
...ENTERED THE WRONG ROOM...
Selamat membaca guys🤗
.
.
.
...****************...
Ke esokan harinya di pagi hari tepatnya di gedung Starlight Company.
Felix baru saja menginjakan kaki nya di kantor dengan wajah lesu dan bermata sayu karena kurang tidur.
"Hoaamm.."
Felix terus saja menguap beberapa kali menahan kantuknya , saat ia sampai di meja ruangan nya tiba tiba Alden datang lalu menghampirinya.
"Hei, kenapa? apa kau tidak mandi hari ini."
Tanya Alden dengan memasukan kedua tangan ke saku celana nya.
Alden yang melihat Felix begitu kucel dan lemas.
"Jangan sembarangan, aku mandi tuan," sahut Felix lemas dengan kepalanya menunduk ke atas meja.
"Lalu, mana sandwich ku?, bukan kah kau harus membuat sandwich setiap hari untukku?." tanya Alden datar.
Seketika Felix langsung menengadah kan wajahnya menatap Alden.
"Aku tidak membuatnya hari ini." ucap nya
"Kenapa?, aku belum sarapan." ucap Alden dingin.
"Kau pikir aku sudah sarapan?, kau tau aku bangun kesiangan gara gara mencari durian sialan itu sampai pukul 01.00 , dan aku tidur pukul 02.00 lalu terbangun pukul 6 pagi coba kau hitung berapa jam aku tertidur?, rasanya aku tidak ingin kerja hari ini karena ngantuk sekali." pekik Felix kesal.
"Sudah curhatnya?, kalau begitu kau pulang saja tidak udah bekerja." tanya Alden dengan wajah datar.
"Whatt?, kau tidak pernah merasakan jadi aku, kemarin kau enak tertidur di mobil sedangkan aku dan Toni pusing harus mencari durian kemana malam malam!." kesal Felix sambil berdiri menghadap Alden.
"Btw thankyou, tenang saja aku akan memberikan tips untuk itu."
"Yaa aku tahu, kau kan punya segalanya apapun akan kau beli dengan uangmu." ucap Felix nada kesal sambil membereskan dokumen di mejanya.
"Jangan banyak ngomong, lebih baik kau belikan aku sandwich, aku lapar."
"Lah aku itu sekretarismu bukan asistenmu, suruh saja Toni aku banyak kerjaan."
ucap Felix mendudukan dirinya kembali sambil menyalakan laptop nya.
"Kau!. aku ini bosmu!." kesal Alden.
"Kau bosku di kantor saja, kalau di luar berarti bukan bosku kan?" ucap Felix dengan ekspresi datar.
"Dasar Felix brengsek!," geram Alden kesal.
"Sudahlah jangan ganggu aku yang sedang bekerja, sana pergi."
usir Felix sambil menatap layar laptop di depan meja nya.
Alden yang melihat itu memicingkan matanya menatap Felix.
"Awas kau Felix!." ketus Alden meninggalkan Felix.
Felix yang melihat Alden yang baru masuk ke ruangan CEO langsung saja menahan tawa nya.
"Emang enak, seenaknya nyuruh nyuruh huhh!." gerutu Felix, kemudian melanjutkan pekerjaan nya.
* Ruangan Ceo Alden.
"Kurang ajar si Felix berani sekali dia berkata seperti itu padaku."
gerutu Alden kesal saat ia baru masuk ke ruangan nya.
10 menit kemudian...
"Felix keruanganku sekarang." ucap Alden lewat telpon.
Tut!tut!tut!
tanpa menunggu jawaban dari Felix, Alden langsung mematikan telpon nya.
"Ada apa lagi yang ia mau."
gerutu Felix kesal sambil berdiri dari duduknya menuju ruangan Alden dengan malas.
Tok!tok!tok!
"Masuk." sahut Alden.
"Apalagi?." tanya Felix to the point saat baru saja memasuki ruangan Alden.
"Belikan aku sandwich," titah Alden
Felix menghela nafasnya, kemudian ia keluar dari ruangan ceo itu.
"Felix!, kau tidak mendengarku!, hey aku belum selesai berbicara denganmu!."
teriak Alden saat Felix sudah keluar dari ruangan nya.
"Awas saja kau!." ketus Alden kesal mendudukan dirinya kembali.
5 menit kemudian...
Klekk (suara pintu terbuka).
Felix masuk dengan membawa Toni ke ruangan Alden.
"Suruh saja asistenmu, aku sedang mengerjakan proposal." ucap Felix dengan suara penekanan, lalu pergi.
"Tunggu Felix!."
"Apalagi...?." jawab Felix membalikan badan nya dengan wajah malas.
"Aku ingin kau yang membelinya." ucap Alden menahan rasa malu.
"What?, kenapa harus aku? kan disini ada Toni yang biasa kau suruh." protes Felix.
"Aku tahu, tapi aku ingin kau yang membelikan sandwich itu."
"Kenapa tuan?." tanya Toni kebingungan.
"Tolonglah, Felix saja yang membeli sandwich nya." ucap Alden wajah memelas.
"Ok, aku akan pesankan online untukmu." sahut Felix mengeluarkan ponsel nya.
"No!, aku ingin kau yang keluar membelinya, dan ingin kau yang membuat sandwich nya." ucap Alden wajah tanpa dosa.
"Apa maksudmu?, kenapa harus aku yang membuat sandwich nya? konyol sekali."
Toni langsung tertawa.
"Pokonya aku ingin kau pergi ke restoran, dan memesan sandwich tapi aku ingin kau yang membuat sandwich itu."
" Hah? Tidak, aku tidak bisa melakukan nya." tolak Felix tersenyum miring.
"Please!, sungguh aku sedang ingin sandwich buatanmu yang seperti kemarin." ucap Alden dengan nada memelas.
"Kau tau aku dari tadi menahan nya, ingin sandwich buatanmu." ucap Alden dengan wajah memelas.
Felix yang baru pertama kali melihat Alden yang memelas terasa sangat aneh.
"Kau tau?, kau seperti orang yang sedang ngidam." ucap Felix memicingkan matanya.
"Mana ada, aku hanya sedang menginginkan saja."
"Ya sudah baiklah, lagipula aku melakukan nya demi calon bayimu." ucap Felix
"Apa maksudmu calon bayiku?."
"Ayo Toni kita berangkat, kita kembali mencari sesuatu lagi." ucap Felix sambil berjalan menuju keluar ruangan.
"Tunggu Toni!." panggil Alden.
"Iya tuan?."
"Kau harus video saat Felix membuatkan sandwich itu, lalu kirimkan padaku."
Toni pun tertawa.
"Siap tuan laksanakan."
Felix pun hanya menahan kesalnya dengan menggelengkan kepalanya saja.
Kemudian mereka berdua pun pergi.
.
.
...****************...
Di mansion utama keluarga Alexander, mereka sedang melakukan sarapan pagi.
"Bagaimana sayang, badan nya udah mendingan?." tanya Yasmin pada Mileana.
"Alhamdulillah mih sudah baikan." sahut Mileana.
"Syukurlah kamu harus jaga kesehatanmu." ucap Yasmin.
"Iyaa mih, makasih." sahut Mileana tersenyum.
Tiba tiba ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam mansion.
"Assalamualaikum.." dengan suara berat.
"Waalaikumsalam,"
"Siapa mih?," tanya Felicya.
"Ngga tau mamih juga siapa ya."
"Taraaaa!!! suprise..!."
Brian langsung saja datang menghampiri mereka yang sedang duduk di meja makan, di susul oleh Mark di belakangnya.
"Brian.." ucap Yasmin dan Kamil.
Brian langsung mencium tangan kedua orangtuanya, dan menciun kening Yasmin dan juga Mileana.
Felicya pun mencium tangan Brian, dan Brian pun membalas dengan mengusap pucuk kepala adiknya.
"Kamu kok ga ngabarin mau pulang sih?." ucap Yasmin.
"Kan suprise mih, kalo ngabarin namanya bukan suprise." sahut Brian.
"Kalau gitu kan mamih mau siapin makan buat kamu."
"Gausah mih, aku sudah makan di luar dengan Mark." sahut Brian.
"Syukurlah kalau sudah makan." ucap Kamil.
"Ini istriku?, mih, pih ini istriku kan?." tanya Brian menatap Mileana.
"Iyaa itu istrimu lalu siapa?." tanya Kamil.
"Kok makin cantik ya pih, tuh liat pipinya merah gitu." ucap Brian bercanda.
Mereka pun hanya tertawa melihat kekonyolan Brian.
Brian pun langsung memeluk Mileana, dan Mileana pun membalasnya.
"Aku kangen banget sama kamu.." bisik Brian.
"Aku juga.." jawab Mileana tersenyum.
"Ehem, ehem, tolong yah kalau mau bermesraan jangan disini kasian yang jomblo." ucap Felix dengan nada meledek kakak nya.
"Yeee, makanya punya pacar." ucap Brian.
"Yakin? baiklah aku akan punya pacar kurun waktu dekat ini, jangan salahkan aku ya mih, pih."
"Emang ada yang mau?." tanya Brian.
"Ihh kakak, di Korea itu aku jadi primadona, cowok cowok disana pada ngantri jadi pacar aku."
"Masa?, kayanya mata mata mereka pada sakit deh." ucap Brian meledek.
"Ihh kakak,!." rengek Felicya kesal.
Mereka pun hanya tertawa.
"Aku bawakan oleh oleh buat kalian." ucap Brian.
"Apa tuh?"
"Mau dong mauu.."
"Sudah beres kan sarapan nya?, kita unboxing yu."
Mereka pun saling menerima oleh oleh paris dari Brian, begitu juga para pelayan rumah, mereka semua di bagi rata di beri oleh oleh paris dari Brian.
Suasana mansion Alexander saat itu terasa sangat hangat penuh tawa dan kebahagiaan.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa author minta like nya ya🤗🤗🥰, makasih yang selalu support aku, mudah mudahan kalian sehat selalu dan di limpahkan rezekinya.🤲🤲