
Selamat membaca🤗
...ENTERED THE WRONG ROOM...
...♥♥♥♥♥♥...
...----------------...
.
.
Alden malam ini pulang ke apartemen nya.
Di temani adiknya Efron Lucas.
Mereka berdua kini sedang bercengkrama di ruangan tengah.
"Apa mungkin wanita itu hamil anakmu." ucap Efron tiba tiba.
Alden langsung terkaget.
"Apa maksudmu berkata seperti itu, bukh!."
Alden tidak terima dengan perkataan Efron, ia pun memukul Efron dengan bantal sofa nya.
"Apa kakak yakin belum pernah menyentuh Anzela?." tanya Efron memicingkan matanya.
"Apa kau ini, kenapa membahas itu lagi."
"Aku bertanya padamu kak."
"Aku belum pernah menyentuh Anzela, dan itu hal yang paling menjijikan bagiku." tegas Alden.
"Bagaimana jika wanita satu malam itu benar benar hamil anakmu?." ucap Efron.
Alden langsung mematung beberapa detik.
"Apa maksudmu!, wanita itu tidak mungkin hamil anakku."
"Kenapa kau percaya sekali, ingat kak, itu adalah darah dagingmu sendiri. Kau harus cepat menemukan wanita itu." tegas Efron.
"Efron adikku, wanita itu sudah punya suami, dia sudah bahagia dengan suaminya sekarang yaa.."
"Coba kasih tau siapa nama wanita itu, agar aku bisa mendapatkan info nya."
"Tidak, untuk apa?." tanya Alden.
"Untuk memastikan wanita itu benar benar hamil anakmu atau bukan."
Alden menatap lekat wajah Efron.
......................
.
.
Ke esokan harinya...
Sore itu setelah pulang dari kantor, Alden kembali pulang ke mansion pribadinya, di sambut oleh para maid dengan hormat.
"Dari mana saja kau?."
tanya Anzela dengan wajah menahan kesal.
Namun Alden menghiraukan Anzela, ia cuek melenggang pergi melewati Anzela tanpa sepatah kata pun dari bibirnya membuat Anzela semakin kesal.
"Alden, aku bertanya padamu! kenapa kau selalu cuekan aku?."
ucap Anzela sambil mengejar langkah Alden yang terus berjalan.
sampai tiba di ruang kerja Alden.
Alden pun membuka jas nya dan melemparkan ke arah sofa yang ada di ruangan kerja pribadi nya.
"Alden!, aku berbicara padamu! dengarkan aku!." pekik Anzela kesal.
Alden pun menatap Anzela dengan tajam.
"Jangan mengangguku, keluar kau dari ruanganku!." tegas Alden dengan wajah tanpa ekspresi.
"Sampai kapan pernikahan kita begini?." tanya Anzela dengan nada merendah.
Namun Alden masih sibuk berkutat dengan laptop nya.
"Aku ingin menjalani pernikahan yang normal seperti orang orang yang sudah menikah pada umum nya.."
"Aku ingin bahagia Al, aku ingin kau menerimaku di hidupmu."
Anzela meneteskan air mata nya di depan Alden.
"Jangan ganggu aku yang sedang bekerja." ucap Alden dingin dengan wajah masih menatap layar laptop nya.
"Kenapa kau selalu sibuk bekerja Al, kau tidak pernah punya waktu untukku, bahkan ngobrol pun kita sangat jarang. Kau tau aku seperti orang asing disini, aku kesepian Al disini.. aku ingin kamu ada waktu buat aku supaya kita dekat."
Alden pun menatap sekilas Anzela kemudian tersenyum miring.
"Ternyata mimpi mu sangat banyak, dan aku ingatkan kembali. Mimpi hanyalah sebuah mimpi dan takkan pernah terjadi, jangan terbang terlalu tinggi, nanti nangis." ucap Alden datar.
Anzela pun mengepalkan tangan nya menahan kekesalan.
"Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku Al.."
Anzela pun pergi meninggalkan Alden.
"Hmm, wanita yang tidak punya malu."
sahut Alden tersenyum miring, kemudian kembali melanjutkan pekerjaan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
- Paris
Di apartemen.
pukul 4 pagi Brian dan Mark sudah menyiapkan barang barang mereka yang akan di bawa pulang ke Indonesia, hari ini adalah hari Brian pulang ke Indonesia karena pekerjaan nya sudah selesai, dan perusahaan pun kini berjalan dengan baik lagi.
"Semua sudah siap Mr, apa tidak ada yang ketinggalan kah?." tanya Mark.
"Sudah, kita berangkat sekarang Mark."
"Siap Mr," sahut Mark menunduk.
Mereka berdua pun meninggalkan apartemen itu.
...----------------...
Ke esokan harinya..
Mileana sedang mundar mandir bak istrikaan dengan wajah yang cemas di dalam kamarnya, sambil memegangi sebuah test pack yang masih belum di buka.
"Bagaimana ini, apa aku harus mentest pack nya.." pikir dia dengan wajah cemas.
"Tapi aku sungguh takut jika memang aku ternyata positif hamil, aduh test pack jangan ya.." Mileana memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
Tok!Tok!Tok!
suara ketukan pintu itu membuat Mileana tersentak, dan langsung saja ia menyimpan test pack itu di laci nya.
"M-masuk saja." sahut Mileana dengan nada sedikit bergetar.
Klek (Suara pintu terbuka).
"Ahh, iyaa nanti aku ke bawah. kamu duluan saja ke bawah, aku mau ke toilet dulu sebentar."
"Baiklah kak, di tunggu ya.."
Mileana hanya menganggukan kepalanya saja sambil tersenyum.
Brak.
Pintu kamar Mileana pun tertutup kembali.
Mileana menghela nafas panjang, masih memikirkan keadaan nya.
"Ya Allah bagaimana ini.. kenapa aku takut sekali, hatiku benar benar tidak tenang." batin Mileana dengan raut wajah sedih.
......................
Di kantor Starlight Company.
"Selamat pagi tuan..." sambut Felix yang melihat Alden baru saja datang ke kantor bersama Toni.
"Pagi.." sahut Alden malas.
"Tunggu tuan!."
Alden yang ingin memasuki ruangan nya seketika berhenti dan menoleh ke arah Felix.
"Ada apa?." tanya Alden.
Felix langsung saja memberikan sebuah kotak makan pada Alden.
"Aku sengaja membuatnya untukmu, aku tahu tuan belum sarapan kan?."
"Tau dari mana aku belum sarapan?." tanya Alden
"Toni bilang padaku, kalau tuan muntah muntah lagi sebelum berangkat k kantor."
Alden menatap kotak makan itu, kemudian ia menerima nya.
"Thankyou.." sahutnya.
Alden pun menduduki dirinya di kursi depan meja Felix, lalu mencoba membuka kotak makan itu.
"Kau yang membuat sandwich ini?." tanya Alden.
"Wahh sepertinya sangat enak tuan.." ucap Toni ngiler melihat sandwich di depan mata nya.
"Tentu saja aku yang membuatnya, cobalah."
Alden mencoba memasukan sandwich itu ke dalam mulutnya, pelan pelan ia kunyah, namun matanya seketike melebar.
"K-kenapa tuan?." tanya Felix hati hati.
Alden tidak menjawab ia kembali malahap sandwich itu ke dalam mulutnya dengan sangat rakus.
Felix dan Toni pun hanya menahan tawa nya saja.
"Pasti enak kan tuan?." tanya Felix.
Alden terus saja melahap sampai sandwich itu tinggal 1 lagi.
"Ternyata kau pandai membuat sandwich." ucap Alden masih mengunyah.
"Tentu saja tuan, Felix bisa segalanya haha.."
"Ini tuan minum nya.." Toni menyodorkan segelas air putih pada Alden.
"Thanks." Alden pun meminum air putih itu sampai habis.
Membuat Toni dan Felix melongo, Alden seperti orang yang kelaparan. Memang saja karena dari kemarin Alden tidak masuk makanan karena perutnya terus saja mual.
"Ini untukmu." ucap Alden memberikan satu sandwich pada Toni.
"Wahh..terima kasih tuan."
Toni menerimanya dengan senang hati, karena sandwich juga adalah kesukaan Toni sejak kecil Alden juga tau itu.
"Dan untukmu Felix, besok buat lagi sandwich tiap hari untukku, dan rasanya harus seperti ini." ucap Alden datar.
"A-apa tuan? tiap hari tidak salah dengar tuh?." protes Felix .
"Iyaa tiap hari, buatkan untukku saja." Alden pun beranjak dari tempat duduknya.
"Terima kasih sarapan pagi nya..." Alden pun memasuki ruangan Ceo nya dengan perut kenyang.
"Thanks ya Fel sandwich lu enak,"
"Sanwich lu enakk." Felix mengulang kata lagi dengan nada meledek.
"Haha selamat bikin sandwich tiap hari...kalau bisa buatin buat aku juga 1 atau 2 ya hehe, ini tempat makan nya." ledek Toni kemudian melenggang pergi ke luar kantor.
"Enak aja loo! bikin sendiri!." pekik Felix.
Namun Toni tidak menyautnya karena sudah memasuki lift.
"Hah, kenapa jadi begini." gerutu Felix kesal.
"gara gara sandwich!." ketus nya lagi
...----------------...
Mileana dan Felicya sedang berada di mobil untuk menuju ke rumah orang tua Mileana karena Mileana ingin tinggal bersama orang tuanya beberapa hari saja, Felicya ingin mengendarai mobil sendiri tanpa supir.
Mereka berdua bercanda di dalam mobil itu, namun saat di perjalanan ada seorang anak kecil yang menyebrang tiba tiba ke jalan itu.
"Feli awasss!!!.' teriak Mileana.
"Aaaghh.."
Brakkk!!!
Mobil Felicya menabrak seorang anak kecil yang berlari menyebrangi jalanan.
"Astagfirullah.." Mileana terkaget.
Felicya langsung turun dari mobil dengan wajah panik melihat keadaan anak kecil itu, Mileana pun menyusul Felicya untuk turun.
Di lihatnya anak kecil itu bersimbah darah dari kepalanya, dan sepertinya anak kecil itu pingsan karena tidak bergerak.
"Astagfirullah!.." pekik Mileana sambil menutup mulutnya.
"Kak kita bawa anak ini ke rumah sakit sekarang." ucap Felix dengan panik.
"Valdoo!!!!..." teriak salah satu wanita yang berlari menghampiri anak kecil itu.
"Valdo anakku!, kamu kenapa sayang.." pekik wanita itu menangis.
Mileana dan Felicya pun terdiam panik dan kaku, mungkin wanita itu adalah ibunya.
"Maaf mbak, kita bawa anak mbak kerumah sakit sekarang juga ya.." ucap Mileana lembut sambil berjongkok.
Wanita itu pun mengangguk, lalu mereka membawa anak kecil itu ke rumah sakit darurat.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like, coment, vote ya🤗♥