Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 26 (Mirip dengan Brian)



Di rumah sakit pelita.


"Bagaimana dok keadaan nya?." ucap Toni saat dokter keluar dari ruangan.


"Keadaan tuan Scott cukup kritis, jantung nadi nya sangat lemah. Ia harus mendapatkan perawatan yang cukup.


untung saja tuan cepat datang membawa pasien, jika telat mungkin tuan Scott kehilangan nyawa nya." ujar sang dokter menjelaskan.


"Apa yang ku bilang benar kan.." ucap Toni meremas rambut kepalanya.


"Baiklah dokter terima kasih atas informasinya." ucap Felix


"Sama sama tuan, mari.." dokter pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Untung saja Scott bisa selamat, seharusnya tadi kita pisahkan mereka agar tidak memperburuk keadaan seperti ini." ucap Toni kesal.


"Sudahlah, lagi pula Scott masih hidup, jangan mempersulit keadaan!."


"Keadaan memang sudah sangat sulit!." tegas Toni.


"Aku yang akan menjadi bahan tekanan keluarga Alden!.


aku yang akan di pertanyakan soal ini!. Apalagi Scott sekarang keadaan nya kritis."


"Tapi kasus ini tidak ada urusan dengan mu Antoni Immanuel!." tegas Felix.


"Kau salah!, justru kasus ini akan membawa bawa nama ku Felix Jonathan!."


Felix hanya mengernyitkan keningnya.


"Kita liat saja nanti.." ucap Toni kemudian pergi.


......................


.


.


- Paris



"Kenapa bisa perusahaan mendaptkan kerugian sebanyak ini!." pekik Brian dengan menahan emosi.


"Maaf tuan, Mr Tommy ternyata pelakunya. Dia membawa uang perusahaan sebesar 4 milyar." ucap ketua direksi.


"Dimana dia sekarang?!."


"Entahlah tuan, sepertinya dia kabur. Saya sudah mencari kemanapun di daerah semua kota, tapi mr Tommy tidak ada." jelas ketua direksi.


Brakkk!


"Bajingan!. kenapa kau sangat teledor!, kau disini sebagai ketua direksi seharusnya kau lebih teliti dalam mengurusi perusahaan apalagi masalah karyawan korupsi!."


bentak Alden sambil menarik kerah


kemeja ketua direksi.


"M-maafkan saya tuan... saya sangat teledor!."


Brian pun menghempaskan tangan nya dengan kuat.


Amarah nya sangat memuncak.


"Aku tidak ingin tau! , kau harus cepat menemukan si bedebah Tommy itu!. Jika sebulan ini kau belum menemukan nya, kau akan ku pecat!." tegas Brian.


"B-baikk tuan..." jawab ketua direksi dengan wajah gemetar.


Brian pun langsung keluar dari ruangan itu di susul oleh Mark dan David.


saat Brian tiba d ruangan CEO .


Brakkk!!


Brian memukul meja yang ada di ruangan itu.


"Sabar tuan, kendalikan emosi mu. Kita akan mencari keberadaan Tommy." ucap Mark.


Namun Brian masih menahan emosinya.


"Beraninya dia membawa uangku!." ucap Brian mempertegas rahangnya.


"Kami akan segera menemukan nya tuan." ucap David.


"Segeraa!!." tegas Brian.


"Akan ku bunuh dia dengan tanganku sendiri!..." lanjutnya.


Brakkk!!


Brian kembali memukul meja dengan kepalan tangan nya, sampai tangan nya terluka mengeluarkan darah.


"Anda terluka tuan, sebaiknya segera obati lukanya sebelum infeksi." ucap Mark.


Tapi Brian tidak menanggapi, emosinya masih menguasi dirinya.


...****************...


.


.


Mansion besar pribadi Shakalingga.


Malam itu keluarga besar Shakalingga sedang berkumpul di ruang tengah.


Di mansion itu ada Efron adik Alden yang baru saja tiba di Swiss yang baru saja menyelesaikan kuliahnya disana.



"Kenapa kau bertengkar lagi dengan Scott?." tanya Ronald menahan emosinya.


"Bedebah itu yang mengusikku." sahutnya.


"Jaga ucapanmu!, disini ada om Andrew dan tante Siska." ucap Ronald dengan nada tegas.


"Aku tidak peduli!, memang dia yang duluan mengusikku!." tegas Alden.


"Dimana sopan santunmu itu Alden!." pekik Ronald.


"Sudah kak, kami tidak apa apa. Scott disinilah yang salah, kami sebagai orang tuanya kesini untuk meminta maaf pada Alden." ucap Andrew yang tak lain ayah dari Scott.


Alden hanya menyeringai bibirnya saja.


"Kenapa kalian yang malah meminta maaf, anakku sudah membuat anakmu masuk ke rumah sakit." ucap Sarah.


"Tapi kita yakin kak, kalau Scott yang salah. Dari kecil mereka selalu bertengkar, dan Scott lah selalu saja mengganggu Alden." jelas Siska.


"Mereka sudah dewasa, aku yakin anakku juga salah. Alden kamu minta maaf sekarang sama om dan tante."


ucap Sarah, dia tidak membela Alden walaupun sarah sangat menyayanginya.


"Tidak kak, kami tidak meminta nya tidak apa apa." desis Siska


"Alden ayo minta maaf!." tegas Ronald.


Efron, dan juga Toni hanya menyimak saja suasana mansion itu.


"Aku bukan anak kecil lagi yang terus saja di desak meminta maaf!, aku tidak bersalah!." ucap Alden dengan nada tegasnya.


Efron melihat tingkah kakak nya itu hanya memiringkan bibirnya saja.


"Ayo Toni kita pergi dari sini."


Alden beranjak dari duduknya.


"Duduklah, aku belum selesai berbicara!." pekik Ronald.


"Apalagi yang harus di bahas?,


aku akan tanggung jawab atas perbuatanku, semua aku tanggung pembayaran dan pengobatan Scott, sampai Scott kembali sembuh, kalian jangan khawatir.." ucap Alden kemudian pergi meninggalkan ruang itu.


"Tunggu Toni!." ucap Ronald menahan Toni.


"A-ada apa tuan?." tanya Toni gerogi.


"Seharusnya kau sebagai asisten nya menahan Alden untuk ribut dengan Scott!." tegas Ronald.


"S-saya sudah mencoba memisahkan nya tuan, tapi saya benar benar tidak bisa menahan amarah tuan Alden, saya takut waktu seperti itu tuan." sahut Toni.


Toni pernah lumpuh tidak bisa berjalan selama 2 bulan saat memisahkan perkelahian antara Alden dan Scott. Maka dari itu Toni kapok jika Alden sudah marah besar dan tidak bisa mengendalikan amarahnya.


"Tonii! cepatlahh!." teriak Alden di ambang pintu.


"Permisi tuan, nyonya saya harus pergi." Toni pun membungkukan badan nya lalu pergi.


Sarah hanya menghela nafas saja melihat tingkah putra sulungnya itu.


(Jelaskan dikit ya, jadi Scott Carlson itu adalah sepupu Alden. Tapi Scott tidak pernah akur dengan Alden, entah masalah keuangan atau masalah percintaan. Waktu jaman SMA, Scott pernah jatuh cinta dengan wanita satu sekolahnya, tapi wanita itu malah menyukai Alden, dan Alden pun mendekati wanita itu. Scott sampai sekarang memendam rasa benci pada Alden, apa yang Scott ingin kan selalu Alden dapatkan. Hingga sampai sekarang Alden lebih sukses dari Scott.)


...****************...


.


.


Pagi hari yang cerah, Mileana dan Felicya sedang melakukan olah raga jogging mengelilingi komplek nya.


Saat mereka sedang istirahat di kursi yang ada di jalan itu, tiba tiba ada sebuah bola menghampiri mereka.


"Bola siapa ini?." tanya Felicya sambil mengambil bola itu.


Tiba tiba saja ada anak kecil berumur 5 tahunan menghampiri mereka.


"Halloo onty.." ketus anak kecil itu.


"Hallo sayang.. kamu mau ambil bola ini?." ucap Mileana pada anak kecil itu.


Anak kecil itu menganggukan kepalanya saja.


"Bolehh.. tapi ada syaratnya ya." ucap Mileana


"Apa calatnya onty?." ucap anak kecil itu dengan suara cadel.


"Kamu tidak boleh main bola di tengah jalan seperti ini, bahaya tau. Banyak mobil dan motor yang melewat?." ucap Mileana sambil berjongkok.


"Iyaa onty, valdo tidak akan main di bola di jalan." ucap anak kecil itu.


"Namanya siapa sayang?." ucap Felicya berjongkok.


"Valdo onty.."


"Namanya keren sekali ya sama seperti wajahmu." ujar Felicya sambil mencubit pipi cabi Valdo.


"Makacii onty.." sahut Valdo.


Felicya pun menatap lekat wajah anak kecil itu.


"Kak wajahnya mirip ka Brian ya hehe.." ketus Felicya.


Mileana pun menatap lekat anak kecil itu.


"I-iyaa mirip kak Brian.." sahut Mileana sedikit tidak enak hati.


"Sepertinya jika kak Milea punya anak cowok, pasti anaknya mirip kaya anak kecil ini deh hehe.." ketus Felicya menyengir


"Hehe sepertinya begitu.." sahut Mileana.


"Kak!. jangan jangan anak ini anak kak Brian.." ucap Felicya


Deg!


Mileana pun terdiam tanpa ekspresi.


"Hahaha.. kak Milea lucu banget sih wajahnya, serius amat sih kak Feli bilang gitu.." ucap Felicya tertawa terbahak bahak.


"Haha engga kok kakak biasa aja." jawab Mileana


"Tenang kak, Feli cuma becanda ya hihi, lagi pula mana ada kak Brian punya anak kan haha.."


"Onty..Valdo pulang dulu ya momy pasti nyariin Valdo." ucap anak itu.


"Okee sayang, hati hati ya di jalanya.." ucap Mileana mengusap pucuk kepala Valdo.


"Makacii onty cantik, bye.."


Valdo pun pergi meninggalkan mereka.


'Kenapa hatiku terasa berdegup kencang melihat anak itu.. kenapa bisa mirip sekali dengan Brian. Tidak mungkin apa yang di katakan Feli pasti salah, mungkin memang mirip saja..semoga saja begitu..'


Mileana membatin.


"Kak kenapa melamun!." Felicya membuyarkan lamunan Mileana.


"Ahh tidak apa apa kok. Ayo kita lanjut joggingnya.."


"Ayoo kak."


Mereka pun melanjutkan olah raga joggingngnya.


...****************...


.


Siang berganti malam, kini Ronald dan juga Efron datang ke mansion pribadi Alden.


"Selamat datang tuan.." sambut para maid yang ada di mansion itu.


Anzela pun datang menyambut Ronald dan juga Efron.


"Selamat malam dady.." Anzela mencium tangan Ronald.


"Silahkan duduk dady, Aku akan memanggil Alden sebentar." ucap Anzela.


"Iyaa nak terima kasih.." Ronald dan Efron pun menduduki sofa mewah itu.


"Dad, siapa wanita itu?." tanya Efron


"Dia kakak iparmu." jawab Ronald.


"Ohh dia istrinya kak Alden.."


"Iyaa makanya waktu nikahan kamu ga datang jadi tidak tahu."


"Kan Efron sedang ujian di Swiss dad."


Beberapa menit kemudian Alden pun datang menghampiri mereka lalu duduk, di temani Anzela yang duduk di sebelahnya.


"Haii kak.." sapa Efron pada Alden, namun Alden tidak menanggapinya.


"Oh ya Anzela, perkenalkan ini Efron adik Alden yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Swiss.." ucap Ronald.


"Haii, mirip sekali sama Alden ya dad, sama sama tampan hehe.." ketus Anzela centil.


"Hehe terima kasih kak." sahut Efron tersenyum getir.


"Ada apa malam malam datang kesini?." ucap Alden dengan datar.


"Dady mau membicarakan tentang perusahaan." ucap Ronald serius.


"Ada apalagi dengan perusahaan?." tanya Alden masih datar.


.


.


.


**Bersambung....


😘😘😘😘😘**