Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 35 (Buah Durian)



...ENTERED THE WRONG ROOM...


Happy Reading♥♥♥


.


.


.


...****************...


Tap!


Tap!


Tap!


Langkah langkah kaki itu begitu terdengar sangat nyaring di lobby rumah sakit.


Wanita berambut sebahu itu terus saja mengeluarkan air matanya saat melihat putranya yang tergeletak penuh darah di atas blankar.


"Kamu kuat sayang, kamu anak mama yang sangat kuat!." bisik wanita itu sambil memegang erat tangan putranya.


"Mohon maaf nona, anda tidak boleh masuk ke dalam ruangan. Sebaiknya nona menunggu disini " ucap suster menahan wanita itu ketika hendak masuk ruangan ICU.


"hiks..selamatkan putraku.." rintih wanita itu dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya.


"Berdoalah nona.." sahut suster.


Kemudian seorang dokter pun datang dengan langkah terburu buru dan langsung memasuki ruangan ICU itu, para suster langsung saja menutup pintu ruangan itu dengan cepat.


Milleana dan Felicya menatap iba melihat wanita itu terus saja menangis, mereka benar benar merasa bersalah. Mileana dan Felicya mencoba untuk memberanikan diri menghampiri wanita itu yang sedang duduk di kursi tunggu dengan menutupi wajahnya.


"Nona.." ucap Mileana menghampiri wanita itu.


Namun wanita itu masih saja menutup wajahnya dan enggan menjawab.


"Kami turut bersedih atas kecelakaan ini, maafkan kami karena tidak sengaja melukai putramu. Kami benar benar sangat menyesal, dan..."


"Jadi kalian yang telah menabrak putraku?." wanita itu seketika membuka wajahnya dengan tatapan yang sangat bengis.


"Aku tidak sengaja melakukan nya, lagipula kenapa putramu di biarkan bermain di jalanan." ucap Felicya membela diri.


"Apa maksudmu? kau menyalahkan putraku?." tanya wanita itu dengan tatapan tajam.


Felicya memutarkan matanya menahan kesal sambil melipatkan kedua tangan nya di dada.


"Kenapa kau tidak menjaga putramu?, saat itu putramu tiba tiba saja menyebrang saat di tikungan jalan, jadi bukan sepenuhnya salah aku."


Mileana menahan tangan Felicya agar suasana tidan semakin buruk.


"Kecelakaan ini benar benar tidak ada yang tahu karena ini sebuah takdir, saya tidak menyalahkan putramu ataupun adikku sendiri. Kami disini hanya meminta maaf dan akan bertanggung jawab penuh atas kecelakaan ini." ucap Mileana.


"Kami akan bertanggung jawab untuk pengobatan putramu.. sekali lagi maafkan kami, kami berharap putramu baik baik saja" lanjut Mileana dengan tulus dan lembut.


Wanita berambut sebahu itu langsung menatap lekat wajah Mileana yang terlihat sangat tulus, kemudian ia mengerutkan alisnya.


"Wanita ini, kenapa seperti tidak asing saat aku melihatnya.."


pikir wanita itu dalam hatinya.


"Perkenalkan namaku Mileana."


Mileana menghamburkan lamunan nya, sambil mengulurkan tangan dengan senyuman manis.


Wanita itu menatap tangan putih yang ada di depan nya, dan ia pun segera membalas uluran tangan nya.


"Meisya, namaku Meisya.." jawabnya.


Mileana pun tersenyum manis dan mengangguk.


Felicya melihat itu langsung saja membuang muka ke arah lain.


"Kenalkan, ini adik iparku."


"Ayo Fel, jangan begitu" bisik Mileana.


"Felly." ucap Felicya mengulurkan tangan nya.


"Meisya.." ucap wanita itu.


"Apakah kau memaafkan kami?." ucap Felicya.


Meisya menatap kedua wanita cantik itu yang berada di depan nya, kemudian ia menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Aku memaafkan kalian, lagi pula kecelakaan ini bukan sepenuhnya salah kalian." ucap Meisya.


"Terima kasih nona.." ucap Mileana dan Felicya tersenyum.


"Jangan panggil aku nona, aku merasa tidak pantas di panggil itu. panggil nama saja."


"Baiklah Meisya." jawab Mileana tersenyum.


"Ohh ya, apakah dia putra pertama mu?." tanya Mileana


"Iyaa, dia putraku satu satunya."


"Aku begitu merasa bersalah."


"Tidak usah di pikirkan, dari bayi putraku kurang kasih sayang dari ayahnya, jadi aku limpahkan semua kasih sayangku padanya aku selalu melakukan apapun demi putraku sekaligus itu nyawaku taruhan nya." ucap Meisya dengan nada sedih.


"Mohon maaf, memangnya ayahnya kemana?." tanya Mileana.


"Ayahnya sudah menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik dan segalanya dariku." sahut Meisya menundukan wajahnya.


"Ya Allah, kenapa laki laki itu tega sekali berbuat seperti itu." ketus Mileana.


"Yaa, mungkin ini takdir jalanku. Aku harus mengurus sendiri putraku, tanpa seorang penyemangat dan pendamping hidupku."


"Sabar ya Mey, pasti Tuhan merencanakan lebih baik dari apa yang kau harapkan."


"Terima kasih..." sahut nya tersenyum getir.


Meisya pun reflek memeluk Mileana dan menumpahkan kesedihan nya.


"Hikss..kenapa Tuhan tidak adil atas kehidupanku.."


"Sabar Mey, jangan berkata seperti itu, kau pasti mendapatkan kebahagiaan." Mileana mengelus pundak Meisya.


"Hiks..aku benci laki laki itu!," Meisya terus saja bergerutu di dalam pelukan Mileana.


Felicya melihat kejadian itu hanya terdiam saja merenungi kesedihan Meisya.


2 jam berlalu mereka menunggu keadaan Valdo di kursi ruang tunggu dengan curhatan dan obrolan obrolan kecil.


Dokter pun keluar dari ruangan ICU.


"Keluarga tuan Rivaldo." panggil dokter.


"Saya dok," Meisya langsung beranjak dari kursi menghampiri dokter.


"Putra anda banyak mengeluarkan darah sehingga terjadi pendarahan, golongan darah putra anda sangat terbatas di rumah sakit ini, tadi juga saya sudah memberikan satu kantong darah O tapi masih belum cukup juga."


Meisya yang mendengar itu sangat tepukul dan kembali mengeluarkan air matanya.


"Tuhan, kenapa harus membutuhkan donor darah O lagi.. kenapa harus pendarahan lagi pada putraku."


Meisya menjerit dalam hatinya, menahan rasa sesak yang ada di dada nya.


Mileana segera menegarkan Meisya dengan mengelus-elus punggungnya.


"Apakah ada kerabat anda yang memiliki golongan darah O?." tanya dokter kembali.


"A-akan saya pikirkan itu dokter, saya akan mencari nya." ucap Meisya menghapus air matanya.


"Bila perlu secepatnya nona, karena sekarang putra anda sangat lemah." ucap sang dokter.


"Baik dokter, terima kasih."


Dokter pun berpamitan kemudian langsung pergi.


"Jika saja golongan darah ku O, aku akan medonorkan darahku sekarang." ucap Mileana.


"Maaf kak Mey, darahku B." ucap Felicya sedih.


"Tidak apa apa, aku akan cari pendonornya." sahut Meisya.


"Jangan khawatir, kami yang akan mencarikan orang yang ingin mendonorkan darah O untuk putramu." ucap Mileana.


"Terima kasih..." sahut Meisya.


...***************...


Pukul 19.55 di perjalanan sebuah Mileana sedang mengemudikan mobil sedan nya.


"Feli, apa kamu memberitahu soal kejadian ini pada mamih sama papih?." tanya Mileana menoleh ke samping sambil menyetir.


"Belum kak, nanti aja kita ceritain di rumah."


"J-jangan!, jangan cerita kesiapa siapa ya soal masalah ini."


"Loh, kenapa kak?." tanya Felicya bingung


"Kita selesaikan masalah ini berdua ok?, jangan melibatkan orang lain. Apalagi mami sama papi, aku takut mereka syok atau kenapa napa saat tau kamu menabrak anak kecil sampe masuk ke rumah sakit." jelas Mileana.


"Ohh iya kak, Feli lupa. Papi kan punya riwayat jantung, Feli gamau papi masuk rumah sakit lagi."


"Nahh itu kamu tau, kita cari aja orang yang mau mendonorkan darah O."


"Ok kak, maaf ya gara gara Feli kakak jadi terlibat masalah ini."


"Engga lah, jangan terus menyalahkan dirimu."


"Okay kak,"


Huekkk!


Mileana bergedik menahan mualnya.


"Kenapa kak?." tanya Felicya khawatir.


"Tidak apa apa," sahutnya lalu kembali fokus menyetir.


Felicya pun memutarkan lagu favorite pop di mobilnya dan mereka pun bernyanyi bersama, menghilangkan rasa stress dan penat setelah menyelesaikan masalah yang menimpa mereka berdua.


...***************...


.


.


Malam itu pukul 21.00, mobil sport mewah melaju dengan kecepatan rendah.


Ya, Alden dan juga FT (Felix&Toni), baru saja menyelesaikan rapat di sebuah gedung ternama karena rapat itu sangat penting hanya di hadiri pengusaha pengusaha sukses saja.


"Carikan aku buah durian."


ucap Alden tiba tiba memecahkan keheningan di dalam mobilnya.


"Apa tuan?,"


ucap Felix menoleh ke belakang karena tidak mendengarnya dengan jelas.


"Carikan aku buah durian, sekarang." ucapnya kembali dengan wajah datar.


"Apa??." ucap Felix Toni berbarengan.


"Tapi ini sudah malam tuan." ucap Felix


"Carilah, lagipula ini belum terlalu malam." ucap Alden.


"Ya, kemana nyarinya tuan, pasar udah pada tutup." ucap Felix dengan getir.


"Aku tidak ingin tau, jangan pulang jika kalian belum menemukan nya sampai ketemu." perintah Alden.


Felix dan Toni pun saling bertatap tatapan dan pasrah saja.


'Dasar!, kalau bukan loe yang ngegaji gue udah gue tampol tuh muka loe biar ga ganteng lagi. Mana gue capek banget pengen nemu kasur dari tadi eh malah di suruh yang aneh aneh! huhh..'


batin Felix menggerutu dengan kesal.


'Kalau bukan boss udah ku sumpal mulutnya pake kaos kaki gue yang udah keringetan dari siang, udah capek pengen istirahat seharian kesana kesini, eh ini malah aneh aneh pengen buah durian!. kek yang ngidam aja loe!.'


gerutu kesal Toni dalam hatinya.


Namun Alden hanya tenang dengan wajah tanpa dosa, menutup matanya dengan kepala yang menyandar di jok mobil.


.


.


.


**Bersambung...


Jangan lupa like,comment, vote ya🤗🤗🤗


Big love untuk readers♥♥♥**