
Setelah puas berjalan jalan, akhirnya Yara dan Bryce menuju BARFUSSBAR. Ini adalah Bar dan club malam outdoor yang ada di zurich. Tempatnya di pinggir aliran sungai yang dilewatinya tadi.
Suasana di dalam bar tampak ramai dan sedikit berdesakan.
Yara dan Bryce memesan minuman ke meja bar dan langsung menuju pembatas besi dengan pemandangan sungai yang indah.
Malam ini juga ada konser kecil didalam bar. Para pengunjung tampak menikmati penampilan penyanyi konser yang beraliran rock ballad dan Jazz.
Bryce meminum winenya sedangkan Yara meminum minuman sodanya.
"Seharusnya tadi kau membawa jaket", kata Bryce yang merasa cuaca mulai berangin.
"Hmm..aku lupa", jawab Yara menaruh minuman sodanya yang sudah habis di atas meja.
Lalu Bryce memeluk Yara. Yara memandang ke atas wajah tampan Bryce yang bengal.
"Kau menyukaiku?", tanya Yara.
"Hmm..bukankah aku sudah mengatakan akan menikahimu?", kata Bryce.
"Apakah pernikahan tidak butuh cinta?", tanya Yara.
"Kau mencintaiku?", tanya Bryce.
"Aku membencimu dengan segenap hatiku yang paling dalam", jawab Yara.
Bryce tertawa pelan dan menatap mata Yara.
"Apa yang kau rasakan jika aku menciummu?", tanya Bryce dengan wajah yang dekat dengan Yara.
"Aku tak tahu..karena ini pengalaman pertamaku..jadi aku menikmatinya saja", jawab Yara jujur.
"Bagaimana jika kau melihatku berciuman dengan gadis lain?", tanya Bryce lagi.
"Kenapa kau banyak bertanya?", tanya Yara balik.
"Jika kau cemburu maka itu artinya kau menyukaiku", jawab Bryce.
"Aku tidak tahu..aku tak mau memikirkannya.." kata Yara.
Lalu Bryce mengecup bibir Yara.
"Kau suka jika aku mencium bibirmu?", tanya Bryce.
Yara hanya mengangguk.
Lalu mereka saling berpelukan dan menikmati alunan musik Jazz.
Yara dan Bryce tak terlalu lama berada di club. Mereka hanya satu jam saja disana.
Keluar dari club, Yara dan Bryce berjalan menyusuri jalan kota lama yang terlihat mulai sepi.
Bryce menelepon sopirnya untuk menunggunya di perempatan jalan.
Bryce dan Yara bergandengan tangan dan terkadang Bryce merangkul bahunya sambil bercanda sepanjang perjalanan.
Setibanya di campervan, Yara langsung membuka celana jeansnya di depan Bryce karena dirinya sudah benar benar lelah dan mengantuk.
"Yang kau lakukan itu sangat berbahaya Yara", kata Bryce.
"Aku sangat mengantuk, Bryce", kata Yara dan langsung naik ke ranjang kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut.
Yara langsung tidur nyenyak begitu tubuhnya sudah menyentuh ranjang.
"Oh God..apa dia tak tahu betapa sexy tubuhnya?aku bisa saja memperkosanya jika dia bukan anak uncle Jade...ck..", gumam Bryce pelan.
Lalu Bryce membuka bajunya dan membersihkan tubuhnya di dalam toilet.
Setelah itu, Bryce tak langsung tidur, melainkan membuka laptopnya lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Lewat tengah malam, Bryce baru naik ke ranjang. Selimut yang dipakai Yara sudah terbuka dan memperlihatkan tubuh moleknya.
Bryce benar benar menahan sekuat tenaga untuk tak menyentuhnya.
"Lama lama aku bisa gila jika tak segera menikahinya", bisik Bryce pada dirinya sendiri.😁
Bryce menutup kembali tubuh sexy Yara dengan selimut dan kemudian memeluk Yara. Merekapun tidur berdua seperti biasanya.
Bryce akan menikahi Yara ketika dirinya sudah sampai di kota Bern, dimana orang tuanya tinggal.
Bryce merasa bahwa Yara dan dirinya sudah klop. Entah apakah itu rasa cinta atau hanya nyaman saja, Bryce tak terlalu peduli.
Tak sulit untuk menyukai gadis seperti Yara. Meskipun sedikit gila tetapi justru itu yang membuat Bryce menyukainya.
**FOLLOW IG AUTHOR @ZARIN.VIOLETTA
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤**