DANIA

DANIA
terus di salahkan



"ahhhh mama apa salah, jika nenek mintak waktu kalian sedikit, kasihan nenek yang selalu sendirian, dia butuh waktu kita untuk bersama - bersama." ucap dania


"kamu tu, jadi anak, kalau tau apa pun lebih baik diam, biar ini urusan para tua dania" bentak mama


"a, a, a, ku hanya mengatakan apa yang Ada di benak ku aja ma " kata dania dengan suara terbata bata


"sudah jangan kamu, marahi cucu, kalau kamu tidak suka dengan permitaan lebih bilang pada ku aja " ucap nenek


"ahhh ibu sama aja, terus aja bela cucu mu, lihat dia jam segini baru pulang, dia itu wanita, tak pantas di usianya, jam segini baru pulang, paling di keluyuran di luar, " kata mama


"a, a, a, ku gak keluyuran, aku hanya pergi ke rumah bibi, aja kok ma " ucap dania


"kamu ke rumah bibik, tanpa pamit sama mama, dan papa, mu apa kamu tak anggap kami orang tua mu " betak mama


"bukan nya aku, sudah biasa, pulang dari sekolah, langsung mampir ke rumah bibi, kenapa baru sekarang mama mengungkitnya, " ucap dania


"lagi pula nenek, sudah tau ke biasaan ku, itu " sambung dania


"bukan gitu ma, aku kan sudah sering bilang, sama mama, kalau setiap pulang dari sekolah aku akan mampir ke rumah bibik sebentar " ucap dania


"ahhhh alasan, untuk ngeles, aja itu, kamu tak pernah mengerti orang tua, dan tak pernah horamat orang tua, ini udah jadi buktinya, kamu bebas keluyuran keluar, pulang sekolah tak langsung pulang, hingga main ke sana ke sini dulu apa coba, namanya, " tegas mama


"tapi ma-" ucap dania terhentikan karena sang mama memotong ucap nya


"tapi apa, semua benarkan apa yang mama bilang, lihat pa kelakuan anak mu ini, semakin bear bukan bisa membuat orang tua bahagia, tapi dia malah tak berpikir apa pun, apa gunanya puyah seperti dia, ahhhhh lebih baik aku tak puyah anak kalau seperti ini " tegas mama


tes, tes, tes,........ air mata dania pun turun dikit demi sedikit, dania tak tau kalau ibunya begitu marah, akibat ucapanya, itu, dania pun berpikir, apa ya g salah dengan perkataanya itu, bahkan semuanya yang dania perkataanya itu tak Ada yang di buat - buat, tapi apa dia malah dapat bentakan dari ibunya Dan mengukit bahwa dia tak pernah mintak izin pergi ka mana pun itu,.


"ya tuhan, apa kah ibu pernah berpikir, kenapa selama ini aku jarang izin ke pada mama Dan Papa kalau mau keluar rumah, itu karena mereka jarang ada, di rumah di telephon juga tak bisa, Dan aku hanya bisa mintak izin dengan nenek, ya walaupun nenek


jarang di rumah tapi nenek memperhatiakan ku, apa ibu tau semuanya itu " teriak ku di dalam hati ku, dania tak bisa mengeluarkan kata - kata lagi, dania sudah terlalu membisu dengan tangisannya akibat kata yang di ucapkan oleh mama nya, bagaikan beribu duri menusuk dadanya, sakit sekali.


sekilas dania melirik papanya, papanya hanya diam membisu tanpa berbicara apa, untuk mengiburnya, mau pun menghetikan mama nya.