Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 5 (Pengusaha Berlian?)



"Toni!.. awas!!...."


Alden seketika menutup wajahnya dengan siku tangan nya.


Namun ia tidak mendengar suara tabrakan, kemudian Alden membuka kembali wajahnya, dan mobilnya itu masih melaju cepat, lalu ia menoleh ke belakang mobil melihat kakek tua itu sudah menyebrang.


"Hussshhh...." Alden menarik nafasnya.


"Kau gila ha!?, bagaimana jika kita menabrak kakek tua itu!, sekarang ini perusahaan ku sedikit menurun, dan jika aku bersangkutan dengan polisi, maka nama baik ku pasti akan tercemar lebih buruk!." bentak Alden.


"Maaf kan aku tuan, kau yang memerintah ku untuk melaju lebih cepat kan?." sahut Toni, kini kecepatan mobil di atas sedang.


"Tapi tidak ugal ugalan seperti itu!."


"Maaf tuan, aku salah."


"Nah!..kita sudah sampai nih di restoran." ucap Felix kemudian membuka seatbelt nya , seolah tidak menghiraukan kejadian itu.


Alden yang duduk di kursi mobil belakang hanya menghela nafas saja.


*****


"Hii...maaf aku membuatmu menunggu ku." ucap Milleana yang baru saja masuk ke mobil sport mewah itu.


"Tidak apa apa, aku tidak akan pernah bosan menunggu makhluk indah ini.." sahutnya dengan mengusap lembut rambut Milleana yang tergerai.


"Hmm mulai nih gombal nya." ucap Milleana dengan memamerkan gigi putih nya.


"Itu sebuah kenyataan.."


Beberapa detik kedua insan itu saling menatap.


"Oh ya, kau sudah makan?." tanya Brian.


"Belum."


"Kalau begitu kita ke restoran dulu." kemudian Brian pun menyalakan mesin mobil nya dan mobil itu berjalan meninggalkan gedung Bacharest.


*****


Di Restoran Routelle.


Alden yang baru saja melesaikan makan siangnya merasakan sebuah ponsel bergetar. Ia mengambil benda pipih itu yang berada di saku celananya.


Terlihat jelas di layar ponsel itu tertera nama 'Momy' sedang menghubungi nya.


"Hallo mom..."


'Kau dimana?.'


ucap suara berat, ternyata yang menelpon bukanlah ibu nya, melainkan Ronald ayahnya.


Ronald tidak menghubungi Alden langsung dengan nomor nya karena pasti Alden tidak akan mengangkatnya.


"Aku sedang di luar, kenapa?."


'Besok kita ada acara makan malam bersama keluarga Cullen, aku harap kau datang di acara itu.'


"Aku tidak bisa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


'Kita disana akan membicarakan tentang bisnis kerja sama, sekalian membahas perjodohan mu dengan Anzela.'


"Sejak kapan aku menerima perjodohan itu?."


'Aku tidak butuh penolakan!. jika kau tidak ingin di jodohkan, maka semua aset perusahaan dan fasilitas yang kamu miliki sekarang akan kembali ke tangan ku, dan aku akan memberikan hak waris itu pada Efron, adikmu.'


Tut Tut Tut.!..


Alden seketika menutup telponnya.


Dirinya sekarang sedang mengontrol emosi nya.


"Apa kau baik baik saja?." tanya Felix


Alden hanya menoleh kemudian memalingkan wajahnya lagi, ia tidak ingin menjawabnya.


Felix pun mengerti, karena ia tahu jika Alden marah pasti dia tidak akan berbicara atau bersuara sedikit pun.


"Ehh bukanlah itu Miss Milleana?." ucap Felix menghangatkan suasana yang tegang.


Alden dan Toni mengikuti arahan tatapan mata Felix. Dan benar saja mereka melihat sosok elok berbalut dress selutut berwarna merah muda yang sedang makan dengan gaya feminim nya.


"Benar tak ku sangka aku dapat melihatnya lagi, tapi dia datang dengan siapa?." ucap Toni


Alden baru menyadari bahwa Milleana makan bersama pria.


"Pria itu Brian Alexanderico, pengusaha berlian yang sukses." ucap Felix.


"Apa mereka mempunyai hubungan khusus?." tanya Toni


"Entahlah aku tidak mengetahui nya, tapi beberapa media mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan." jelas Felix.


"Jadi Miss Milleana sudah mempunyai pacar begitu?." ucap Toni dengan nada sedikit sedih.


"Wanita cantik seperti dirinya tidak mungkin sendirian."


'Kenapa jantungku ini merasa sesak melihat wanita itu dengan pria lain. Ada apa denganku...'


Pikir Alden dalam hati.


*****


"Bri.. aku ditawarkan menjadi brand ambassador di perusahaan Lixian's Corp yang berada di Paris, mereka akan mengkontrak ku selama 6 bulan.


"Kau akan mengambil nya?."


"Apa kau tidak keberatan jika aku mengambil nya?".


"Sebenernya, aku tidak ingin kau menjadi model lagi." sahutnya


"Maksudnya?."


"Aku ingin kau meninggalkan pekerjaan mu sekarang."


"Tapi kenapa? aku butuh alasan"


"Aku masih bisa memenuhi kebutuhan mu, kau mau apa? rumah, mobil, apartemen, atau tas branded? atau pakaian baru? aku akan memberikan nya asal kau keluar dari dunia model."


"Aku tidak ingin apa apa, aku menjadi model level atas saat ini, itu tidak mudah. Kau tahu ini cita citaku sejak kecil, dan aku tidak bisa meninggalkan nya."


"Jadi kau tetap akan menjadi seorang model meskipun kita sudah menikah, begitu?."


"Aku akan berhenti dari dunia model setelah aku hamil."


Brian menatap manik berwarna coklat itu. Jujur saja sebenarnya dia tidak rela jika Milleana terus terusan memamerkan tubuh seksi dan kulit mulus nya pada semua orang.


"Aku akan menolak kontrak kerja sama dengan Lixian's Corp di paris, aku tidak akan mengambil nya.." ucap nya lagi


"Baiklah, jika itu kemauan mu." Brian melanjutkan makan nya.


'Maafkan aku Bri.. bukannya aku egois, tapi aku belum bisa meninggalkan cita citaku sejak kecil, tapi kau harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu.'


gumam batin Milleana


*****


Di kediaman keluarga Cullen.


"Oh my God!. Moms pria ini sangat tampan." ucap wanita cantik berkulit putih yang bernama Anzela. Dia baru saja melihat sebuah foto pria muda tampan dari ponsel Anna, ibunya.


"Bagaimana sayang? apa kau menerima perjodohan dengan pria itu?."


"Aku menerima nya, aku mau menikah dengannya moms!." ucap nya dengan senyuman.


Mendengar ucapan dari Anzela, Anna pun tertawa kecil.


"Kau pasti akan menikah dengan nya sayang."


"Benarkah?"


"Tentu, dan malam ini kau akan bertemu dengan nya, karena kita akan ada acara makan malam bersama keluarga Shakalingga." ucap Anna sambil mengusap lembut rambut Anzela


"A-apa? malam ini moms?."


"Iyaa sayang, jadi kau harus tampil secantik mungkin nanti malam."


"Hehe baiklah, aku akan dandan secantik mungkin."


Kemudian Anzela pun memeluk Anna dengan senyuman manisnya.


*****


Di apartemen Alden..


Alden sedang duduk di sofa mewah nya.


Saat makan siang itu, ia terus saja memikirkan Milleana dengan Brian Alexanderico.


'Siapa sebenarnya Brian Alexanderico itu'.


Tiba tiba Alden membuka sebuah laptop miliknya dan mencari info seputar tentang Brian Alexanderico.


Klik.


Brian Alexanderico pengusaha berlian yang sukses di negara Asia


Brian Alexanderico pengusaha berlian itu akan merilis sebuah perhiasan permata biru.


Brian Alexanderico pengusaha berlian yang akan melelangkan sebuah perhiasan kalung berlian dengan riasan mutiara asli di mulai seharga Rp1Miliar.


Alden membaca semua artikel di internet.


"Pengusaha berlian, lumayan." gumamnya dengan masih menggeser geserkan jarinya.


"Tapi kenapa aku baru tahu.. apa mungkin aku terlalu sibuk sehingga aku sangat kuper begini"


Drrrtttrrtrrt


Ponsel Alden tiba tiba berbunyi, ia melihat ke layar ponsel tertera nama 'Dad' sedang menelpon nya. Alden pun membiarkannya, namun ponsel itu terus saja berbunyi, akhirnya terpaksa Alden menerima telepon itu.


"Ada apa?." tanya Alden dengan nada malas.


"Kau dimana? ini sudah jam 7 lebih tapi kau belum kesini."


"Aku tidak akan datang, pekerjaan ku masih banyak."


"Apa maksudmu!? kau ingin mempermalukan keluarga mu ha!?."


"Aku masih sibuk!."


"Jangan mencoba membohongiku!, kau pikir aku tidak tahu bahwa kau sudah berada di apartemen sejak jam 6 sore!."


"Tapi aku tidak akan datang kesana!."


"Aku tunggu 15 menit lagi kau harus datang jika tidak, bersiaplah menjadi gelandangan di jalanan!, dan aku tidak pernah main main dengan ucapanku"


Tut Tut Tut


Seketika Ronald langsung mengakhiri telepon nya.


"Aaaaaaggghhh" geram Alden.


Bersambung.....