
Happy Reading guys!!!.
Cekidottttt.....
...****************...
Di malam hari yang sangat dingin..
Mileana dan Felicya sedang berada di dalam kamar bercanda dan juga saling bertukar cerita.
"Oh ya, kamu sampai kapan tinggal di Indonesia?." tanya Mileana yang duduk di kasur king size nya bersama Felicya.
"Entahlah kak, mungkin selama 2 bulan aku disini. Lagian ya kak aku lebih betah cuaca disini loh, di Korea sekarang lagi musim dingin kak, jadi aku males kalo kesana." ujar Felicya.
"Bukan kah kamu suka saat musim dingin? dan suka bermain bola salju.."
"Iyaa kak aku suka sama salju, tapi kak.. aku baru putus sama pacarku yang di Korea..
jadi aku ingin menenangkan diri di sini.
tapi kakak jangan bilang bilang sama mamih, papih atau kak Brian kalau Feli punya pacar di Korea" sahut Felicya dengan nada sedih.
"Kenapa harus di bilang bilang.. lagi pula kamu sudah besar kan, kakak tidak akan marah kalau kamu punya pacar di Korea, asalkan kamu bisa jaga diri jangan sampe kamu masuk sama pergaulan bebas disana. Apalagi jaman sekarang pacaran tuh aneh aneh jangan sampai mengecewakan mamih, papih dan kak Brian." ucap Mileana panjang.
"Iyaa kak, Feli janji. Feli akan jaga diri disana ga akan mengecewakan keluarga kok." ujar Felicya
"Bagus kalau begitu anak pintar emang.." Mileana mencubit pipi Felicya gemes.
"Hehhehe.." Felicya hanya tertawa imut saja.
"Oh ya, kamu kenapa putus sama pacar kamu?." tanya Mileana
"Aku melihat dia lagi bercumbu sama teman kampusku.." jawab Felicya dengan raut wajah sedih.
"Dia berselingkuh dengan teman mu?."
"Dia berselingkuh, wanita itu satu kampus denganku, tapi aku tidak terlalu kenal dengan wanita itu kak. Tetap saja Feli sakit hati.."
"Uhhh sayang sabar ya, cowok sekarang tuh emang selalu begitu kurang sama satu wanita. Tapi Feli tidak boleh terus terusan sedih, Feli cantik, imut, baik pasti bakalan dapet cowok yang lebih baik dari mantan mu itu." ucap Mileana memberikan support sambil memeluk Felicya.
"Makasi kakak tercantikku..." ucap Feli membalas pelukan nya.
Drtttt..
Drttt...
suara ponsel Felicya berbunyi menandakan ada telepon masuk
...*Taemin*...
"Siapa Taemin?." tanya Mileana.
"Dia mantan aku kak, dia terus terusan nelponan aku." ucap Felicya sambil menolak telpon nya.
"Cuekin saja, biar dia menyesali perbuatannya sendiri. Berani sekali dia menyakiti adik kakak yang super imut ini.."
"Hmm kakak.." Felicya kembali memeluk Mileana.
"Sudah malam, kita tidur yuk." ajak Mileana.
"Ayoo kak, Feli juga udah ngantuk. Tapi kak Brian sudah ada kabar kan kak?."
"Sudah, pukul 7 malam tadi Brian sudah di hotel." sahut Mileana.
"Alhamdulillah kalau begitu kak, kita istirahat yu kak, kakak juga harus banyak istirahat." ucap Felicya
"Heem, kamu juga istirahat tidur jangan galau galau lagi ya cantik." Mileana pun merebahkan tubuhnya.
"Iyaa kakakku, Feli sekarang udah tidak galau lagi sudah lega hehe.."
"Anak pintarr emang.."
Felicya pun langsung ikut merebahkan tubuhnya di samping Mileana sambil memeluk Mileana.
Dan mereka pun tertidur.
...****************...
.
.
Ke esokan harinya...
Brakkkk!!!.
Alden, Toni, Felix dan para anak buahnya memasuki sebuah mansion mewah.
"Scott!! dimana kau! keluar Scott!." Teriak Alden.
Namun di tengah rumah itu tidak ada jawaban,
para ART melihat kedatangan Alden dan juga para anak buah nya merasa sangat takut dan bersembunyi.
Brakkkk!!
Alden menendang meja yang ada di ruangan itu.
"Keluar Scott!." teriak Alden dengan menahan amarah.
"Cari manusia bedebah itu di setiap ruangan!." perintah Alden pada bawahan nya.
"Baik tuan."
"Heii... Alden apa kabar?." Scott tiba tiba datang sambil menuruni anak tangga dengan wajah yang sangat tenang.
Namun saat Alden melihat Scott ia langsung mengepalkan tangan nya.
"Ada apa ini ramai ramai, tumben sekali kau datang ke mansionku." ucapnya tenang dan menghampiri Alden.
"Jangan banyak omong kau!."
Bugghhh!.
Alden memukul wajah Scott dengan keras, sampai sudut bibir Scott mengeluarkan tetesan darah.
"Apa maksudmu!." pekik Scott tidak terima.
"Jangan berpura pura bodoh Scott!." ucap Alden sambil menarik kerah Scott dengan tatapan mata yang tajam setajam silet.
"Aku memang tidak mengerti Alden.!"
Bugghhh!!!
Alden kembali melayangkan pukulan nya.
membuat Scott tersungkur beberapa meter.
"Kau masih ingin berpura pura bodoh?.!" ucap Alden kembali menarik kerah pakaian Scott dengan tegas.
Bugghhh!!.
Kini Scott yang memberikan pukulan ke wajah Alden dengan sangat keras.
Hingga Alden melepaskan kerah pakaian Scott dan langsung reflek menutup hidungnya yang sangat perih.
Alden melihat di telapang tangannya darah keluar dari dalam hidungnya.
Namun saat Toni dan Felix ingin menghampiri Alden, tangan Alden mengisyaratkan untuk berhenti.
Toni dan Felix pun tidak jadi menghampiri Alden.
"Hahaha... tidak jelas.!."
ucap Scott kembali terbangun dan mengusap seluruh pakaian nya dan merapihkan nya kembali.
Alden melihat itu sangat emosi. Ia langsung menghampiri Scott dan melayangkan kembali pukulan nya.
Bugghh!.
Scott tidak terima, kini Scott membalas pukulan Alden.
Buggh!.
dan akhirnya perkelahian sengit pun di mulai.
Toni, Felix dan juga para anak buah nya hanya bisa melihat majikan yang sedang olahraga itu.
Tanpa berkutip dan tanpa membantu.
"Mengerikan..kita harus pisahkan mereka" ucap Toni pelan melihat mereka saling adu tinju kekuatan.
"Biarkan saja, jangan di pisahkan. Kau ingin menjadi sasaran Alden? Alden sedang meluapkan emosinya." ucap Felix.
"Tapi salah satu dari mereka pasti akan mati dan masalahnya akan semakin rumit." ucap Toni parno.
"Tidak akan, lagi pula mereka berantem seperti ini sudah sering. Dan tidak ada yang mati, kita lihat saja kelanjutan nya."
"Ihh Felix, aku ngeri melihatnya." ucap Toni melihat wajah Scott kini penuh dengan darah .
"Kita seperti menonton film action langsung ya." ucap Felix terus menonton.
Namun Toni bergedik linu melihatnya.
"Stopp Alden!!!!." ucap Scott menahan tangan nya di hadapan Alden.
"Akhirnya dia menyerah.." ucap Felix memiringkan senyuman nya.
Alden dan Scott mengatur nafasnya yang tersengal sengal.
"Jelaskan apa maksudmu kemari dan langsung menyerangku!." ucap Scott sambil mengatur nafasnya.
Alden menatap dengan tajam, wajahnya terlihat sangat menyeramkan seperti monster saat emosi dia hilang kendali.
"Kau masih berani mengusikku Scott!." ucap Alden dengan tatapan tajam tak lepas dari Scott.
"Kau berani menyuruh orang lain untuk memberikan minuman perangsang itu untukku!. Kenapa?!!."
pekik Alden berdiri di hadapan Scott yang tersungkur di bawah lantai.
"Hahahaha..." Scott tertawa jahat.
Para anak buah Alden masih stay di ruangan itu.
"Kau ternyata sudah tau kalau aku yang menjebakmu haha...
baguslah kau mengetahuinya sekarang." ucap Scott santai
"Apa maksudmu dengan semua ini Scott!!." Alden kembali menarik kerah Scott.
"Aku membencimu Alden!. kau selalu mendapatkan segalanya!, aku menjebakku agar reputasi mu turun, dengan alasan kau memasuki hotel bersama wanita lain bukan dengan istrimu.." ucap Scott membalas tatapan tajam.
Mereka saling menatap kuat penuh rasa kebencian.
"Aku sudah mendapatkan fotomu saat berada di hotel dengan wanita lain.. tapi sayangnya wanita itu tidak terlihat, tidak apa apa aku tidak butuh foto wanita itu.
yang aku butuhkan foto wajahmu, dan aku akan viralkan hahah..." ucap Scott dengan tertawa picik.
"Dimana foto itu!!." tanya Alden tegas.
"Apa urusanmu? tunggu saja sebentar lagi akan ada kabarnya, sabar.." ucap Scott santai.
"Berengsekk kauu Scott! dimana fotonyaa!!!." pekik Alden marah.
"Baiklah aku tidak akan menpostikan nya, asalkan kau harus memberikan asetmu 50% saja." ucap Scott masih tersengal sengal nafasnya.
"Itu hanya mimpi!."
Bugghhh!!!
Alden menendang wajah Scott dengan sangat keras hingga Scott kembali tersungkur dan tidak sadarkan diri.
"T-tuan anda membunuhnya.." ucap Toni wajah panik.
Alden langsung menatap Toni ,dan kembali menatap Scott yang tidak bergerak lagi.
Felix melihat itu langsung melongo.
"Ohh tidakk ini pasti akan lebih rumit masalahnya.." ucap Toni panik.
Felix menghampiri Scott yang sudah tergeletak di sana.
"Felix jangan sentuh dia, polisi pasti akan menyelidiki." Panik Toni.
beberapa detik kemudian..
"Dia belum meninggal, nafas dan denyut nadinya masih ada namun lemah.
Kita harus segera bawa dia ke rumah sakit sekarang." ucap Felix saat dia memeriksa keadaan Scott.
"B-benarkah.. Scott masih hidup? syukurlah.." ucap Toni mengelus dada.
Alden masih syok dengan apa yang di lakukan nya, ia langsung di beri air minum oleh anak buahnya.
"Angkat dia ke mobil dan bawa langsung kerumah sakit!." perintah Felix pada anak buah Alden.
"Baik senor.." ucap anak buah.
Kemudian para anak buah membopong tubuh Scott ke dalam mobil dan membawa nya ke rumah sakit.
"Tuan, kau juga harus memeriksa lukamu. Kita kerumah sakit sekarang." ucap Felix.
Alden pun langsung pergi keluar mansion itu di ikuti Felix dan juga Toni.
Saat di halaman mansion..
"Aku ingin kalian segera mendapatkann fotoku sebelum Scott sadar dan memostingnya ke media" ucap Alden
"Segera tuan.." ucap Toni dan Felix.
Alden pun memasuki mobilnya.
.
.
***Bersambung....
tetap semangat membacanyaa😘😘***