
Ke esokan harinya...
Brian sedang bersiap siap untuk berangkat ke Paris.
"Sayang selama aku di Paris, kamu jangan nakal ya.." ucap Brian sambil mengusap pucuk kepala Mileana.
"Haha, nakal apanya?." sahut Mileana tertawa ringan.
"Jangan lupa makan, jangan lupa minum vitamin dan tidur yang teratur." ucap Brian.
"Seharusnya aku yang harus berkata itu padamu haha.
Jangan lupa makan jaga kesehatan selama di Paris, jangan terlalu kecapean ya" sahut Mileana.
"Pasti sayang, aku pasti akan merindukanmu disana. Tapi aku janji, aku akan segera menyelesaikan tugasku disana..
dan segera bikin bayi." lanjut bisik Brian.
"Ihh kamu tuh mesum yaa.." Mileana mencubit pelan perut Brian yang sedang tertawa.
"Aduhh romantis banget sih pengantin baru pagi pagi gini." ucap Yasmin yang tiba tiba saja datang bersama Kamil dan Felicya
"Aku aja yang liat nya iri liat kakak sama kak Milea, kapan ya aku bisa kaya kakak seperti pasangan yang sangat bahagia." ucap Felicya
"Aduh kamu tuh ya, lulus kuliah aja belom udah mikirin pasangan aja." ucap Kamil.
"Tapi Feli bukan anak kecil lagi pih.." Felicya cemberut
"Kamu memang bukan anak kecil lagi, tapi kamu belum dewasa Feli, masih manja dan suka ngadu sama orang tua." ucap Brian.
"Ihh kakak, ya jelas aku ngadu kalau kakak sering ngerjain Feli!."
"Sudah sudah, kalian tuh setiap bertemu selalu saja ribut." ucap Yasmin.
Mileana pun hanya tersenyum menggelengkan kepalanya saja.
"Brian kamu mau berangkat jam berapa?." Kamil bertanya.
"Sekarang pih, Mark sedang panasin mobil." ucap Brian
"Hati hati di negara orang ya, intinya jaga kesehatan dan keselamatan." ucap Kamil.
"Iyaa pih pastinya. Brian nitip Mileana ya disini."
"Iyaa sayang, tenang saja Mileana tidak akan kabur kok haha.." kata Yasmin
Mereka pun tertawa.
"Ya sudah mih, Mark sudah datang. Brian mau berangkat dulu."
"Selamat pagi semuanya.." salam Mark sambil membungkukan badan nya.
"Pagii.." jawab mereka
"Hati hati sayang, aku doakan selamat sampe tujuan." ucap Mileana berkaca kaca.
"Aamiin, terima kasih ya sayang."
"Langsung kabari aku jika sudah sampai ya." kata Mileana
"Iyaa sayang pasti dan itu hal yang wajib untukku memberikan kabar pada istriku."
"Mark, tolong kabari aku jika sudah sampai ya." ucap Mileana pada Mark.
"Baik Miss, saya pasti kabari." sahut Mark
Brian pun mencium tangan Kamil, Yasmin dan Felicya berpelukan bergantian ,pertanda pamit pergi.
Brian pun langsung memeluk Mileana dan mencium kening Mileana dengan tulus.
"Aku sayang kamu.." ucap nya sambil mengusap rambut Mileana
"Aku juga sayang kamu.." sahut Mileana tersenyum.
Brian dan Mark pun langsung memasuki mobil dan berangkat pergi meninggalkan mansion.
...****************...
Disebuah mansion Montana Knight, yaitu mansion kedua milik Alden yang terletak di daerah hutan pulau terpencil dan mansion itu jarang sekali di singgahi, hanya mood dan berkepentingan saja jika Alden ingin singgah.
"Saya sudah menemukan pelayan yang sudah berani memberikan minuman perangsang itu padamu." ucap Felix yang baru saja datang ke ruangan pribadi Alden di mansion Montana Knight.
"Apa? kau sudah menemukan nya?." kaget Toni yang sedang berada di ruangan pribadi Alden karena sejak tadi dia sedang ngobrol dengan Alden.
"Of couse." sahut Felix dengan tengil.
"Hmm.. siapa orang yang ingin bermain denganku." ucap Alden dengan sedikit memiringkan bibirnya. Pria tampan bermata elang itu sedang duduk bersandar di kursi kebesaran nya, dengan melipatkan sebelah kaki kiri ke atas paha kanan nya.
"Bawa bedebah itu kehadapanku!." perintah Alden dengan suara yang sangat tegas dan keras.
"Dengan senang hati tuan." jawab Felix langsung keluar ruangan.
Seketika itu beberapa anak buah Alden menyeret kedua pergelangan tangan pria muda itu.
Srettttt!
Bughhh!.
Pria muda itu tersungkur tepat di hadapan kaki Alden.
"A-ampuni saya tuan.."
Suara pria muda itu terbata bata seakan ketakutan menyelimuti nya. Darah segar itu menetes di pelipisnya, begitu juga keringat dingin bercucuran.
"Kau berani berurusan denganku!!?. kau tahu siapa aku!!?." bentak Alden dengan sorotan mata yang sangat tajam.
"S-saya tidak ingin berurusan denganmu tuan hiks...hiks.." pria muda itu menangis mengeluarkan banyak air matanya.
"Kau menangis?. Hahaha lihatlah bedebah kecil ini menangis." ledek Alden.
Felix pun hanya tersenyum licik, karena iya sangat senang akan mendapatkan mobil terbarunya.
Sedangkan di sisi lain Toni hanya terdiam dengan wajah kesal karena Felix yang terlebih dahulu menemukan pelakunya.
Para anak buah Alden berdiri sigap dengan pergelangan tangan nya di simpan di belakang pinggangnya.
Bughhh!!.
"Aaghhh!!..." teriak pria muda itu.
Alden menendang keras wajah pria muda itu, sehingga pria muda itu tersungkur beberapa meter.
"A-ampun tuan...m-maafkan sayaa hiks.!."
"Kenapa kau menangis?." tanya Alden
"Hikss..hiks.." pria itu hanya menangis dan tidak menjawab.
"Kenapa kau menangis!!!?." bentak Alden tegas, membuat Toni, Felix dan bawahan nya tersentak kaget.
"Hiks..hiks.."
"Dimana keberanianmu!, kau begitu sangat berani memberikan minuman itu padaku!."
Suara bariton Alden itu menggelegar di mansion itu, rahangnya semakin di pertegas sehingga urat leher nya jelas terlihat.
"A-aku menyesal tuan..!"
Pria muda itu menanamkan wajahnya yang sudah berlumuran darah.
"Apa kau bilang? kau baru menyesal!."
Bugghh..!!
Bugghh!!!.
Tangan kekar itu terus saja memukuli wajah pria muda itu tiada henti.
"A-ampun tuan.."
Buggghhh!!!!!!
"M-maafkan aku tuaannn... a-aku hanyaa...di pe-perintah.."
Suara pria muda itu begitu tersengal sengal nafasnya. Wajahnya sudah tidak jelas karena tertutup dengan darah.
"Siapa yang sudah memerintahkanmu!, Katakan!!!." ucap Alden menarik kerah pria muda itu.
Namun pria muda itu masih diam membisu dan mengatur nafasnya yang tersengal sengal.
Seketika Alden mengeluarkan senjata pistol di belakang pinggang nya.
Krekk..krekk
Alden mengisi peluru itu dengan timah yang sangat panas dan bahaya.
Bahkan Alden sendiri yang menciptakan peluru itu.
"Kalau kau tidak ingin menjawab! peluru ini akan menembus otakmu!." pekik Alden dengan amarah yang benar benar memuncak.
Toni dan Felix hanya terdiam saja, karena mereka berdua sudah tahu jika Alden marah, dunia pasti tidak akan baik baik saja
"T-tapi...bebaskan aku.." ucap pria muda itu dengan lemah.
"Hahaha,
baiklah katakan siapa yang menyuruhmu!?."
"D-dia...adalah...
Mr. Scott Carlson." pria muda itu masih menundukan wajahnya.
Hening.
"Ohh..Scott Carlson." sahut Alden
Alden pun berjalan kembali mendudukan dirinya di kursi kebesaran nya.
"A-apa aku bebas tuan?."
"Tentu saja, kau aku bebaskan." sahut Alden dengan santai.
"T-terima kasih tuan yang muliaa.." ucap pria muda itu
"Pergilah, dan jangan tunjukan lagi wajah bodoh mu itu di hadapanku." titah Alden
"Baik saya akan pulang tuan..."
Pria muda itu terbangun tanpa di bantu oleh siapapun.
Kemudian pria muda itu berjalan tertatih dan langsung membungkukan badan nya.
"Tunggu!." ucap Alden.
"I-iyaa tuan?." pria muda itu membalikan badan nya.
"Siapa nama mu?." ucap Alden.
"Eumm.. namaku.. Evan tuan." ucap pria muda itu.
"Sebaiknya besok kau tidak boleh berada di negara ini, demi kebaikan nyawa mu." ucap Alden.
"M-maksudnya tuan?." Evan tidak mengerti
"Kau ingin anak buah Scott mengepungmu?." tanya Alden
"Tidak tuan,."
"Jika kau masih sayang nyawamu, maka pergilah ke negara x, dan Toni yang akan mengurusi tiket penerbangannya malam ini."
"Akuuu?." ucap Toni
"Ya jelas kau lah, masa Felix." ucap Felix sinis.
"B-baiklah, aku mau pergi ke negara x tuan.." sahut Evan.
"Bersiaplah pukul 3 pagi." ucap Alden.
"B-baik tuan, terima kasih atas kebaikan mu." ucap Evan berlutut di hadapan Alden.
"Berdirilah, lain kali kau tidak boleh melakukan hal itu lagi."
"Saya tidak akan melakukan nya tuan, saya berjanji!., kemarin saya sangat butuh uang untuk operasi ibu saya tuan."
"Lalu bagaimana keadaan ibumu sekarang?." ucap Alden.
"Masih kritis tuan hikss..."
"Bawalah ibumu ke negara x , aku akan memberikan fasilitas pengobatan untuk ibumu disana."
"B-benarkah tuan?." Evan tersentak tak percaya.
"Tapi ada syaratnya."
"A-apa syaratnya tuan?.."
Bersambung....