
Yara masuk ke dalam kamar dan melihat Bryce duduk memegang ponselnya di ranjang.
Rambut Bryce terlihat basah karena baru saja mandi.
Yara menghampiri Bryce dan duduk dipangkuannya.
Yara dan Bryce sama sekali tak melakukan hubungan intim seminggu ini.
Dan Bryce mengerti dengan hal itu. Tak mudah bagi Yara untuk melewati ini.
"Kau sudah menelepon daddy?", tanya Bryce memegang pinggang Yara dan menatap matanya.
Yara mengangguk dan mencium hidung mancung Bryce.
"Kau tak ingin keluar hari ini?", tanya Bryce.
"Kemana?", tanya Yara balik.
"Kita jalan jalan saja..itu akan membuatmu tenang", lirih Bryce.
"Baiklah...aku akan ganti baju", Yara mengecup bibir Bryce dan berdiri menuju kamar mandi.
Setelah bersiap siap untuk pergi, merekapun keluar dari rumah. Bryce dan Yara hanya berjalan kaki saja.
Sepanjang perjalanan, Bryce merangkul bahu Yara sembari bercerita tentang tempat tempat yang dilaluinya.
Terkadang mereka juga bercanda absurd seperti biasanya.Yara mulai kembali ceria dan Bryce senang dengan hal itu.
Siang harinya mereka berhenti di sebuah cafe dengan pemandangan gunung yang indah. Yara melihat seorang wanita yang sedari tadi memandangi Bryce.
Yara sebenarnya tak pernah mempermasalahkan hal itu karena dia sadar Bryce adalah seorang pria yang tampan dan Yara bukan tipe wanita pencemburu.
Hanya saja Yara terganggu karena wanita itu terlalu lama memperhatikan Bryce.
Yara menikmati makanannya sembari memandangi wajah suami tampannya.
'Aaahh..dia memang tampan...dan apa yang sudah kulakukan? aku sama sekali belum menyentuh manusia tampan ini selama seminggu..oh God', batin Yara.
Bryce melihat Yara yang memandanginya.
"Ada apa?", tanya Bryce yang sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Aku ingin pulang", kata Yara.
"Habiskan makananmu dulu, Sayang," kata Bryce.
"Aku sudah tak ingin makan lagi," jawab Yara dan langsung menarik Bryce pergi dari cafe itu.
Ketika melewati wanita yang memandangi Bryce tadi, Yara membelalakkan matanya kepada wanita itu.
Bryce hanya memandangnya heran dan mengikuti langkah Yara keluar Cafe.
Jarak cafe ke rumah hanya 300 meter saja. Dan Yara berjalan dengan lumayan cepat.
"Hei...bisakah kau berjalan santai saja, Baby?" kata Bryce yang tangannya masih ditarik oleh Yara.
"Apa kau sakit perut?" tanya Bryce.
Yara menggeleng dan tetap saja berjalan.
Sesampainya di rumah, Yara dan Bryce langsung masuk. Yara membawa Bryce ke sofa dan duduk di pangkuannya lalu mencium bibirnya dengan rakus.
Bryce seakan tau apa yang diinginkan Yara. Bryce tersenyum karena hal ini.
Bryce membuka bajunya dan kembali mencium Yara.
Lalu Bryce membuka Sweater Yara dan kepalanya masuk kedalamnya hingga dirinya mencium dada Yara yang ada didalam sweater itu
Yara tertawa pelan menikmati percintaannya yang sudah lama tak dilakukannya itu.
Bryce memainkan lidahnya di dada Yara dan membuat Yara mendesah.
Kemudian Yara membuka sweaternya dan Bryce merebahkan dirinya di sofa.
Bryce membuka celana Yara dan bermain disana. Yara menggenggam erat rambut Bryce yang bermain di pangkal pahanya.
"Aahh ....sorry aku terlalu lama mengabaikanmu", bisik Yara dengan nada mendesah.
"I love you baby", kata Bryce yang kemudian mencium leher jenjang Yara dan membuka celananya sendiri.
Bryce dengan cepat masuk ke permainan intinya.Dia menghentak dengan sedikit cepat karena sudah sangat rindu dengan hal ini.
Yara yang berada di bawah tubuh Bryce mengikuti irama permainan Bryce yang cepat dan liar.
Bryce membalik tubuh Yara dan meletakkannya di ujung sofa dengan posisi Bryce yang berlutut.
Bryce kembali menghentakkan pinggulnya dan Yara menikmati hal itu karena ini adalah posisi favorit Yara.
Peluh mereka telah menyatu dan permainan semakin panas dan liar.
Bryce mengangkat tubuh Yara dan duduk di atas sofa. Sedangkan Yara duduk di atas pangkuan Bryce.
Yara mulai menggerakkan tubuhnya dengan tempo yang cepat. Bryce mendesah keras karena hal itu.
Bryce memainkan dada Yara dengan tangan dan lidahnya. Yara mencengkeram bahu kekar Bryce dan semakin cepat menggerakkan pinggulnya.
Hingga akhirnya Bryce menidurkan kembali Yara di sofa dan mengangkat kaki Yara. Bryce melakukan hentakan terakhirnya dengan desaha*n yang saling bersautan dengan Yara.
"Aaahhhh...thanks baby", bisik Bryce dileher Yara di akhir permainan mereka.
Yara memeluk tubuh Bryce yang ada diatasnya. Yara sadar bahwa Semakin hari dirinya semakin mencintai Bryce dan dia tak ingin kehilangan sosok Bryce yang selalu diaampingnya dalam keadaan apapun.
Tiba tiba ada rasa posesif yang muncul di dalam dirinya. Yara cukup senang dengan hal itu karena dia merasa dia sudah benar benar mencintai Bryce secara nyata.
**FOLLOW IG AUTHOR @ZARIN.VIOLETTA
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤**
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤