
"Mau kah kau menikah denganku?.."
ucap pria tampan yang sedang bertekuk lutut sambil memegangi sebuah cincin berlian yang begitu menyilaukan.
Alunan musik biola yang di mainkan oleh beberapa pria berjas hitam terdengar lembut seakan membuat suasana malam itu terasa sangat romantis.
Lampu lampu yang indah itu menghiasi cafe rooftop dengan banyaknya bunga mawar merah yang di bentuk gambar love, serta lilin lilin indah yang menulusuri setiap jalan.
"A-apa?.."
ucap wanita cantik itu sedikit tak percaya.
wanita yang memakai gaun elegan selutut warna putih tulang yang pas di tubuh rampingnya dan rambut indah nya di biarkan tergerai.
"Kita sudah menjalani hubungan selama 3 tahun ini, dan aku sangat nyaman denganmu, semakin aku terus bersamamu rasa cintaku ini semakin besar, hingga aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku sangat mencintaimu, baru kali ini aku merasakan cinta yang begitu dalam pada wanita, aku benar benar menginginkan mu.." ungkap pria tampan itu dengan suara yang sangat tulus.
"Maka dari itu.. maukah kau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak anaku, Milleana Stephanie..?." lanjutnya lagi.
Clak..
Cairan bening itu menetes menelusuri pipi mulus gadis itu, ia benar benar tidak percaya bahwa laki laki yang selama ini ia puja puja melamar nya. Beberapa detik ia terdiam karena sedang mengumpulkan nyali nya untuk menjawab.
"Ya.... aku mau, aku mau menikah denganmu Brian.."
akhirnya Milleana menjawab dengan senyuman dengan mata yang sedikit basah karena terharu.
"Are you seriously?, kau benar benar menerima lamaranku?"
"Yes, im seriously.. aku menerima lamaranmu karena aku pun mencintaimu." ucap Milleana dengan suara lembut kemudian tersenyum manis
jawaban Milleana membuat Brian berbinar dan tersenyum bahagia.
Perlahan Brian memakaikan cincin berlian itu ke jari lentik milik Milleana. Cincin berlian itu begitu pas dan sangat cocok di tangan Milleana yang putih dan bersih. Kemudian Brian pun berdiri menatap lekat Milleana yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Lihatlah, kau benar benar sangat cocok memakai cincin ini." ucap Brian memegangi tangan Milleana.
"Apa kamu yang mendesain nya?."
"Ya, apa kamu menyukai hasil karyaku?."
"Tentu, aku selalu menyukai hasil karyamu." jawab nya dengan senyuman manis.
"Terima kasih sayang, kau selalu memuji hasil tangan ku."
ucap Brian sambil menatap lekat wajah Milleana. Tiba tiba Brian menarik pinggang Milleana hingga tubuh mereka merapat. Milleana sedikit tegang saat Brian mendekatkan wajah nya. Wajah tampan dengan daya tarik luar biasa kini ada di hadapannya.
"Kenapa malam ini kau begitu sangat cantik, kau tahu? aku begitu tergila gila padamu.."
Bisik Brian berat sambil menyentuhkan bibirnya di daun telinga Milleana dengan seringan laba laba yang membuat mata Milleana terpejam rapat.
Cup!
Brian mulai melabuhkan bibirnya di bibir ranum itu, kemudian ******* lembut dengan tenang. Milleana membelakkan kedua matanya karena ini ciuman pertama baginya.
Milleana sangat kaku dia tidak bisa menguasai permainan Brian.
Plup.
Mereka berdua melepaskan pungutan itu kemudian saling menatap, Brian mengusap bibir Milleana yang basah dengan ibu jari nya.
Milleana menundukan wajah nya karena sangat malu, namun Brian menyentuh dagu lancip itu untuk melihat ke arah nya.
"Kenapa?." tanya Brian padanya.
"Kau mengambil First Kissku.." jawabnya dengan bibir sedikit cemberut terlihat lucu.
"Aku yang pertama?."
Milleana pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku sangat senang sayang bahwa aku yang pertama menikmati bibir ini, aku sangat mencintaimu.. jangan cemberut lagi kita kan akan menikah." ucap Brian sambil menenangi Milleana.
"Bulan depan orang tuaku akan pulang dari Jerman, aku akan ke rumahmu bersama orang tuaku untuk melamarmu."
Kata kata Brian berhasil membuat Milleana tidak cemberut lagi.
"Dan besok aku akan mengatakan pada ayah dan ibumu bahwa aku akan menikahimu.."
Kini Milleana tersenyum mendengar itu.
"Kamu sudah tidak marah lagi padaku?."
"Siapa yang marah? aku tidak marah padamu."
"Lalu?."
"Aku hanya malu saja tadi karena kita berciuman."
ucapan Milleana membuat Brian tertawa renyah.
Bisiknya
"Ihh Brian jangan mesum deh.."
ucap Milleana dengan mencubit pelan perut Brian tapi Brian malah memeluknya.
"Aku mencintaimu.."
"Aku juga mencintaimu Brian.."
Mereka pun berpelukan di malam yang dingin di temani alunan musik biola yang lembut.
***
Di kediaman keluarga Shakalingga.
"Aku tidak mau di jodohkan!." pekik pria berwajah tampan dan tegas itu yang baru saja pulang dari kantornya.
"Tidak ada penolakan karena aku dan tuan Cullen sudah sepakat menjodohkanmu dengan putrinya, Anzela." ucap Ronald sang ayah.
"Aku masih ingin sendiri Dad, sekarang ini aku sedang memikirkan perusahaan yang sedang kritis, jika aku menikah itu akan mempersulit keadaan."
"Perusahaan akan kembali membaik jika kau menikah dengan Anzela, tuan Cullen akan membantu perusahaanmu." ucap Ronald.
Pria tampan itu malah menyeringai senyum liciknya.
"Aku bisa membuat perusahaan Starlight Company kembali berjalan sukses tanpa bantuan siapapun!."
"Aku tidak menerima bantahan! kau harus menikah dengan Anzela! paham!.'
"Dad, yang aku butuhkan sekarang adalah support darimu, bukan malah menjodohkan ku dengan wanita yang tidak aku cintai."
"Cinta itu akan datang dengan berjalan nya waktu."
"Omong kosong, tapi aku tidak membutuhkan cinta dari wanita itu!."
"Cukup Alden!, kenapa kau begitu keras kepala?, aku menjodohkanmu karena untuk masa depan mu juga!."
"Masa depanku? atau masa depan mu?." ucap Alden penuh penekanan.
Kemudian ia melenggang pergi ke atas tangga menuju kamarnya.
***
Sesampai di kamar nya, Alden langsung melemparkan jas nya ke sembarang arah.
"Aaaakhhh... kenapa harus begini!." gumam nya
Tok tok tok ..
Suara ketukan pintu itu membuat Alden menoleh ke arah pintu.
"Aku tidak ingin di ganggu!." titah Alden dengan suara beratnya.
"Sayang ini Momy.. Momy mau berbicara denganmu." ucap wanita bersuara lembut itu yang tak lain ibu nya, Sarah.
Mendengar itu adalah ibunya kemudian Alden mengehela nafas.
"Masuk mom.."
klekk....
Sarah membukakan pintu kamar Alden kemudian ia masuk kedalam. Ia melihat anaknya yang kini sedang mengontrol emosi dengan duduk di tepi ranjang, tak lama Sarah pun menghampiri sosok pria tampan itu.
"Mom pasti tahu kalau akau akan di jodohkan dengan putrinya tuan Cullen."
Baru saja Sarah duduk di tepi ranjang Alden sudah memberikan pertanyaan.
"Momy tahu, tapi Momy gabisa membantah keinginan Dady mu. Kenapa kau tidak suka di jodohkan dengan Anzela?." ucap Sarah dengan suara lembut.
"Aku tidak ingin di jodohkan." ucapnya singkat, masih menatap ke arah jendela besar di kamarnya.
"Kenapa? Anzela kan perempuan cantik dan pintar, kamu pasti akan menyukainya."
"Mom dan Dad sama saja. Tidak ada yang mengerti keadaan ku sekarang."
Kemudian Alden beranjak dari duduknya dan membawa kunci mobil.
"Kau mau kemana Al?." ucap Sarah langsung berdiri dari duduknya.
"Aku akan tidur di apartemen beberapa hari ini, aku ingin menenangkan diri."
"Al maafkan mom, Al jangan pergi nak.."
Namun Alden tetap pergi meninggalkan mansion besar itu.
Bersambung...