
...ENTERED THE WRONG ROOM...
.
.
.
...Happy Reading...
...****************...
✈️✈️✈️
Pagi yang sangat cerah
Beberapa pramugari menghampiri Mileana yang baru saja bangun tidur berada di kamar pesawat pribadi itu.
"Maaf menganggu istirahat anda nyonya." ucap salah satu pramugari sambil membungkukan badan nya dengan hormat.
"Tuan besar Alden memerintahkan untuk sarapan pagi." ucap pramugari itu.
"Baiklah, dimana tempatnya?." tanya Mileana.
"Silahkan nyonya, akan kami antar." sahut pramugari itu.
Mileana pun terbangun dari duduknya dengan perlahan karena kakinya masih sedikit nyeri.
Sesampai di tempat, Mileana menatap makann yang begitu banyak di atas meja itu yang begiru menggiurkan.
Ia juga menatap Alden yang sedang sarapan.
"Duduklah, dan makan semua yang ada di meja ini." ucap Alden dengan wajah datar sambil mengunyah dengan gaya elegan.
Mileana pun menduduki dirinya.
"Makan yang banyak, aku tidak ingin anakku kurang gizi nanti." ucap Alden.
Mileana pun hanya memutarkan mata nya saja tanpa menjawab.
Mereka berdua melakukan sarapan pagi dengan susana hening, hanya suara sendok garpu yang terdengar.
Mungkin karena mereka baru saja mengenal jadi susana kaku masih terasa masing masing.
Alden menatap Mileana saat baru saja meneguk air putih.
"Apa kaki mu sudah membaik?." tanya Alden.
"Sudah sedikit membaik." sahut Mileana dengan nada jutek
"Lain kali hati hati jika berjalan, kau sedang membawa nyawa anakku."
"Kau pikir aku ingin terjatuh?, bukankah kau yang berjalan terlalu cepat hingga kakiku terkilir." ucap Mileana tidak terima.
"Jadi kau menyalahkanku begitu?." tanya Alden menghentikan sarapan nya.
"Aku tidak menyalahkan mu, tapi kau harusnya sadar diri sebelum berbicara."
Mereka saling memicingkan matanya.
"Baik lah, jika terjadi sesuatu kepada calon anakku. Kau akan menanggung resiko nya." tegas Aldeb dengan nada intimidasi.
Mereka kembali saling menatap kuat satu sama lain.
"Istirahatlah, kita masih menempuh jarak yang masih lama."
ucap Alden beranjak dari duduknya kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Mileana yang sedang sarapan.
Mileana pun hanya menghela nafas nya.
.
.
...****************...
Keesokan hari nya...
Pesawat pribadi Alden baru saja sampai menginjak negara X.
Alden memasuki kamar pribadi untuk membangunkan Mileana yang sedang tertidur.
Alden menatap Mileana yang kini sedang tertidur dengan pulas dengan wajah tanpa berdosa seperti bayi di atas kasur berukuran king size itu.
"Melihatmu saat tertidur seperti ini mengapa begitu sangat menggemaskan, tapi beda cerita jika kau sudah terbangun jutek nya melebihi dari segalanya."
Batin Alden menyunggingkan bibirnya.
Milena tiba tiba bergerak dengan mengerjap ngerjapkan matanya, membuat Alden salah tingkah berada di hadapan nya.
"Kau!,." pekik Mileana langsung terbangun dari tidurnya.
"Kau sedang apa disini?." pekik Mileana kembali.
"Aku ingin membangunkanmu bahwa kita sudah sampai, kau pikir aku mau berbuat lebih padamu? Jangan mimpi." ujar Alden dengan suara arogan.
Mileana pun mengumpat dalam hatinya.
"Cepatlah bangun!, Kau sudah menghabiskan tidurmu seharian, dasar kerbau." ketus Alden.
"What?, apa maksudmu mengatakan aku seperti kerbau."
Mileana berdiri menghadap Alden sambil bercekak pinggang dengan wajah jutek.
"Memang kau seperti kerbau yang tidur begitu lama." ucap Alden dengan datar.
"Ishh aku tidak terima kau mengatakan itu pada ku!." pekik Mileana menatap Alden.
Alden langsung menutup hidungnya di hadapan Mileana.
"Bau sekali kau." ucap Alden menjauhi Mileana beberapa jarak.
"A-apa?," Mileana tercengang mendengar itu.
"Apa kau tidak gosok gigi sebelum tidur hah?." ucap Alden menutup hidung dengan lengan nya.
"Hei!, aku sikat gigi bisa 4x dalam sehari ya!, kau pikir aku wanita jorok . Lihatlah gigiku yang super putih bersih bak porselen ini."
Mileana mendekati Alden menunjukan gigi nya di hadapan wajah nya hingga wajah mereka begitu sangat dekat dan intim beberapa cm saja.
Alden menatap wajah Mileana yang bersih serta cantik itu kini berada di hadapan wajah nya.
Mileana pun kini menatap Alden yang hanya beberapa centi di depan wajah nya, ia akui Alden memang lah sangat tampan.
Perlahan Alden mendekatkan wajahnya, nafas Mileana begitu wangi bayi hingga diri nya terus mendekatkan wajah nya ke lebih intim. beberapa centi lagi bibir mereka saling bertemu.
Mereka masih belum menyadari dengan apa yang mereka lakukan.
Bugghh!!!
"Aaaakhh." Alden langsung meringis kesakitan memegangi perutnya.
Mileana kembali mencekak pinggang nya dengan tatapan seperti monster.
"Kenapa kau menendang perut ku?." rintih Alden.
"Kau sudah berani macam macam kepadaku!, kau pikir aku semurah itu tuan Alden!?." pekik Mileana memicingkan mata nya.
Alden terdiam dengan wajah tanpa ada penyesalan.
"Aku ingat kan, jangan pernah menyentuhku tanpa seizinku!. Kita menikah hanya dasar anak yang ku kandung." ucap Mileana lalu melenggang pergi keluar kamar meninggalkan Alden.
Alden pun menyeringai senyuman nya.
"Lumayan juga tendangan nya." gumam Alden.
.
.
.
...****************...
🏢🏢🏢
Apartemen Godrest.
Ting!
Tong!
Mark dan David datang ke Apartemen Godrest untuk menemui Brian, karena sejak seharian Brian tidak datang ke kantor.
"Tidak ada jawaban juga, apa tuan sedang tidak ada di apartemen ini juga." tanya David setelah mencoba menekan bell tidak mendapatkan jawaban.
"Aku mempunyai kunci cadangan nya, biar kita bisa periksa ke dalam." ucap Mark mengeluarkan kunci di saku celana nya.
"Lakukanlah Mark." sahut David
Mark pun membuka pintu apartemen.
Klekk (suara pintu terbuka)
"Selamat sore Mr." ucap Mark.
Namun tidak ada jawaban.
Mark dan David terperanjat saat melihat keadaan apartemen seperi kapal pecah.
"What the hell.." David terkejut saat suasana apartemen sangat berantakan.
Mark segera mencari Brian ke seluruh ruangan.
"Mr.." namun tidak ada jawaban.
Saat Mark membuka pintu kamar nya.
Klek (suara buka pintu)
"Mr...!." pekik Mark
Mark segera menghampiri Brian yang kini sedang mabuk tergeletak di bawah lantai dengan tidak sadarkan diri.
Kamar nya begitu sangat berantakan serta bau alkohol.
Botol botok alkohol begitu banyak berserakan di dalam kamar itu.
"Mr sadarlah!." Mark mencoba menepuk nepuk pipi Brian.
David seketika menghampiri Brian dan Mark dengan wajah panik.
"Kenapa dengan tuan?." tanya David.
"Sepertinya dia terlalu banyak meminum." ucap Mark dengan sorot khawatir.
"Kita harus membawa nya ke rumah sakit?." ucap David.
"Tidak, kita oleskan saja minyak angin agar dia tersadar." ucap Mark.
Mark dan David pun mengangkat tubuh Brian untuk memindahkan Brian ke atas kasur nya.
Setelah David menemukan minyak angin, mereka berdua segera mengoleskan nya ke permukaan hidung Brian serta telapak tangan dan kaki nya.
Brian langsung tersadar sambil meringis karena kepalanya sangat pening.
"Akhirnya kau tersadar, bangunlah Mr." ucap Mark
Brian membuka matanya dengan tatapan yang sangat kosong.
"Tuan apa kau baik baik saja?." tanya David.
Brian masih menatap kosong kemudian dia memuntah kan isi dalam perutnya ke selimut yang ada di kasur.
Mark segera mengambilkan sebuah wadah kecil untuk menampung nya yang keluar dari mulut Brian.
Lalu membuang selimut yang sudah terkena kotoran itu.
David menggosokan bagian punggung Brian dan memijatnya agar alkohol itu terbuang keluar.
"Kenapa kau seperti ini.." sahut Mark dengan tatapan khawatir.
Brian kemudian kembali tertidur kembali menjatuhkan dirinya ke atas kasur
Mark dan David saling menatap.
"Aku tidak menyangka dia sehancur ini." ucap Mark menatap Brian yang tertidur.
"Aku tau bagi nya sangat menyakitkan apalagi Mileana adalah wanita yang paling di cintai." ucap David.
Mark pun menghela nafasnya lalu memijat kening nya yang kini merasa pusing.
"Semoga saja dia tidak terlalu stress memikirkan hidup nya." ucap David.
.
.
.
Bersambung...