Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 39



...ENTERED THE WRONG ROOM...


.


.


.


"Please jelaskan, aku masih belum paham." ucap Mileana dengan wajah penuh kebingungan itu.


"Brian, aku mempunya pilihan untukmu. Aku yang menjelaskan atau kau yang menjelaskan."


ucap Meisya dengan gaya bicara yang sangat percaya diri.


"Siapa anda? aku sama sekali tidak mengenalimu." tegas Brian dengan tatapan penuh benci.


"Hahaha...kau masih ingin berbohong?." tanya Mileana dengan wajah licik.


"Hey!, jangan mencoba untuk kenal dengan ku, mana mungkin aku kenal dengan orang rendahan sepertimu!."


pekik Brian dengan tatapan tajam, ia benar benar sudah muak dengan Meisya.


"Brian, jangan berbicara seperti itu." ucap Mileana dengan nada rendah.


"Orang rendahan? kau menyebutku orang rendahan?!." pekik Meisya.


Brian hanya memutarkan matanya ke arah lain, mencoba menahan kekesalan nya kepada wanita yang sedang menangis di depan nya itu.


"Dasar laki laki bajingan!.. sebelum mengataiku rendahan kau harus coba intropeksi, apakah kau seorang laki laki yang bermatabat tinggi?!."


Kepala Mileana semakin pening, ia memegang pelipisnya menahan rasa pusing di kepalanya.


"Kamu tidak apa apa sayang?." tanya Brian panik.


"Aku tidak apa apa , aku hanya butuh penjelasan dari kalian berdua." ucap Mileana.


"Baiklah Milea, jika suamimu tidak ingin menjelaskan, aku saja yang akan menjelaskan semuanya." ucap Meisya.


"Tidak, kita pulang saja ya sayang." lanjut Brian membujuk Mileana.


"Haha ini kesempatan mu untuk lari dari masalah ini tuan Brian." ucap Meisya.


"Diam kau! istriku sedang sakit! aku lebih mementingkan istriku dari pada orang rendahan yang ga


jelas sepertimu!." tegas Brian.


Mendengar hinaan dari Brian, hati Meisya sangat tergores sakit. Dia sangat kesal, marah terhadap Brian. Ingin rasanya ia memukul wajah Brian dengan kursi ruang tunggu yang ada di rumah sakit ini tapi rasanya tidak mungkin karena ia pasti tidak kuat membawanya.


"Dengarkan aku Mileana. Aku ada wanita masa lalu suamimu."


Duar!!


Brian seakan tersambar petir mendengar pengakuan Meisya pada istrinya.


"A-apa?." ucap Mileana tak percaya


"Haha, kau mengaku ngaku pernah menjadi wanita masa laluku? apa kau tidak mempunyai urat malu?." ucap Brian mencoba membela diri.


"Aku tidak berbohong Milea, suamimu adalah mantanku lebih tepatnya mantan suamiku. Kami pernah nikah siri karena aku hamil anak nya di luar nikah, tapi dia sama sekali tidak menganggap kehadiranku dan calon anakku. Hingga aku melahirkan dia ingin aku dan anakku menjauh dari hidupnya." jelas Meisya sambil menjatuhkan air mata di pelupuk matanya.


"Hey! kau jangan ngarang cerita!." bentak Brian.


"Aku tidak mengarang! kau yang tidak mau jujur!." bentak Meisya kembali.


"Sayang.. jangan percaya, dia sedang mengarang cerita. Kau hanya percaya padaku kan?." ucap Brian membujuk Mileana.


"Aku punya bukti untuk itu." ucap Mileana.


"Hey hentikan!, jangan mencoba menghasuti istriku!,


ayo sayang kita pergi dari sini."


"Milea kau jangan tertipu oleh bualan nya. Dia laki laki brengsek, kau tidak pantas dengan nya, kau wanita baik Milea, percaya padaku. Dia adalah ayah dari Valdo, anak yang sedang membutuhkan darah O, dan lihatlah suamimu berdarah O sama seperti putraku."


PLAKK!!!


Brian menampar pipi Meisya, dengan tatapan sorot mata yang tajam.


"Brian!.." pekik Mileana tak percaya Brian menampar seorang wanita di hadapan nya.


"Jaga bicaramu!." tegas Brian menatap penuh kebencian kepada Meisya.


Meisya memegang pipi kiri nya yang sangat panas dan perih, ia tidak menerima perlakuan Brian terhadapnya.


PLAK!!!!


Meisya membalas tamparan Brian, seakan suasana menjadi begitu mencekam.


"Kau berani menamparku?." tanya Brian dengan masih tatapan yang sama.


"Cukup Brian.. kepala aku sangat pusing." pekik Mileana memegangi kepalanya yang pening.


Brughhh!.


Mileana pun tak sadarkan diri.


"Mileaa sayang..."


"Maafkan aku Milea, bukan maksudku ingin menghancurkan rumah tanggamu. Tapi aku tidak ingin Brian bahagia dengan orang yang ia cintai."


ucap Meisya masih menatap Brian yang menggendong Mileana sampai tak terlihat.


...****************...


.


.


Alden baru saja menutup acara meetingnya. Dan kini para karyawan pun meninggalkan ruangan meeting tersebut.


"Gio." panggil Alden.


"Iya tuan presdir?, ada yang bisa saya bantu?." tanya Gio


"Kau datang ke ruanganku sekarang."


Alden pun langsung melenggang pergi meninggalkan Gio sendirian di ruangan meeting.


"Apa aku membuat kesalahan ya? ahh semoga saja tidak ada."


pikir Gio, kemudian pergi menuju ruangan Alden.


Beberapa menit kemudian...


"Apa tuan?, saya akan pindah jabatan menjadi sekretaris presdir Efron?."


tanya Gio sekali lagi untuk memastikan keputusan Alden.


"Iyaa, karena perusahaan ini akan di pegang oleh Efron." sahut Alden dengan santai.


"Lalu siapa yang menggantikanku menjadi manager keuangan?." tanya Gio menatap Alden dan Efron.


"Itu nanti bukan urusanku, biarkan itu urusan Zulfan." sahut Alden.


(Zulfan adalah seorang Human Resource Development/HRD STARLIGHT COMPANY).


"Jika kau tidak bersedia menjadi sekretarisku, tidak apa apa. Aku akan mencari yang lain." ucap Efron.


"Tidak bisa, kau pikir orang baru lagi bisa terjamin dan terpercaya?." tanya Alden.


"Aku akan mencari yang membutuhkan pekerjaan saja." ucap Efron.


"Jika kau berpikiran seperti itu, semua orang pasti jawaban nya mau , apalagi menjadi sekretarismu." jelas Alden


Gio pun hanya menyimak obrolan antara adik kakak itu.


"Bagaimana, apakau menerima pemindahan jabatan?, tapi saya jamin gajimu lebih besar dari sebelumnya jika kau bersedia menjadi sekretaris Efron." tanya Alden


"Tapi menjadi sekretaris bukan jalurku tuan." ucap Gio.


"Kau jangan mencoba membodohiku, kau pikir aku tidak tau jika kau pernah bekerja di Arms Group menjadi sekretaris Ceo?."


"Iyaa tuan, tapi hanya 1 tahun saja.."


"Aku percaya padamu, kau pasti bisa kau banyak talent di kantor ini."


"Terima kasih tuan presdir.. saya siap untuk berada di samping tuan presdir Efron, saya menerima menjadi sekretaris nya." ucap Gio.


"Kau yakin?." tanya Alden.


"Yess im sure."


"Selamat bergabung Gio terima kasih." Efron memberikan senyuman nya.


"Terima kasih kembali tuan.." ucap Gio menundukan sedikit kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit.


"Bagaimana dok keadaan istri saya?." tanya Brian khawatir pada dokter.


Dokter itupun menjelaskan keadaan Mileana.


Brian yang mendengar penjelasan dari dokter, seketika berubah wajahnya menjadi tegang dan tak percaya, Brian juga menahan kekesalan nya. Entah kabar apa itu sehingga membuat Brian pergi meninggalkan Mileana di rumah sakit seorang diri.


Bahkan Brian tidak pernah bersikap seperti itu pada Mileana, entah apa yang Mileana lakukan sehingga Brian sangat marah padanya.


Brian pun mentancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, dengan wajah yang penuh amarah. Brian pergi menuju mansion pribadinya, tidak kembali ke mansion utama Alexander, mungkin karena Brian ingin ketenangan di mansion pribadinya.


Setelah Brian sampai di mansion pribadinya, dia memasuki mansion itu dengan wajah yang menahan marah, para pelayan yang menyambut Brian merasa sangat aneh tak biasanya Brian berwajah seperti itu.


Brian hanya melewati para pelayan begitu saja menuju kamar pribadinya tanpa menoleh ke manapun.


.


.


.


Bersambung...