Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 49



...ENTERED THE WRONG ROOM...


.


.


.


...****************...


Happy Reading... 🌹🌹🌹


.


.


Mereka saling menatap kuat.


"Bicara apa kau, tentu ini anakku." ucap Mileana.


"Apa kau sedang lelucon?." tanya Alden dengan wajah dingin.


"Kau pikir wajahku terlihat seperti lelucon?." pekik Mileana.


"Aku bertanya sekali lagi, anak siapa yang kau kandung sekarang?." tanya Alden dengan wajah begitu serius.


"Apa hak mu mengetahuinya? T-tentu ini anakku dan suamiku kau pikir anak siapa?." ucap Mileana dengan suara terbata bata.


"Benarkah?." tanya Alden memicingkan matanya.


"I-iya, memangnya kenapa? Apa urusanmu?." tanya Mileana dengan wajah kembali pucat pasi.


"Aku akan mencari tau sendiri anak siapa yang kau kandung sekarang." ucap Alden menatap lekat Mileana dengan jarak yang intim, sembari memasukan tangan nya ke saku celana nya.


Mileana pun memundurkan wajahnya.


"Sudah aku katakan bahwa ini anakku dan suamiku!."


Mereka kembali saling menatap kuat.


Alden pun tiba tiba pergi tanpa basa basi keluar ruangan meninggalkan Mileana sendirian.


Mileana menghela nafasnya dengan lega.


"Kenapa dia bisa ada disini ya." pikir Mileana saat Alden sudah tidak di ruangan nya lagi.


"Maafkan mama nak,." ucap Mileana mengelus perutnya.


Clak!


Mileana meneteskan air matanya.


"Kenapa harus bertemu dia lagi.. Gara gara dia semua orang meninggalkanku, termasuk bunda." gumam Mileana mengusap air matanya.



.


.


πŸš—πŸš—πŸš—


Di perjalanan menuju kantor Starlight Company.


"Aku harus merintah Tony untuk mencari tau tentang Mileana sebelum aku pergi ke negara X." ucap Alden sembari mengemudikan mobilnya.


****


🏒🏒🏒


Ruangan kantor pribadi Alden



"Ada apa tuan memanggil saya?." tanya Toni setelah baru masuk di ambang pintu.


"Kemarilah, duduk. Aku punya tugas untukmu." ucap Alden memasukan tangan ke saku celanya dengan gaya cool.


Toni pun menghampiri Alden kemudian duduk di sofa mewah itu.


"Tugas apa tuan?." tanya Toni mengerutkan alisnya.


Alden pun menduduki dirinya di depan Toni dengan tatapan wajah serius.


"Aku ingin kau mencari tentang seseorang." ucap Alden


"Wohh, sudah lama aku tidak mencari identitas orang lain, itu masalah gampang kau tenang saja." ucap Toni dengan nada percaya diri.


"Tapi ku harap ini rahasia kita berdua, kau tidak boleh membocorkan nya apalagi pada Felix."


"Siap tuan, kau tenang saja ini rahasia." sahut Toni.


"Deal?." ucap Alden sambil mengulurkan tangan nya.


Toni mengerutkan alisnya, entah rahasia apa sehingga seorang Alden tidak ingin semua orang tau kecuali dirinya.


"Deal!."


"Aku hanya memerintahkanmu mencari tentang Mileana Stephanie." ucap Alden.


"What?, M-mileana stephaniee?, apa aku tidak salah mendengar kah?." ucap Toni dengan wajah syok.


"Kau tidak salah mendengar." sahut Alden.


"Bentar, kau ada hubungan apa dengan Miss supermodel itu?." tanya Toni.


"Ceritanya panjang, lain waktu aku akan menceritakan nya padamu, asal kau jaga rahasia ini."


"Tenang saja tuan, saya Antoni Alfred tidak akan membocorkan nya, baiklah itu saja tugasku? Apa ada yang lebih berat lagi?." tanya Toni menyenderkan badan nya ke sofa dengan tengil.


"Informasi apapun itu kau harus melaporkan nya kepadaku secepat mungkin." titah Alden.


"Baik tuan, lalu kau tidak jadi brangkat ke negara X?."


"3 hari lagi, masih ada waktu." sahut nya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan melaksanakan tugas ku sekarang tuan." ucap Toni berdiri dari duduknya.


"Kalau bisa besok kau harus tau semua tentangnya, aku akan memberimu tips."


"Serius?, gampang.. Tunggu kabar besoknya saja."


"Aku tunggu."


"Baiklah apa ada lagi yang di sampaikan tuan?." tanya Toni


"No.." singkatnya


"Ya sudah saya pergi dulu kalau begitu."


Toni pun pergi keluar ruangan Alden.


Saat Toni baru saja keluar dari ruangan ia langsung berhadapan dengan Felix.


"Kenapa?." tanya Felix


"Kenapa, kenapa?." tanya Toni kembali.


"Boss memanggilmu kenapa?." tanya Felix memutarkan bola matanya.


"Dih kepo amat lu." ucap Toni ngeloyor pergi begitu saja.


"Dasar curut..!." ketus Felix melihat Toni ngeloyor gitu saja.


****


Saat berada di Lift.


"Jadi penasaran kenapa Alden ingin mencari tau tentang Mileana Stephanie, dia kan sudah menikah dengan pengusaha berlian itu kan" pikir Toni di dalam lift.


"Ah sudah lah jalani saja dulu perintahnya, entar juga tau." ucap Toni bermonolog.


.


.


...****************...


Di Apartemen Housky.


🏒🏒


"Tadi siang aku bertemu dengan ayah dari anakku.." ucap Mileana.


"Yang benar saja?, lalu apa kau minta pertanggung jawaban?." tanya Merry.


Mileana menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak memberitahunya kalau aku mengandung anak dia." ucap Mileana dengan mata sayu.


Merry menghela nafasnya.


"Kenapa tidak kasih tau yang sebenarnya Miss?, agar bayi itu punya ayah." ucap Merry.


"Aku bisa merawat nya tanpa seorang ayah."


"Kau jangan egois, jangan mementingkan egomu sendiri, pikirkan anakmu kedepan Miss."


"Aku mengikuti alur takdirku saja Merry aku pasrah dengan apa yang terjadi kepadaku nanti." ucap Mileana.


Mileana pun beranjak dari duduknya menuju kamar tidur.


Merry pun hanya menghela nafasnya saja.


"Kasihan sekali hidupmu Miss, ya Tuhan berilah kebahagiaan untuknya." batin Merry.


Visual Merry