
Anzela kini sudah berada di sebuah Restaurant Maldives.
Kini ia sedang menelpon seseorang sambil duduk di meja yang sudah di reservasi.
Tut...tut..tut
"Hallo." ucap pria dengan suara bariton nya.
"Kau sedang dimana Al?. aku sudah sampai di restoran." ucap Anzela sambil merapihkan rambutnya.
"Apa?, ini baru juga jam 11."
"Kenapa kalau jam 11?."
"Jadwal makan siangku jam 12, lagi pula aku tidak bisa datang kesana sekarang. Aku masih sibuk."
"Apa?, kenapa kamu tidak membalas pesanku kalau begitu, aku sudah reservasi tempat ini untuk kita berdua Al.."
"Kau menyalahkan ku?, harusnya kau mengerti jika aku ini sedang bekerja."
"Tapi setidaknya kau balas pesanku agar aku tidak menunggumu disini."
"Lalu kau tidak ingin menunggu?, itu terserah kau saja jika kau pulang ya berarti makan siang kita gagal." sahutnya dengan nada santai.
"Tidak. Aku akan menunggumu sampai jam 12, tidak apa apa jika aku menunggu satu jam."
"Terserah.. Aku masih sibuk, tulis saja alamat restoran nya melalui whatsapp. bye."
"Tung..."
Tut..tut..tut..
"Ihhh... Aldenn!!."
Belum sempat Anzela mengucap, Alden sudah menutup telponnya terlebih dahulu.
*****
"Rapat hari ini selesai." ucap Alden
Para staff divisi pun langsung pamit untuk keluar ruangan rapat.
"Oh ya tuan, perusahaan IDS Group ingin melakukan kerjasama dengan perusahaan kita." ucap Felix sambil berjalan menuju ke lantai CEO.
"Berapa persen saham yang akan ia tanam di perusahaan ku?."
"Sebesar 30%."
Alden pun hanya berseringai.
"Katakan pada pemilik IDS Group bahwa aku menginginkan saham 40%."
"Baiklah, saya akan konfirmasi."
Mereka pun sampai di lantai CEO.
Sudah ada Toni disana yang siap untuk mengantar mereka makan siang.
"Selamat siang tuan muda." ucap Toni dengan sedikit membungkukkan badan nya.
"Siang, oh ya, hari ini aku akan makan siang dengan Anzela." ucap Alden
"Apa!" ucap Felix dan Toni bersamaan.
"Apa aku tidak salah mendengar?." ucap Felix dengan mata sedikit membulat
Alden pun hanya memutar kan bola matanya
"Kau sudah bisa menerima wanita itu?." ucap Felix kembali.
"Ohh tidak, aku tidak rela jika tuan muda menerima wanita liar itu." ucap Toni.
"Wanita liar?, kau pasti tau tentang wanita itu saat di hotel Lotus?." tanya Felix pada Toni.
"Tentu saja aku tahu.."
"Kau berhutang padaku!." ucap Felix langsung membelitkan tangannya ke leher Toni dengan sangat keras.
"Le-lepaskan..."
"Kenapa kau tidak memberi tahu ku? Haa?"
"Lepas..kan aku t-tidak bisa bernafas bodoh!."
"Tapi kau harus menjelaskan tentang Anzela di hotel itu!." ucap Felix masih belum melepaskan cengkraman di leher Toni.
"Sudah lah!. Kenapa kalian malah membahas yang tidak penting!." Pekik Alden
"Felix, lepaskan tanganmu!." pekik nya kembali
Felix pun berdecak kemudian melepaskan tangannya di leher Toni.
"Uhuk..uhuk..kau hampir saja membunuh ku! bodoh!." pekik Toni
Bugh!
pekik Toni sambil menendang bagian betis Felix.
Mata Felix langsung melotot dan seketika ingin membalasnya, namun Toni segera lari untuk menyusul Alden yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Dasar bedebah kecil!.lihat saja kau!." gerutu Felix.
Felix pun kemudian mengikuti Alden.
*****
"Ck..kenapa Alden belum datang juga sih, padahal ini sudah mau jam 1." ucap Anzela sambil melihat arloji di tangan kirinya.
Anzela pun menghela nafasnya
"Kau harus sabar Anzela..mungkin sebentar lagi Alden sampai." ucap nya pada sendiri.
*****
Mobil sport berwarna hitam itu baru saja sampai di restoran Maldives.
"Good luck tuan muda makan siangnya..." ucap Felix dengan suara tengil.
"Nanti saya jemput jam berapa tuan?." tanya Toni.
"Apa maksud nya?, kalian juga harus ikut makan siang bersama ku." ucap Alden dengan nada santai.
"Kami ikut makan siang bersama tuan dan juga nona Anzela, begitu?." ucap Felix dengan sedikit mengerutkan keningnya
"Yaiya lah, kalian pikir aku mau makan siang berdua dengan wanita itu!."
"T-tapi kami tidak ingin membuat suasana romantis terganggu." ucap Toni.
"Romantis matamu!. Ayo cepat turun!." Pekik Alden.
"Tuan muda duluan saja, saya mau cari parkir dulu, tapi Felix temani aku hehe."
"Apa? kau ingin aku temani setelah kau menendang kaki ku?." pekik Felix tidak terima.
"Ck..kau juga mencekik ku tadi, ya berarti kita impas lah." jawab Toni.
"Aku hanya mencekik mu tapi kau malah menendang ku, itu bukan impas. Tapi itu licik bodoh!."
"Kau itu...."
"STOP!!!." bentak Alden yang masih duduk di jok belakang mobil.
Felix dan Toni pun seketika menoleh ke belakang mobil.
"Lanjutkan..." ucap Alden kemudian keluar dari mobil sport nya.
Alden menapaki kaki nya di restoran Maldives. Saat ia sedang berjalan tiba tiba saja ada seorang wanita yang menabrak nya.
Bruk...
"Ahhh.."
Alden menahan tubuh wanita itu, hingga tubuh mereka saling menerima. Di tatap nya wajah yang bersih mata yang sedikit bulat, bibir yang ranum, hidung yang mancung, serta kulit putih dan bening.
Seketika Alden terkesima menikmati keindahan yang berada di depan matanya. Hingga ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang memeluk pinggang wanita itu dengan wajah yang dekat, kedua insan itu terlihat sangat intim.
"M-maafkan aku tuan Presdir Alden..." ucap wanita cantik itu menyadarkan Alden dari tatapan kagum nya.
"Ehh...maaf..maaf." ucap di Alden seketika melepaskan pelukannya.
"Tidak. saya yang harusnya minta maaf karena saya berjalan terburu buru." ucap nya.
"Tidak apa apa, lain kali hati hati."
"Tentu saja, saya sangat senang bertemu dengan anda tuan Presdir Alden.."
"Terima kasih, senang bertemu dengan anda juga Miss Supermodel."
"Ternyata anda mengenali saya? hehe.."
"Tentu saja saya tahu. Kalau begitu saya pamit ke dalam."
"Tentu saja silahkan tuan Presdir, sekali lagi terimakasih sudah membantu saya sehingga saya tidak terjatuh."
"Ya, sama sama."
Alden pun langsung pergi dan masuk ke dalam restoran meninggalkan Milleana seorang diri.
'Aduh kenapa gemetaran begini, ada apa ini..'
pikir Alden.
"Tuan muda." Felix
"Ishh kau itu mengagetkan ku saja!."
"What?, aku tidak mengagetkan mu, aku hanya menyapamu." sahut Felix.
"Apa kau baik baik saja tuan? kau terlihat sangat aneh." ucap Toni.
"Aneh apa maksudmu!?."
"Kau seperti baru saja melihat hantu, lihatlah keringat di wajah mu." ucap Toni.
"Aku hanya gerah saja." sahut Alden.
"Gerah atau gemetaran mau bertemu dengan Anzela?..." tanya Felix
"Tutup mulutmu bodoh!, aku tidak tertarik dengan wanita itu!." bentak Alden
Alden pun langsung pergi menuju meja yang sudah di reservasi oleh Anzela.
"Semua wanita pun kau tidak tertarik tuan muda..." gerutu Felix
Felix dan Toni pun menyusul Alden.
*****
"Selamat siang Lady..." ucap Milleana yang baru saja datang.
"Selamat siang juga Miss," sahutnya
"Maafkan aku telah membuatmu menunggu ku."
"Tidak apa apa, aku mengerti, jangan di permasalahkan."
"Ah.. terima kasih atas perhatiannya Lady."
"Kita pesan makan saja terlebih dahulu, bagaimana?."
"Baiklah Lady.. aku setuju."
Catharina pun memanggil salah satu pelayan yang ada di restoran Maldives.
*****
Anzela sedang duduk sambil melipatkan kedua tangannya, wajahnya yang sudah terlihat sangat kesal, tiba tiba saja berubah menjadi ceria setelah melihat pria yang ia puja datang menghampiri nya.
"Al... kau sudah datang." ucap Anzela langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Iyaa, maaf menunggumu."
"Ahh.. tidak apa apa, aku mengerti ko." sahut Anzela dengan manis.
Tiba tiba saja Felix dan Toni datang menghampiri mereka.
"Selamat siang nona." ucap Toni dan Felix.
"Selamat siang juga.." sahutnya dengan senyuman manis.
"Oh ya, terima kasih kalian sudah mengantarkan Alden sampai ke dalam restoran, kalian benar benar perhatian pada majikannya." ucap Anzela dengan senyuman.
Felix dan Toni pun hanya saling menatap tidak menyahuti Anzela.
"Mereka berdua akan ikut makan siang dengan kita." ucap Alden dengan santai.
"A-apa?." Mata Anzela sedikit membulat.
"Sekretaris dan Asisten ku akan makan disini bersama kita." jelas Alden
"T-tapi... lebih baik sekretaris dan Asisten mu itu mencari meja lain yang dekat kita saja."
"Tidak. Kita satu meja saja, sekalian sekretaris ku membahas tentang perusahaan Xmd."
Anzela pun terdiam lalu menatap kedua pria itu yang tak lain Felix dan Toni.
"Baiklah, silahkan." sahut Anzela lemas.
"Izin bergabung nona..." ucap Felix dan Toni.
"Silahkan." sahutnya dengan nada tidak bergairah.
Felix dan Toni pun menahan tawanya.
'Kenapa harus ada mereka sih..aku kan mau berduaan sama Alden. Dasar Sekretaris dan Asisten yang tidak peka, seperti tidak pernah berpacaran saja.'
gerutu Anzela dalam hati lalu menghela nafas nya, mencoba untuk bersabar dengan semua ini.
Bersambung.....
Happy Reading Gais
Maaf ya kalau Author telat Up. Nanti usahain Author untuk Crazy up, Terima kasih support nya🥰🥰🥰🥰