
Malam harinya Bryce dan Yara makan bersama pengunjung yang lainnya. Pengelola glamping mengadakan pesta barbeque.
Mereka saling bersosialisasi dan mencoba mengenal satu sama lain. Pembawaan Yara yang ceria membuatnya cepat disukai oleh wisatawan yang lainnya.
Begitu juga dengan Bryce. Kemampuan bersosialisasinya yang bagus membuatnya menjadi teman bicara yang menyenangkan karena memiliki wawasan yang luas.
"Jadi kapan kalian merencanakan punya anak?apakah kalian menundanya karena perjalanan ini?", tanya Rose.
Mereka kini sedang mengelilingi api unggun kecil.
"Anak?", tanya Bryce memicingkan matanya.
"Ya..Yara tadi mengatakan padaku bahwa kalian baru saja menikah..apakah kalian menunda memiliki anak?", tanya Rose.
Bryce memandang Yara dan menghampirinya dengan senyum jahilnya.
"Anak?kalau itu urusan istriku sepertinya.. dia belum mengizinkanku untuk membuahinya", jawab Bryce dengan kata kata absurdnya dan membuat yang lain tertawa.
Bryce merangkul tubuh Yara dan memeluknya sambil tersenyum menang.
Berbanding terbalik dengan wajah Yara yang menyesal dengan apa yang dikatakannya tadi siang.
'Kali ini habislah aku....dia benar benar memanfaatkan hal ini dengan sangat baik', gerutu Yara dalam hati.
"Kalian sangat mesra sekali..aku juga ingin berbulan madu dengan berpetualang seperti ini juga nanti", kata Lena, sepupu Rose.
"Ya..kami saling mencintai karena kami memiliki hobby yang sama..ya kan darling?", kata Bryce tersenyum lebar.
"Aku melihat kalian tadi pagi di pantai...ketika kalian sedang berciuman", kata Laurent, teman Rose yang lain.
"Hmm... kami dalam masa hot hotnya..tadinya kami ingin bercinta disana ..bukankah seru bercinta di alam bebas?", jawab Bryce sambil memandang mata Yara.
Mata Yara sudah melotot dan melihat Bryce dengan bengis.
Yang lain semakin tertawa mendengarkan ucapan gila Bryce yang membuat Yara semakin kesal.
"Jangan dengarkan dia..dia memang sedikit tidak waras", kata Yara.
Lalu Bryce mengecup bibir sexy Yara dan Yara tak bisa berbuat apapun karena semua orang disana sedang memandang mereka.
Lalu merekapun menikmati makanan barbequenya bersamaan. Mereka semua menikmati malam ini dengan hati senang dan bahagia.
Yara akhirnya melupakan kekesalannya pada Bryce ketika Rose mengajaknya menari dengan alunan musik beat yang di stel disana.
Yara senang karena dia mendapatkan teman baru di perjalanannya ini. Dia berharap akan bertemu lebih banyak lagi teman teman baru yang baik dan satu frekwensi dengannya.
Itu membuat wawasan dan pengetahuannya juga menjadi lebih luas.
Setelah lewat jam 12 malam, Yara masuk ke dalam glampingnya dan langsung tidur karena sangat lelah.
Berbeda dengan Bryce yang masih mengobrol dengan para laki laki disana. Mereka berbagi pengalaman tentang petualangannya.
Dan menganggap Bryce sebagai suhu karena dia paling lama berpetualang dan sudah menjelajahi banyak negara.
Keesokan paginya, Yara terbangun dan Bryce sudah merangkul pinggangnya lagi seperti biasanya.
"Hah..dia selalu seperti ini", kesal Yara dengan suara yang masih mengantuk.
"Bryce..bangunlah...kau bisa tidur di sofa bukan?", tanya Yara.
Bryce tak menyahut dan masih memejamkan matanya.
"Bryce", teriak Yara di telinga Bryce.
"Oh God..kau bisa merusak gendang telingaku", kata Bryce memegang telinganya.
"Kenapa kau selalu tidur denganku?", tanya Yara.
"Bukankah kita baru menikah, istriku?", kata Bryce tersenyum dengan mata yang terpejam kembali.
Lalu Yara memukuli wajah menyebalkan Bryce dengan bantal.
**FOLLOW IG AUTHOR @ZARIN.VIOLETTA
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤**