalu ia membuka nya.


saat ia membukanya ,matanya terbelalak kaget dan terkejut melihat apa yang ia impikan selama ini ada depan matanya.


mulut Felix dan Toni menganga terkesima.


"B-bugatti...la voiture..noire.!.." sahut Toni masih terkesima.


Felix langsung memeluk mobil super mewah itu dan melabuhkan beberapa ciuman pada mobil itu.


"Tuan.. mobil ini untukku kan?." tanya Felix sambil mengusap mobil mewah itu.


"Tentu saja itu untukmu sebagai hadiah kau telah menemukan pelakunya." sahut Alden dengan wajah tenang.


"Ahhh...aku benar benar bahagia terima kasih Tuhan...


terima kasih tuan tampanku..." ucap Felix berlari memeluk Alden.


Alden pun membalas pelukan nya.



"Tonn!.. aku punya mobil baruuu!." teriak Felix lalu masuk kedalam mobil bugatti itu dan mencobanya.


Brumm..


brumm..


"Ton mau ikut tidak haha.." tawar Felix.


Toni hanya diam saja dengan ekspresi sedih.


"T-tuan...aku ingin sekali seperti Felix." ucap Toni.


"Kau ingin seperti Felix?, maka kau harus lebih pintar darinya." ucap Alden datar.


"T-tapi tuan.. aku sudah berusaha mencari pelaku itu.. tuan tidak akan memberiku tips atau bonus gitu.." ucapnya nada sedih.


"Baiklah akan ku beri tips untuk itu." Alden mengeluarkan isi dompetnya.


Toni melihat itu langsung tersenyum membelalakan mata dan mulutnya.


"Nihh.. tips untukmu." ucap Alden sambil memberikan selembar uang 100 ribu rupiah saja.


Toni pun langsung membawanya dengan wajah tak terima.


"100 ribu saja tuan?.."


"Kenapa? kalau kau tidak mau sini aku ambil lagi." ucap Alden.


"T-tidak apa apa, aku ambil tips nya terima kasih tuan hehe.." ucap Toni dengan senyuman yang terpaksa.


Alden pun menghampiri Felix yang baru saja turun dari mobil bugatti nya.


"Dasar majikan pelit". gerutu Toni saat Alden menghampiri Felix.


"Tapi tidak apa apa, lumayan lah kalau buat jajan rokok." Toni pun langsung menyimpan uang itu ke saku celana nya.


"Bagaimana, apakah kau nyaman?." tanya Alden.


"Sangat nyaman....." seru Felix.


"Sepertinya harganya cukup lebih mahal mobil ini dari pada organmu." ucap Alden.


"Jika organ tubuhku di jual, mungkin yang termahal otak, karena jarang di pakai. Dan yang termurah hati, karena sudah hancur lebur.." ucap Toni.


"Idih kata kata dari mana tuh bro!.. hancur lebur ga tuchh.." ujar Felix tengil.


"Hancur lebur hati gue ga jadi dapet Villa rose gold." ucap Toni datar.


"Aku bahagia Toni... tuan Alden lebih support gue dari pada kamu haha.."


"Bodo amat gue?." ucap Toni memutarkan matanya


"Sudah jangan sirik sirik, kita makan siang dulu saja. Toni biar aku yang traktir makan hari ini sepuasanya.." ucap Alden sambil merangkul bahu Toni.


"Biarkan saja si Felix bayar sendiri, kita pergi ke restoran yang termahal di kota ini." lanjut Alden.


"Nahh itu baru majikan terbaik.. ayoo." ucap Toni semangat.


"Lets goo.." ucap Alden berjalan sambil merangkul bahu Toni.


"Tuan..aku bawa mobil sendiri ya pake bugatti." teriak Felix


"Terserah.." ucap Alden melanjutkan jalan nya.


Mereka pun pergi menuju sebuah restoran.


.


.


...FELIX JONATHAN



...


...ANTONI IMMANUEL



....


.


.


**Bersambung....


♥♥♥♥♥**