Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 7 (Tidak ingin di jodohkan)



Di kediaman mansion pribadi milik Alden.


Tok tok tok.


Krek..


"Ada apa?." tanya Alden pada seorang maid pria.


"Maafkan saya telah menunggu istirahat anda tuan muda. Ada Tuan besar dan Nyonya besar datang kemari." ucap Hans kepala asisten rumah tangga.


'Untuk apa Momy dan Dad datang kesini, baru kali ini mereka datang menemui ku di mansionku.'


pikir Alden dalam hati.


"Suruh mereka menungguku, aku akan turun sebentar lagi." perintah Alden pada Hans.


"Baik tuan muda."


*****


Milleana menatap wajahnya di depan cermin. Ia baru saja memoles wajah nya dengan make up natural. Gaun dengan elegan yang selutut membuat dirinya semakin sempurna.


Krek...


"Milea...Brian sudah menunggumu di bawah." ucap Rossa, ibunya.


"Iyaa Bun, Milea sebentar lagi turun." sahutnya.


"Anak bunda cantik sekali malam ini.." puji Rossa kemudian menghampiri Milleana.


"Hehe terimakasih bunda, bunda tak kalah cantik dari Milea." sahut Milleana dengan senyuman.


"Terima kasih sayang...ya sudah kalau begitu kamu cepat turun, kasian Brian menunggumu."


"Baiklah Bun.."


Mereka berdua pun turun ke bawah menuju tangga, dilihatnya Brian sedang berbincang dengan Fahri, ayahnya. Mereka berdua terlihat sangat akrab.


"Nah... tuh Milea sudah turun." ucap Fahri sang ayah Milea.


Brian pun hanya tersenyum.


"Ya sudah kalian cepat pergi, ini sudah jam 7 malam, nanti kemalaman." ucap Rossa


"Om, Tante.. Brian minta izin untuk membawa Milea pergi bertemu dengan orang tua Brian."


"Ohh Boleh saja, lalu kapan kau akan mempertemukan kita dengan orang tua mu?."


"Secepatnya om, karena Brian akan serius dengan Milea."


"Hehe..om hanya bercanda, jangan terlalu buru buru."


"Ya sudah kalau begitu Milea pergi dulu ya


ayah, bunda.."


"Ya sudah, kamu jangan malu maluin yaa.."


"Ihh bunda apasih.." ucap Milleana dengan cemberut.


Rossa dan Fahri pun tertawa.


"Ya sudah kalian hati hati di jalan nya."


"Iya om..tante Brian pamit pergi.." pamit Brian


"Iyaa kalian hati hati di jalannya, jangan mengebut." sahut Fahri


"Iyaa bunda.. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


*****


Di kediaman mansion pribadi Alden..


"Kenapa kamu mengusir Anzela saat dia datang ke kantormu!." pekik Ronald


"Aku sedang bekerja, dia datang hanya akan menggangguku saja!."


"Tapi tidak dengan cara kau mengusir nya. Dia itu calon istri mu."


"Kenapa Dad masih tetap kekeuh ingin menjodohkan ku dengan wanita itu?, perusahaan Starlight Company sudah kembali sukses tanpa bantuan dari paman Charles Cullen. Apa lagi yang Dad inginkan?"


"Aku dan Charles sudah berjanji dan sepakat untuk menjodohkan kalian berdua."


"Dan aku tidak akan menerima nya!. Kenapa kau sangat egois!?" pekik Alden


Plakk!!!


Sebuah tamparan keras dari Ronald membuat Alden sedikit terhuyung


"Mas! tahan emosimu!." ucap Sarah.


"Kau anak yang tidak tahu diri!."


"Sekarang kau sedang berada di atas, kau punya segalanya. Aku bahkan menuruti permintaan mu untuk sekolah di luar negeri saat itu. Aku juga yang memberikan aset perusahaan, restauran, apartemen, dan mobil mobil mewah menjadi atas namamu!. Bahkan Efron adikmu hanya aku berikan beberapa Hotel dan juga Coffe shop. Tapi balasanmu padaku apa?. Aku begitu menyayangi mu tapi kau tidak menerima kasih sayang yang aku berikan!." pekik Ronald.


"Kau anak yang durhaka Alden!. aku sangat menyesal kau lahir ke dunia ini!." pekik Ronald dengan nada marah.


"Mas jangan berkata seperti itu..kontrol emosimu." ucap Sarah


Tiba tiba saja Ronald memegangi dada nya terasa yang terasa sesak dan nyeri.


"Mas kamu kenapa mas?." ucap Sarah dengan nada panik.


"Dad... k-kau kenapa?." tanya Alden dengan terbata bata


Brukk!!


Ronald terjatuh tidak sadarkan diri.


"Mas... bangun mas.. kamu kenapa mas!?." Pekik Sarah dengan nada panik.


"Al.. kita bawa Dady ke rumah sakit sekarang." titah Sarah dengan mengeluarkan air matanya.


"Baik mom."


Alden langsung pergi menuju kamar pribadinya untuk membawa kunci mobil.


*****


Milleana menatap mansion keluarga Alexanderico yang begitu megah dan luas.


"Ayo kita turun, Mama dan Papa ku pasti sudah menunggu kita.." ucap Brian dengan membukakan pintu mobil nya.


Milleana pun keluar dari mobil itu, lalu berjalan sambil menggandeng tangan Brian.


"Selamat malam tuan muda.. selamat malam nona.." ucap beberapa maid yang berdiri di luar rumah.


"Selamat malam juga.." sahut Milleana dengan senyuman.


"Silahkan, Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu anda."


Brian dan Milleana pun masuk kedalam mansion itu.


"Malam anakku..." sambut wanita 40 tahunan namun masih terlihat sangat muda dan cantik.


"Malam juga mah.." sahut Brian


"Mama sangat merindukan mu." kemudian wanita itu memeluk Brian. Tatapan matanya kini menatap sosok gadis yang berada di belakang Brian.


"Aku juga sangat merindukan mu mah."


"Tunggu.. siapa dia?." ucap Yasmin dan langsung melepaskan pelukannya.


"Malam tanteu..." ucap Milleana kemudian mengulurkan tangannya.


Namun Yasmin tidak menerima uluran tangan itu, ia masih menatap lekat Milleana.


"Siapa dia Brian?." tanya nya dengan dingin.


"Dia Milleana Stephanie.. calon istriku."


"Apaa! calon istri!. calon istri mu seperti ini?." pekik Yasmin


Mendengar ucapan dari ibunya Brian Milleana sedikit sesak.


"Kenapa mah?."


"Pah...cepat sini!. Papa.. cepat sini.!." teriak Yasmin.


"Ada apasi mah," sahut Kamil, ayah Brian.


"Lihatlah wanita ini. Dia calon istri nya Brian, sangat cantik kan pah.."


"Se-selamat malam om.." kemudian mencium tangan Kamil.


"Selamat datang di rumah kami nak. Apakah benar kau calon istri nya Brian?." tanya Kamil.


"Benar pah, dia itu pacarnya Brian , bagaimana? sangat cantik kan pah?." sahut Yasmin dengan nada girang.


Kemudian Yasmin pun menghampiri Milleana.


"Sayang.. nama kamu siapa?." tanya Yasmin


"Namaku Milleana tanteu, panggil saja Milea." sahut nya dengan senyuman manis.


"Oh Tuhan.. nama yang cocok untuk wanita cantik seperti dirimu.." ucap Yasmin sambil menyentuh dagu lancip Milleana.


"Terima kasih tanteu atas pujiannya." sahut Milleana tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu kita makan malam dulu, tanteu sudah memasak makanan kesukaan Brian."


"Oh ya.. aku boleh kan mencicipinya."


"Boleh sayang.. yuk kita ke ruang meja makan."


Yasmin pun mengajak Milleana sambil memegang tangannya, tanpa mengajak Brian dan Kamil.


*****


Rumah sakit Intan Husada.


"Bagaimana dokter keadaan suamiku?." tanya Sarah ketika melihat dokter baru saja keluar dari ruangan.


"Bersyukurlah, karena nyawa suami anda selamat. Jangan sampai memberi kabar buruk atau hal yang membuat beliau terkejut, karena itu bisa membuat dirinya kehilangan nyawanya." jelas dokter


"T-tapi Dady saya akan baik baik saja kan dok?." tanya Alden.


"Dia akan baik baik saja, asal tuan bisa membuatnya bahagia dan tidak membuatnya tertekan." ucap sang dokter.


"Apa saya boleh bisa melihat keadaan Dady ku sekarang?."


"Boleh tuan.. asalkan tidak menganggu istirahat pasien."


"Baiklah dokter."


"Kalau begitu saya pamit permisi, karena masih ada lagi pasien yang harus saya tangani."


"Tentu saja dokter, terima kasih.." ucap Alden.


"Sama sama tuan." dokter pun pergi meninggalkan Alden dan Sarah


"Alden.. kau masih peduli dengan Dady?." tanya Sarah.


"Kenapa mom berkata seperti itu, bagaimana pun Dady adalah ayahku dan aku sangat menyayangi nya."


"Kau berkata sangat menyayangi Dady setelah Dady mu masuk rumah sakit."


"Itu tidak benar mom, aku sangat peduli dengan Dady."


Sarah pun tidak menyahut lagi, dan masuk ke ruangan.


Tak tak tak..


Felix dan Toni berlari rusuh mendekati Alden.


"Hoshh... Tuan muda, apa tuan besar baik baik saja?." tanya Felix dengan nada tak beraturan.


"Maafkan tuan muda, kita terlambat kesini, karena di jalanan macet..hoshh.." ucap Toni dengan kedua tangan nya memegang lutut.


Alden hanya menatap Felix dan Toni dengan tatapan dingin, kemudian ia masuk ke ruangan tanpa menyahut pertanyaan dari sahabatnya.


"Ihh dasar tuan muda jutek." gumam Felix, mereka berdua pun ikut masuk ke dalam ruangan.


Bersambung....