
Keesokan harinya, Bryce dan Yara pun pergi ke kota Bern, tempat dimana Seren dan Regan tinggal di hari tuanya.
Mereka menempuh perjalanan 2 jam dengan menggunakan campervannya.
Setibanya di mansion keluarga besar Robert, Bryce langsung mengajak Yara ke dalam.
"Oh God...ini rumah orang tuamu???", kata Yara melongo.
"Hmm..ayo masuk", jawab Bryce memggandeng tangan Yara.
"Wait..", Yara berhenti dan menahan tangan Bryce.
"Ada apa?", tanya Bryce bingung.
"Apakah keluargamu seperti keluarga kaya di telenovela?maksudku apakah wajah dan kelakuannya beringas?", tanya Yara.
Bryce hanya tertawa pelan mendengar ucapan Yara.
"Jawab aku Bryce..agar aku bisa menyiapkan diriku", kata Yara.
"Ya...mereka sangat beringas..ayo", kata Bryce menarik tangan Yara.
Yara dengan pasrah ikut ke dalam mansion bersama Bryce.
Sesampainya di dalam, Bryce di sambut oleh Andrei, Damien dan Irena.
"Uncleeeeee....i miss you so much", Andrei berlari dan memeluk uncle kesayangannya.
Damien dan Irena pun tak kalah senangnya melihat Bryce. Mereka saling berpelukan padahal usia mereka sudah beranjak remaja.
Bryce adalah paman favorit mereka karena selalu mengirimi oleh oleh dari berbagai negara yang dikunjunginya.
"Uncle juga merindukan kalian...dimana yang lain?", tanya Bryce.
"Uncle Rey dan aunty Galy baru akan tiba besok..kalau uncle Bryan aku tak tahu", jawab Irena.
"Oh ya..kenalkan..dia Yara", kata Bryce pada para keponakannya yang semuanya good looking dan membuat Yara sedikit tak percaya diri.
"Haiiii", sapa Yara ceria.
"Halo aunty..aku Irena..dia Damien dan Andrei..kami triplets", kata Irena memperkenalkan dirinya dan kedua kakaknya.
"Woooww.. senang bertemu kalian", kata Yara dan menyalami semuanya.
Lalu Bryce dan Andrei serta Damien ke arah taman samping. Sedangkan Yara bersama Irena.
"Ayo aunty.. kita ke dapur belakang, ada nenek dan mommyku disana", Irena menarik tangan Yara
"Kurasa aku tak setua itu untuk dipanggil Aunty, sayang", kata Yara pada Irena.
Irena menoleh pada Yara dan tertawa pelan.
Yara tertawa mendengarnya.
"Ya..dia tua..tapi dia tampan..daaann kaya", jawab Yara akhirnya.
Irena pun tertawa kembali. Irena merasa mendapat kakak perempuan ketika bertemu Yara karena perbedaan usia mereka hanya 9 tahun.
"Tadaaaaa...calon pengantinnya sudah tibaaaa", teriak Irena pada Seren dan Sera.
Seren tampak senang dan bahagia melihat kedatangan Yara. Dia langsung menaruh pekerjaannya dan menghampiri Yara.
"Ya Tuhan..kau cantik sekali Yara sayang", kata Seren dengan senyum ramahnya dan mencium pipi Yara kemudian memeluknya.
Yara tak menyangka akan mendapat sambutan selembut dan seramah ini dari keluarga Bryce yang notabene adalah keluarga konglomerat.
"Aunty lebih cantik", kata Yara.
"Halo...aku Sera..kakak Bryce...senang bertemu denganmu Yara..apakah Bryce menyusahkanmu? jika iya, katakan padaku", kata Sera tersenyum.
"Mata kakak sangat indah sama seperti aunty....oh God..aku masuk ke dalam circle keluarga good looking", kata Yara spontan ketika melihat mata Sera yang sama dengan Seren.
Sera pun tertawa mendengarnya.
"Ini genetik, sayang", jawab Seren dan mengajak Yara ke meja makan yang berbatasan langsung dengan kolam renang dan taman belakang yang sangat luas.
Mereka pun mengobrol banyak hal disana sampai tak terasa sudah menjelang sore.
Bryce menyusul Yara ke dalam dan ikut mengobrol sebentar disana sebelum akhirnya mereka ke atas kamar untuk mandi dan berganti baju.
"Dimana kamarku?", tanya Yara.
"Bersamaku", jawab Bryce.
"Bryce..ada orang tuamu disini..", kata Yara.
"Besok kita menikah..apa salahnya?", jawab Bryce.
"No..aku ingin kamar sendiri..kau sudah puas tidur denganku selama perjalanan", kata Yara.
"Ya Tuhan..kau membuatnya rumit, honey bunny sweety", kata Bryce dan mengantar Yara ke kamar sebelah yang kosong.
"Mana koperku?", tanya Yara.
"Ada di kamarku", jawab Bryce.
"Kalau begitu, kau di kamar ini, aku dikamarmu", kata Yara dan langsung masuk ke dalam kamar Bryce.
Dan Bryce menuruti kemauan Yara kemudian masuk ke dalam kamar tamu.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA.❤❤❤