CRAZY TRIP CRAZY ADVENTURE

CRAZY TRIP CRAZY ADVENTURE
#91



Kali ini Yara dan Bryce sedang ada di Turki. Bryce tampak berbicara serius di telepon dan Yara memandanginya ketika baru bangun tidur.


Yara berpikir mungkin Bryce sedang membicarakan tentang perusahaannya.


Yara berdiri dan menuju kamar mandi. Ketika Yata keluar dari kamar mandi, Bryce tampak duduk di ranjang dan memegang kepalanya.


Yara menghampirinya dan menangkup wajahnya.


"Ada apa?", tanya Yara pelan.


"Chester dan Willa meninggal kemarin malam..mereka kecelakaan mobil semalam", jawab Bryce dengan wajah sendunya dan suara yang tercekat.


"Oh My God", lirih Yara dan memeluk Bryce.


Yara menangis karena hal itu. Yara menyayangi Willa bagai putrinya sendiri dan mendengar hal ini tentu saja membuatnya sangat sedih.


"Kita harus ke New York", kata Yara.


"Hmm", jawab Bryce singkat.


Merekapun langsung bersiap siap dan terbang ke New begitu mendapat tiket. Karena Bryce dan Yara naik pesawat komersil biasa.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka. Mereka sama sama tenggelam dalam kesedihan yang mendalam.


"Bagaimana dengan Renata?", tanya Yara.


"Dia dirawat di rumah sakit...lukanya tak terlalu parah tetapi dia sangat shock dengan hal ini", jawab Bryce.


"Tentu saja dia sangat shock..aku berharap dia bisa kuat dan baik baik saja", kata Yara.


Mereka tiba di New York pukul 11 malam dan langsung menuju penthouse Bryce.


Di penthouse telah kosong karena kedua orang tua Yara sudah pulang ke Irlandia.


Yara langsung istirahat begitu tiba di penthouse karena lelah dengan perjalanan panjang selama 11 jam lamanya di dalam pesawat.


Tapi tidak dengan Bryce. Ketika melihat Yara tidur, Bryce pergi ke kediaman keluarga Chester yang cukup dikenalnya dengan sangat baik.


Di rumah Chester masih tampak banyak orang yang berkunjung, dari teman dan kerabat Chester.


Bryce menyampaikan bela sungkawanya kepada kedua orang tua Chester.


Bryce mengahmpirinya dan memegang tangannya.


Renata melihat ke arah Bryce dan mulai menangis kembali. Renata memeluk Bryce dan Bryce mengusap punggungnya pelan.


"Semua akan pulang jika waktunya tiba..sabarlah", kata Bryce.


"Aku tak bisa...aku bisa mati tanpa mereka", kata Renata.


"Kau tak boleh berbicara seperti itu.. Setidaknya Chester dan Willa bersama disana..mereka tak akan kesepian", kata Bryce.


"Tapi mereka membuatku kesepian", jawab Renata dengan isakan tangisnya.


Bryce tak bisa berkata apapun lagi karena memang ini hal yang sangat berat yang dijalani Renata.


"Bryce..terima kasih sudah datang kemari", kata Reina, ibu Renata.


Bryce hanya mengangguk dan melepaskan pelukannya pada Renata.


Renata tak melepaskan genggaman tangannya dari Bryce.


"Jangan pergi..kumohon", lirih Renata dengan mata yang masih bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Nanti aku akan kemari lagi bersama Yara..Yara akan menemanimu..dia juga merasa kehilangan Willa", jawab Bryce dan melepaskan tangan Renata.


Renata menatap kepergian Bryce dan kembali menangis akan kehilangan yang terjadi pada keluarga kecilnya.


Disaat dia sudah bahagia, Tuhan memberinya ujian kembali padanya.


Bryce kembali ke penthouse dan kemudian tidur bersama Yara.


Bryce memeluk Yara erat. Sesaat dia merasa takut kehilangan Yara ketika melihat apa yang terjadi pada Chester, sahabatnya.


Bryce menitikkan air matanya. Biar bagaimanapun, Chester adalah sahabat baiknya dan mereka sudah seperti saudara.


Bryce mengusap tangan Yara dengan lembut.


"I love you", bisik Bryce dan mencium kepala Yara.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA. ❤❤❤