
Keesokan paginya Yara dan Bryce berangkat ke Paris. Di Paris, Regan Robert memiliki mansion milik kedua orang tuanya dulu dan masih terawat dengan baik sampai sekarang.
Jadi Yara dan Bryce akan tinggal disana sementara waktu untuk datang ke sebuah pesta amal yayasan milik neneknya, Agatha.
Mereka menaiki kereta api eksklusif yang menempuh perjalanan sekitar 7 jam lamanya.
Bryce memang memilih naik kereta karena pemandangan yang akan mereka lewati sangatlah indah.
Yara hanya menyandar saja pada Bryce sepanjang perjalanan sembari melihat keluar jendela.
Bryce menyewa sebuah kabin kamar luxury untuk mereka berdua di dalam kereta.
"Berapa lama perjalanan kita?", tanya Yara.
"Cukup lama..sekitar 8 jam..tidurlah jika kau bosan", jawab Bryce dengan tangan mengusap paha Yara.
Yara kemudian membuka ponselnya untuk menghabiskan waktunya. Begitu juga dengan Bryce.
Sejam berlalu, Yara menaruh ponselnya di dalam tas kecilnya lalu berbalik menghadap Bryce.
"Hmm?", tanya Bryce yang melihat Yara memandanginya.
"Kau ingin bercinta?", tanya Bryce lagi.
"Bagaimana bisa kau tau isi otakku?", tanya Yara balik.
"Isi otak kita sama, baby", jawab Bryce tertawa pelan.
Bryce mengangkat Yara duduk di pangkuannya dan mulai mencium bibir Yara.
Yara yang memakai dress pendek membuat Bryce sangat mudah membuka rok bagian bawahnya.
"Kau semakin pintar saja", bisik Bryce.
Mereka hanya melepas pakaian mereka bagian bawah. Tangan Bryce mulai masuk ke dalam dress Yara dan memijat dadanya.
Yara melingkarkan tangannya ke leher Bryce dan mencium bibirnya. Mereka melakukannya dengan perlahan dan santai.
Bryce mulai membuka baju Yara dan mencium dadanya. Yara mendesah pelan sembari menggerakkan pinggulnya dengan pelan.
Setelah cukup lama Yara di atas, sekarang giliran Bryce.
Bryce mengangkat tubuh Yara dan merebahkannya. Dia mulai menggoyangkan pinggulnya dan menciumi leher Yara.
Tubuh Yara menggeliat dibawah tubuh kekar Bryce. Mereka kembali berciuman dan Bryce mengangkat tangan Yara ke atas kemudian mencium lengan bawah Yara.
Setelah cukup lama bergulat dalam percintaan panas yang santai ini, Bryce mengakhirinya dengan menghentakkan miliknya sedikit cepat.
Mereka sedikit menahan suara ******* mereka karena sadar bahwa mereka sedang berada di dalam kereta yang sedang berjalan.😁
"I love you..", bisik Bryce di leher Yara setelah menyelesaikan tugas panasnya.
"Aku tak menyangka kita akan melakukannya disini...", Yara tertawa pelan dengan tubuh yang masih berpelukan dengan Bryce.
"Kita belum melakukannya di dalam tenda...kita akan segera mewujudkannya", jawab Bryce lirih.
"Apakah menurutmu kita sudah gila?", tanya Yara.
"Maybe", jawab Bryce tertawa pelan dan menggigit kecil cuping telinga Yara.
"Aku yang normal menjadi gila karenamu..Oh God", kata Yara.
Setelah beberapa jam, perjalanan panjang naik kereta akhirnya berakhir. Mereka tiba di Paris pukul 3 sore.
Sopir keluarga Robert sudah menunggu di stasiun dan mereka pun menuju mansion.
"Ini rumah keluargamu?...Oh My God", kata Yara speechless.
Pasalnya mansion ini lebih besar dari mansion keluarga Robert yang ada di Swiss.
"Mansion ini milik kakekku...dan Daddy tak ingin menjualnya..hanya pelayan yang tinggal disini..sesekali kami kemari jika sedang ada di Paris", kata Bryce menjelaskan.
"Aku tak menyangka kau sekaya ini.. apakah 10 keturunan kita akan hidup sejahtera?", tanya Yara jujur.
Bryce tertawa dan menggandeng tangan Yara masuk ke dalam mansion.
"Keluargaku yang kaya..aku hanya meneruskannya saja..", jawab Bryce santai.
Bryce memang tak memungkiri bahwa kekayaan dan keberhasilannya dalam bisnis juga karena campur tangan keluarganya.
Istilahnya adalah Privilege alias hak istimewa yang didapat dari keluarganya yang notabene adalah keluarga konglomerat.😁
"Aku harus lebih menjagamu jika begitu.. kau pasti incaran banyak wanita.. ckckck.. menyebalkan.. tugasku semakin berat saja", kata Yara enteng.
Bryce hanya tertawa mendengar celotehan Yara yang selalu absurd.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA❤❤❤