
Krekk...
Brian membukakan pintu kamar hotel nya.
"Sayang..aku pulang." ucap Brian
"Sayang.." Brian mencari keberadaan Milleana di kamar namun tidak ada, di balkon pun tidak ada.
"Kemana Milea." pikir Brian.
Dia pun ngecek ke kamar mandi, ada suara percikan air shower yang menyala.
"Sayang.. kamu lagi di dalam?." tanya Brian, namun Brian tidak mendengar kan sahutan apapun di dalam kamar mandi itu, hanya percikan air shower saja.
tok tok tok.
"Sayang..kamu ada di dalam kan?." namun tidak ada sahutan apapun lagi.
"Apa Milleana marah padaku, karena kemarin malam aku tidak pulang." pikir Brian.
"Sayang maafin aku..." cemas Brian, namun masih tidak ada sahutan apapun di dalam kamar mandi itu.
"Kenapa perasaanku tidak enak begini." pikir Brian dalam hatinya.
"Sayang buka pintu nya.."
tok tok tok
Brian terus saja mengetuk pintu kamar mandi itu.
Namun masih tidak ada jawaban.
"Aku dobrak ya pintu nya kalau kamu tidak mau membuka pintu sekarang." teriak Brian
"1...2....3."
Brak!.
Brian mendobrak pintu kamar mandi itu hingga pintu itu terbuka lebar.
Mata Brian seketika membulat dengan wajah yang sangat panik.
Milleana terbaring di kamar mandi itu dengan tidak sadarkan diri.
"Milea!." teriak Brian kemudian mematikan air shower nya lalu menghampiri Milleana.
"Bangun Milea!, kamu kenapa?." panik Brian sambil menepuk-nepuk pipi Milleana dengan perlahan.
Brian pun langsung menggendong Milleana ke kasur nya. Kemudian menelepon Mark.
"Hallo Mark, cepat datang ke kamar 290, sekarang juga!." panik Brian
"Ada apa tuan?."
"Cepat kesini!,jangan lama, aku tunggu 5 menit kau harus sudah disini!."
"Baik tuan"
Brian pun langsung menutup telponnya.
"Milea.. wajah kamu pucat sekali. Maafkan aku sayang." cemas Brian sambil memeluk wajah Milleana.
*****
Di sebuah Restoran The Spring.
Alden, Felix dan Toni sedang duduk di kursi sofa yang berada ruang VVIP restoran.
"Dasar bodoh!, kenapa kalian saat malam itu pergi tanpa sepengetahuan ku!." bentak Alden.
Felix yang sedang mengetik laptop nya langsung saja menoleh
"Tadinya kami hanya pergi sebentar saja karena di pesta itu sangat bosan, tidak ada wanita yang datang sendirian, semua berpasangan pasangan. Jadi kami pergi saja ke club." ujar Felix.
"Maka nya cari pasangan!."
"Mentang mentang kau sudah nikah ya." ucap Felix sambil mengetik laptopnya.
"Lalu siapa wanita yang kau kirimkan untuk ku?." tanya Alden
"Wanita? wanita apa maksudmu?." Felix berhenti mengetik lalu mengernyitkan dahinya.
"Aku menyuruh mu untuk membawa wanita ke kamar ku saat malam kemarin."
"Ha? u-untuk apa wanita itu?." tanya Felix dengan kebingungan.
"Kau tidak mendengarkan perintahku saat di telepon?." pekik Alden
"Tidak. suara dugem di club itu sangat keras, aku tidak jelas mendengar mu." sahut Felix dengan wajah tenang.
"Dasar bodoh!, ini semua gara gara kau!." bentak Alden
"Lahh, kenapa gara gara aku?."
"Wait wait, untuk apa tuan memanggil wanita ke kamar?." Tanya Toni yang dari tadi minum juice seketika berhenti.
"Itu bukan urusanmu!." pekik Alden
"Wahh... ternyata kau mulai normal sekarang." sahut Toni kembali meminum juice nya perlahan.
"Kau pikir aku bukan pria normal ha!?."
"Tapi kenapa kau memilih wanita lain dari pada istri mu sendiri?." tanya Felix
"Sepertinya aku dijebak." ujar Alden
"Dijebak bagaimana?." Felix menaikan sebelah alisnya
"Aku dijebak saat di pesta itu, sepertinya ada yang memasukan obat perangsang ke dalam minumanku."
"Obat perangsang?." Toni mengerutkan keningnya.
"Setelah aku meminum minuman yang di tawarkan oleh seorang pelayan, saat itu tubuhku semua terasa panas dan aku membutuhkan hasrat, aku benar benar tidak bisa menahannya. Dan kalian berdua malah bersenang senang! dan ini semua gara gara kalian!." pekik Alden
"Kenapa gara gara kami?, kami sama sekali tidak bersalah, yang minum itu kau." protes Felix.
"Tapi jika saja kau tidak membawa kartu kunci kamarku, semuanya pasti tidak akan pernah terjadi!."
"Sungguh aku tidak mengerti penjelasan mu. Apa hubungan nya minuman obat perangsang dengan kunci kamarmu?." sahut Felix
"Hubungan nya ada!, gara gara kau membawa kunci kamarku. Aku jadi salah masuk kamar. Dan aku dengan wanita itu malah..."
"Malah apa!?." tanya Felix dan Toni berbarengan.
"Aku memberikan perjaka ku pada wanita yang berada di kamar itu!. Dan wanita itupun sama, dia masih perawan."
"Astaga!. kenapa bisa begitu?, bagaimana bisa kau salah memasuki kamar?." panik Felix.
"Aku melupakan nomor kamarku! dan kalian malah susah di hubungi malam itu!." bentak Alden
"Kenapa kau menyalahkan kita?, seharusnya kau itu mengingat nomor kamar mu sendiri. Tidak selalu bergantungan dengan kita." ketus Felix
"Kau berani berkata seperti itu padaku?."
"Aku aneh dengan mu, kau sangat pintar saat bekerja, tapi bodoh saat di luar pekerjaan." ketus Felix
"Kau mengejekku Felix?." pekik Alden
"Tidak. Aku memujimu." ucap Felix dengan santai.
"Memuji tidak seperti itu!." pekik Alden
"Sudah jelas aku mengejek mu tapi kau malah bertanya, benar benar bodoh!." ketus Felix
"Kau yang bodoh!, sudah jelas itu kamarku, tapi kuncinya malah kau pegang." ucap Alden
"Lahh, baru sadar?. Dari dulu kau yang selalu menitipkan kamar kunci hotel padaku setiap kita pergi keluar kota. Kau itu pelupa! giliran hilang tetap saja aku dan Toni yang mencari!."
"Sudah sudah... kenapa malah berdebat masalah tidak penting seperti ini." ucap Toni mengakhiri perdebatan nya.
"Lalu bagaimana nasib wanita itu?." tanya Toni pada Alden.
"Aku kasih uang 2 milyar." sahut Alden
"Hanya 2 milyar saja?." Toni mengerutkan keningnya.
"Kenapa? kurang kah?." tanya Alden
Felix hanya memiringkan bibirnya saja.
"Kau itu tidak berubah, selalu saja menyelesaikan masalah dengan uangmu." ujar Felix
"Lalu kau ingin aku berbuat apa?."
"Nikahi dia, kau harus bertanggung jawab. Bagaimana jika dia mengandung anak mu."
"Kau gila Felix, aku sudah punya istri."
"Kau sudah menganggap Anzela itu istrimu?, kau sudah benar benar menerima dia?." tanya Felix.
"Tidak juga, aku tidak mungkin menikahi wanita itu. Karena dia juga mempunyai suami."
"What?!!!." pekik Felix dan Toni.
"Suami apa maksudmu, bukankah keperawanan nya kau yang ambil?." tanya Felix
"Aduh parah..." ketus Toni sambil menepuk keningnya.
"Jadi begini ceritanya... dia itu lagi honeymoon sama suaminya. Saat malam itu dia sedang mabuk, jadi dia tidak sadar dan tidak jelas melihat wajahku karena suasana di kamar itu samar samar gelap. Aku kira wanita itu yang di kirimkan olehmu, jadi aku dan dia melakukan sesuatu hal yang bisa di bilang s**s. Dan dia berpikir bahwa aku itu suami nya. begitu!" jelas Alden panjang lebar
"Tunggu, lalu suami wanita itu kemana? kenapa tidak ada disana?." tanya Toni
"Mana aku tahu dia dimana, aku juga sangat bingung. Masa honeymoon suaminya tidak ada."
"Tapi kau beruntung, jika suaminya datang ke kamar dan melihat istrinya sedang bers**s denganmu, abis tuh wajah tampanmu." ujar Felix.
"Benar juga Lix, tapi untung nya suami nya itu tidak datang. Tidak terbayang jika suaminya datang, mereka pasti adu tinju di kamar itu." sahut Toni.
"Mungkin hanya ada kejadian pembunuhan." jawab Felix.
"Benar, dan nanti kejadian nya viral Lix.. Seorang pria membunuh istri dan selingkuhan nya karena kepergok bers**s."
"Itu kurang menarik judulnya, yang menarik itu begini. Seorang pengusaha bersetubuh dengan wanita yang sudah bersuami, lalu kepergok dan mereka saling adu jotos."
"Hahahaha..." Felix dan Toni pun tertawa. Namun Alden sedikitpun tidak tertawa atau tersenyum, wajahnya datar melihat kedua sahabatnya itu.
"Itu sungguh tidak lucu sama sekali!." sahut Alden dengan dingin.
"Baiklah kita serius Ton, kasian tuan muda kita" ucap Felix
"Lalu bagaimana jika wanita itu hamil anakmu?." tanya Toni
"I don't know, dia tidak akan hamil."
"Kenapa bisa berkata seperti itu?, bisa saja kan wanita itu hamil anakmu." ucap Toni
"Melakukan sekali tidak mungkin membuat wanita itu hamil." ujar Alden
"Kata siapa? so tahu. Jika wanita itu sedang subur, melakukan sekali pun pasti akan jadi. Kau mengeluarkan nya di dalam atau di luar?."
"Mengeluarkan apa?."
"Ck. Jika kau sudah berhubungan pasti kau akan merasakan ****** mu akan keluar?,"
"Lalu?."
"Kau mengeluarkan nya kemana?, keluar atau kedalam?." tanya Felix
"Seperti nya aku mengeluarkan nya di dalam."
Felix dan Toni pun hanya menghela nafasnya.
"Why?." tanya Alden bingung.
"Pinter ya.. kau akan mendapatkan anak dengan wanita itu." ujar Felix
"Kenapa kau malah mendoakan!?." bentak Alden
"Aku tidak mendoakan, tapi itu akan menjadi sebuah kenyataan pastinya. Jika wanita itu sedang subur ya dia pasti akan hamil anakmu, namun sebaliknya." ucap Felix
"Itu tidak mungkin terjadi, aku yakin dia tidak akan mengandung anakku yang berharga."
"Terserah kau saja. Sekarang beri tahu aku, siapa wanita itu?." tany Felix
"Untuk apa aku memberi tahumu?."
"Kita akan membantumu lah." sahut Felix
"Aku tidak akan memberi tahu kalian siapa wanita itu."
"Ohh baiklah, jika kau bermasalah dengan wanita itu jangan libatkan kami."
"Ya betull.." ujar Toni
"Masalahku dengannya sudah clear, kita pasti tidak akan bertemu lagi." sahut Alden dengan wajah santai
"Kau tidak bisa melawan takdir tuan muda Alden."
"Berhenti mengoceh, cepat kerjakan proposal mu!."
"Ck, sedikit lagi beres santai saja."
"Jangan lama, aku akan mengecek proposal itu sekarang."
"Baiklah, terserah tuan muda saja." sahut Felix.
"Dan setelah itu, kalian berdua harus mencari seseorang yang menjebak ku, siapa sebenarnya orang yang memasukan obat perangsang itu ke dalam minumanku. Cari tahu, aku tidak mau tahu kalian harus dapat informasi nya." perintah Alden
"Apa hadiah nya jika kita bisa menemukan orang yang menjebak mu?." tanya Felix
"Kalian ingin apa?."
"Kau akan menuruti keinginan kami?." tanya Felix.
"Katakan saja apa dulu permintaan nya?."
"Aku menginginkan Bugatti La Voiture Noire." ucap Felix
"Permintaanmu cukup tinggi. Tapi bagaimana dengan mobil mercy mu?, itukan baru saja aku beli kan 2 tahun yang lalu.
"Mobil mercy ku aku kasih adikku untuk ke sekolah nya."
"Gaya sekali adikmu itu, ya sudah jika kau bisa membereskan misi mu. Aku akan membelikan mu Bugatti La Voiture Noire."
"Kalau begitu kan kita semangat mencarinya." ucap Felix
"Lalu kau ingin apa? sama seperti Felix, mobil?." tanya Alden pada Toni
"Tidak, mobilku masih bagus. Aku menginginkan Villa Rose Palace saja hanya itu." ucap Toni
"Villa Rose Palace yang berada di kota S itu kah?."
"Benar tuan, aku sungguh menyukai Villa itu, berikan saja padaku."
"Hmmmm..." Beberapa detik Alden berpikir.
"Sebenernya Villa Rose Palace itu ada yang menawarkan dengan harga 2 triliyun, namun aku tidak memberikan nya. Tapi aku akan memberikan nya padamu dengan gratis jika kamu bisa menemukan seseorang yang menjebakku."
"Dengan senang hati, aku akan mencari sampai ke ujung dunia pun orang yang sudah berani mengusik hidupmu." ucap Toni.
"Okee, aku tunggu. Aku penasaran siapa orang itu..." ujar Alden.
Bersambung...
Happy Reading ❤️🤗🤗
"Astaga. Lalu bagaimana nasib wanita itu?." tanya Toni