
Bryce menyewa sebuah kamar hotel yang cukup mewah dan membuat Yara takjub.
"Kau memang benar benar dewa Judi, Bryce", kata Yara yang langsung merebahkan dirinya ke ranjang kingsize yang sangat empuk itu.
"Kau tidak mengganti bajumu dulu?", tanya Bryce sembari membuka bajunya dan menaruhnya di gantungan lemari.
"Aku tak membawa baju", jawab Yara.
"Kau bisa memakai pakaian dalammu saja..tapi jangan salahkan aku jika aku merabamu nanti malam", kata Bryce.
Yara pun sudah terbiasa dengan ucapan Bryce yang selalu mesum dan menjurus ke adegan ranjang.
Jadi Yara mengabaikannya dan membuka ponselnya. Dia mengirim pesan pada Jade bahwa dirinya akan ke Swiss bersama Bryce.
'Dad..aku akan pergi ke Swiss..apakah daddy mengizinkanku?", tanya Yara.
Jade ternyata langsung membalasnya.
"*Ya..Bryce sudah bilang pada daddy..hati hati di jalan sayang", jawab Jade.
"Daddy belum tidur?ini sudah sangat malam", kata Yara.
"Belum sayang...mommymu menyuruh daddy untuk menemaninya nonton film drama kesukaannya", jawab Jade.
"Jangan tidur terlalu larut dad", kata Yara.
"Ya sayang...sudah, tidurlah sana..i love you honey", balas Jade.
"I love you too Dad", kata Yara mengakhiri pesannya*.
Bryce kemudian keluar dari kamar mandi dan berbaring di sebelah Yara.
"Bryce..kamar ini sangat luas..dan sofa disini juga sangat lebar..kenapa kau selalu menempel padaku ketika kita tidur?", kata Yara.
Bryce tertawa dan melihat mata abu abu Yara yang besar.
"Kau pengganti mommyku...aku sangat nyenyak jika tidur di pelukanmu", kata Bryce.
"Ck...kalau begitu aku menuntut bayaranku mulai saat ini..kau harus membayarku", kata Yara.
"Kalau begitu aku juga meminta bayaranku karena kau ikut dalam petualanganku", balas Bryce.
"Huuuffttt..sudahlah..tak akan pernah selesai jika berdebat denganmu..aku mau tidur saja", kata Yara pasrah.
Bryce kemudian memeluk pinggang Yara dan menempelkan tubuhnya pada Yara.
"Kita pasti sudah gila", lirih Yara.
"Hmmm..aku nyaman bersamamu...aku serius ketika aku ingin menjadikanmu istriku..", kata Bryce pelan sambil memejamkan matanya.
"Kita sangat sering bertengkar..kita selalu berseberangan..kurasa akan gila jika kita menikah", jawab Yara dengan tertawa pelan.
"Jika kau dan aku sama sama nyaman dengan hal ini, seharusnya kita tak memikirkan yang lainnya", balas Bryce.
"Hmmm..kurasa aku harus bertapa dulu untuk memutuskan hal ini", kata Yara.
"Ya..bertapalah di gua ..aku akan mengantarmu", jawab Bryce.
Yara tertawa pelan dan merekapun kemudian tertidur bersama dengan posisi Bryce memeluk Yara dari belakang.
Bryce dan Yara mungkin belum sadar akan perasaan mereka masing masing. Hanya rasa nyaman saja yang dirasakan keduanya.
Pagi harinya, Bryce terbangun terlebih dahulu karena ponselnya berbunyi. Bryce segera menuju balkon kamar hotel.
"Halo uncle", kata Bryce.
"Bryce..mampirlah kemari sebelum kalian pergi ke Swiss", kata Jade.
"Baiklah uncle...uncle di rumah?", tanya Bryce.
"Ya... uncle di rumah..terima kasih sudah menjaga Yaraku", kata Jade.
Lalu mereka mengobrol beberapa menit dan Bryce mengakhiri percakapannya ketika Yara sudah bangun.
Bryce kembali masuk dan melihat Yara sedang duduk dan mengumpulkan nyawanya terlebih dulu.
"Kita kemana hari ini?", tanya Yara dengan suara serak.
"Kita di campervan saja..aku ingin berenang di danau", kata Bryce.
"Kau sangat suka air..sedangkan aku tidak", kata Yara.
"Nanti aku akan membawamu berenang juga", kata Bryce.
"TIDAK...", jawab Yara dengan suara sangat jelas.
"We'll see", kata Bryce dan masuk ke kamar mandi.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA❤❤❤