Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 60



...ENTERED THE WRONG ROOM...


.


.


.


...Happy Reading...


...****************...


🏒🏒🏒


Apartemen Godrest.


"Milea..." rintih Brian dalam tidurnya dengan keringat yang membasahi kening nya.


Mark dan David yang masih terjaga duduk di sofa yang berada di kamar, mereka berdua sedang berbincang langsung saja menoleh ke arah Brian yang masih terbaring lemah.


"Tuan sudah bangun?." tanya David ketika ia baru saja menghampiri Brian.


"M-milea..." mata


Brian masih terlelap sambil memanggil nama Milea dalam tidurnya.


Mark dan David mengerutkan alisnya.


"Milea.. Kamu dimana.." rintih Brian dalam tidurnya.


Terlihat dari wajah Mark melihat keadaan Brian saat ini begitu sangat memprihatin.


Kemudian David menyentuh bagian kening Brian begitu sangat panas.


"Badan nya terasa sangat panas, tuan sedang demam Mark." ucap David.


Mark terdiam menatap Brian dengan tatapan redup yang terus saja memanggil Mileana dengan mata terpejam.


"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan setelah ini, Mr begitu sangat hancur setelah berpisah dengan Miss." ucap Mark dalam hatinya.


David segera pergi ke dapur untuk membawa air es batu dan mengompres kening Brian yang kini sangat panas itu.


"Sadarlah Mr... Aku tidak tega melihatmu begini." sahut Mark dengan tatapan sedih.



.


.


...****************...


🏒🏒🏒


Apartemen Swezy.


"Permisi nyonya, tuan Alden memberitahu saya agar nyonya segera makan siang." ucap Jill.


"Baiklah." sahut Mileana.


"Silahkan nyonya, sudah di siapkan makan siang di lantai bawah." ucap Jill mempersilahkan Mileana.


Mileana pun menuju meja makan itu.


Setelah sudah sampai di meja makan Mileana tercengang melihat begitu banyak makanan di atas meja.


"Kenapa begitu banyak sekali makanan ini? Apa kita akan mengadakan pesta?." tanya Mileana kebingungan.


Jill tersenyum dengan kedua tangan yang sigap di belakang.


"Saya hanya menjalankan tugas dari tuan Alden nyonya, makanan ini semua untuk anda, silahkan di nikmati." sahut Jill dengan nada yang begitu sopan walaupun suaranya terdengar sedikit bariton.


"Terima kasih Jill," Mileana tersenyum kemudian duduk di kursi meja makan.


"Kita bareng saja makan disini." ajak Mileana pada Jill.


"Maaf nyonya, saya tidak enak jika harus ikut makan bersamamu." sahut Jill menolak dengan wajah datar.


"Tidak apa apa, kemarilah duduk temani aku makan." ucap Mileana dengan nada memaksa.


"Mohon maaf nyonya, saya sudah makan." sahut Jill kembali menolak untuk makan bersama.


Mileana pun menghela nafasnya.


"Ya sudahlah." sahut Mileana.


Jill sigap berdiri di belakang Mileana dengan tangan yang di belakang.


.


.


...****************...


🌁🌁🌁


Restoran Koslich.


Alden, Toni dan juga Glenn sedang bercengkrama di sebuah ruangan privat VVIP tepat di restoran elit yang begitu terkenal di kawasan negara x.


"Dimana Felix? kenapa ke toilet #


lama sekali?." tanya Glenn karena 30 menit yanv lalu Felix meminta izin untuk pergi ke toilet beralasan sakit perut.


"Entahlah kebiasaan buruk dia begitu, jika sudah berhubungan dengan sakit perut 2 jam juga ia bakal betah di dalam toilet."


sahut Toni sambil mengingat kejadian di Apartemen saat Toni kebelet buang air kecil tapi Felix tidak mau keluar dari kamar mandi hingga mereka berdua terus debat dan saling mencaci maki.


"Aku kira dia sudah berubah, tapi nyatanya dia masih sama seperti dulu hahaha.." ucap Glenn sambil tertawa.


"Yah begitulah manusia setengah babon." sahut Toni.


Alden pun terdiam saja melaman tanpa menyimak obrolan mereka.


Karena yang dia pikirkan sekarang adalah dia masih tidak percaya bahwa dirinya mempunya dua istri yaitu Anzela dan Mileana. Bukan itu saja, Alden juga memikirkan nasib anak yang di kandung Mileana, entah bagaimana ke depan nya yang harus ia lewati.


"Hah?, aku tidak apa apa." sahut Alden kemudian menegakan duduknya.


"Tuan sedang memikirkan istri pertama atau istri kedua? Hehe." tanya Glenn.


"What?, k-kamu tau?." pekik Toni membulatkan matanya.


"Ya aku tau, karena tuan muda yang memberitahuku bahwa dia menikah lagi." sahut Glenn.


"What?, k-kenapa tuan memberitahu Glenn?, bukan kah tuan yang bilang bahwa tidak boleh di beritahu oleh siapapun?." tanya Toni dengan raut wajah tidak percaya.


Glenn mengerutkan keningnya.


"Aku memberitahu Glenn karena dia yang akan menjaga Mileana di Villa Moana nanti."


"What? Apa tuan yakin aku yang akan menjaga istri keduamu?." pekik Glenn dengan mata yang berbinar.


"Iya, kau bersama Jill." sahut Alden.


"Apa?, Jill juga mengetahuinya kalau Mileana istrimu?." pekik Toni dengan mulut yang menganga.


"Ya iyalah bodoh, kan aku dan Jill akan menjaga istri kedua presdir, ya jadi harus tau." ketus Glenn.


"Lalu kenapa tuan tidak memberitahu Felix?, bukankah tuan sudah memberitahui yang lain nya, termasuk Felix?." tanya Toni kesal.


"Bukan begitu, aku tidak memberitahu Felix karena...." sahut Alden.


"Karena apa memangnya?, apa presdir Efron juga mengetahuinya?."


"Tidak, keluargaku tidak ada satupun yang tau bahwa aku menikah lagi." ucap Alden


"Lalu alasanmu apa tidak memberitahu Fekix?


"Kenapa?, dia itu sahabat kecilmu tuan, apa kau masih tidak percaya pada Felix?." tanya Toni.


"Aku sangat percaya pada Felix, tapi aku belum siap untuk jujur padanya, aku takut dia kecewa terhadapku." ucap Alden.


Glenn dan Toni pun saling melempar pandangan.


"Dan sekarang aku mengetahuinya.."


ucap suara bariton secara tiba tiba dari arah belakang sofa yang mereka duduki.


Seketika mereka semua menoleh ke arah suara tersebut.


"Felix? kau sejak kapan ada disitu." Glenn melebarkan matanya terkejut begitu juga yang lainnya.


"5 menit yang lalu." sahut Felix dengan wajah datar


"Felix, lebih baik kau duduk dulu." ucap Toni berdiri mempersilahkan Felix duduk.


Namun Felix menghiraukan nya.


"Sejak kapan kau menikah lagi?." tanya Felix pada Alden dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Belum lama, baru 2 hari saja." sahut Alden.


"Kenapa kau bisa menikah lagi? Kau sengaja memadu Anzela karena kau tidak mencintai nya?." tanya Felix.


"Bukan,"


"Lalu?."


"Karena wanita itu sedang hamil anakku."


"Oh my God!!, apakau tidak bercanda?."


"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?." tanya Alden menatap Felix.


"Sejak kapan kau berhubungan dengan wanita itu?. Kenapa aku tidak mengetahuinya bahwa kau punya pacar di luar sana. Bahkan sampai kau menikah lagi aku tidak tau sedangkan Toni, Glenn dan yang lainya di beritahu."


"Felix, aku sedang tidak ingin menjelaskan kepala aku begitu pusing sekali dan aku sangat mual." ucap Alden menutup mulutnya dan memegang kepalanya yang pening.


"Apa kau menyadari bahwa kau menyakiti ku?." tanya Felix dengan wajah serius.


Alden menatap Felix yang kini wajahnya begitu terlihat dingin dan serius.


"Apa kau menganggapku sahabat? Atau hanya sekretaris biasa?." tanya Felix dengan menahan kekesalan nya.


Mereka semua terdiam membisu.


"Apa kau masih ingin aku disini?, jika kau sudah tidak menganggapku dan tidak ingin aku disini lagi, aku akan keluar dari pekerjaan ini."


"Felix apa maksudmu?." pekik Toni.


"Dan kau juga sama kan tidak memberitahuku, aku kira kita sahabat ternyata aku salah menilai." ucap Felix menatap Toni.


"Tidak Felix." ucap Toni dengan raut wajah sedih


"Felix tenangkan dirimu." ucap Glenn.


"Kau tenang saja Alden, aku tidak akan membocorkan rahasiamu, aku akan tutup mulut soal ini jangan khawatir, semoga kau tidak salah memilih jalan hidup. Aku akan resign dari pekerjaan ini sekarang aku bukan sekretarismu lagi."


ucap Felix dengan nada sedikit tegas sambil memberikan sebuah flashdisk ke meja yang di depan mereka yang flashdisk itu isinya dokumen penting semua.


Felix kemudian pergi menuju pintu keluar.


"Felix kau mau kemana?." tanya Toni.


Namun Felix tidak menyauti dan terus saja berjalan.


"Felix..Felix.." Glenn dan Toni memanggil nya namun sama sekali tidak menoleh.


"Felix tunggu.." Glenn berlari menyusul Felix keluar ruangan VVIP.


"Tuan aku mohon minta maaflah pada Felix, disini kau yang salah." bujuk Toni dengan nada yang memelas.


Alden masih saja terdiam menahan kepala yang begitu pening.


"Tuan aku mohon susul lah Felix dia sangat marah pada kita." ucap Toni dengan nada memohon.



Bersambung...