
"Bryce....bisakah kau membelikanku roti di toko yang kita lewati kemarin?", tanya Yara sembari menyiapkan sarapan paginya.
Bryce yang baru saja datang dari arah laut tampak menghampiri Yara.
"Apakah roti kita benar benar habis?", tanya Bryce.
"Hmm..", Yara menoleh pada Bryce dan memegang plastik roti yang kosong.
"Baiklah..", lalu Bryce pergi berjalan dan menuju arah toko yang jaraknya hanya 200 meter saja.
"Thanks honey", teriak Yara.
"I love you", teriak Bryce dari jauh.
Yara berdiri dan sudah selesai menyiapkan sarapan paginya. Hanya tinggal menunggu roti saja.
Tiba tiba ponsel Bryce berbunyi. Bryce biasanya tak pernah meninggalkan ponselnya sama sekali dan selalu membawanya.
Yara tak mengangkat telepon itu karena dia tak suka mencampuri urusan orang lain termasuk Bryce meskipun Bryce sudah menjadi suaminya.
Karena menurutnya itu suatu hal yang sangat ptivate apalagi nomer yang menghubungi ponsel Bryce tak dikenalnya.
Bunyi ponsel Bryce sama sekali tak berhenti.
"Apakah ini penting?", gumam Yara dan memutuskan untuk mengangkatnya karena sudah terlalu lama berbunyi.
Sebelum mengatakan salam, ternyata orang diseberang telepon tampak berbicara terlebih dahulu.
"Hallo Bryce..mommy hanya ingin mengabarkan, operasi daddy berjalan lancar..terima kasih nak.. sekarang daddy sedang pemulihan dan mommy harap daddy akan segera membaik dan cepat sembuh", kata Suara di seberang telepon itu yang sangat dikenal Yara.
Yara tertegun sampai tak bisa berucap sepatah katapun.
'Apa yang kalian sembunyikan dariku?', batin Yara menangis dan menggertakkan giginya.
"Hallo Bryce...apa kau masih disana?", tanya Selena.
Yara langsung tersadar dan menutup ponselnya. Tangan Yara bergetar dan tubuhnya lemas.
Dia sudah berpikiran macam macam tentang daddynya. Yara langsung membuka semua pesan pesan masuk yang ada di ponsel Bryce.
Yara terduduk lemas dan merenung. Tak terasa air matanya berlinang.
Ya...Yara menemukan fakta bahwa selama ini Daddynya sakit kanker. Dan Bryce lah yang membiayai semua pengobatannya.
Bryce yang Lebih tahu segalanya tentang Jade daripada Yara, anak kandungnya sendiri.
Yara merasa dirinya tak berguna sama sekali. Meskipun dia menyadari bahwa daddynya mebyembunyikan hal ini karena tak ingin membuatnya sedih.
Tapi justru ini yang membuatnya sakit. Dadanya terasa ditusuk ratusan jarum yang membuatnya sakit.
Disaat Yara bersenang senang ternyata sang daddy sedang melawan sakitnya disana. Yara menutup wajahnya dengan lengannya dan berjongkok di bawah ranjang.
Bryce datang dan tak melihat Yara diluar. Lalu Bryce ke dalam campervan dan melihat Yara duduk dengan ponsel Bryce yang tergeletak di sebelahnya.
Bryce seakan tahu apa yang terjadi. Dia menaruh rotinya di meja dan menghampiri Yara kemudian memeluknya.
Bryce mengusap lembut punggung Yara dan mengecup kepalanya.
"Kau marah padaku?", tanya Bryce pelan.
Yara tak menjawab apapun dan tetap menyembunyikan wajahnya di balik lengannya.
"Pukul aku jika kau marah padaku", kata Bryce.
Yara tak bisa berkata apa apa karena dia akan menangis jika berbicara dan dia tak suka itu.
Yara tak pernah menangis. Yara terakhir menangis ketika kematian ibunya. Dan kini, dia merasa takut kehilangan sang ayah.
"I love you baby..i love you so much", lirih Bryce dan menggendong Yara ke ranjang.
Yara meringkuk di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia tak ingin Bryce melihatnya menangis.
Bryce tetap disamping Yara dan memeluknya erat. Yara sedang down dan terpuruk menghadapi kenyataan tentang Jade meskipun belum mendengar penjelasan apapun dari Bryce.
**FOLLOW IG AUTHOR @ZARIN.VIOLETTA
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤**