
Bryce tertawa dan menaruh cameranya lalu mencium bibir Yara yang semakin sexy jika sedang kesal.
Bryce mencium bibir Yara dengan lembut tak seperti kemarin. Reaksi Yara? dia malas berdebat dan kali ini mencoba menikmati ciumannya dengan Bryce.
Bryce kemudian menghentikam ciumannya dan menatap mata abu abu Yara.
"Kau suka ciumanku?", tanya Bryce.
"Lumayan", jawab Yara santai.
"Kau tak memukulku kali ini", kata Bryce.
"Tak ada gunanya....karena telingamu sudah tersumbat...aku memutuskan untuk meladeni kegilaanmu...kau berani?", tanya Yara.
"Ini tantangan?", tanya Bryce balik.
"Anggap saja begitu", jawab Yara tersenyum dan Bryce menciumnya kembali.
"Aku tidak tanggung jawab jika kau menginginkan yang lebih..kurasa kau akan tersiksa nanti dan berakhir di kamar mandi, Bryce", kata Yara pelan dengan tawa pelan.
"Sekarang kau melakukan serangan balik?", Bryce menciumi leher jenjang Yara.
"Hmm..aku sudah memperingatkanmu tuan..aku tak mudah dimiliki..dan tak mudah bercinta denganku", kata Yara.
Lalu Bryce menghentikan ciumannya dan menggendong Yara ke luar. Bryce memutuskan tak akan melakukan hal yang lebih dari ciuman.
Yara adalah amanah dari Jade yang harus dijaganya. Sebejat bejatnya Bryce dia tak ingin merusak Yara.
Mereka duduk diluar dan menikmati pemandangan danau yang indah.
Yara kagum dengan keputusan Bryce untuk tak menyentuhnya. Karena dia sadar itu adalah sesuatu yang sulit ditahan untuk laki laki normal seperti Bryce.
"Visamu sudah jadi...kita terbang lewat Dublin..jadi kita ke rumah uncle Jade dulu", kata Bryce sambil memakan buah apel yang ada di meja.
Yara menoleh pada Bryce.
"Aku merindukan orang tuaku...aku selalu berpikir apa mereka tidak kesepian dirumah..karena semua anaknya sedang berlibur, kami tak pernah berpisah sebelumnya", jawab Yara.
"Ya..biar bagaimana pun mereka akan kembali hidup berdua lagi..seperti orang tuaku..anak anaknya sudah memiliki kehidupannya masing masing", kata Bryce.
"Berapa usiamu Bryce?", tanya Yara.
"Menurutmu?", tanya Bryce balik.
"Aku 32 tahun", jawab Bryce.
"Benarkah???? kita berbeda cukup jauh..tapi kau tak menua", kata Yara.
"Ya..aku suka bersenang senang dan santai..jadi tak punya beban pikiran....aku menikmati hidupku", jawab Bryce.
Cukup lama mereka berada di luar hingga akhirnya tak terasa sudah menjelang malam. Bryce menyalakan api unggun kecil dan Yara memasak makan malam.
Mereka makan malam bersama dan seperti biasanya sharing cerita tentang kehidupan mereka.
"Kita tak kemanapun malam ini?", tanya Yara.
"Tidak..aku ada pekerjaan", jawab Bryce.
"Apa pekerjaanmu?", tanya Yara.
"Aku seorang bos", jawab Bryce.
"Bos judi?", kata Yara sambil memakan eskrimnya.
"Ya", jawan Bryce dengan entengnya.
"Kau tak pernah serius, Bryce...jadi terkadang aku bingung apakah kau sedang bercanda atau sedang serius", kata Yara.
"Jika kau sangat mengenalku, kau akan bisa membedakannya", jawab Bryce dan masuk ke Campervan.
Bryce mengambil laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Dia memeriksa banyak dari para asistennya.
Bryan juga mengirim pesan, agar Bryce pulang ke New York bulan depan karena akan ada rapat penting yang harus dihadirinya.
Tak lama, Yara membereskan semua bekas makan malamnya dan masuk ke campervan.
Dia melihat sisi yang berbeda dari Bryce jika Bryce sedang dalam mode serius mengerjakan pekerjaannya.
**FOLLOW IG AUTHOR @ZARIN.VIOLETTA
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VITE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤**
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤