
Bryce tak melanjutkan perjalanannya ke kota lain untuk sementara waktu. Dia akan mencari rumah yang disewakan di Interlaken.
Bryce memutuskan untuk tinggal sementara di sana sampai mood Yara kembali baik.
Sore harinya, setelah berjalan jalan di pinggir laut, Bryce dan Yara pergi dari sana menuju rumah yang di sewa Bryce.
Bryce bisa saja tinggal di resort sang daddy. Hanya saja dia ingin Yara memiliki privasi dan bisa menenangkan dirinya.
Sesampainya di rumah, Bryce menggandeng tangan Yara masuk ke dalam rumah bergaya minimalis modern itu.
"Kita akan tinggal disini sementara waktu", kata Bryce memeluk Yara.
"Thanks", jawab Yara memeluk erat Bryce.
"Bagaimana keadaan daddy?", tanya Yara.
"Mommy bilang daddy sangat stabil", jawab Bryce.
Jawaban Bryce sangat melegakan hati Yara. Dia belum sanggup jika harus berbicara dengan Jade dan Selena.
Yara tak bisa berpura pura baik baik saja. Tidak, Yara tak bisa membohongi perasaannya karena Yara tipe orang yang ekspresif dan tak bisa menyembunyikan apapun.
Seharian ini, Yara hanya duduk di sofa ruang tengah sedangkan Bryce berkutat dengan laptopnya.
Yara mencari tahu artikel tentang penyakit yang diderita Jade. Dan dia cukup lega karena penyakit Jade diketahui lebih awal sehingga masih besar kemungkinan untuk sembuh.
Yara sedang mengumpulkan nyalinya untuk bersikap seperti biasanya lagi pada Jade dan Selena.
Ini hal yang sulit bagi Yara karena Jade sangat mengenal Yara dan Jade pasti tahu jika ada sesuatu yang terjadi padanya.
Yara menaruh ponselnya di meja dan tidur meringkuk di sofa. Bryce melihatnya dan menutup laptopnya lalu menghampiri Yara.
Dia tidur di belakang Yara dan memeluknya hangat.
"Kita makan malam diluar?", tanya Bryce.
"Tidak", bisik Yara.
Bryce kemudian memesan makanan melalui manajer resort milik keluarganya dan menyuruh mengantar ke tempatnya.
Setelah makan malam pun, Yara langsung masuk ke kamar dan tidur. Dia merasa semangat hidupnya sedang dalam batas terbawah.
Bryce lebih suka melihat Yara yang menyebalkan daripada Yara yang diam saja seperti ini. Tapi Bryce sangat memahami apa yang dirasakan Yara sekarang.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Tak terasa sudah seminggu Bryce dan Yara tinggal di rumah itu. Yara perlahan mulai bisa menerima dengan kondisi Jade dan mulai tenang.
Yara juga sudah bisa berkomunikasi dengan Jade seperti biasanya meskipun itu masih sulit bagi Yara untuk berpura pura tak tahu apapun tentang Jade.
"Daddy... apakah daddy tak ingin ke Swiss?", tanya Yara.
"No honey...daddy ingin menghabiskan banyak waktu dengan mommy..inilah waktu liburan untuk mommy setelah bertahun tahun menjaga anak anak daddy yang nakal dan merepotkan", kata Jade tertawa.
Melihat Jade tertawa membuat hati Yara bahagia. Jade tampak sangat sehat meskipun wajahnya sedikit pucat karena selalu berada di kamar perawatan rumah sakit.
"I love you daddy...i miss you", kata Yara lirih.
"I love you too honey..jangan membuat Bryce kesusahan..dia anak kesayangan daddy", kata Jade
"Jadi aku anak pungut daddy?", tanya Yara.
Jade tertawa kembali dan merekapun mengobrol cukup lama.
Yara sudah bisa tersenyum meskipun hatinya masih belum lega sebelum bertemu Jade dan memastikan bahwa Jade benar benar baik baik saja.
Setelah satu jam mengobrol, Yara menutup teleponnya. Dia tak melihat Bryce disana.
Yara masuk ke dalam kamar dan melihat Bryce duduk memegang ponselnya di ranjang.
Rambut Bryce terlihat basah karena baru saja mandi.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤