Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 28 (Tentang Efron)



...ENTERED THE WRONG ROOM



...


SPECIAL PART ♥♥♥♥


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


- Paris


"Apa? jadi Meisya sekarang tinggal di daerah komplek mansion mamih?." ucap Brian saat Mark baru saja mendapatkan informasi mengenai Meisya.


"Benar tuan.." sahut Mark.


"Apa maksud dia dengan semua ini, rencana apa yang ia buat." ucap Brian kesal.


"Maaf tuan, untuk itu saya belum tau."


"Cari tau secepatnya!." tegas Brian


"Baik tuan."


"Aku takut Meisya membongkar semuanya..."


"Itu tidak akan pernah terjadi tuan..semoga saja Meisya tidak memberitahunya.


"Kepalaku terasa pening, rasanya ingin pecah." ucap Brian sambil memijit bagian keningnya.


"Sebaiknya kau istirahat tuan, atau perlu kita ke rumah sakit?." tanya Mark.


"Tidak perlu Mark, aku butuh istirahat saja." sahut Brian.


"Ya sudah jika butuh apa apa hubungi saja saya tuan."


"Oke Mark."


Mark pun langsung keluar dari ruangan CEO itu.


"Kenapa rasa takut terus menyelimutiku.


Aku takut Meisya membongkar semuanya. Dan aneh, kenapa dia bisa tinggal di daerah komplek mansion mamih, apa sebernarnya rencana yang ia buat."


pikir Brian, kemudian menyandarkan badan nya di kursi ceo lalu memejamkan matanya.


......................


.


.


Di siang hari yang panas benderang di sebuah restoran, ketiga pria tampan ini sedang melakukan jadwal makan siang nya.


"Apa ada kabar tentang Scott?." ucap Alden memulai pembicaraan.


"Keadaan nya sekarang Scott sudah melewati masa kritis nya, tinggal menunggu ia siuman saja tuan." sahut Felix.


"Kita ke rumah sakit setelah selesai di kantor." ucap Alden.


"Pukul berapa tuan kita kerumah sakit?." tanya Toni


"Nanti aku kabari, siang ini dady dan Efron akan datang ke kantor." ucap Alden.


"Baik tuan." sahut Toni.


...****************...


.


.


Beberapa jam kemudian, kini Alden sudah berada di ruangan pribadinya bersama ayahnya dan juga Efron.


Mereka bertiga membincang bincangkan tentang perusahaan dan juga saham yang di terima dari perusahaan lain.


Ronald benar benar bangga pada Alden karena di usia muda ia sudah sangat sukses dan bisa mengelola perusahaan dengan baik.


"Oh ya, kau temani Efron untuk mengelilingi kantor ini." ucap Ronald.


"Baiklah, kau ingin mengelilingi kantor ini?." tanya Alden pada Efron.


"Hmm, boleh saja jika kau tidak keberatan." sahutnya dengan santai.


"Baiklah ayo."


ucap Alden sambil berjalan memakaikan jas nya dan membenarkan dasinya.


Efron pun hanya tersenyum, ia pun bangkit dari tempat duduknya.


Alden dan juga Efron berjalan beriringan dengan sedikit obrolan yang Alden berikan lalu menjelaskan tentang ruangan ruangan tersebut.


Semua karyawan yang ada di kantor itu tak pernah luput dari tatapan Efron yang begitu tampan dan menggoda.


Saat melewati bagian receptionist, Efron hanya tersenyum ramah ke arah wanita yang berada di meja receptionist itu, membuat wanita itu salah tingkah.


"I-ituu manusia biasa kan La, bukan pangeran.." ucap Amanda terpukau melihat Efron , yang salah satu bagian resepsionis.


"Gilaa...ganteng sekalii, uhhhh aku gemess lihatnya." ucap Bella dengan nada gemas melihat Efron.


"Ehh tapi dia siapa ya, kok bisa jalan bareng gitu sama pak Presdir?." ucap Lisa.


"Entahlah aku tidak tau, tapi apakah dia akan bergabung dengan perusahaan ini?, kalau dia bergabung aku pasti bersemangat kerja nih." sahut Bella ceria


"Ya elah, kamu tuh ga pernah liat cowok ganteng sedikit langsung di embat." ucap Lisa.


"Emang kenapa?, lagian kan pak Presdir sudah gabisa di harepin karena dia sudah menikah, mungkin cowok itu yang akan jadi gantinya hehe.." ucap Bella kecentilan.


"Dihh kalau cowok itu mau sama kamu, kalau gamau sama kamu gimana hahaha.."


Amanda dan Lisa pun tertawa ringan, membuat Bella cemberut.


...****************...


.


.


"Apakah ada yang di tanyakan?." ucap Alden setelah mereka selesai mengelilingi gedung kantor.


"Sudah cukup kak, terima kasih." sahut Efron dengan senyuman tulus.


"Sama sama, besok adalah acara penobatan kamu menjadi wakil CEO di sini jadi seharusnya aku mewajibkan mu untuk memberitahu." ucap Alden dengan wajah datar.


Efron pun tiba tiba memeluk Alden.


"Maafkan aku kak.." ucapnya dengan nada sedih.


"Maaf apa?." ucap Alden masih dingin.


"Aku tidak tahu harus berbuat apa agar kakak kembali menganggapku sebagai adikmu lagi." ucap Efron masih memeluk Alden.


"Aku menganggapmu adiku.'


"Tapi aku tidak merasakan nya kak, kita seperti orang asing. Aku ingin kita seperti dulu kak tidak sungkan seperti ini.." ucap Efron menahan air matanya.


"Itu menurutmu, tapi menurutku tidak." jawab Alden datar.


"Aku sudah menjadi anak yang baik kak..dan aku sangat menyesali nya." ucap Efron menyusupkan wajahnya di bahu Alden.


Flashback.


(Saat Efron masih duduk di sekolah menengah atas, ia di cap sebagai trouble maker (pembuat masalah). Masalah selalu saja datang menghampirinya, hingga orang tua Efron datang ke sekolah satu minggu sekali karena perbuatan Efron yang sering ribut di sekolah, bahkan ia juga sering tawuran dengan sekolah lain. Mungkin karena Efron mengikuti ilmu bela diri, jadi dia mempunyai kemampuan untuk melawan musuhnya.


Ketika Efron tawuran dengan sekolah lain, emosi Efron hilang tak ter kendali sampai ia membunuh salah satu siswa dari sekolah yang ia serang.


Geger, berita itu membuat Efron di keluarkan dari sekolah lalu di laporkan ke polisi karena orang tua korban sangat terpukul.


Ronald dan sarah sangat marah pada Efron, begitu juga Alden ia menghabisi Efron dengan tangan kosong.


"Sudah Alden hentikan, kau bisa melenyapkan adikmu sendiri! jangan memperburuk keadaan!.".


teriak Sarah menangis sambil memisahkan Alden yang terus ingin menghabisi Efron.


"Biarkan dia mati!, dia hidup tidak ada guna nya!, dia hanya bisa mempermalukan keluarga!."


teriak Alden dengan amarah yang memuncak.


"Hentikan Alden! cukup!."


Ronald menahan Alden dan membawa Alden menjauh dari Efron.


"Lepaskan aku! aku belum melenyapkan dia! dia harus mati!." pekik Alden dengan tegas.


Plakk!!!


Ronald menampar Alden.


"Hentikan aku bilang!!!." bentak Ronald dengan tatapan melotot.


Alden pun terdiam.


Kini wajah Efron sudah tidak jelas karena tertutup dengan darah segar, bibirnya sobek, hidung, dan pelipisnya mengeluarkan darah. Lantai pun penuh dengan ceceran darah.


Ia terbaring lemas terkulai tak berdaya karena badan nya terasa remuk, wajahnya sangat panas, begitu juga hatinya sangat perih.


Sarah melihat keadaan Efron seketika menangis histeris.


Ia langsung menghampiri Efron yang nafas nya sudah tersengal sengal.


Ratih (nenek Alden dan Efron) yang melihat kejadian itu sangat syok.


apalagi melihat keadaan cucu tersayang nya Efron, yang babak belur dan mengeluarkan banyak darah.


"Efron!! kau masih sadar?." teriak Sarah panik sambil menatap bola mata Efron.


Namun nafas Efron sangat berat, nafasnya tersengal sengal, matanya terus terusan melihat ke atas, dan sulit untuk mengeluarkan suara.


"Bawa dia kerumah sakit sekarang!!!." perintah Sarah sambil menangis.


Efron pun langsung tidak sadarkan diri.


"Tidakk! Efron bangun!!." teriak sarah menggoyangkan tubuh Efron.


"Cepat siapkan mobil!, kita kerumah sakit sekarang!." perintah Ronald pada sang supir.


"Baik tuan.." supir pun langsung berlari terburu buru untuk menyiapkan mobil.


** sesampai di rumah sakit.


Sarah terus mengeluarkan air matanya.


Mereka langsung membawa Efron ke UGD.


"Tolong dokter selamatkan putra saya.." ucap Sarah memelas.


"Kami akan berusaha nyonya, kami hanya butuh doa saja."


Dokter dan para suster pun langsung menutup pintu nya.


Ronald langsung memeluk sarah untuk menenangkan.


"Efron tidak akan meninggalkan kita kan?." ucap Sarah dengan menangis.


"Tidak, Efron anak yang kuat!. dia tidak akan meninggalkan kita semua."


ucap Ronald menahan air mata nya sambil menggenggam kuat tangan sarah.


*Di mansion pribadi shaka lingga.


Ratih atau nenek Alden dan Efron, yang sedang duduk di kursi roda nya, melihat darah yang mengalir di lantai ruang tengah itu sedang di bersihkan oleh para ART.


"Darah itu.. darah cucuku." Ratih kemudian menangis.


"Cucuku tidak boleh meninggal.." Ratih menangis histeris.


Suster yang menjaga Ratih tiba tiba panik.


"Ibu.. ibu kenapa menangis?." tanya suster.


Namun Ratih terus saja menangis histeris.


suster pun langsung mengetuk pintu kamar Alden.


Tok! tok!tok.


"Tuan muda.."


Suster mengetuk beberapa kali pintu itu.


"Tolong tuan muda!.."


Alden pun membuka pintunya.


"Ada apa?." tanya Alden pada sang suster.


"Ibu ratih, dia menangis hiteris tuan." panik suster.


Alden pun langsung menghampiri neneknya dengan sedikit berlari.


"Grandma..


Ada apa grandma?." tanya Alden panik.


"Aku ingin ke rumah sakit, melihat Efron hiks..hiks."


ucap Ratih sambil mengeluarkan air matanya.


"Tidak grandma, grandma harus tetap disini dan beristirahat." ucap Alden dengan nada lembut.


"Tidak!, grandma ingin melihat Efron sebelum meninggal hiks hiks.."


"Jangan berkata seperti itu grand ma, istirahat ya minum obatnya. Grandma jangan banyak pikiran, Efron akan baik baik saja.." ucap Alden menenangkan Ratih.


"Kenapa kau memukuli Efron!?, kenapa kalian berantem sampai Efron masuk rumah sakit hikss.hiks.."


Ratih tidak tahu tentang masalah kasus Efron yang sedang genting ini, bahwa Efron membunuh salah satu murid siswa dari sekolah SMA xxx.


"Tenang grand ma..."


Alden memeluk Ratih.


"Jangan sentuh aku!, aku tidak ingin di sentuh olehmu!, kau jahat! kau menyakiti Efron!." pekik nya sambil memberontak melepaskan pelukan Alden.


"Maafkan aku grandma, tenang grandmaa.."


"Bawa aku kerumah sakit sekarang!!." pekik Ratih histeris.


"Tidak akan grand ma.."


"Bawaa akuu kerumah sakit sekarang Alden!!!." teriak Ratih sambil menarik kerah pakaian Alden.


"Bawa akuu pergiii!..hikss..


Aku ingin bertemu Efron.." Ratih menangis di pelukan Alden.


"Baiklah grand ma, Alden akan bawa grand ma ke rumah sakit."


sahut Alden akhirnya memenuhi keinginan Ratih.


* Kini Ratih dan Alden sedang berada di kursi tunggu, dengan Sarah dan Ronald di sisi nya.


Sudah 3 jam mereka menunggu kabar dari dokter tentang keadaan Efron.


beberapa menit kemudian, dokter pun keluar dari ruangan UDG tersebut.


Sarah langsung menghampiri dokter dan menanyakan kabar Efron.


"Bagaimana keadaan nya dok?." tanya Sarah dengan wajah cemas.


"Mohon maaf, saya sangat menyesal mengucapkan hal ini." ucap Dokter sedikit wajah tak bersahabat.


"Kenapa dok katakan yang jelas!." ucap Ronald tegas.


"Keadaan tuan Efron sangat kritis, dan ia juga mengalami kerusakan di bagian hati nya. Kita harus segera mungkin melakukan transplantasi hati untuk tuan Efron, karena kalau tidak, keadaan nya akan semakin buruk atau mungkin nyawa nya tidak bisa di selamatkan." jelas sang dokter.


Sarah langsung menangis membendung air matanya.


Kabar itu bagaikan sebuah petir yang menyambar dirinya.


Bugghh!.


Ratih tiba tiba saja pingsan.


"Mama!." ucap Ronald dan Sarah panik.


"Grand ma!." Alden langsung membopong Ratih ke ruangan periksa.


Namun beberapa saat setelah Ratih di periksa. Dokter meminta Alden untuk bertemu dengan Ratih, karena pasien memintanya.


"Grand ma.." ucap Alden lembut ketika datang ke ruangan itu.


"Cucuku.." ucap Ratih dengan lemas.


Alden kemudian menggenggam tangan Ratih.


"Ada apa grandma?, aku disini."


"Aku sudah tidak kuat untuk hidup nak.."


"Jangan berkata seperti itu grandma.. grandma harus kuat."


"T-tapi aku memang sudah tidak kuat nak.." ucapnya terbata bata.


"A-aku punya wasiat untukmu.. kau harus mendengarkan!."


"Wasiat apa itu?."


"Jika aku sudah meninggal, ku mohon berikan hatiku pada Efron cucukku.. aku sangat iklas jika hati ku menempel di tubuh cucukku.." ucap Ratih mengeluarkan air matanya.


"Tidak!, aku tidak akan membiarkan itu terjadi grandma.


lagi pula grand ma akan tetap hidup, bukan kah grandma ingin melihat Alden menikah, dan grandma akan punya cicit kan?."


"T-tapi grandma sudah tidak ku..att"


"Grandma kuat, nenek ku paling kuat!."


"Dengarlah Alden, kabulkan permintaanku yang terakhir ini, demi kebaikan Efron, aku pasti bahagia jika hatiku tumbuh di tubuh Efron." ucapnya dengan lemas.


Alden pun meneteskan air matanya.


"Dan berjanjilah pada grandma, kau harus tetap rukun dengan adikmu itu. Kau harus menyayangi adikmu satu satunya.."


"Berjanjilah Alden..!."


Ratih pun menghembuskan nafas terakhirnya.


"Grand maa! hikss..hiks.."


Alden langsung memeluk Ratih dengan tangisan yang membendungi wajahnya.


Setelah satu hari pemakaman Ratih di selesaikan.


Akhirnya dokter Rully melakukan transplantasi hati Ratih ke tubub Efron.


Dan operasi itu berjalan dengan baik dan lancar.


2 minggu kemudian setelah keadaan Efron sudah membaik.


Efron di kirimkan ke Swiss untuk belajar disana dan di titipkan ke pada paman nya.


Karena sekolah sekolah di Indonesia sudah tidak menerima Efron lagi akibat kasus Efron.


Setelah Efron terbang ke Swiss, Ronald mengurusi kasus Efron dengan menggunakan uang nya, hingga Ronald mengeluarkan dana 3 Milyar untuk menyelesaikan kasus Efron, Ronald juga memberikan dana kepada orang tua korban sebanyak 2 Milyar.


**FLASHBACK OFF....


.


.


EFRON LUCAS SHAKA LINGGA**



.


.


**Bersambungg....


🤗🤗🤗🤗🤗**