
Bryce mengajak Yara makan siang bersama teman bisnisnya.
Setibanya di restoran, Bryce langsung menuju meja yang sudah dipesan teman bisnisnya itu.
"Halo Bryce", kata pria yang tampak seumuran dengan Bryce.
Bryce menyambut uluran tangan pria itu dan tersenyum.
"Bagaimana kabarmu Warren?", tanya Bryce.
"I'm great..ini pasti istrimu", kata Warren tersenyum.
"Hai..aku Yara", kata Yara memperkenalkan diri dengan ramah.
"Ah ya..ini tunanganku, Norine", kata Warren.
"Halo", sapa wanita mungil itu dengan wajah sedikit kaku.
Yara tersenyum dan berjabatan tangan dengannya.
Bryce mengobrol ringan dengan Warren sementara pandangan Norine selalu mengarah pada Bryce.
Awalnya Yara menganggap Norine mungkin hanya tertarik mendengarkan cerita dari Bryce tetapi lama lama Yara tak suka melihatnya karena Norine terlalu intens melihat Bryce.
'Ya inilah resiko punya suami tampan..dan ini benar benar menyebalkan', batin Yara.
Warren berperawakan agak tambun dan Yara berpikir mungkin Norine menyukainya karena faktor harta. Dan itu sangat terlihat sekali.
Warren terlihat seperti lelaki baik, berbeda dengan Norine yang tak terlalu disukai Yara. Wajah sombongnya sangat terlihat.
"Kapan kalian menikah?", tanya Yara akhirnya karena dia sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Minggu depan..datanglah ke pesta kami ya", kata Warren tersenyum.
"Sayang sekali..kami tak bisa datang..kami akan ke Afrika", jawab Bryce.
"Ya..sayang sekali..semoga proses pernikahanmu lancar dan tak ada masalah apapun", kata Yara memandang Norine dengan mata tajamnya.
"Apa kau berasal dari inggris?", tanya Norine.
"Aku dari Irlandia", jawab Yara.
"Ooo pantas saja..logatmu berbeda dengan kami", kata Norine tersenyum palsu.
"Ya..aku menyukainya karena hal itu", kata Bryce menimpali.
"Logat bangsawan bukan? aku suka logatmu Yara", kata Warren tersenyum.
"Thank you mr. Warren", kata Yara dengan mengentalkan logatnya seperti ratu Elizabeth.
Warren dan Bryce tampak tertawa pelan, berbeda dengan Norine yang tak suka dengan sikap Yara.
Norine masuk dan melihat Yara memakai lipstik merahnya.
Norine hanya melirik saja tanpa menyapanya sambil mengeluarkan bedak dari tasnya.
Yara yang dasarnya cuek tak ambil pusing dengan sikap sinis Norine.
Ketika Yara akan keluar, Norine sengaja mengarahkan kaki kanannya ke belakang agar Yara tersandung tetapi itu tak berlaku untuk Yara.
Yara justru menginjak sepatu Norine di bagian belakang hingga Norine nyaris terjatuh jika tak berpegangan ke meja wastafel.
"Kau sengaja melakukan itu?", marah Norine.
"Kau berbicara denganku?", tanya Yara.
"Tentu saja..dasar wanita tak berkelas!!", kata Norine angkuh.
"Lihatlah kaca itu", kata Yara.
Norine heran dengan apa yang dikatakan Yara dan berbalik melihat kaca.
"Kau lihat yang ada didepanmu?kau membicarakan dirimu sendiri nona.. kau yang membuat masalah denganku dan kaulah yang tak berkelas..kau mengerti NONA?", kata Yara dengan menekankan kata katanya agar Norine semakin kesal.
"Kauuuu", kata Norine kesal.
"Aku sangat mudah membantingmu jika kau mau", kata Yara santai.
Norine langsung terdiam dan keluar dari toilet dengan wajah masamnya.
Sebenarnya Yara tak suka menghina atau mencari masalah dengan seseorang. Tapi Yara menilai, Norine tak pantas menerima perlakuan baik darinya.
"Semoga saja Warren tak jadi menikah denganmu", kata Yara pelan dan itu terdengar oleh Norine.
Norine menoleh dan akan menampar Yara. Tetapi Yara cepat mundur hingga Norine terjengkang ke depan karena tamparannya meleset dari pipi Yara.
"Aaauuwww..", kata Norine terjatuh.
"Kau tidak apa apa?", tanya Yara basa basi.
Pelayan menyaksikan kejadian itu dan membantu Norine berdiri.
"Lepaskan aku..aku bisa berdiri sendiri", kata Norine kesal pada pelayan yang membantunya.
"Lepaskan saja dia..jangan membantunya", kata Yara pada pelayan itu dan pergi dari hadapan Norine dengan santai.
Norine memasang wajah kesalnya dan ingin berteriak. Tapi dia tetap menjaga imagenya agar terlihat elegan.😁
**FOLLOW IG AUTHOR @ZARIN.VIOLETTA
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤**