
...Entered The Wrong Room...
.
.
.
...****************...
Keesokan harinya...
"Miss, tidak apa apa kan aku tinggal sebentar, ada job nih sore juga pulang kok." ucap Merry.
"Tidak apa apa Merry, kau pergi saja aku akan memasak untukmu makan." ucap Mileana.
"Wah tidak usah repot repot lebih baik kau istirahat saja."
"Tidak, aku ingin memasak izinkan aku ya Merry.."
ucap Mileana dengan wajah yang menggemaskan.
"Hehe terserah kau saja tapi jangan terlalu capek ya aku gamau calon bayimu kenapa napa." ucap Merry
"Siap laksanakan bu boss.." ucap Mileana menirukan gaya hormat.
"Okay bos.." sahut Merry ikutan bergaya hormat.
Mereka pun tertawa.
.
.
...****************...
Starlight Company π’π’
Gio sedang berbicara menjelaskan besok adanya rapat penting bersama beberapa perusahaan kepada Efron.
Namun sepertinya Efron tidak mendengarkan Gio, karena dirinya sibuk melamun sambil tersenyum sendiri.
"Presdir apa kau baik baik saja?." tanya Gio.
Namun Efron masih terjaga dengan lamunan nya dengan senyum senyum sendiri.
"Leana.." pikirnya.
Gio mengerutkan alisnya.
"Presdir maaf apa anda baik baik saja?." tanya Gio sambil menyentuh bagian lengan Efron.
"Hah?." tanya Efron tersadar dari lamunan nya.
"Maafkan aku Gio aku tidak fokus, bisa kah kau ulangi lagi yang di bahas tadi?." ucap Efron seraya menegakan badan nya di kursi kebesaran nya.
Gio pun menyengir menunjukan gigi putihnya dengan terpaksa.
"Baiklah Presdir saya akan ulangi pembahasan nya." ucap Gio kembali menjelaskan.
"Aku akan datang ke apartemen housky menemuinya." batin Efron.
.
.
...****************...
π¬π¬π¬
Ting!
Tong! (suara bel)
"Siapa yang datang ya." pikir Mileana saat dirinya sedang menonton acara televisi.
Karena 2 jam yang lalu Merry telah pergi.
Milean apun beranjak dari tempat duduknya untuk melihat seseorang yang berada di luar.
Klek (suara pintu terbuka)
Mileana langsung membuka mata dengan lebar saat melihat Mark berada di hadapan nya.
"M-mark?."
"Selamat sore Miss." sapa Mark sambil menundukan wajahnya.
"Sore juga Mark, k-kenapa kau bisa tau aku tinggal di apartemen ini?." tanya Mileana.
Mark pun tersenyum.
"Ahh iya aku pasti tau hehe.."
"Bisakah kita berbicara sebentar Miss?, ada hal yang harus sampaikan." ucap Mark.
"Bisa.. Tapi temanku sedang tidak ada disini, tidak enak rasanya jika kita berbicara berdua di dalam." ucap Mileana.
"Ahh ya sudah tidak apa apa kita berbicara disini saja." ucap Mark.
Mereka pun berbincang di ambang pintu.
"Sebenarnya saya sangat berat mengatakan ini padamu Miss."
"Katakan saja Mark, aku tidak apa apa." ucap Mileana.
"Besok kau di panggil untuk datang ke pengadilan agama pukul 09.00 pagi, untuk menghadiri perceraian kau dan Mr." ucap Mark dengan berat hati.
Deg!
Mileana terpaku dengan hati yang seperti tertancap pisau yang tajam.
"Maafkan aku Miss, aku sudah berjuang agar Mr tidak menceraikanmu, tapi Mr sangat batu dia tetap tegak dalam keputusan nya." jelas Mark dengan wajah yang penuh bersalah.
"Tidak apa apa Mark, aku akan belajar mengiklaskan nya jika ini memang takdirku." ucap Mileana menahan air matanya.
"Aku yakin, suatu saat nanti kau pasti menemukan cinta sejatimu. Dan bila jika Mr jodohmu pasti akan kembali lagi." ucap Mark menyemangati Mileana.
"Ya, aku percaya itu. Karena setiap kehendak-Nya pasti yang terbaik untukku." ucap Mileana dengan mata berkaca kaca.
"Kalau begitu saya pamit untuk pergi Miss, hanya itu saja yang saya sampaikan. Semoga kau bisa menjalaninya dengan tabah."
"Pasti, terima kasih Mark sudah memperjuangkan ku dengan Brian walaupun akhirnya kami memang harus berpisah."
"Sama sama Miss, aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua, bagaimanapun kalian adalah majikanku sekaligus orang terdekatku." ucap Mark.
Mileana pun tersenyum sambil menegarkan hatinya.
"Ini surat panggilan dari pengadilan untukmu." ucap Mark sambil memberikan amplop putih.
Mileana menatap amplop tersebut, kemudian ia meraihnya dengan ragu ragu.
"Aku pamit pergi Miss, Assalamualaikum." pamit Mark kemudian ia pergi menjauh.
"Wa'alaikum salam.." ucap Mileana dengan suara serak.
Clak!
Air mata membasahi amplop putih itu.
Mileana segera mengusap pipinya, lalu ia masuk kedalam apartemen nya dengan langkai menggontai sembari membuka amplop putih itu.
Mileana membaca surat panggilan dari pengadilan agama itu dengan sekuat hati.
Akhirnya mimpi buruk yang ia hindari tetap kejadian.
Mileana menangis sembari membaca isi surat itu.
"Aku tidak menyangka Brian menggugat cerai padaku, ini seperti mimpi..hiks."
"Bangun Mileana kau pasti bermimpi! Bangun Mileaa!! Bangunn!!! Hiks..hiks." sentak Mileana sambil memukul pipinya dengan histeris.
"Hiks...hiks..ya Allah ampuni dosaku.." rintih Mileana dengan tangisan.
.
.
...****************...
Efron baru saja menginjakan kakinya di sebuah Apartemen Houskey.
Saat ia hendak menuju meja resepsionis, tiba tiba saja ada seseorang yang menabraknya.
Bugh!.
"Maafkan saya tuan, aku tidak sengaja menabrakmu." ucap seorang laki laki yang tak lain Mark.
"Tidak apa apa santai saja.." sahut Efron tersenyum.
Mark pun membalas tersenyum kemudian Efron pun melanjutkan langkahnya menuju meja resepsionis.
"Permisi apa disini ada penghuni yang bernama Leana?." tanya Efron kepada resepsionis apartemen.
Mark yang baru saja melangkah beberapa jarak langsung berhenti.
"Leana?, ah bukan Mileana kan, hiraukan saja." pikir Mark kemudian kembali melangkahkan kakinya.
Bersambung...