
Beberapa hari ini, Yara memang sedikit tak enak badan. Yara merasa dirinya sedang hamil meskipun belum merasakan morning sick.
Yara sudah telat datang bulan dan itu menambah keyakinannya bahwa dirinya sedang hamil.
Semalam Yara membeli testpack dan akan memakainya pagi ini.
Yara kemudian langsung ke kamar mandi begitu bangun dari tidurnya.
Karena ini pengalaman pertamanya, jadi Yara membaca terlebih dulu aturan pemakaiannya.
Setelah itu, Yara mulai memakai alat itu. Tak berapa lama, Yara pun melihat hasilnya.
"Ternyata aku memang sangat subur", gumam Yara sambil tersenyum.
Yara kemudian keluar dari kamar mandi dan beranjak ke ranjang membangunkan Bryce.
"Honey...bangunlah", kata Yara mengguncang bahu Bryce.
"Hmmm..ada apa baby?apa kau ingin bercinta?", tanya Bryce dengan mata terpejam.
"Ck..ayo buka matamu..aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu", kata Yara.
Yara membuka mata Bryce dengan paksa menggunakan jarinya.
"Oh my...", kata Bryce dan terpaksa membuka matanya.
"Duduklah", kata Yara.
"Aku berbaring saja", kata Bryce.
"Duduk!! aku tak akan memberitahumu jika tidak duduk", kata Yara.
"Baiklah istriku sayang", kata Bryce yang langsung duduk.
"Tutup matamu", kata Yara lagi.
"Ya Tuhan..kau menyuruhku bangun dan sekarang menyuruhku menutup mataku lagi..kau benar benar plin plan", kata Bryce.
"Bisakah kau tidak banyak bicara dan mengikuti saja kata kataku, honey? menyebalkan sekali", ucap Yara membelalakkan matanya.
"Oh God..oke", kata Bryce dan menutup matanya.
Lalu Yara meletakkan alat testpack itu di tangan Bryce.
"Bukalah", kata Yara.
Bryce pun membuka matanya dan melihat benda di tangannya. Bryce tentu tahu alat apa itu.
Dia melihatnya dengan teliti dan kemudian memandang ke arah Yara.
"Really?", tanya Bryce tertegun.
Yara mengangguk.
"Oh baby...i love you", kata Bryce memeluk Yara sangat erat hingga Yara tak bisa bernafas.
"Honey..kau mau membunuhku?aku tak bisa bernafas", kata Yara.
Bryce tertawa dan menangkup wajah cantik Yara.
"Kau melepas Alat kontrasepsimu?", tanya Bryce.
"Hmm", kata Yara mengangguk.
"Mengapa kau tak mengatakan padaku?", tanya Bryce.
"Aku hanya tak ingin kau berharap lebih..tetapi ternyata ini melebihi ekspektasiku..aku sangat subur dan langsung hamil", kata Yara tersenyum lebar.
Bryce menciumi wajah Yara dan merekapun berciuman lama.
"Hmm..", jawab Yara mengecup bibir Bryce.
Setelah mandi, merekapun pergi ke dokter kandungan. Dokter mengatakan usia kehamilan Yara masih 6 minggu dan sangat sehat.
Kehamilan Yara tidak kembar tak seperti saudaranya yang lain.
Yara harus menjaganya baik baik karena masih ada di trisemester pertama.
Dokter memberinya Vitamin dan penguat janin agar bayi Yara tumbuh sehat.
Yara dan Bryce kemudian memberitahu keluarga besar mereka tentang kabar bahagia ini dan mereka semua menyambutnya dengan suka cita.
Yara dan Bryce tetap santai menghadapi kehamilan Yara yang pertama ini. Bryce juga tak membatasi gerak Yara selama itu masih dalam batas normal.
Malam harinya mereka kembali ke mansion setelah seharian berada di rumah orang tua Yara.
Bryce tampak sibuk dengan laptopnya kembali dan Yara mengawasinya dari ranjang.
"Honey..apakah masih lama?", tanya Yara.
"Kau mau aku peluk?", tanya Bryce.
Yara mengangguk.
Bryce menutup laptopnya dan menghampiri Yara di ranjang kemudian memeluknya.
"Apa kau sibuk dengan pekerjaanmu?", tanya Yara.
"Tidak..aku sudah selesai mengerjakannya sejak tadi", jawab Bryce.
"Lalu kau melihat apa di laptop?", tanya Yara.
"Aku hanya mencari tahu apakah kita masih bisa bercinta selama kau hamil", jawab Bryce.
Yara tertawa dan mengecup bibir Bryce.
"Jangan terlalu banyak berkata mesum..aku tak ingin anakku mesum sepertimu", kata Yara.
"Anak kita..bukan anakmu saja..aku yang bekerja keras membuatnya", kata Bryce mencium hidung mancung Yara.
"Kau bahagia denganku?", tanya Yara pelan dan menatap mata biru Bryce yang indah.
"Hmm..karena ada yang menemaniku tidur dan mandi setiap hari", jawab Bryce tersenyum usil.
"Sudah kubilang ..jangan bicara mesum..ck", kata Yara.
"Aku tak bisa...aku akan selalu berpikiran mesum jika ada didekatmu..sudah kukatakan dari dulu bukan?", kata Bryce.
"Sssshhh...terserah kau saja", kata Yara pasrah.
"Apa kita akan tetap berpetualang?", tanya Yara.
"Ya..tentu saja..setelah kandunganmu melewati trismester pertama...katakan padaku kau ingin anak kita lahir di negara mana?", tanya Bryce.
Yara tertawa mendengar ucapan Bryce.
"Bagaimana kalau di Swiss saja? lalu anak kedua di Rusia.. kemudian anak ketiga di Dubai..daaann...".
"Kau ingin punya anak berapa, baby?", kata Bryce memotong ucapan Yara.
"Entahlah.. aku suka anak anak..tak masalah jika aku punya banyak anak..aku berharap bisa hamil bayi kembar juga nanti di kehamilan keduaku", kata Yara tersenyum.
Bryce tersenyum dan memeluk Yara.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤