Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 29 (Menjenguk Scott)



...ENTERED THE WRONG ROOM



...


Flashback Off.


"J-jadi... hati yang ada di dalam tubuhku, itu hati grand ma?." tanya Efron dengan bergetar.


"Iyaa, hati grand ma.." sahut Alden .


"Ini semua salahku!, kelakuan ku membuat grandma meninggalkan kitaa..!." pekik Efron.


"Tidak, kau jangan terus terusan menyalahkan mu sendiri." ucap Alden


"Aku benar benar menyesalinya kak.. maafkan aku atas perbuatan ku kak." ucap Efron bersimpuh.


"Bangun, kau tidak boleh melakukan ini." ucap Alden mengangkat bahu Efron.


"Aku sangat menyesal dan malu!, aku manusia yang biadab!." ketus Efron masih bersimpuh.


"grand ma hikss.." ujar Efron menundukan wajahnya.


Alden pun ikut berjongkok lalu memeluk Efron.


"Kita harus kuat, grand ma sudah tenang disana. Maafkan aku berbuat salah padamu.." ucap Alden dengan tulus dengan masih memeluk Efron.


Tiba tiba Ronald datang melihat Alden dam Efron saling berpelukan.


Hatinya terasa hangat melihat kedua putranya akhirnya akur kembali.


Ronald pun menghampiri kedua putra nya itu, lalu ikut berjongkok.


Efron melihat kedatangan Ronald, Efron pun langsung menghamburkan pelukan pada Ronald.


"Grand ma..hiks.. ternyata hati Efron adalah hati grand ma Dad!." ujarnya dengan air mata yang mengalir.


"Grand ma yang meminta nya agar mendonorkan hati nya padamu." ucap Ronald menepuk pelan bahu Efron.


"Aku sangat menyayangi grand ma Dad!.hiks.."


"Kami juga sangat menyayangi grand ma.." ucap Alden


"Aku janji, aku tidak akan berbuat masalah lagi. Aku sudah berubah, aku bukanlah Efron yang dulu."


"Dady percaya, bahkan kau telah memenangkan cumlaude di Swiss, kau juga mendapatkan piala juara 1 dalam kontes bahasa asing paling banyak. Kata paman Jordan, kau juga memenangkan lomba bela diri international di Swiss, dan mendapatkan piagam sebagai mahasiswa terpintar. Dady sangat bangga padamu Efron!."


ucap Ronald sambil menepuk nepuk bahu Efron lalu memeluknya.


"Aku juga bangga padamu, bangga mempunyai adik sepertimu Efron.." ucap Alden tersenyum.


"Terima kasih dad dan juga kakak, saat itu aku memang berusaha lebih giat belajar agar dady, momy, dan juga kakak bangga padaku." ucap Efron.


"Baguss kau adikku yang sangat pintar.." ucap Alden.


"Loh kok kita jadi main jongkok jongkokan kaya gini sih ngapain, memangnya tidak ada kursi disini." ucap Ronald bercanda.


Alden dan Efron pun tertawa kecil.


"Berdiri yu.." ajak Ronald.


Alden dan Efron pun berdiri.


"Dady senang melihat kalian akur kembali."


Alden pun langsung merangkul Efron.


"Oh ya dad nanti sore, Alden mau menjenguk Scott di rumah sakit."


"Ohh baguslah, sering jenguk agar kau tau keadaan nya." ujar Ronald


"Kakak ke rumah sakit dengan siapa?." tanya Efron


"Biasa, Felix dan Toni."


"Kenapa kak Anzela tidak di ajak ?." tanya Efron.


"Ahh itu, euh... sekalian aku dan Felix mau langsung rapat bertemu sama klien gitu." ucap Alden dengan terbata bata.


Padahal itu cuma akalan Alden saja, tidak ingin mengajak Anzela.


"Ohh begitu, boleh aku ikut untuk menjenguk Scott?."


"Ayo, kalau begitu kau jangan ikut pulang di kantor saja, tanggung jika pulang kan."


"Iyaa kak, aku disini aja.."


"Ya sudah kalau begitu dady pulang ya.. kalian hati hati di jalan kalau ingin menjenguk Scott."


"Iyaa dad, hati hati di jalan nya." ucap Alden kemudian mencium tangan nya.


begitu juga Efron bergantian mencium tangan Ronald.


...***************...


.


.


- Paris


Bugghh!


Buggghh.!!


Mark, David dan juga anak buah Brian sedang menghajar Tommy yang baru saja di temukan.


Brian hanya menyaksikan Tommy yang sedang di kepung dengan memasukan kedua tangan ke saku celana nya.


"A-ampun tuan..." lirih nya.


Buggh!


Bugghh!.


"Hentikan!." perintah Brian.


para anak buah itu langsung memberhentikan aksinya.


"Kemana kau bawa uangku pergi?." ucap Brian dengan nada kalem.


"B-bukan aku yang membawa uang itu tuan..." lirih Tommy dengan gemetar.


"Aku tanya sekali lagi, kemana kau bawa uang ku pergi?." tanya Brian dengan santai namun tegas.


Pria itu tidak menjawabnya, terlihat sekali bahwa dirinya gerogi seluruh tubuh.


Brian pun tersenyum licik.


"Rupanya kau tidak mengerti bahasa manusia." ketus Brian memiringkan bibirnya.


"Hikkss..."


"Kemana kau bawa uangku pergi!!."


Brakk!!!!


bentak Brian sambil menggebrak meja yang berada di sisinya.


"Hikkss.. aku tidak ingin di penjara t-tuan.."


"Jelaskan!!!." bentak Brian.


Pria itu tidak menjawab ia masih bergedik ketakutan, membuat Brian emosi menaikan darah nya.


"BRENGSEKK!!!." pekik nya


Kemudian Brian menghajar Tommy habis habisan.


setelah Brian puas menghabisi Tommy sampai terkulai lemas.


Lalu Brian mengambil sebuah pistol yang berada di lemari laci itu, lalu meletupkan pistolnya ke arah Tommy .


DORR!!!!!


Tommy pun langsung menghembuskan nafas terakhirnya disana.


"Urusi pemakaman untuk mayatnya."


perintah Brian, kemudian melenggang pergi sambil mengibaskan jas nya.


"Baik tuan.."


...****************...


.


.


Alden baru saja menapaki kaki nya di sebuah rumah sakit besar bersama Efron, Felix dan juga Toni.


Ketika mereka berempat masuk ke ruangan, mereka melihat Scott sudah tersadar namun selang nya masih menempel di hidung nya.


Scott langsung menatap tajam ke arah Alden dengan rasa benci.


"Sedang apa kalian disini?, kalian mau menertawakan ku?." ucap Scott dengan tatapan benci.


Alden pun hanya menyeringai bibirnya saja.


"Kita kesini untuk melihat keadaanmu, apakah kau baik baik saja atau sudah mati."


sahut Alden, kedua tangan nya ia masuki ke saku celananya


"Aku tidak akan mati di tangan mu begitu saja tuan Alden Neilsen!." ucap Scott sambil tersenyum miring.


"Kau seharusnya berterima kasih padaku, karena aku tidak membunuhmu saat itu." ketus Alden dengan nada kalem.


"Brengsek! sombong sekali dirimu!, mentang mentang kau sudah punya segalanya!." ucap Scott dengan nada sedikit tinggi.


"Aku memang punya segalanya..


cepat katakan dimana foto itu kau simpan?"


Scott langsung terbangun dari tempat tidurnya dengan pelan pelan karena tubuhnya masih sakit.


"Hahaha... kau membutuhkan foto itu ternyata Alden. Aku tidak akan memberikan nya karena itu adalah kesempatanku untuk meghancurkan reputasi mu!."


"Jangan bermain main denganku Scott!, ingatlah jika kau bermain main denganku apa yang akan terjadi."


"Haha aku tidak takut! kau pikir aku takut denganmu Alden?."


Alden mengepalkan tangan nya, menahan rasa emosi.


"Sudah kak, jangan di masukan ke hati, kita pergi dari sini.." ucap Efron menenangkan Alden.


Scott pun langsung mengalihkan pandangan nya ke arah Efron.


"Ohh, ternyata si pembunuh sudah kembali ke Indonesia." ketus Scott dengan seringai jahat.


"Jaga ucapanmu!." ucap Felix tidak terima.


"Haha.. Alden, lihatlah budakmu sedang membela adikmu."


"Kau pikir aku takut padamu Scott?, tidak!." ujar Felix menajam kan mata nya.


"Hei siapa dirimu?, kau hanya seorang budak, bahkan kau seperti peliharaan anjing yang sangat nurut dan tunduk pada majikan nya." Scott tersenyum licik.


Toni mendengar itu menahan emosinya dengan mengepalkan tangan nya.


"Brengsek kau Scott!."


pekik Felix ingin menghampiri Scott, namun Efron menahan nya.


"Kami kesini bukan untuk memulai perang, kami kesini hanya ingin melihat keadaan mu Scott." ucap Efron.


"Haha aku tidak butuh di jenguk, lebih baik kalian pergi dari sini."


"Alden, berita skandal mu sebentar lagi akan tiba tunggulah, haha.." lanjut Scott tertawa licik.


"Silahkan saja, aku bisa mengatasinya. Dan aku yakin rencana mu akan gagal dan tidak sesuai ekspektasimu." ucap Efron menatap tajam Scott.


"Diam kau pembunuh!, aku tidak ada urusan denganmu!." tegas Scott.


Alden mendengar itu seketika menarik kerah Scott dengan kuat.


"Hentikan kak, jangan memulai lagi.


Kita pergi dari sini sekarang." ucap Efron menahan lengan Alden.


"Jika kau masih ingin hidup!, jangan usik kehidupanku! ataupun adikku."


Alden pun mengehentakan tangan nya dengan keras.


Kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan itu di ikuti oleh Efron, Felix dan Toni.


Saat Alden keluar dari ruangan ia berpapasan dengan Glenn, asisten pribadi Scott.


Namun Alden cuek melenggang pergi melewati Glenn.


Toni pun menatap Glenn dengan tatapan tajam.


"Urus majikanmu dengan baik, kalau perlu cuci otak dan hatinya agar tidak seperti iblis!." bisik Toni pada Glenn dengan tatapan tajam.


Kemudian Toni pun pergi menyusul mereka bertiga.


Glenn pun hanya menatap kepergian mereka.


"Mau apa mereka datang kesini.." pikir Glenn kemudian masuk ke dalam ruangan.


.


.


.


SCOTT CARLSON



.


.


BERSAMBUNG....


jangan lupa like, komen dan vote ya say🤗


♥♥♥♥♥♥