
...ENTERED THE WRONG ROOM...
.
.
.
HAPPY READING DING DONG βΆοΈβΈ
...****************...
π¬π¬π¬
"Miss, aku mau keluar sebentar ada seseorang dari negara B dia mengajaku bertemu, katanya ingin di make up olehku." ucap Merry dengan gaya menyengir.
"Wahh make up by Merry udah go international nih.." ucap Mileana.
"Alhamdulillah.." sahut Merry ketawa ringan.
"Ya sudah hati hati di jalan ya." ucap Mileana.
"Tapi aku tidak akan pulang malem kok Miss."
"Boleh gak aku minta sesuatu padamu?." tanya Mileana.
"Apa itu?."
"Panggil aku Mileana tidak panggil Miss." ucap Mileana.
"Why?." ucap Merry mengangkat bahunya.
"Karena nama aku adalah Mileana."
"T-tapi aku merasa sungkan jika panggil itu." ucap Merry.
"Belajar saja, kau pasti bisa please..."
"Baiklah, Milea hehe."
"Nahh gitu dong kan keren hehe."
Mileana pun memeluk Merry.
"Aku pergi ya.." pamit Merry.
"Hati hati di jalan loh."
"Kamu mau apa biar aku pulang sekalian beliin." ucap Merry.
"Hmm aku pengen donuts yang ada keju sama cokelatnya."
"Okay bumil aku bawain pas pulang ya."
"Oke makasih onty," ucap Mileana menirukan suara anake kecil sambil mengelus perutnya.
Mereka berdua pun tertawa.
1 jam kemudian...
Ting!
Tong!
Mileana yang sedang menonton tv langsung menoleh ke arah pintu.
"Siapa ya?." pikir Mileana.
Ia pun segera bergegas untuk membuka pintu.
Klek (suata pintu terbuka)
Mileana langsung memicingkan matanya.
"Selamat sore nona.." ucap Toni membungkukan badan nya.
"Sore, maaf anda cari siapa?." tanya Mileana mengerutkan alisnya.
"Saya kemari hanya memberikan amplop ini." ujar Toni sambil menyodorkan amplop putih.
"Amplop dari mana lagi ini?, untuk siapa?."
"Untuk Mileana Stephanie." jawab Toni.
Mileana menatap amplop putih itu dengan terheran heran.
"Silahkan anda baca dengan teliti nona, permisi." Toni pun langsung pergi.
Mileana segera membuka amplop putih itu lalu membaca nya.
^^^*Dear M.S^^^
^^^Datanglah ke restaurant Blue Ice pukul 5 sore. Jika kau tidak datang, kau akan menyesal seumur hidup.*.^^^
"Apa maksud isi surat ini?." pekik Mileana.
Mileana mencari sosok pria yang tadi datang menghampirinya, namun pria itu sudah menghilang.
"Siapa ini? Dan maksudnya apa semua ini?." pekik Mileana terheran.
Mileana menghela nafas nya dengan panjang.
Mileana melihat ke arah jarum jam yang kini menunjukan pukil 16.30.
"Apa aku harus datang kesana?, tapi aku tidak kenal siapa yang aku temui. Lebih baik aku tidak pergi saja." ucap Mileana.
Namun tiba tiba ponsel Mileana berdering dengan nomor yang tidak di kenali.
Mileana segera mengangkat telpon yang masuk.
"Hallo?." ucap Mileana.
"Jika kau tidak datang, hidup ayahmu dan juga Merry ada di tangan kami."
"Ini siapa? saya tidak kenal dengan anda ya."
Tut!
Tut!
Tut!
"Hallo?." pekik Mileana namun telpon itu sudah berakhir.
Saat Mileana hendak menelpon balik, nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Perasaan nya saat ini begitu cemas.
"Apa aku harus pergi kesana? dan kenapa mereka mengetaui Merry." pikir Mileana dengan wajah yang penuh dengan kecemasan.
.
.
...****************...
Perusahaan Starlight Company.
Anzela baru saja memasuki sebuah kantor Starlight Company.
Dengan gaya langkah yang gemulai serta berwajah arogan dengan pakaian yang sangat minim dan juga bergaya kaca mata hitam.
Setiap ia melangkah para karyawan semua menundukan wajahnya dengan hormat.
Namun wajah Anzela tidak ada guratan senyuman untuk mereka.
Setelah sampai di lantai CEO, Anzela bertemu dengan Efron, Felix dan juga Gio yang sedang duduk di sofa loby lantai CEO itu.
Mereka bertiga langsung saja tertuju kepada Anzela yang memakai pakaian sexy itu.
"Selamat sore nona Anzela." sapa Felix dan Gio berdiri membungkukan badan nya.
"Dimana Alden?." tanya Anzela membuka kaca mata hitam nya.
"Tuan sedang ada urusan di luar nona." sahut Felix.
"Apa dia keluar sudah lama?." tanya Anzela.
"30 menit yang lalu." sahut Felix.
"Huhh, baiklah aku akan menunggu di ruangan nya." ucap Anzela melenggang pergi menuju ruangan Alden.
"Tunggu nona." ucap Felix menahan Anzela.
"Why?." Anzela menoleh ke belakang.
"Apa kau ada urusan dengan presdir?, kami akan sampaikan sesuatu." ucap Gio.
"Siapa kamu?." tanya Anzela memicingkan matanya.
"Dia sekretarisku." jawab Efron.
Anzela langsung menoleh ke arah Efron.
"Oh. Katakan saja cepat pulang ke kantor, aku sedang menunggunya." ucap Anzela langsung masuk ke ruangan Alden.
Brak! (pintu tertutup)
Felix dan Gio pun hanya terdiam melihat tingkah Anzela.
.
.
...****************...
π«π«π«
Mileana baru saja tiba di restoran Blue Ice dengan menggunakan masker untuk menutupi wajahnya.
Ia datang dengan menggunakan dress selutut berwarna coksu, bermake up tipis serta rambutnya yang indah di biarkan terurai.
"Selamat datang Miss Mileana Stephanie." ucap manager restoran dengan hormat.
"Terima kasih tuan." sahut Mileana tersenyum.
"Silahkan, anda sudah di tunggu oleh seseorang sejak tadi." ucap manager restoran itu mempersilahkan Mileana masuk.
"Saya akan menunjukan ruangan nya." ucap manager itu.
"Baiklah,." sahut Mileana mengikuti langkah pria berumur 40 tahun itu.
Sesampai di ruangan VVIP, Mileana tercengang hingga orang itu menempati tempat mewah VVIP seperti ini.
Tok!
Tok!
Tok!
Manager resto itu mengetuk pintu.
Toni membuka pintu nya.
"Selamat sore tuan, Miss Mileana sudah datang." ucap sang manager resto.
"Terima kasih tuan Hendrik." ucap Toni menundukan wajahnya.
"Selamat datang Miss Mileana Stephanie." sapa Toni membungkukan badan nya.
"K-kau?, yang datang ke apartemen tadi?." tanya Mileana dengan kebingungan.
"Silahkan masuk nona." sapa Toni memberikan senyuman.
Mileana dengan ragu memasuki ruangan privat itu.
Ia melihat di sekelilingnya di penuhi oleh laki laki berbadan besar serta wanita yang berlagak pria.
Mileana semakin penasaran apa yang akan terjadi setelah dirinya memasuki ruangan ini.
"Silahkan duduk nona." ucap Toni mempersilahkan Mileana untuk duduk.
Mileana pun duduk dengan hati hati.
beberapa detik kemudian, Alden menghampiri Mileana dengan langkah yang begitu cool dan wajah yang mempesona.
Mileana langsung membulatkan matanya setelah bertemu dengan Alden.
"K-kau?." pekik Mileana menutup mulutnya.
"Apa kabar nona Mileana Stephanie." sapa Alden dengan guratan wajah dingin.
Alden kemudian duduk di hadapan Mileana.
"Apa yang kau inginkan?." tanya Mileana memicingkan matanya.
"Yang aku inginkan? Baiklah lebih baik tidak perlu banyak basa basi," ucap Alden membenarkan dasinya dengan gaya cool.
Mileana menatap Alden dengan tatapan penuh ketekanan.
"Yang aku inginkan, kau harus mengugurkan kandungan mu itu sekarang." ucap Alden menatap kuat Mileana.
DEG!
"Apa maksudmu berbicara seperti itu!?." pekik Mileana membulatkan matanya.
"Aku tau, kau sedang mengandung benihku. Kau sudah membohongiku bahwa itu anak mantan suamimu, dan yang aku inginkan sekarang gugurkan kandungan mu itu." ucap Alden dengan berwajah dingin dan bengis tanpa ingin ada penolakan.
DEG!
Mileana masih menatap Alden dengan menahan air matanya.
.
.
.
Bersambung...