
Menjelang siang, Bryce dan Yara serta beberapa rombongan wisatawan lainnya kembali ke Galway.
Setibanya di campervan, Yara langsung tidur kembali. Yara memang selalu menyempatkan waktunya untuk tidur jika ada kesempatan.
"Kau seperti putri bantal..selalu tidur jika melihat bantal", kata Bryce membuka kaosnya yang berkeringat dan memasukkannya ke dalam mesin cuci portable berukuran kecil.
"Hmm.. aku memang selalu mengantuk", jawab Yara malas.
"Apa perlu kutemani?", tanya Bryce.
Yara otomatis melempar bantal kecil ke arah Bryce dan memejamkam matanya.
Bryce menangkap bantal itu dan meletakkannya di meja.
"Kau membawa paspor mu?", tanya Bryce.
Yara langsung bangun dan melihat Bryce lalu mengangguk semangat. Inilah hal yang ditunggu tunggu Yara.
Bryce tertawa pelan seakan tahu pikiran Yara.
"Setelah ke Cork ..kita ke Swiss", kata Bryce.
"REALLY?????kau tidak mempermainkanku kan?aku akan menghajarmu jika kau sampai bohong", kata Yara.
Bryce hanya mengangguk. Dan Yara melebarkan matanya sembari tersenyum lalu berlari memeluk Bryce.
Yara memang sangat ingin keluar negeri. Sebelum pergi kemarin dia sudah menyiapkan paspornya yang sudah lama dibuatnya.
Itu karena Yara benar benar ingin keluar negeri. Maka dari itu Yara selalu memperpanjang paspornya jika sewaktu waktu dia ke luar negeri.
"Thank you", kata Yara dan menciumi pipi Bryce.
Seketika rasa kantuknya hilang dan Yara keluar campervan sambil melompat lompat kegirangan.
"Kau kampungan sekali", kata Bryce yang masih fokus dengan cuciannya di mesin.
"Whatever...aku sangat senang sekali..kau tau itu?", kata Yara semangat.
Malam harinya mereka makan malam bersama. Suasana hati Yara sedang dalam mode berbunga bunga karena tak sabar ingin segera ke Swiss.
Bryce menyuruh asistennya untuk mengurus visa Yara agar bisa cepat selesai.
"Kau tidur bersamaku lagi?", tanya Yara.
"Lalu aku harus tidur dimana?", tanya Bryce balik.
"Minggirlah", kata Bryce mendorong tubuh Yara sampai tubuh Yara sangat mepet dengan pintu bagasi.
"Jika menyewa campervan lagi, kau harus menyewa campervan dengan ranjang besar didalamnya", kata Yara dengan wajah kesalnya.
"Mana aku tahu akan ada penyusup di campervanku", jawab Bryce.
Yara menyikut perut Bryce dan membuat Bryce kesal.
"Kau selalu menyakitiku Yara", protes Bryce.
"I don't care", jawab Yara.
"Baiklah..aku akan mempertimbangkan lagi tentang mengajakmu ke Swiss", kata Bryce santai dan mulai memejamkan matanya.
Yara langsung berbalik dan melihat Bryce.
"NO...kau tak boleh menarik omonganmu lagi Bryce..", kata Yara.
"Maka dari itu..sopanlah padaku.. aku tuan rumah disini", jawab Bryce.
"Sopan?kau bahkan tak pernah sopan padaku..", protes Yara.
Bryce membuka matanya dan melihat wajah cantik Yara.
"Ya...ya ya...baiklah..aku akan sopan padamu tuaaaann", kata Yara tersenyum palsu.
Bryce memandang Yara cukup lama dan Yara menopang dagunya. Mata lebarnya melihat ke arah Bryce dengan posisi tubuh tengkurap.
"Kau mau menjadi istriku Yara?sepertinya menyenangkan memiliki istri sepertimu..aku bebas mengerjaimu setiap hari", kata Bryce dengan entengnya.
"Whaaatt???", Yara mengambil bantal dan memukulkannya bertubi tubi pada Bryce.
Dan merekapun berakhir dengan perang bantal sampai isi campervan berantakan karena kelakuan absurd mereka berdua.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤